
Hari ini adalah saatnya Octa dan Ica pergi keluar untuk menghabiskan waktu bersama yang hanya sementara itu, karna besok Octa sudah akan kembali ke tempat asalnya.
Langkah kaki Octa dengan cepat membawanya keluar dari hotel yang di tempatinya tadi malam, semalam ia memutuskan untuk menginap di hotel walau sebenarnya dia di izinkan Ruslan untuk menginap di rumah mereka.
"Assalamualaikum ...!" Ucap Octa dari depan pintu utama rumah megah itu.
"Waalaikum salam, ayok masuk Abang! Udah di tunggu Abi sama Umi, Kita sarapan bareng." Ucap Ica dengan ramah setelah membukakan pintu.
"Assalamualaikum! Abi, Umi ...," ucap Octa seraya mencium punggung tangan Ruslan dan Tari bergantian.
"Waalaikum salam." Jawab sepasang suami istri itu bersamaan, dengan senyuman.
"Ayok Kita sarapan, Abi sudah lapar!" Ucap Ruslan tak sabar sambil terkekeh pelan. Mereka yang melihat tingkah pria dewasa itu seketika geleng-geleng kepala, lalu acara sarapan di mulai dengan penuh semangat sampai selesai.
"Jadi, rencananya mau jalan-jalan ke mana hari ini?" Ucap Tari melontarkan pertanyaan pada kedua insan di hadapannya itu.
Kedua manusia yang bersangkutan itu hanya saling melempar tatapan, sebenarnya mereka juga belum tau akan pergi ke mana.
__ADS_1
"Emm ..., Octa juga belum tau Umi soalnya Ica belum kasih tau katanya buat kejutan!" Ucap Octa dengan semangat, menimpali pertanyaan Tari.
"Duhhh ..., Anak muda jaman sekarang pakek acara kejutan segala ya Umi!" Sambut Ruslan sambil terkekeh pelan melihat tingkah dua insan itu.
"Bukan gitu Abi ...," ucap Ica dengan manja karna merasa malu.
"Mungkin Kita nanti mau ke Danau aja Umi, Abi. Karna di sana tempatnya bagus, udaranya juga sejuk pasti." Ucap Ica melanjutkan ucapannya dengan sedikit penjelasan.
"Oo gitu, bukan karna orang-orang yang ke sana cenderung tenang, kan?" Tanya Tari, karna ia tau Ica tidak suka tempat yang ramai dan berisik.
Mendengar itu Ica hanya tersenyum, seolah membenarkan ucapan Tari.
"Kita pakek motornya Abi aja yaa! Boleh, kan Abi?" Ucap gadis itu dengan tatapan hangat.
"Kenapa malah milih motor?" Tanya Ruslan heran.
"Octa lebih suka pakek motor Abi, makanya kemarin pas ke sini lebih milih pakek kereta di bandingkan bawa mobil sendiri." Jelas Octa pada Ruslan.
__ADS_1
"Ya udah, kalo gitu pilih aja yang mana yang mau di pakek. Umi sama Abi dulu juga suka pakek motor sebenernya, cuma sekarang aja yang jarang." Ucap Ruslan langsung menyetujui permintaan anak-anak nya itu.
"Ya udah siap-siap gih, nanti keburu siang malah panas di jalan." Ucap Tari juga ikut bersemangat, padahal bukan dia yang akan jalan-jalan.
Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya sang putri keluar dari kamarnya sudah dengan dandan sederhana namun sangat cantik. Baju kaos berwarna kuning tangan panjang, di padukannya dengan celana jeans terlihat sangat cocok dengannya.
"Ayok Kita berangkat!" Ucap Ica gembira.
Setelah selesai berpamitan, Octa dan Ica langsung meluncur menuju tempat yang akan mereka kunjungi. Hiruk pikuk keramaian kota mereka tembus dengan candaan, sepanjang jalan gadis itu tak henti-hentinya tertawa mungkin sekarang giginya garing karna terlalu sering nyengir.
Bahkan sampai saat laju motor yang mereka kendarai berhenti karna lampu merah, gadis itu masih terus saja memancarkan aura keceriaan di wajahnya. Namun ia tak sadar, jika sedari tadi ada sosok lain yang terus memperhatikannya.
Mata tajam pria itu tiba-tiba membulat, ia mencoba memfokuskan pandangan pada sesosok gadis yang tengah asik memperlihatkan gigi gingsulnya di atas motor yang berada tepat di samping mobilnya.
Lagi-lagi Lampu merah itu menjadi tempatnya bertemu dengan Ica, sesosok gadis yang sangat ia sayangi.
"Ica ...! siapa pria yang membawanya?" Ucap Bima yang masih terperanjat dari balik kaca hitam mobilnya.
__ADS_1
Pagi ini harinya sudah sangat kacau dari awal ia membuka mata, dari ulahnya yang bangun kesiangan, di tambah mobilnya yang sempat mogok, dan ini hatinya ikut mogok karna melihat gadis kesayangannya sedang bersama orang yang tak ia kenal.
Rasa lelah Bima tak tertahankan pagi ini, di tambah pula dengan kejutan yang di dapatnya dari rasa rindu, cemburu, dan penasaran setelah melihat gadis kesayangannya itu. Tanpa fikir panjang saat lampu merah berubah menjadi hijau, Bima langsung menancap gas mengikuti gadisnya itu diam-diam.