DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Salah paham?


__ADS_3

POV AUTHOR_


Harusnya aku tahu kalau ini akan jadi masalah. Ikut campur dengan urusan orang lain memang sangat merugikan.


Batin Nathan kesal.


"Rina, bisa saya minta waktu kamu malam ini?"


Rina mendongakkan wajahnya, terkejut. Dia sedang berada di ruangan Nathan, karena dosen dan juga bosnya itu memanggil dirinya.


"Bi..bisa, Pak."


"Hemm. Malam ini, kita bertemu dengan istri saya."


Mata Rina terbelalak, "Istri bapak?"


Pikiran Rina melayang ke beberapa hari lalu, saat dirinya memergoki Nathan bersama dengan Nindi di ruangan ini.


"Saya mau, kamu bantu jelaskan ke istri saya. Kalau kita gak ada hubungan apa-apa. Kejadian kemarin, murni karena saya mau tolong kamu."


Rina terdiam. Dia memang sangat berterima kasih pada Nathan, karena pria itu sudah menolongnya dari lubang harimau. Kalau tidak ada Nathan, mungkin dia sudah hancur.


"Baik, Pak. Saya bersedia."


"Oke. Silakan keluar."


Rina pun undur diri dari hadapan Nathan.


Selepas kepergian Rina, Nathan menghempaskan tubuhnya di kursi. Mengusap wajah dengan kasar. Pikirannya tidak bisa fokus memikirkan Nindi.


Anindira... kenapa kamu pergi. Bukannya kamu berjanji akan percaya sama aku?


Sekecil ini kah rasa percaya kamu?


Bukan tanpa alasan, Nathan membiarkan Nindi pergi malam itu. Hatinya juga merasa sakit, penilaian Nindi padanya terlalu rendah.


Kalau Nindi memang sudah mencintainya, tidak seharusnya dia percaya hanya dengan satu foto.


Sudah lima hari, dia sengaja membiarkan Nindi untuk menenangkan diri. Dan sekarang Nathan tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Dia akan menemui Nindi malam ini.


🌸🌸🌸🌸


Ting. Tong.


Bel berbunyi, Nindi bergegas membukanya. Karena mama dan Lisa sedang sibuk di dapur.


Begitu pintu terbuka, sosok pria tinggi dan tampan, masih dengan pakaian yang formal, tengah berdiri di hadapannya.


Tubuh Nindi mematung kaku, apalagi melihat lelakinya itu tidak datang sendiri. Nathan datang bersama Rina, yang tersenyum kikuk, karena Nindi terus menatapnya tajam.


"Kenapa Mas kesini?"


"Mau jemput istri aku pulang."

__ADS_1


Nindi tertawa sumbang. Istri?


Setelah lima hari tidak memberi kabar, dia masih mengakui aku istrinya?


"Siapa Nin? kok gak di suruh masuk?" mama melongok dari balik pintu


"Loh, Nathan? ayo masuk."


Nathan tersenyum, "Makasih, Ma. Saya mau jemput Nindi."


"Oh, gitu. Ya udah ayo masuk dulu. Ini siapa?" tanya mama, melihat ke arah wanita yang sejak tadi berdiri dengan canggung.


"Saya... Rina, Tante."


Mama mengangguk mengerti, lalu mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam.


Lisa yang melihat Nathan datang, langsung menghujaninya dengan berbagai makian. Dia masih marah dengan perlakuan Nathan malam itu.


"Sudah, Lisa! kamu jangan ikut campur. Itu urusan mereka. Ayo kita masuk ke dalam, biarkan mereka bicara." mama menarik tangan Lisa, yang terus menatap Nathan dengan emosi.


"Jadi, mau apa kalian kemari?" tanya Nindi, dengan suara sedikit bergetar.


Rina menoleh ke arahnya, pandangan Rina berhenti menatap perut Nindi yang terlihat buncit. Ia merasa tidak enak hati. Di jalan tadi, Nathan sudah menceritakan semua permasalahan yang terjadi.


"Kak Nindi, saya minta maaf. Ini karena saya. Tapi sumpah, saya gak ada hubungan apa pun sama Pak Nathan."


Mata Nindi menyipit menatap ke arah Rina. Gadis berwajah lugu, dengan celana bahan panjang, dan atasan kaos oblong.


Rina menghela napas, berat sebenarnya harus menceritakan ini. Seolah mengulang kembali mimpi buruknya.


"Saya di jebak, Kak. Kondisi keuangan saya lagi sulit. Jadi saya harus bekerja untuk biaya kuliah. Dan malam itu, teman saya bilang kalau ada pekerjaan yang menghasilkan uang besar, aku cuma harus menemani klien. Dan ternyata, mereka membawa aku ke hotel itu." jelas Rina. Wajahnya menunduk dalam.


"Aku menolongnya. Hari itu jadwal dia bimbingan. Jadi dia telepon aku, minta pertolongan." timpal Nathan. Dia berjalan mendekati Nindi dan menekuk lutut di hadapannya.


"Kalau kamu gak percaya, kita ke hotel itu. Kamu bisa tanya ke recepcionist hotel, apa aku check in di sana atau gak. Lagipula Rina itu mau menikah, setelah lulus kuliah ini."


"Iya, Kak benar. Sehabis lulus ini aku mau menikah." sahut Rina cepat.


"Maaf karena aku, kalian jadi bertengkar."


Ah, apa yang sudah aku lakukan?


Jadi semua ini salah paham?


Nindi menggigit bibir bawahnya, menatap Nathan dengan penuh penyesalan.


"Maaf, aku terlalu kekanakan. Harusnya aku dengar penjelasan kamu dulu malam itu."


"Nggak. Aku yang harusnya minta maaf. Udah bersikap bodoh, biarkan kamu pergi gitu aja."


Nathan menyentuh lembut perut Nindi dengan tangannya.


"Maafin papa ya Nak, udah buat mama kamu sedih."

__ADS_1


Nindi mengusap sudut matanya yang berair. Dia tersenyum, ketika Nathan terus bicara pada bayi dalam perutnya. Seolah mengerti dengan ucapan sang papa, Nindi merasakan pergerakan dari dalam, yang membuatnya meringis.


"Kenapa?" Nathan bertanya panik.


"Gak apa, Mas. Ini dedenya bergerak. Dia kangen papanya mungkin."


Nathan tertawa lebar, dia bukan hanya mengusap tapi juga menciumi perut Nindi, walaupun ada Rina di sana.


Napas Rina tersekat, melihat dengan jelas perilaku dosennya yang sangat jauh berbeda jika sedang mengajar. Nathan yang dingin berubah lembut di hadapan istrinya. Kekuatan cinta memang dahsyat.


Sungguh beruntung menjadi istri Pak Nathan. Batin Rina.


"Rina, maaf saya salah paham sama kamu." ucap Nindi.


Rina menggelengkan kepala, "Gak apa, Kak. Tapi saya berani sumpah, bukan saya yang kirim foto itu."


Nindi mengerti, gadis lugu dan polos seperti Rina tidak mungkin berbuat seperti itu. Lain halnya Bella, semuanya jadi mungkin kalau dia yang berbuat.


*****


Malam itu juga, Nindi kembali pulang bersama Nathan. Namun mereka sepakay, untuk mengantarkan Rina lebih dulu ke rumahnya.


"Ini tempat tinggal kamu, Rina?" tanya Nindi, sambil menatap ke arah kost'an petak yang berderet. Lingkungan yang asri dan sederhana. Dengan beberapa pohon rindang di sekitarnya.


"Iya Kak. Makasih ya sudah mengantar."


"Sama-sama Rina. Dahh..." Nindi melambaikan tangannya melalui kaca jendela mobil.


Di perjalanan, pandangan Nindi tidak beralih dari wajah Nathan. Dia terus menatap suaminya itu, yang sedang fokus menyetir.


"Kenapa? wajah aku bisa berlubang kalau kamu lihatin terus." ucap Nathan.


Nindi terkekeh, ia bersandar manja di bahu Nathan.


"Maaf aku udah meragukan kamu."


Nathan melengkungkan bibir, membuat senyum tipis di sana. Sebelah tangannya mengusap rambut Nindi dengan lembut


"Kamu tahu, aku gak mudah buat buka hati ke orang lain. Dan aku gak sehina itu, sampai pergi ke hotel dengan wanita lain."


Nindi merasa bersalah karena telah meragukan kesetiaan Nathan, bahkan sampai pergi dari rumah. Sungguh sifat labil yang merugikan untuknya.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di pipi Nathan, membuat pemiliknya tersenyum.


"Belum sampai rumah sayang... Nanti aja." goda Nathan.


Ucapannya berhasil membuat Nindi salah tingkah. Pukulan pelan di lengannya membuat Nathan tertawa, kebahagiaan kembali merebak di hatinya saat ini. Beberapa hari berpisah dengan Nindi, membuatnya sadar kalau dia tidak bisa hidup tanpa wanitanya itu.


Tanpa sepengetahuan Nindi, dia sudah menyelediki siapa yang sudah mengirim foto itu. Dan ia berjanji akan membuat perhitungan pada orang tersebut, jika dia sudah berhasil menemukannya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2