DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Penangkapan Bella


__ADS_3

#POV AUTHOR#


Faizal dan Lisa meluncur ke Resto Green bersama beberapa polisi. Resto itu sudah di penuhi oleh kerumunan orang, dan sudah ada garis polisi di sana.


Tabrak lari, itu kasus yang telah di laporkan Faizal. Mereka pun mulai mengecek CCTV yang menghadap ke tempat parkir kendaraan.


Dari sana kelihatan sebuah mobil berwarna hitam, melaju sangat kencang ketika Nindi dan Arsy sedang menyebrang.


Lisa sampai ikut menjerit, ketika melihat Nindi memeluk Arsy dan berguling ke tepi jalan di layar monitor.


"Gila! dia benar-benar cewek gila! Lihat Faiz... apa yang udah dia lakukan?" air mata Lisa mengalir, dia tidak sanggup membayangkannya, jika sampai Nindi tertabrak mobil itu.


Bukan hanya nyawa Nindi, tapi bayi dalam kandungannya pun sudah pasti tidak akan selamat.


"Tenang Lisa, kita sudah dapat bukti. Bella pasti gak sadar kalau di resto ini terdapat CCTV." sahut Faizal.


"Sekarang kita harus cari saksi, karena kesaksian Arsy saja tidak cukup, dia masih terlalu kecil."


"Saya... sa.. saya bisa jadi saksi." ucap seseorang tiba-tiba, membuat semua orang terkejut.


Lisa menoleh, dan matanya melotot kaget begitu melihat siapa yang bicara. Dia adalah Rina.


"Lo? kenapa ada di sini?" seru Lisa. Wajahnya kelihatan kesal.


Sedangkan Faizal terlihat bingung, dimana Lisa mengenal gadis itu.


"Saya kerja di sini, Kak."


"Hah? ah gue tahu, jangan-jangan lo sekongkol ya sama si Bella itu." sungut Lisa.


"Gak, Kak. Saya berani sumpah! saya malah mau bersaksi, karena saat kejadian saya berada di sana." ucap Rina. Mimik wajahnya serius untuk meyakinkan semua orang.


Faizal berusaha menenangkan Lisa, dan kembali bertanya pada Rina.


"Kamu bisa ceritakan semuanya sekarang?"


Rina mengangguk dengan mantap. Walaupun tubuhnya terus gemetar, namun dia berusaha untuk menguatkan hatinya. Apalagi setelah mendengar kabar kalau Nindi sedang koma.


Dia bertekad untuk membantu penyelidikan, untuk membalas kebaikan mereka.


Akhirnya semua lengkap. Dengan bukti dari CCTV dan saksi cerita dari Rina, maka akan di lakukan penggrebekan di kediaman Bella hari ini. Namun, Faizal dan Lisa belum bisa bernapas lega. Mereka khawatir Bella sudah kabur ke luar negeri. Akan sulit untuk mencarinya nanti.


******


Di rumah Bella,


"Bella kamu mau kemana?" Bu Gea terkejut, begitu melihat Bella keluar dari kamar dengan menyeret sebuah koper.


"Aku mau kembali ke London, Ma. Jangan halangi aku."


"Tapi kenapa mendadak begini? bukannya kamu bilang akan menetap di sini?"

__ADS_1


Bella tidak menjawab, dia terus menyeret kopernya melewati Bu Gea. Penampilan Bella jauh dari kata rapi saat ini. Rambut panjangnya terlihat kusut, wajah yang biasanya full make up, kini terlihat polos dan pucat.


"Dengar Bella! bilang ke mama ada apa sebenarnya!" bentak Bu Gea.


Tiba-tiba Bella menangis, "Aku harus pergi, Ma. Biarkan aku pergi sebelum para polisi itu datang."


"Apa maksudmu? apa yang sudah kamu lakukan Bella? jawab mama!"


Tubuh Bella merosot ke bawah, limbung.


"Aku.. sudah menabrak Nindi."


Plak! Plak!


Dua kali tamparan mendarat di pipi Bella, membuat gadis itu menangis sesenggukan.


"Bella... apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Bu Gea dengan tubuh yang gemetar karena marah.


"Aku cuma mau cewek itu mati, Ma. Biar Mas Nathan jadi milik aku!"


Plak


Satu pukulan lagi di layangkan Bu Gea ke wajah Bella.


"Itu bukan cinta. Tapi obsesi, berapa kali mama bilang ke kamu, lupakan Nathan!"


Ting. Tong.


Suara bel pintu berbunyi.


Namun, hati Bu Gea sudah terlanjur sakit, dia mengabaikan Bella, dan berjalan menuju pintu.


Saat pintu terbuka, tiga orang polisi sudah berdiri di ambang pintu, bersama Faizal dan Lisa.


Bu Gea pasrah, dengan air mata yang berlinang, dia menunjukkan keberadaan Bella di dalam.


Saat itu juga Bella histeris, melihat beberapa orang polisi yang datang menghapirinya. Dia terus berkilah dan memohon pada Bu Gea agar melindungi dirinya.


"Bawa dia, Pak. Dia tadi sudah mengaku pada saya kalau telah melakukan tabrak lari." ucap Bu Gea dengan menahan tangis.


"Mama...mama kenapa begitu? huhu."


Bella akhirnya pasrah, dengan borgol yang melingkar di tangan, ia berjalan keluar mengikuti langkah polisi.


Tubuh Bu Gea limbung, dia terjatuh ke lantai. Baginya, cuma Bella yang tersisa setelah Jihan meninggal. Tapi sekarang, Bu Gea merasa sangat kecewa mengetahui kejahatan yang telah Bella lakukan. Dia sangat malu terhadap Nathan. Dulu Jihan, sekarang Bella yang membuat hidup Nathan kembali hancur


Melihat keadaan Bu Gea, Faizal menghampirinya, dan berusaha menenangkan mantan mertua Nathan itu.


"Faiz, apa salahku? kenapa nasib buruk menimpa kedua putriku?"


Faizal dan Lisa tidak dapat berkata apa-apa. Akhirnya Lisa menghampiri Bu Gea, dan memeluknya. Walaupun Bella sudah membuat Nindi celaka, tapi Lisa sangat salut pada Bu Gea, dia bisa berbesar hati menyerahkan anaknya sendiri pada polisi. Pasti sangat berat.

__ADS_1


Namun, keputusan Bu Gea sudah benar. Perbuatan Bella sudah di luar batas, dan Bella harus mendapatkan hukuman yang setimpal untuk kejahatan yang telah dia lakukan.


"Bagaimana keadaan Nindi? juga cucuku Arsy?"


Lisa dan Faizal saling berpandangan, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Bu Gea.


Begitu mendengar kabar Nindi koma, Bu Gea meminta mereka untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Dia ingin menjenguk dan melihat sendiri keadaan Nindi.


🌸🌸🌸🌸


#POV NATHAN_


"Nat, kamu pulang saja, biar mama yang jaga Nindi malam ini." Mama Lusi bicara padaku.


Mungkin dia merasa kasihan karena sejak kemarin aku belum beranjak pergi dari sini.


Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan Anindira? istriku yang sedang berjuang untuk hidup sendiri.


"Nat, kamu harus temui Arsy di rumah. Dia juga pasti cemas."


Ah iya. Aku lupa... Arsy pasti menungguku untuk pulang saat ini.


"Baik, Ma. Saya akan pulang sebentar. Kalau ada sesuatu bisa beri kabar pada Nathan?"


Mama Lusi mengangguk, dia menepuk pundakku pelan. Dalam kesedihannya, dia masih bisa tersenyum memberikan semangat untukku.


"Iya, pergilah. Jangan khawatir."


"Sayang... aku pulang dulu ya. Aku harus menemui Arsy di rumah. Setelah itu, aku akan kembali ke sini temani kamu." aku berkata pada Nindi. Tubuh itu masih tetap sama seperti kemarin. Tidak ada reaksi.


"Ma, dimana Faizal dan Lisa?" tanyaku, ketika keluar dari ruangan Nindi.


"Oh mama juga gak tahu. Coba mama telepon Lisa dulu. Kamu pulang bareng mereka aja nanti."


Mama Lusi meraih ponselnya, dia mulai menghubungi Lisa.


"Yah.. gak di angkat, Nat."


Kemana mereka? masa sih di situasi seperti ini mereka malah sedang asyik berduaan?


"Ya sudah gak apa, Ma. Biar saya pulang sendiri."


Wajah Mama Lusi terlihat khawatir, aku tahu dia tidak percaya dengan kondisiku sekarang. Ya... aku hampir gila begitu mendengar Nindi koma.


Aku berusaha tersenyum agar dia tenang.


"Saya bisa pulang naik taksi. Mama tenang ya, saya baik-baik aja sekarang."


"Hemm.. hati-hati ya, Nat."


Sejujurnya, langkah ini terasa berat meninggalkan Nindi di sini, aku ingin sekali membawanya kembali ke rumah. Memperlakukan dia seperti tuan putri dalam istanaku.

__ADS_1


*Cepatlah sadar Anindira... Aku tidak yakin akan bertahan jika harus kembali kehilangan kamu


🌸🌸🌸*


__ADS_2