DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 9


__ADS_3

~ Kau membuatku bahagia dengan cara yang orang lain tak bisa.


_Nathan__


***


Habis gelap terbitlah terang. Seharusnya seperti itu, tapi aku malah sebaliknya. Habis bergalau ria bukannya bahagia, aku malah jatuh sakit.


Sudah 3 hari ini aku sakit demam dan beristirahat di rumah.


Sebenarnya hari ini keadaanku sudah lebih membaik, tapi aku masih sedikit lemas. Jadi memutuskan untuk masuk kuliah besok saja.


Aku sedang menatap layar ponselku, membaca kembali pesan dari Pak Nathan semalam.


[ Kenapa tidak kuliah ?]


Begitu isi pesannya. Aku membalas apa adanya kalau sedang sakit. Dan setelah itu Pak Nathan tidak membalas lagi. Sampai pagi sekarang belum ada juga balasan darinya.


Dasar tega!. Aku merengut sebal.


Kok bisa aku suka sama orang menyebalkan kayak dia.


Yaa.. aku memutuskan untuk bertahan setelah beberapa hari memikirkannya. Sampai kepalaku pusing, dan aku demam begini, Tetap saja Pak Nathan selalu ada di pikiranku.


Bucin banget kan !.


Memang sih hubungan kami sedikit ada kemajuan sekarang, seperti saling mengirim pesan. Tapi itu pun balasnya lama kayak sekarang ini. Bikin emosi jiwa.


Tring!!.


Ponselku berbunyi, tanda pesan masuk. Aku buru - buru membukanya. Berharap satu pesan dari Pak Nathan. Tapi ternyata dari kak Faiz. Semenjak kejadian kemarin, aku menyimpan nomor kak Faiz, dan baru semalam aku menghubunginya. Aku mengatakan maksudku kalau aku ingin tetap di samping pak Nathan, dan membantu proses penyembuhannya


[ Ada waktu hari ini? Saya mau menjawab pertanyaan kamu kemarin tentang terapi untuk Nathan. Lebih enak bicara langsung ]


Begitu isi pesan kak Faiz. Aku segera membalasnya.


[ Oke. Biar saya yang kesana. Kak Faiz kirim alamatnya aja yaa... ]


Tidak berapa lama Kak Faiz mengirimkan alamat kliniknya, ternyata tidak jauh dari rumahku.


Aku memutuskan untuk datang. Kemarin aku memang bertanya hal apa yang harus di lakukan untuk membantu penyembuhan Pak Nathan.


Aku ingin Pak Nathan cepat sembuh, setidaknya aku tulus ingin dia juga merasakan bahagia setelah apa yang dia alami.


****


Di klinik


Kak Faiz menyambutku dengan baik. Aku sengaja datang di jam istirahat karena takut mengganggu pekerjaannya.


Klinik Kak Faiz lumayan besar. Dengan 2 lantai.


Lantai bawah resepsionis dan ruang tunggu. Lantai atas ruangan prakteknya, dan di samping ruang prakteknya juga ada beberapa kursi dan meja di lengkapi dengan coffee bar mini.


"Saya sengaja membuat tempat ini untuk istirahat, Kadang malas untuk naik turun ke bawah lagi. Jadi kalau ada tamu khusus dia bisa tunggu disini juga" Kak Faiz menjelaskan dan mengajakku masuk.


"Oh. Bagus tempatnya. Unik."

__ADS_1


Ia tersenyum "Silakan duduk. Mau kopi?"


"Gak usah kak, saya gak suka kopi. Kita langsung aja bisa?" Jawabku sambil duduk di hadapan Kak Faiz.


Kak Faiz malah tertawa mendengarnya


"Wah.. sudah gak sabar ya..Jadi kamu sudah ambil keputusan nih sekarang?"


"Begitulah kak, awalnya si saya sempat ragu. Bukan karena perasaan saya ke Pak Nathan, saya takut kalau dia gak bisa terima kehadiran saya karena rasa trauma dia. Tapi sekarang saya udah ambil keputusan kak. Untuk berjuang dan bantu Pak Nathan semampunya. Walaupun nanti bukan dengan saya, tapi setidaknya dia bisa membuka hatinya lagi dan bisa bahagia."


Yaa.. aku memang sudah pasrah. Walaupun nantinya Pak Nathan tidak bisa menyukaiku sekalipun.


Kak Faiz menatapku dalam, "Kamu gadis yang baik. Nathan beruntung punya kamu. Wah kalau kamu bicara begitu, berarti udah gak ada kesempatan lagi untuk laki - laki lain dong." Ia tersenyum jahil meledekku.


"Apa sih Kak Faiz ngeledek aja." Aku hanya tertawa kecil menanggapi kata - katanya.


Setelah itu Kak Faiz mulai menjelaskan tentang penyakit Pak Nathan juga terapi yang harus dilakukannya.


"Jadi.. untuk kasus Nathan karena sudah bertahun-tahun, harus ada tekad dan kemauan yang kuat juga dari dirinya sendiri untuk sembuh. Dukungan dari orang terdekatnya, seperti mengajaknya beraktivitas yang menyenangkan, dari hal kecil aja dulu. Seperti jalan - jalan, berolahraga, piknik. Dan jangan terlalu memaksanya. Pelan - pelan aja. Sampai dia mulai menerima dan percaya dengan orang lain. Emosinya juga tidak stabil, jadi harus banyak bersabar menghadapinya."


Aku mengangguk paham. Sepertinya aku memang harus mengajak Pak Nathan jalan - jalan agar dia bisa lebih santai dan pikirannya bisa rileks. Aku akan meminta bantuan Arsy untuk membujuknya supaya dia mau nanti.


Lalu Kak Faiz kembali melanjutkan penjelasannya. Aku mendengarkan dengan serius. Berusaha menangkap maksudnya, walaupun ada beberapa istilah yang aku gak mengerti.


"Ehemm!!"


Tiba - tiba ada suara yang mengagetkan kami. Seseorang sudah berdiri di samping pintu ruangan Kak Faiz. Aku menoleh begitu juga kak Faiz. Karena asyik bicara sepertinya dia juga tidak sadar kalau ada yang datang.


Dan aku terkejut melihat siapa yang ada disana.


Dia sedang berdiri bersandar sambil melipat kedua tangannya. Menatap tajam ke arah kami berdua.


"Saya baru tau kalau orang sakit demam, ternyata juga bisa berobat ke psikiater. "


Pak Nathan berkata sambil tersenyum sinis.


Mati aku!


Pak Nathan kan taunya aku lagi sakit di rumah. Sekarang dia malah lihat aku disini.


"Hei, Nat. Sini masuk." Kak Faiz berdiri ingin menghampirinya.


"Nindi tadi kesini karena ada yang mau di tanyakan tentang......" Ia berusaha menjelaskan.


"Stop. Saya gak mau dengar, itu urusan kalian. Saya kesini cuma mau ambil jaket yang ketinggalan kemarin disini." Pak Nathan memotong ucapan Kak Faiz dan menunjukkan jaket yang ada di tangannya.


"Silakan lanjutkan. Maaf sudah mengganggu konsultasimu yang menyenangkan Anindira.."


Ucapnya, atau lebih tepatnya ia sedang menyindirku.


Aku diam tidak menjawab.


Setelah itu Pak Nathan menatapku sinis, dan langung pergi meninggalkanku dengan Kak Faiz.


Aku menggigit bibirku cemas.


"Bagaimana ini kak. Kayaknya Pak Nathan marah deh."

__ADS_1


"Sebaiknya kamu kejar dia. Jelaskan ke Nathan baik - baik ya.. Jangan takut. Semangat .oke." Kak Faiz menyemangatiku.


"Oke. Kalau gitu saya pergi dulu ya Kak. Makasih atas waktunya. Dahh.."


Aku meraih tasku dan bergegas pergi untuk menyusul Pak Nathan.


****


Aku berlari mengejar Pak Nathan sampai ke parkiran di samping klinik.


Daritadi aku memanggilnya, tapi Pak Nathan jangankan menjawab, menoleh aja enggak.


Sepertinya dia benar - benar marah. Padahal aku sudah lemas karena terus mengejarnya.


"Pak.. tunggu dong. Saya capek nih."


Aku berusaha mengikuti langkahnya yang cepat.


Pak Nathan sudah sampai di depan mobilnya. Tapi tiba - tiba ia berhenti berjalan, dan aku sukses menabrak punggungnya yang keras itu


"Awww." Aku menjerit kesakitan sambil mengelus - elus jidatku yang mendarat mulus di punggungnya.


Pak Nathan membalikkan badan.


"Ngapain kamu ikutin saya."


Aku manyun menatapnya. "Minta maaf dulu kek udah buat jidat anak orang benjol."


Gerutuku sebal.


Tapi bukan Pak Nathan namanya kalau gak kejam. Boro - boro minta maaf. Dia malah memicingkan matanya menatapku tajam seolah - olah ingin menerkamku.


"Bisa gak sih bapak tuh dengerin saya dulu. Kaki saya tuh sampe sakit daritadi ngejar bapak. Sekarang malah jidat saya nih benjol."


"Bukan urusan saya." Jawabnya ketus. Lalu kembali pergi berjalan menuju pintu mobilnya. Dan masuk ke dalam.


Aku melongo. Kesal merasa di kacangin.


Tahan.. tahan.. tahan yaa Anindira. Orang sabar itu cantik. Dan orang cantik itu harus sabar.


Jadi kalau mau tetap cantik harus sabar.


Begitu kan...


Tiinnn. Tiinnn. Bunyi klakson mobil Pak Nathan membuatku meloncat kaget.


"Mau naik gak ?" Pak Nathan melongokkan kepalanya dari kaca mobil. Tanpa rasa bersalah karena sudah mengagetkanku.


Aku menghela napas. Duhh Gusti ... Dosa apa aku bisa suka sama orang model ini.


Tadi marah - marah. Sekarang malah suruh naik.


Sebenarnya yang remaja labil itu siapa sih.


Dia atau aku??.


**********************************

__ADS_1


__ADS_2