
Keesok Harinya Kirana datang ke kantor untuk menemui Roy. Kirana masuk keruangan Roy dan melihatnya sedang duduk dikursi kebesarannya dengan menaikkan dan melipat kakinya di atas meja kerjanya.
"Roy"
"Haii cantik". Roy menurunkan kakinya
"Duduklah".
Kirana duduk di kursi berhadapan dengan Roy.
"Ada apa cantik?" roy tersenyum licik
"Aku kemari ingin mengajukan penawaran kepadamu".
"Apa?"
"Aku akan ikut denganmu, tapi dengan syarat kau menepati janjimu untuk mengembalikan perusahaan ayahku".
"Hahaha apa aku gak salah dengar? Ayah? siapa ayahmu? Wiraharja?"
"Iya, ia adalah ayahku, dan Vanya adalah Adik tiriku".
"Hahaha MENARIKKKKKK. Rupanya, Vanya memiliki kakak tiri yang begitu cantik dan berani sepertimu. Pantas saja Kenzo begitu tergila-gila padamu dan mencampakkan Vanya".
Kirana mencoba menahan amarahnya....
"Jadi bagaimana?"
"Kau kira aku sebodoh itu mau memberikan perusahaan ini begitu saja?. Tapi, jika kau mau, ikutlah bersamaku, tinggalkan kenzo dan aku akan membantu perusahaan kenzo. Karena aku tau perusahaannya akan segera bangkrut".
Kirana begitu kesal dengan Roy yang begitu licik dan ingin sekali menghajarnya, Namun dia tidak ada pilihan lain selain menerimanya.
Kirana menghembuskan nafas panjang
"Baiklah aku akan ikut denganmu".
"Oke Good" Roy mengulurkan tangannya dan mengajak bersalaman.
"Maaf aku tak bersentuhan dengan yang bukan muhrim".
"Muhrim?"
"Iya kamu bukan muhrimku".
"Jadi bagaimana kita bisa jadi muhrim?"
"Kamu jadi aja perempuan" Jawab Kirana dengan kesal.
"Apa kau sudah gila?"
"Sudahlah gak perlu di bahas".
__ADS_1
"Kau ini cantik tapi begitu galak".
"Biarin aku galak. Maka kamu harus hati-hati, kapan saja aku bisa membunuhmu".
"Weeehhhh Aku sukaaa wanita galak kayak kamu. Sekarang ayo ikut aku".
"Kemana?"
"Sudah ikut saja".
Roy mengajak Kirana pergi ke kediaman Roy.
Sesampainya di rumah roy, kirana di paksa masuk kedalam.
"Cepat buatkan aku kopi dan antarkan ke kamar".
Roy meninggalkan kirana dan pergi kekamarnya.
Kirana yang baru datang pun bingung, rumah itu begitu besar dan juga banyak pembantu dirumahnya, kanapa dia gak suruh aja pembantunya membuatkan kopi.
Kirana pergi ke dapur dan membuatkan kopi,
"Nyonya".
Kirana menoleh ke belakang,
"Iya ada apa?"
"Iya"
"Takarannya 1 sendok gula dan 1 sendok kopi nyonya".
"Baiklah, siapa namamu?"
"Saya Arum".
"Baiklah, namaku kirana bik"
"Baik nyonya"
"Jangan panggil saya nyonya, panggil saja kirana"
"Maaf kami tidak berani".
"Ya sudah terserah kalian".
"Nyonya, kasihan tuan roy yang sendirian disini. Ia begitu kesepian semenjak kehilangan adiknya".
"Benarkah?"
"Iya, tuan itu sebenarnya orang yang baik dan ramah, tapi semenjak kehilangan adiknya dia berubah menjadi orang yang dingin dan begitu kejam"
__ADS_1
"Ohhh begitu, kemana orang tua nya?"
"Kedua orang tuanya ada di Italy dan tak pernah kemari. Hanya tuan yang sering pergi kesana untuk menjenguknya".
"Ohhh begitu,,,, ya sudah saya mau anter kopi ini dulu ya"
"Baik nyonya".
.
Kirana membawa kopinya ke kamar Roy,
Tok
Tok
Tok
"Masuk"
Kirana masuk kedalam kamar roy,dilihatnya Roy tengah sibuk memeriksa dokumen.
"Ini kopinya".
"Buat kopi saja lama sekali".
"Maaf karena rumahmu begitu besar, aku jadi bingung dimana dapurnya".
"Hahaa kau begitu pandai bergurau baby"
"Aku tak bercanda. Kenapa kau bawa aku kemari"
"Kau sudah berjanji akan tinggal bersamaku, jadi aku bawa kau kemari".
"Ya aku tau, tapi jangan macam-macam kamu ya".
"Tergantung".
Kirana nampak kesal dengan sikap Roy tapi dia hanya bisa menahan.
"Ya sudah aku pergi dulu"
"Kemana?"
"Sholat Zuhur lah, memangnya kamu gak denger suara azan!?"
Roy hanya terdiam mendengar ucapan kirana, pasalnya selama ini tidak ada yang berani membentak dia ataupun terdengar kata sholat di rumahnya. Kirana pergi meninggalkan Roy sendiri di kamarnya untuk menjalankan sholat di kamar yang sudah disiapkan Roy untuk kirana.
.
.
__ADS_1
.