
"Lebih baik jujur, walau itu menyakitkan. Tapi kamu harus ingat jujur tidaklah mematikan."
__________________________________________________________________________________________
-Dua minggu kemudian-
Suasana hati Ica pagi ini cukup tenang, ia hanya duduk santai di bangku tempatnya biasa duduk. Sambil matanya terus memerhatikan teman-temannya, Ica mencoba melepaskan beban fikiran. Ia tak mau hari ini terbuang sia-sia.
"Pagi ...! Ica kun ...," sapa Dewi girang dari pintu kelas. Dewi berlari kecil, menghampiri gadis cantik berambut panjang itu.
"Iyaaaa ...! Anak kucing aja tau kalo ini pagi." Ica memutar bola matanya malas.
"Tumben girang banget? Abis menang undian ...?" Tanya Ica sambil memegang tangan Dewi lembut.
"Ihhhh ... Lo mah gitu! Rese kalo tau temennya lagi seneng." Dewi memanyunkan bibirnya sambil bergelayutan di pundak Ica.
"Kiki nembak Gue, Ca ...!" Tiba-tiba Dewi berteriak kencang sambil berhamburan kesana kemari.
"Ohhh ...!" Tanggapan Ica datar.
Mendengar jawaban Ica yang singkat padat dan jelas, seketika membuat Dewi cemberut dan langsung menjewer telinga Ica pelan.
"Tidak sopan Anda! Ucapin selamat kek, atau apa gitu ...?" Dewi terus mengoceh di telinga Ica.
__ADS_1
"Sahabat lagi seneng gini, malah di bikin bete. Lo mah gitu ..., Kebiasaan!" Dewi bersuara, tanpa melepaskan tangannya yang masih asik menjewer telinga Ica.
"Eeeee ... iya iya bawel ...! Selamat ya ..., Saya turut berduka cita ...!" Ica mengucapkan selamat sambil mengaduh kesakitan.
"Nahhh gitu dong ..., nanti Gue traktir susu kesukaan Lo oke. Gak boleh nolak ...!" Dewi bekata sambil melepaskan jewerannya yang sekarang sudah memerah.
"Beneran ...? Aaaa ..., emang the best!" Jempol Ica ikut bersuara sekarang.
Mata ica berbinar menatap sahabatnya itu setelah mendengar kata susu, karna itu memang hal paling di sukai Ica.
"Giliran di kasih susu aja muji ..., huuu ...!" Dewi mendengus melihat tingkah Ica.
Ica hanya memanyunkan bibirnya menanggapi perkataan Dewi, tak lama setelah itu jam pelajaran di mulai. Mereka terlihat antusias di awal-awal pagi itu dan tetap terlihat lesu di akhir - akhir jam sekolah.
Ica berjalan sendirian menuju pintu gerbang sekolah, Ica sendiran karna Dewi sudah pulang dengan Kiki sejak 10 menit lalu. Ica juga memaklumi, wajar jika pasangan baru masih terlihat romantis dan harmonis, Ica juga senang melihat sahabatnya berhasil mewujudkan keinginannya untuk berpacaran dengan Kiki.
Sebenarnya, Ica sudah berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Semua itu di lakukan Ica untuk menjaga hatinya sendiri, agar tidak terlalu sakit karna sosok yang pernah di kaguminya itu sekarang telah pergi meninggalkannya.
"Huuuuuuh ...!" Ica membuang nafas kasar, ia kembali melangkahkan kakinya gontai.
Kenapa ni anak? kok murung gitu ..., apa habis ujian terus dapat nilai jelek ya? Batin Bima, sambil membukakan pintu mobil agar Ica dapat masuk.
Gadis itu sudah berada di dekat Bima sejak 10 menit yang lalu, namun sedari tadi Ica hanya diam saja. Bahkan sampai sekarang Ica masih diam, akhirnya Bima membranikan diri untuk menayakan keadaan Ica sedikit penasaran.
__ADS_1
"Laper ya Ca ...?" Bima mulai membuka pembicaraan, berharap Ica mau menanggapi obrolannya.
"Lumayan Kak ...," Ica menjawab singkat sambil menyenderkan kepanya di kursi mobil Bima.
Oalah ..., Mayun gini ternyata karna laper to? Hihihihi ... ada-ada aja**! Batin Bima dalam hati, sambil menahan tawa.
"Yaa udah Kita makan dulu yuk! Ica pengen makan apa?" Merasa mendapatkan respon, Bima melanjutkan pembicaraannya.
"Makan Mie ayam aja Kak! Gak apa-apa, kan?" Tanya Ica sambil menatap hangat ke arah Bima.
Bima mengatakan ia akan mengajak Ica makan di pinggir jalan, tempat Mie ayam langganannya. Mendengar itu, Ica terkejut. Ternyata Kita memang tidak boleh menilai orang hanya dari tampang, seorang Bima pengusaha kaya raya punya tempat makan langganan di pinggir jalan.
Tempat Mie ayam langganan Bima ternyata sangat rekomendasi sekali, tempatnya bersih, rasanya mantap, harganya juga terjangkau. Ica sangat kagum pada warung Mie ayam ini, Ica juga berencana pasti akan kembali makan di situ lagi kapan-kapan.
Makan sudah, minum susu dingin rasa coklat juga sudah. Tapi kenapa ini anak masih murung sih, apa kurang banyak? Batin Bima, saat mata tajamnya melirik ke arah Ica.
"Apa makannya tadi kurang? Kakak perhatiin dari tadi kayak murung terus." Tutur Bima mulai bertanya.
"Kalo ada yang lagi di fikirin, cerita sama Kakak! siapa tau Kakak bisa bantu kasih solusi." Bima kembali bersuara sambil fokus dengan laju mobilnya.
"Enggak kok Kak, Ica cuma lagi kepikiran Kak Tio. Maaf Kak ...., kalo Ica malah ngomongin Kak Tio, padahal lagi sama Kak Bima." Ucap Ica jujur pada Bima.
Bima yang mendengar pengakuan Ica itu hanya diam saja, wajahnya menunjukkan ekspresi dingin. Mata tajamnya mengarah ke depan terlihat fokus dengan jalan yang sedang mereka lewati.
__ADS_1
Duhhhhh ...! Salah omong ini, kok malah jadi horor gini suasananya. Gimana kalo Kak Bima marah ...? Haduuh ...! Fikiran Ica sudah ke mana-mana, ia hanya sesekali melirik Bima cepat.
Sedangkan Bima terus melajukan mobilnya membawa Ica ke suatu tempat, Ica yang melihat arah jalan yang di ambil Bima bukan menuju rumahnya seketika membuatnya semakin was-was.