
"Tugasnya dia itu bikin kamu nyaman dan tugas kamu itu gak gampang nyaman sama yang lain."
__________________________________________________________________________________________
"Lepasin ...! Lepasin Ica Kak!" Teriak Ica kuat ke arah Bima.
Perlahan Ica mulai terlihat kelelahan, perlawanan yang ia lakukan sudah tidak terlalu agresif seperti tadi. Tubuhnya melemas di dalam pelukan Bima, begitupun dengan Bima.
Bima juga tidak berdaya, ia sangat merasa sedih dan bersalah melihat gadis yang ia sayangi malah terluka karnanya.
"Sayang ...!" Bima menyenderkan kepalanya di atas kepala Ica.
Bima bahkan saat ini rela, bila Ica mau memukulnya untuk meluapkan kekesalannya. Namun Ica hanya diam tak menanggapi apapun, tubuhnya sudah terlalu lemas untuk melakukan perlawanan.
Sekarang suara tangisan ica berganti dengan sesegukan pelan, tubuhnya sudah lebih tenang di bandingkan yang tadi. Di sela-sela ketenangan itu, tiba-tiba terlintas di ingatan Bima.
Ica tadi memanggilnya dengan sebutan Kakak, bukan Om. Bibir Bima melengkungkan garis senyuman, ia juga berfikir sekarang dirinya bisa memeluk Ica dengan tulus untuk pertama kalinya.
Setelah lama dalam keheningan, akhirnya terdengar suara dengkuran kecil dari gadis mungil yang sedang berada dalam pelukan Bima itu.
Sungguh Ica sangat muka bantal jika sedang berada dalam pelukan, siapapun yang sedang memeluknya pasti akan membuatnya cepat tertidur itu memang sudah kebiasaannya.
"Hihihi ...!" Bima terkekeh pelan sambil menutup mulutnya, agar tawanya tak mengganggu tidur Ica.
"Bisa-bisanya Kamu tertidur dalam pelukan orang yang tidak kamu sukai, hatimu memang sangat baik sayang." Ucap Bima sebelum keduanya larut dalam tidur mereka, masih dengan posisi berpelukan.
__ADS_1
Suara azan subuh sudah mulai terdengar bersaut-sautan, Ica kembali terbangun dari tidurnya. Mata indahnya kembali mengerjap beberapa kali, mencoba untuk memfokuskan pandangannya. sekarang Ica melihat tubuhnya sudah terbungkus selimut tebal.
Sedangkan laki-laki yang dini hari tadi memeluknya, ternyata tengah tertidur. Dengan posisi badan sedikit meringkuk, di sofa panjang yang ada di ujung kanan ruang kamar itu. Tanpa selimut, sambil bersidekap tangannya di dada.
Melihat pemandangan itu Ica masih sama seperti biasanya, ia acuh saja tidak perduli. Ica berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya agar kembali segar, ia juga berniat ingin mengambil air whudu untuk melaksanakan sholat.
Setelah cukup lama di dalam kamar mandi, akhirnya Ica keluar masih dengan baju yang sama. Namun, dengan kondisi wajah yang lebih segar dari pada sebelum cuci muka.
Ternyata Bima juga sudah bangun dan sedang menunggunya, sambil duduk di pinggir tempat tidur. Pria itu terlihat sudah lengkap dengan menggunakan baju koko berwarna hitam di padukan dengan celanan dasar sedikit ketat berwarna cream.
Di tambah dengan peci di kepala membuatnya terlihat begitu menawan, Ica saja sampai ternganga kagum memandangnya.
Loh bukannya tadi masih ngeringkuk? Apa yang Ku lihat ini bukan Kak Bima? Batin Ica bingung.
"Ini mukenanya, Ayok Kita sholat subuh berjama'ah ...!" Ajak Bima pada Ica yang masih berdiri.
Ica masih berdiam diri, ia hanya berjalan mengambil mukenanya dan langsung mengenakannya. Namun sesekali Ica melirik kearah Bima, mencoba curi-curi pandang.
Kakak galak ini bisa sholat rupanya? Kirain kerjaannya cuma mau marah-marah! Ucap Ica sinis di dalam hati. Ica memanyunkan Bibirnya, sambil berjalan menuju tempat mereka akan melaksanakan sholat subuh berjama'ah.
Semua berjalan dengan lancar dan hikmah, ternyata Bima begitu fasih melafalkan ayat suci Al-Quran. Pembuktian itu berhasil membuat Ica sedikit membuang fikiran buruknya, tentang Bima selama ini.
Layaknya seorang istri, setelah sholat selesai Ica mencium tangan Bima lembut. Sedangkan Bima sudah memajukan tangannya, ingin menangkup wajah Ica berniat mencium kening Ica.
Tapi dengan cepat Ica mundur sedikit menjauh, lalu berdiri meninggalkan Bima yang menjadi malu sendiri dan sedikit kecewa dengan tingkah konyolnya beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
Duhh...! Belom beneran halal aja rasnya adem banget kek gini waktu sholat, gimana nanti kalo udah halal ...? Bima malah mencoba mengejek dirinya sendiri, dengan tujuan mengehibur hatinya.
"Ica mau pulang Kak!" Akhirnya Ica bersuara, setelah hampir satu jam membisu.
"Kita sarapan dulu, habis itu Kita pulang ya ...!" Ajak Bima lembut, pada Ica.
Ica hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Bima, mengartikan bahwa ia setuju dengan usulan Bima.
Setelah selesai sarapan, Bima dengan telaten menyiapkan obat, vitamin dan air mineral untuk Ica minum anjuran dari dr. Hans kemarin.
Ica tidak menolak apapun itu yang di berikan Bima padanya, mereka berdua terlihat akur beberapa jam trakhir ini. Yang satu perhatiannya mintak ampun, yang satunya malah acuh tak perduli.
Bima sudah siap dengan setelan jas dan kemeja seperti biasa, karna ia akan berangkat ke kantor untuk mengurus beberapa perkerjaan yang tertunda kemarin sore.
Bima melajukan Mobilnya menuju rumah Ica. Setelah sampai di rumah, Ica langsung buru-buru menuju kamarnya untuk mengganti pakaian dan menyiapkan buku-bukunya.
Ica menuruni anak tangga menuju ruang tamu, ia mendekati Bima dan Dian tanpa mengeluarkan kata sedikitpun. Bima yang melihat Ica sudah siap langsung berdiri dan berpamitan dengan Dian, begitupun dengan Ica.
Selama di perjalanan menuju sekolah, seperti biasa Ica belum menunjukkan tanda-tanda ia akan mengajak Bima bicara.
"Kak Ica berangkat sekolah dulu, assalamualaikum." Gadis itu berpamitan sambil mencium punggung tangan Bima.
Hari ini Ica berpamitan dengan Bima sebelum masuk ke sekolah, walau masih dengan ekspresi wajah datarnya. Tapi itu saja sudah berhasil membuat hati Bima jingkrak-jingkrak kegirangan.
"Ehhh Iya ..., semangat belajarnya! Wa-waalaikum salam, nanti Kakak jemput Kamu pas pulang sekolah." Bima menjawab salam Ica sedikit terbata-bata sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal itu.
__ADS_1
"Emmm ...," Ica hanya menjawab dengan deheman kecil sambil berjalan meninggalkan Bima.
Ya ... iya laa, jemput waktu pulang sekolah. Ya kali jemput pas jam pelajaran! Ada-ada aja ..., Ica terkekeh pelan menanggapi perkataan Bima tadi di dalam hati, itu cukup lucu menurut Ica.