
"Jika aku masih merindukan seseorang yang telah pergi jauh meninggalkan aku, salah kah yang ku lakukan itu?"
__________________________________________________________________________________________
Ternyata Nenek sudah berdiri di belakang mereka sedari tadi, melihat itu Bima langsung terkejut.
Apa Nenek sudah dari tadi di sini? Apa Nenek denger pembicaraan Kami? Bima bertanya dalam hatinya.
"Lohh Nenek sudah bangun? Padahal Kami baru aja mau bangunin Nenek." Ica langsung menyapa Nenek sambil tersenyum manis, Sedangkan Bima hanya diam memperhatikan Ica.
"Iya Nenek udah ilang capeknya, waktu keluar kamar Kalian gak ada. Ternyata ada di sini!" Nenek menjawab sambil merangkul Ica masuk meningglkan Bima sendrian.
"Nenek udah dari tadi apa berdiri di situ ...?" Tanya Bima memastikan, sambil mengikuti kedua wanita itu dari belakang.
"Enggak ... Nenek baru aja sampe, eh ... Kalian malah udah pada berdiri mau pergi masuk." Jawab nenek jelas, membuat Bima sedikit tenang.
"Nek ...? Kami mau pamit pulang, kapan-kapan Kami main lagi ke sini jenguk Nenek ya." Bima mulai berpamitan dengan Nenek.
"Kenapa gak nginep aja ...? besok pulang!" Nenek bertanya sambil terlihat sedikit berharap, sedangkan Ica hanya diam karna merasa tidak enak dengan Nenek.
"Deon malam ini ada rapat , terus Ayu juga masuk sekolah besok. Gini aja, nanti kalo pas Ayu libur Kita nginep di sini ya Nek!" Bima mencoba menjelaskan alasan mereka kenapa tak bisa menginap.
"Tapi bener ya? Jangan boong sama Nenek, nanti kualat!" Mendengar jawaban Nenek yang sedikit horor membuat Ica dan Bima terkekeh pelan.
__ADS_1
"Iya Nek ..., jangan bilang gitu Deon sama Ayu takut kualat." Bima menanggapi omongan Nenek dengan wajah memelas.
"Deon ..., jangan bikin kecewa Nenek ya! Jaga baik-baik Ayu untuk Nenek. Bisa, kan ...?" Tiba-tiba Nenek meminta Bima untuk menjaga Ica untuk nya.
"Siap Nek! Deon gak akan kecewain Nenek kalo masalah yang satu ini." Jawab Bima dengan mantap.
Bima melajukan Mobilnya menuju rumah Ica setelah berhasil berpamitan dengan neneknya itu, setelah selesai mengantar Ica pulang Bima langsung kembali ke kantor perusahaan nya karna akan ada rapat dadakan dengan para karyawan nya.
Ica sudah selesai dengan mandi dan sholatnya, sekarang dia sedang duduk termenung di depan jendela kamarnya itu. Angin malam berhembus lembut membelai pipi Ica, rambut nya yang basah menjadi sedikit kering karna hembusan angin itu.
"Huuuuuuh ...!" Ica membuang nafasnya sembarang.
"Kenapa bisa secepat ini?"
"Apa Aku hanya sekedar terbawa perasaan kepada Kak Bima?" Ucap Ica, sambil memandang langit yang di penuhi kelap kelip bintang malam itu.
"Sampai sekarang, aku belum juga tau apa alasan Kak Tio pergi? kenapa Dia tega meninggalkanku?" Ica bertanya pada dirinya sendiri.
"Yang Aku harap darinya tidak banyak, Aku hanya ingin ia menghargai kehadiranku. Dengan berpamitan saja sudah cukup bagiku." Ica berkata sambil matanya mulai berkaca-kaca.
"Tapi yang ia lakukan malah seperti ini pada ku, Aku tak bisa terlalu lama menahan ini. Hiks ... hiks ... hiks ...!"
Air matanya mengalir cepat membasahi pipi putihnya itu, sudah sedari tadi mata indahnya menahan panasnya air mata yang sudah berada di ujung pelupuk mata.
__ADS_1
"Aaaaa ...! Hiksss ... hiksss ... hiks."
Angin malam berhembus dan memberikan efek dingin di pipi lembutnya.
"Salah kah jika Aku masih merindukan seseorang yang telah pergi jauh meninggalkanku?" Ica memegang erat bingakai jendelanya sambil berteriak, tubuhnya meluruh di lantai.
"Aku hanya ingin hidup tenang dengan cinta" sederhana!"
"Aku masih terlalu kecil untuk menentukan prasaan semacam ini. Aku takut langkah ku salah, siapa yang akan menuntunku?" Gadis itu terus mengungkapkan kekesalannya.
Ica meringkuk di lantai yang dingin, ia telah berhenti menangis sejak 10 menit yang lalu. Air matanya juga sudah mulai mengering, di tambah dengan tatanan rambutnya yang acak-acakan.
"Semua ini adalah hidupku dan yang harus menentukan pilihan ya aku!"
"Semua berasal dari fikiranku, jika berfikir baik insyaallah semua akan baik. Selagi Aku di jalan allah, insyaallah semua akan terlihat jelas!"
Ica tiba-tiba berbicara sendiri, seolah-olah sedang memberikan motivasi pada dirinya sendiri.
"Jangan pernah sia-sia kan segala sesuatu, syukuri apapun itu. Kuatlah Ica! Semua ini pasti akan ada hikmahnya." Gadis itu berteriak kuat.
Ica mengusap kasar sisa air matanya, ia berlari menuju kamar mandi. Dan sesaat kemudian Ica sudah keluar dengan wajah yang segar rambut sudah rapi, ia berjalan menuju jendala dan sedikit mengeluarkan kepalanya sambil melihat ke arah langit.
" Aaaaa ...! Bismillahirrahmanirrahiim, Aku pasti bisa!" Setelah berteriak menyemangati dirinya sendiri, Ica menutup jendela kamar nya itu. Gadis itu langsung melaksanakan sholat isya dengan kusyuk.
__ADS_1
Ica membantingkan tubuhnya pelan di atas tempat tidur empuknya yang berwarna kuning dengan gamar lebah. Seisi kamar Ica juga hampir semuanya berwana kuning, karna memang Ica sangat suka dengan warna kuning.
Setelah membaca doa sebelum tidur, Ica mulai menutup matanya agar ia bisa dengan cepat menuju alam mimpi. Ia hanya ingin tidur dengan tanang malan ini, mencoba melepaskan semua lelahnya.