
"Mama sama Ayah tadi pergi silaturahmi ke rumahnya Ica, sekarang dia makin cantik. Tapi sayang gak seceria dulu, sekarang bawaannya dingin." Ucap Lia dengan tenang.
Lia langsung membungkam mulutnya sendiri, sifat bawelnya itu kambuh. Lia malah menyeletukkan keadaan sifat Ica yang sekarang dan itu berhasil membuat Bima murung seketika.
Dalam waktu bersamaan mata Restu sedikit mendelik menatap sikap buruk ceplas-ceplos istrinya yang sampai saat ini belum juga hilang.
"Itu semua karna salah Bima." Seketika bibir Bima berucap dengan sorot mata sendu.
"Enggak gitu maksudnya Mama, sekarang Ica tu udah agak berkurang bawelnya. Jadi gak kayak Mama heheh ... . iyakan Yah?"
Lia langsung merangkul lembut lengan anak laki-laki nya itu sambil melirik ke arah Restu meminta bantuan untuk menyakinkan Bima.
"Bener kata Mama mu." Restu tersenyum kecut ke arah Bima.
"Cuma sekedar silaturahmi? Terus ada apa Ayah tiba-tiba minta Bima pulang, apa ada urusan penting?" Bima kembali melanjutkan pertanyaannya.
"Ada yang mau Ayah kasih tau ke Kamu!" Restu langsung menjawab pertanyaan Bima.
"Tentang apa yah?" Ucap Bima penasaran.
Ketiga orang itu sekarang sudah dalam posisi duduk di kursi, sepertinya diskusi akan segera di mulai.
"Ini masih menyangkut tentang Ica."Lanjut restu, sambil menatap anak istrinya.
"Bukankah hubungan kami sudah berakhir Ayah?" Bima kembali bertanya.
"Iya memang, tapi kami datang berkunjung ke rumahnya karna dia sudah kembali ke rumah orang tuanya lagi sekarang ini." Restu mulai memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Jadi maksud Ayah, selama ini Ica juga meninggalkan kota ini?" Pertanyaan Bima di jawab dengan anggukan pelan oleh Restu.
"Di kota mana dia tinggal Ayah? Bima akan menyusulnya!" Mendengar Itu membuat Bima sangat bersemangat sampai-sampai tak sadar tangan kekarnya mengguncang pelan tubuh Restu.
"Tidak Bima! Akan lebih baik jika Kamu tidak menemuinya." Restu sedikit meninggikan suaranya.
"Bima hanya ingin melihat keadaannya Ayah." Bima menunduk sedih karna rasa rindunya yang begitu besar akan sosok gadis itu tak dapat di salurkan, di dalam hati ia membenarkan ucapan Ayahnya itu.
"kan, Mama sama Ayah sudah bilang! Kalo Ica baik-baik saja." Lia mengusap pelan lengan Bima, memberikan sedikit ketenangan pada anaknya itu.
"Mama sama Ayah tadi ke sana karna satu tujuan, Kami meminta hasil perjanjian 10 bulan yang lalu." Restu terlihat serius, sedangkan Bima dengam antusias mendengarkan Ayahnya itu.
"Perjanjian apa?" kenapa aku tidak tau jika mereka membuat perjanjian?
Tanya Bima heran dalam hati setelah menanyakan perjanjian apa pada Ayahnya itu.
"Jadi Bima di minta mendadak pulang untuk mendengarkan hasil ini? Apa hubungannya dengan Bima?" Tanya Bima heran, alisnya juga terlihat meninggi sebelah.
"Ini masalah kehamilan Ica," Lia mulai menggantikan Suaminya yang sedati tadi bicara.
"Ica hamil Mah?" Tubuh Bima tiba-tiba berdesir,
Loh kok bisa hamil? ini aneh gak mungkin. Batin Bima.
"Hasilnya Ica enggak hamil Bima ... , padahal Mama pengennya Ica hamil anak Kamu. Mama sama Ayah udah berharap banget bisa nimang cucu dari Kamu sama Ica, ehh ... Ternyata hasilnya negatif." Lia berucap seraya menatap penuh harap ke arah Suami dan Anaknya itu.
"Jadi Bima udah bisa kembali ke rutinitas Bima buat ngurusin kantor besok, kan?" Lagi-lagi Bima tidak menghiraukan ucapan orang tuanya itu, ia lebih memilih menganti topik pembicaraan.
__ADS_1
"Iya itu terserah di Kamu aja, kalo Kamu capek ya istirahat dulu aja. Yaaaa ... Kan, Yah?" Lia tau anaknya ini tidak ingin membicarakan masalah masalalunya itu, dengan cekatan Lia mengikuti alur pembicaraan Bima.
"Ok ..., Kalo gitu Bima masuk tidur duluan badannya capek butuh istirahat." Bima berdiri dan meminta Izin pada kedua orang tuanya itu.
"Iya Sayang ..., istirahat yang nyeyak ya!" Lia melepas kepergian anaknya itu, tak ada lagi peluk tak ada lagi cium sebelum tidur.
"Mana mungkin Ica akan hamil, Aku tidak melakukannya sampai sejauh itu." Bima berceloteh ria di dalam kamrnya sambil bertopang dagu.
"Lagian tujuanku dulu melakukan itu bukan semata-mata untuk memuaskan nafsu, tapi Aku hanya terlalu terbawa emosi karna melihat tubuhnya di sentuh oleh laki-laki lain." Tiba-tiba senyuman tipis terukir dari ujung bibir pria tampan itu.
Baiklah besok pagi Aku harus berangkat Pagi-pagi sekali untuk kembali ke aktivitas rutin, jadi Bima mari kita istirahat**! Ucap Bima menyemangati dirinya sendiri.
Mata jernihnya itu mulai meredup, Bima mulai larut dalam dunia mimpinya. Malam ini ia tak ingin terlalu membebani otak dan hatinya dengan bayangan gadis itu, jasmani dan rohaninya butuh istirahat sejenak.
- - - - - oOo - - - - -
Di rumah terpisah, terlihat Ica sedang menelpon seseorang.
"Iya Om, besok pagi."
"Terserah Om aja, sesampainya Om di sini. Ok ok... Makasih banyak ya Om Yuda, assalamualaikum!"
Ica memutuskan sambungan teleponnya dan meletakkan handphone itu di nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
"Humz ..., sampe sekarang Aku belum tau kamar siapa ini." Mata Ica mengedar melihat isi sekeliling kamar itu.
"Siapapun kaka yang punya kamar ini, Ica cuma mau bilang makasih. Ica udah pinjem kamar nyaman kaka ini, udah bantu Ica gak mimpi buruk lagi." Ucap Ica tersenyum tulus sambil menghempaskan tubuhnya pelan di atas tempat tidur.
__ADS_1
Gadis itu juga hanya menginginkan ketenangan datang malam ini, ia ingin memberikan pelayanan terbaik untuk mngistirahatkan tubuhnya. Malam itu mereka asik dengan membawa rencana masing-masing di esok pagi, entah sampai kapan akan terus begini.