
POV 1
#Nathan
Hari ini aku kembali melihat gadis itu, gadis remaja berumur 20 tahunan yang belakangan ini selalu mendekatiku dengan sikap konyolnya. Dia selalu duduk di depan saat aku mengajar. Tapi itu bukan karena ia anak yang teladan dan pintar. Dia duduk di depan karena ingin menatapku. Terbukti dari tingkahnya yang selalu senyum - senyum tidak jelas saat aku memberikan materi.
Awalnya aku tidak menghiraukannya, bagiku dia hanya ABG labil yang hanya melihatku dari penampilan, seperti gadis yang lainnya.
Aku hanya perlu bersikap ketus padanya, pasti dia akan menyerah.
Tapi... Gadis itu berbeda. Dia mempunyai tekad yang kuat tak peduli berapa kali aku menghindarinya.
Terlebih dia mampu mendekati putriku Arsy.
Dan Arsy.. entahlah apa yang dia lihat dari gadis itu.
Aku mencoba menjauhkan Arsy darinya.
Tapi Arsy selalu ada cara untuk membuatku menyerah.
Hari ini aku melihatnya sedang berdebat dengan pria lain. Huh. Benarkan dugaanku, dia hanya ABG labil yang sedang melewati masa pubernya. Gadis itu layaknya rubah yang menebar pesonanya di mana - mana.
Awalnya aku tidak ingin peduli, tapi kaki ini seolah melangkah sendiri, tidak sesuai yang ku harapkan. Aku mendekat dan mencuri dengar pembicaraan mereka.
Dan ternyata aku salah menilai, dia sedang dipaksa oleh pria bernama Micky. Aku menolongnya, alasannya karena dia mahasiswiku. Bukan hal yang lain.
Satu mobil dengannya membuatku gugup, ini pertama kali ada seorang perempuan yang naik mobilku. Apalagi Anindira secara terang-terangan terus menatapku. Entah terbuat dari apa nyalinya itu. Kenapa begitu berani menyatakan suka padaku begitu saja?
__ADS_1
Gadis seperti dia bilang kalau belum pernah pacaran.. Ku akui dia cantik. Tapi kenapa dia malah memilih mendekatiku yang seorang duda beranak satu. Perasaanku rasanya tidak tenang sekarang.
🌸🌸
Akhirnya aku menyetujui dia menjadi pengasuh Arsy.
Aku hanya sedikit penasaran, kenapa dia begitu ingin mendekatiku.
Sampai sejauh mana ia bertahan...??
Atau,
Sampai sejauh mana aku bisa bertahan ??
🌸🌸🌸
POV 2
Selesai mengajar aku segera melajukan mobilku menuju rumah. Beberapa teman dosenku mengajakku untuk kumpul.
Katanya ada perayaan di rumah Miss Rena.
Aku menolaknya dengan halus, walaupun kekecewaan terlihat di wajah Miss Rena.
Bagaimana bisa aku datang kalau pikiranku terus memikirkan Arsy di rumah.
Ketika aku sampai rumah, Bi Munah menyambutku. Aku langsung menanyakan keadaan Arsy. Bi Munah menjawab kalau Arsy di kamar bersama Nindi.
__ADS_1
Ya benar ,aku hampir saja lupa. Gadis itu, Anindira. Gadis yang akhir - akhir ini berhasil menguras emosi dan menyita perhatianku.
Gadis konyol dan pecicilan yang selalu berkata semaunya.
Aku berjalan pelan menuju kamar Arsy, sampai disana aku tidak langsung masuk. Ku dengar suara Arsy tertawa bercanda. Sepertinya Anindira sedang bercerita padanya.
Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke kamar Arsy dan berbalik naik ke lantai atas menuju kamarku sendiri.
Aku membuka laci meja kamarku. Mencari sesuatu yang kubutuhkan.
Sial. Obat itu sudah habis. Besok berarti aku harus kembali menemui psikiater sok tau itu.
Aku berjalan menuruni tangga, dan secara tidak sengaja berpapasan dengan Anindira. Dia tersenyum lagi. Kulihat ada yang berbeda dari penampilannya, ah dia mengikat rambutnya keatas. Lehernya yang jenjang semakin menambah kecantikannya.
Yaa kuakui dia cantik, tapi dia terlalu muda untukku.
Sadarlah Nathan, jangan berpikir aneh - aneh. Bukankah selama ini aku sudah berhasil membangun benteng untuk diriku sendiri.
Bagaimana bisa aku membuka hati, sedangkan setiap malam mimpi buruk itu selalu datang?
Aku sedikit merasa bersalah karena menyita waktunya. Dia juga pasti lelah karena harus kuliah, tentu saja aku harus memberikan gaji yang setimpal untuknya.
Tapi barusan apa yang dia bilang?
Dia berniat memikirkannya dulu, memangnya dia mau bayaran apa selain uang dariku?
Ah. Gadis itu selalu saja bersikap semaunya.
__ADS_1
Untunglah dia segera pergi. Kalau tidak, mungkin dia akan semakin gencar meledekku, jika melihat telingaku yang kembali memanas dan memerah saat ini.
*******************************