DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
PART 20


__ADS_3

🍀Hadirmu merubahku, hingga aku tidak mengenal diriku sendiri.


_Nathan


***


Siang ini aku kembali bertemu dengan Mas Nathan. Dia bilang ingin di temani belanja olehku. Tentu saja aku menyetujuinya.


Dan demi apa pun!


Penampilan mas Nathan hari ini benar - benar beda. Dia mencukur bersih semua cambangnya, membuatnya terlihat lebih muda. Aku pun sampai beberapa kali meneguk saliva melihatnya.


Bukan apa - apa gaes, takut khilaf!


Karena aku paling tidak tahan kalau melihat roti sobek. Haha.


Apalagi yang model kayak Mas Nathan begini. Oppa Korea lewat deh. Untung saja tadi aku berdandan cantik untuknya. Kalau tidak, bisa - bisa aku minder jalan berdua dengannya hari ini.


Setelah sampai di supermarket, justru aku yang lebih banyak membeli barang daripada dia.


Aku tertawa geli mengingat keseruan kami belanja tadi. Apalagi kalau nanti aku sudah menikah dengan Mas Nathan. Ah bahagia sekali membayangkannya.


Lebih bahagia dari mendapatkan sekantong penuh cokelat yang dia belikan tadi untukku.


Sekarang kami sedang di dalam mobil. Dalam perjalanan.


"Mas sudah enggak terapi lagi sama Kak Faiz?"


Mas Nathan melirikku sekilas. "Enggak usah. Sudah ada obatnya."


"Oh. Obatnya belum habis ya.."


"Ya enggak bakal habislah. Orang obatnya kamu." Mas Nathan malah terkekeh.


Iyuh. Sudah pintar gombal dia. Aku memukul lengannya. Gemas. Dia malah tertawa dan memegang tanganku.


"Besok saya harus pergi ke luar kota, ada kerjaan." Ujarnya tiba - tiba.


Aku mengernyit heran. "Kerjaan apa?"


Karena yang aku tahu pekerjaan dia hanya dosen. Dia memang pernah cerita sedikit kalau punya usaha. Tapi aku tidak tahu usaha apa itu.


"Saya mau buka cabang Resto baru di Jogja. Kamu tahu restauran Green yang ada di kota Mekar Bandung?"


Aku mengangguk. Restoran itu memang terkenal. Dan viral di sosial media. Tapi aku belum pernah menginjak kesana.


"Resto Green itu milik keluarga saya."


"Mas serius?" Pekikku pelan.


Mas Nathan mengangguk. "Itu warisan dari orang tua. Selama ini saya memang jarang mengurusnya langsung. Saya serahkan ke sepupu. Tapi karena besok akan buka cabang baru, jadi saya harus datang."


Waw. The real sultan.


Yah memang masih banyak yang tidak aku ketahui tentang mas Nathan. Tapi aku senang sekarang Mas Nathan sudah semakin terbuka tentang dirinya dan keluarganya. Belum lama dia juga bercerita kalau keluarga besarnya tinggal di Bali. Adik dan kakak dari orang tuanya. Dan mereka akan datang ketika pernikahan kami nanti.


"Berapa lama mas disana?" Aku kembali bertanya. Meluruskan dudukku, menatapnya langsung.


"Hemm. Mungkin satu minggu." Jawab Mas Nathan.


Mendengar jawaban mas Nathan aku mengerucutkan bibir. Satu minggu, berarti selama itu aku tidak bertemu dengannya.


"Sama siapa mas di sana?"


"Saya enggak ajak Arsy karena itu urusan pekerjaan. Lagipula nanti dia malah bosan di sana. Jadi saya pergi sama sepupu dan investor."


Mas Nathan melirikku yang masih diam saja. Sepertinya dia tahu kalau aku tidak puas dengan jawabannya.


"Maaf saya tidak bisa ajak kamu. Kan kamu harus kuliah. Kalau bolos gimana mau cepat lulus."


Aku meliriknya sinis. Bagus sekali.


"Iya mahasiswinya enggak boleh bolos. Tapi dosennya boleh."


Dia malah tertawa dan mengacak rambutku. Tatapannya kembali lurus ke depan untuk fokus menyetir.


Aku menatap ke luar jendela, gerimis kecil menemani perjalanan kami. Pikiranku menerawang ke masa lalu. Siapa yang sangka kalau dosen keren yang selalu aku puja ini, sebentar lagi akan menjadi suamiku.


Tinggal beberapa langkah lagi, kemarin sudah fitting gaun. Dan untuk undangan juga persiapan lainnya sudah di handle oleh mamaku dan EO.


Aku tersenyum kecil. Tidak apalah hanya satu minggu.


Toh selama ini aku sudah menunggu dia dalam waktu yang lama.


"Oke. Tapi sebelum pergi kita jalan dulu ya mas." Aku kembali menatap Mas Nathan. Tersenyum lebar padanya.


"Kemana? Tadi kan kita sudah jalan."

__ADS_1


"Itu kan cuma belanja." Aku mengerucutkan bibir.


"Gimana kalau kita nonton? Kan kita belum pernah nonton berdua. Padahal sama Kak Faiz aku pernah...."


Ups. Keceplosan. Aku memukul bibirku sendiri. Kenapa mulut ini ember banget sih. Aku berharap Mas Nathan tidak mendengarnya. Tapi tentu saja aku salah. Ekspresinya kini sudah berubah masam.


"Oh jadi kamu pernah nonton sama dia? Kapan? Huh?" Cetusnya.


Mampus gue!


"Hehe. Cuma nonton aja kok mas..beneran deh enggak macem-macem. Itu lho.. yang waktu itu ketemu sama kamu mas, pas pulangnya."


Mata Mas Nathan memicing. Lalu dia mengangguk.


"Seru!?" Tanyanya lagi.


"Enggak kok sayang.. gak seru banget. Malah aku bete. Seruan sama kamu lah.. makanya mau ya kita nonton."


Maafin aku ya Kak Faiz. Ini demi menyelamatkan diri. Bisa makin marah dia kalau tahu aku menikmati banget film yang aku tonton dengan Kak Faiz Kemarin.


Kali ini Mas Nathan tersenyum. Yes.


"Ayo kita jalan. Tapi saya nggak mau nonton. Maaf ya saya bukan ABG seperti kalian."


Aku melongo mendengar perkataan Mas Nathan. ABG?


Memangnya kalau nonton harus ABG saja?


Huh.


Yasudah kita lihat saja dia mau membawaku kemana.


******


"Anindira..bangun. Kita sudah sampai."


Aku terbangun karena tepukan pelan di pipiku.


Tadi aku memang tertidur ketika Mas Nathan membawaku pergi. Ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Hari sudah mulai gelap.


"Ini dimana mas?"


Mas Nathan tidak menjawab. Dia malah tersenyum miring.


"Ayo turun. Kita di Bandung."


Dengan keadaan masih bingung, aku membuka pintu mobil. Mas Nathan segera menghampiriku.


Kami berada di depan sebuah restoran mewah dua lantai. Dengan bangunan yang unik, dan restoran ini terletak di sisi bukit.


Mas Nathan menuntunku masuk ke dalam resto itu.


Di dalam, sudah ada beberapa pegawai berseragam biru yang menyambut kedatangan kami. Mereka menunduk sopan melihat ke arah Mas Nathan.


"Sudah di siapkan?" Tanya Mas Nathan kepada salah satu pegawai pria yang datang menghampirinya.


Pegawai itu mengangguk. "Beres pak."


"Bagus."


Dia kembali menoleh ke arahku. "Ayo."


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Restoran ini mempunyai konsep yang unik dan asri. Di atasnya di hiasi lampu - lampu kecil indah yang berwarna - warni. Beberapa hiasan berwarna hijau ada di dindingnya.


Aku mengikuti langkah Mas Nathan ke lantai atas. Dan pemandangan di atas membuatku takjub.


Tidak seperti di bawah yang terlihat penuh dengan tamu. Tapi di sini tidak ada satupun tamu. lampu yang temaram, dan di hiasi beberapa lilin dan bola lampu yang menggantung. Di bagian sudut juga ada beberapa peralatan musik.


Sepertinya resto ini juga memanjakan tamunya dengan pertunjukan live music.


Dari atas sini juga terlihat pemandangan indah bukit dan lampu - lampu kota Bandung.


Aku berjalan perlahan ke pagar pembatas, menggumam pelan menatap keindahan di depan mataku.


"Kamu suka?" Ucap Mas Nathan. Tangannya kini melingkar di pinggangku.


"Ya mas. Ini indah banget."


Ku tatap manik matanya dengan lekat. "Makasih. Tapi ini dimana?"


Mas Nathan tersenyum simpul. "Ini resto Green."


What? Jadi ini resto Green yang dia ceritakan tadi di mobil? Milik keluarganya itu?


"Jadi.. lebih seru mana. Kesini atau nonton. Huh?" Tanya Mas Nathan.


Ekspresinya lucu sekali. Ah aku paham sekarang maksud dia membawaku ke sini.

__ADS_1


"Iyaa deh.. lebih seru di sini." Ujarku mengalah.


Aku menyadari kalau dia sempat kesal tadi, saat mendengar aku pernah pergi menonton dengan Kak Faiz. Jadi mungkin ini sebagai pembuktian baginya, kalau dia lebih baik dari Kak Faiz.


Padahal tanpa ia berbuat begini pun aku sudah lebih dulu memilihnya.


"Jadi, enggak apa - apa kalau saya pergi seminggu kan.. saya mau semua urusan selesai sebelum pernikahan."


"Iya mas. Tapi ingat ya! Enggak boleh genit di sana." Sahutku sambil mengancamnya.


Mas Nathan malah terkekeh. Dia menarik kursi di salah satu meja. Lalu menyuruhku duduk.


"Tunggu sebentar di sini. Saya punya kejutan buat kamu." Bisiknya pelan.


Kemudian dia meninggalkanku sendiri. Aku bingung. Memang masih ada lagi?


Dia membawaku ke sini saja aku sudah senang bukan main.


Tiba - tiba lampu padam. Hanya tersisa beberapa lilin yang ada di beberapa meja.


Aku celingukan mencari sosok Mas Nathan dalam gelap.


Terdengar suara krasak-krusuk di depan. Seperti ada beberapa orang yang sedang menyiapkan sesuatu. Aku menajamkan pendengaranku, mencoba menangkap suara siapa itu.


Tidak berapa lama lampu kembali menyala. Dan bukan cuma aku sendiri yang berada di sana. Tapi ada beberapa pegawai yang tadi di lantai bawah.


Namun, tunggu sebentar. Mas Nathan dimana?


Ya ampun mau apa dia?


Mas Nathan ternyata berada tepat di belakang Standing Microphophone saat ini.


Dan musik mulai menyala memainkan nada lagu 'Will You Marry Me' - Lee Seung Gi.


Dengan suara merdunya Mas Nathan mulai bernyanyi..


*


Narang Gyeolhonhae jullae?


(maukah kau menikah denganku?)


Narang pyeongsaengeul hamkke sallae?


(maukah kau hidup bersamaku seumur hidupmu?)


Uri duri alkhong dalkhong seoro saranghamyeon


(berdua, saling mencintai dengan manis dan saling pengertian?)


*


Neomankheum joheun saram mannan geol gamsahae


(aku bersyukur karena bertemu dengan orang sebaik dirimu)


Maeil neoman saranghago sipheo


(aku hanya ingin terus mencintaimu di setiap hariku)


Aku memekik tak percaya. Mas Nathan menyanyikan lagu Korea untukku. Dan itu lagu terbaik bagiku.


Kalian masih ingat tentu kalau dia dosen teknik vokal olah suara di kampus. Dan baru kali ini aku mendengar suaranya bernyanyi full. Sangat lembut dan bagus.


Setelah selesai, dia tersenyum lebar menghampiriku di sambut dengan tepuk tangan riuh para pegawainya.


"Ini berapa kali ya.. ah ketiga kalinya saya melamar kamu. Pertama di jalan, kedua di rumah, dan ketiga saya harap ini cukup romantis. Saya sengaja belajar lirik lagu ini. Susah juga ternyata. Haha."


Aku menangis bahagia. Tidak dapat berkata apa - apa saat ini. Tidak menyangka dia akan memberikanku kejutan seperti ini.


"Anindira maafkan kalau selama ini saya sering menyakiti kamu. Saya akan menebusnya mulai sekarang."


Dia mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. Lalu membukanya di hadapanku.


Isinya sebuah kalung dengan inisial A&N. Tanpa berkata lagi, Mas Nathan memasangkan kalung itu di leherku.


"Makasih mas. Ini lebih dari kata romantis."


Aku langsung berdiri dan memeluknya.


Para pegawai dan beberapa tamu yang sekarang sedang menonton kami kembali bersorak dan bertepuk tangan.


Kebahagiaan bertubi - tubi di rasakan olehku saat ini. Satu persatu dari mereka kini mengucapkan selamat pada kami.


Langit hitam yang berkilauan bintang, angin yang berhembus semakin menyejukkan area outdoor restaurant Green. Semua terasa sempurna bagiku.


Terima kasih Tuhan.. Engkau telah menciptakan kebagiaan ini untukku.

__ADS_1


*************


__ADS_2