
POV NATHAN
Tidak pernah terpikir kalau hari ini akan datang juga. Seorang Nathan Mahendra yang disegani oleh semua mahasiswa kini harus rela menurunkan harga dirinya di depan seorang perempuan.
Setelah insiden di pesta pernikahan Sarah tadi, aku hanya bisa menahan diri dengan perilaku Anindira. Dia makan dengan lahap seolah tidak pernah makan berhari-hari, dan setelah itu memuntahkannya begitu saja sampai mengenai jas yang ku kenakan.
Astaga!
Sabar Nathan.... Dia istri kamu dan sedang mengandung hasil perbuatan kamu setiap malam.
Sebagai suami dan papa siaga, aku harus bisa melalui ini semua. Setelah membeli nasi rames yang diinginkan istriku itu, akhirnya kami bisa pulang ke rumah.
Sambil menggulung kemeja putih yang ku kenakan sampai sikut, aku mulai menyiapkan makanan di piring untuk Anindira.
"Ini di makan ya.. Mau saya suapin?"
"Mau, tapi jangan pake sendok. Aku maunya di suapin pakai tangan kamu langsung, Mas."
Hah? Bagaimana ini, aku nggak pernah makan tanpa sendok.
Dengan sedikit kaku, terpaksa ku turuti apa mau Anindira. Khawatir dia menangis lagi. Anindira sangat sensitif sekarang. Dia bisa tiba-tiba marah atau menangis.
"Enak?"
Anindira mengangguk antusias. Setelah pulang dari pesta Sarah tadi, nafsu makan Anindira seolah kembali lagi. Dia hampir saja membeli semua makanan yang ada di pinggir jalan tadi kalau tidak ku larang.
"Mas, sambalnya tambahin." rengeknya manja.
"Ini sudah banyak sayang... Nanti perut kamu sakit."
Aku benar-benar khawatir, namun dia malah mengerucutkan bibir, karena keinginannya ku larang. Dan akhirnya aku kembali mengalah.
"Iya udah. Ini saya tambah ya...."
Seperti anak kecil, Anindira tersenyum lebar begitu kemauannya ku turuti. Dia pun kembali makan dengan lahap. Semoga saja dia tidak mengalami mual lagi seperti di pesta tadi.
"Sudah, Mas. Aku kenyang. Buat kamu aja."
"Gak usah. Tadi kan di pesta saya udah makan. Gak lapar lagi."
Tiba-tiba saja ekspresi wajah Anindira berubah. Ia menatapku dengan sinis.
Lho ada apa ini?
Apa aku salah ngomong tadi?
__ADS_1
"Mas mau bilang kalau aku rakus kan? udah makan tapi masih lapar aja. Bilang aja deh langsung gak usah nyindir. Kami juga kesal kan gara-gara jasnya kotor."
"Ya ampun, Nin. Saya gak ada maksud begitu!"
"Udah ah aku cape. Mau istirahat di kamar."
Anindira berdiri dengan menghentakkan kakinya, lalu beranjak pergi ke atas meninggalkanku sendiri di ruang makan.
Aku hanya bisa mendesah prustasi. Menghadapi Anindira yang seperti ini sungguh menguras tenaga dan pikiran.
"Den, sabar ya. Kalau orang hamil memang kadang begitu. Sensitif."
Tiba-tiba Bi Munah sudah datang, ingin membereskan piring yang kotor tadi.
"Tapi Jihan dulu gak begini, Bi."
"Gak boleh begitu, Den. Kondisi setiap orang kan beda-beda. Apalagi Neng Nindi masih muda. Sekarang yang di butuhkan Neng Nindi itu, perhatian dari suami."
Apa benar seperti itu?
Yah apa pun itu, aku akan berusaha untuk memenuhi semua permintaan Anindira.
Setelah bicara sedikit dengan Bi Munah, aku segera menyusul Anindira ke kamar.
Di kamar, Anindira sudah tertidur di ranjang, dengan mengenakan baju tidur pendek, dan posisi selimut yang tersingkap. Sehingga memperlihatkan pahanya yang mulus.
Perlahan aku mendekati Anindira, serta menyelimutinya kembali sampai batas pinggang.
Jadi Nathan, bersiaplah kau. Untuk mandi air dingin malam ini.
🌸🌸🌸🌸🌸
POV ANINDIRA
Pagi ini Mas Nathan sudah berangkat ke kampus, dia bilang juga akan pulang sedikit telat karena harus ke cabang Resto Green yang di Jakarta.
Syukurlah keadaan bisnisnya membaik, dia sempat bercerita denganku, walaupun aku hanya menanggapi singkat. Entah kenapa suasana hatiku jadi lebih sensitif sekarang.
Begitu turun dari kamar, aku di kagetkan dengan kehadiran Tante Lisa di bawah, dia bersama dengan mama.
"Loh, kalian kok gak bangunin aku sih datang ke sini?"
Mama dan Tante Lisa saling berpandangan seraya tersenyum.
"Mana bisa kita ganggu bumil lagi tidur, ya gak Lis?" ucap mama.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum kikuk. Pasalnya, aku belum sempat memberitahu mama tentang kehamilanku ini. Bagaimana mama tahu?
Apa Mas Nathan yang memberitahunya?
"Kamu ini ya, kok gak kabarin mama. Untung aja Faizal kabarin mama semalam." mama menuntunku untuk duduk di sampingnya.
"Maaf ma, aku cuma belum sempat kasih kabar."
"Iya nih, masa kabar bahagia begini mau kamu simpan sendiri sih, Nin." Tante Lisa menimpali.
Dua wanita yang paling ku sayangi itu mengapit dan memelukku dengan erat. Seolah ingin menyalurkan energi positif untukku.
"Oh ya mah, masalah kemarin Mas Nathan akan usahain."
"Udah kamu gak usah pikirin itu. Lisa udah selesaiin semua." sahut mama
"Eh, kok bisa?"
"Pokoknya beres. Bumil santai aja ya jangan banyak pikiran." kata Tante Lisa.
Ya... maunya sih begitu. Tapi mendengar hal ini justru semakin membuatku tidak enak hati. Aku anak mama, justru tidak bisa membantunya di saat mama sedang membutuhkan.
"Maaf ya, ma. Seandainya aja Nindi gak cepat-cepat nikah." ucapku pelan, tapi masih bisa di dengar oleh mama dan Tante Lisa.
"Hush! Nindi kamu ngomong apa sih. Gak boleh begitu. Kalau Nathan dengar, gimana coba perasaan dia."
Ah, iya benar kata mama. Aku keterlaluan sekali. Bisa-bisanya mulut ini bicara tanpa di filter.
"Nindi. Jangan ngomong begitu lagi. Ingat dulu tante sudah nasehatin kamu. Dan ini udah pilihan kamu. Kenapa sekarang begini!" ujar Tante Lisa, sambil menatapku galak.
"Iya maaf, aku gak maksud gitu. Udah dong. Gak baik tau marah-marah ke ibu hamil." aku merajuk pada mereka.
"Iya udah jangan ribut. Lisa kami jangan begitu ah, Kasihan Nindi." mama menengahi perdebatanku dengan Tante Lisa.
"Duh mbak, terlalu turutin apa mau Nindi sih. Jadi begini kan dia. Kamu itu terlalu silau sama Nathan. Lulus kuliah langsung ngebet mau nikah. Sekarang mau kerja pun gak bisa kan, karena hamil. Terus tadi malah ngomong kayak gitu. Seolah kamu menyesal sama pilihan kamu sendiri." Tante Lisa tidak berhenti mencecarku dengan kata yang menyakitkan.
Bukan rahasia umum memang kalau Tante Lisa mempunyai sifat galak, hanya saja aku tidak menyangka dia bisa bicara setega itu padaku.
"Tante gak perlu ngomong jahat gitu dong. Jangan karena masa lalu tante yang buruk jadi semua kena imbasnya. Tante juga kan sebentar lagi mau nikah sama Kak Faiz."
Aku membalas perkataan Tante Lisa tadi dengan sengit. Seenaknya saja dia bicara, memangnya dia pikir yang punya hati hanya dia?
Dengan perasaan kesal, aku kembali berjalan ke atas menuju kamar. Kedatangan Tante Lisa benar-benar merusak mood-ku kembali.
*Apa dia tidak rela membantu mamaku?
__ADS_1
Jadi dia berkata seperti itu tadi.
🌸🌸🌸*