
🍀Tidak perlu berusaha untuk melupakan, kenangan punya cara sendiri untuk menghilang
_Mario teguh_
*****
Kalian tahu apa yang terasa berat dengan adanya jarak?
Yaitu Rindu.
Seperti kata orang-orang kalau rindu itu berat gaes...
Baru tiga hari Mas Nathan pergi ke Jogja, aku sudah kewalahan mengatur rasa rindu ini.
Dan yang lebih menyebalkan, Mas Nathan jarang sekali menghubungiku. Apa mungkin dia terlalu sibuk ya di sana?
Aku menghela napas berat. Merasa sedikit kesal saat ini. Sampai di Jogja dia memang memberi kabar padaku, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi. Bahkan aku mengirim pesan padanya saja tidak di baca.
Aku butuh udara segar sekarang, dengan langkah gontai aku berjalan keluar kamar, menuju ke ruang keluarga.
Di sana berkumpul mama dan tanteku yang baru datang dari Jepang. Dia bernama Tante Lisa. Selama ini Tante Lisa menetap dan bekerja di sana. Karena mendengar aku akan menikah, jadi dia datang ke Indonesia untuk membantu persiapan pernikahanku.
"Kamu tahu Rin.. duh calon suaminya si Nindi tuh ganteng. Malah dosen, pinter, kaya. Kakak juga heran, kok bisa mau ya sama Nindi. Hihi."
Aku mendengar mama bicara dengan tanteku itu di ruang keluarga. Hemm. Bagus sekali!
Mereka sedang membicarakanku di belakang.
"Katanya duda ya.. buat aku aja ya kak. Lebih cucok. Haha." Sahut Tante Lisa.
Mereka tertawa bersama. Sampai tidak sadar aku sudah datang dan duduk di belakang mereka.
"Ekhemm."
Tante Lisa menoleh. "Eh Nindi sudah bangun ya.."
"Iyaa.. aku dengar tadi ada yang mau nikung ponakan sendiri nih." Sindirku pada Tante Lisa
Mereka berdua saling berpandangan, setelah itu kembali kompak tertawa bersama.
"Haha. Bercanda ah. Gitu aja sewot. Pasti belum di hubungin juga yaa sama Nathan.."
Ah bagus sekali. Sekarang mama malah meledekku.
Dia tahu kalau Mas Nathan belum meneleponku. Karena sejak kemarin aku sudah uring - uringan sendiri.
Aku diam saja, malas untuk menjawab. Ku rebahkan tubuhku di atas karpet bermotif abstrak yang ada di ruangan itu.
"Jadi benar belum di hubungin juga, Nin? wah jangan - jangan dia...." Tante Lisa memicingkan mata, pikiranku mulai tidak enak, menangkap maksud lain dari Tante Lisa.
"Ihh. Stop tante...! Aku enggak mau dengar. Jangan bikin aku mikir yang enggak - enggak deh." Aku merengut. Sebal dengan sikap tanteku ini.
Dia sampai sekarang belum menikah. Dan sangat anti untuk berhubungan dengan pria. Kata mama sih yah.. Tante Lisa itu pernah di tinggal menikah dengan pacarnya. Jadilah sampai sekarang di umur yang tiga puluh tahun dia belum menikah juga.
"Sudah ah. Lisa kamu juga jangan godain Nindi terus. Sana istirahat di kamar. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh tadi. Kamarnya sudah kakak siapin." Mama mendorong Tante Lisa untuk pergi ke kamar, meninggalkan aku sendiri di sini.
Dia tahu kalau aku sedang sensitif sekarang ini.
Tante Lisa dari dulu memang tidak berubah. Dia selalu judes dan bilang lelaki itu sama saja. Hanya karena dia di sakiti satu cowok jadi dia menilai semua cowok sama saja begitu?
Tidak dewasa sama sekali. Eh, tapi aku merasa tidak asing dengan sikap Tante Lisa.
Entah mirip siapa gitu..
Ah sudahlah. Akhirnya aku memutuskan kembali masuk ke kamar, untuk kembali mencoba menghubungi Mas Nathan di sana.
Sampai di kamar, aku kembali melihat ponsel yang tergeletak di atas kasur. Mataku melotot melihat puluhan kali panggilan tak terjawab dari Mas Nathan.
Glek!
Aku langsung menghubunginya kembali. Dan tidak sampai lima detik Mas Nathan menjawab teleponnya.
"Halo.." Suara mas Nathan di seberang sana.
Dia terus bicara tanpa berhenti.
"Kamu kemana saja sih. Saya dari tadi telepon kamu. Dari mana? Chat juga enggak di balas. Saya pikir kamu di culik. Enggak biasanya telepon saya enggak di angkat."
Di culik? Memangnya dia pikir aku anak kecil!
Kalau ada yang mau menculikku pastilah mereka rugi. Mengingat aku suka sekali ngemil.
"Iya maaf mas. Tadi aku lagi di luar ngobrol sama mama dan Tante Lisa." Jawabku cepat. Sebelum Mas Nathan bicara panjang lagi.
"Tante Lisa? Siapa itu?" Tanya Mas Nathan lagi. Suaranya terdengar sedikit serak di sana.
"Oh itu Tante aku, baru datang dari Jepang. Aku belum pernah cerita ya .hehe. itu satu - satunya kerabat mama."
Mas Nathan terdiam tidak menjawab.
"Mas sendiri kenapa baru telepon sekarang sih. Aku chat juga enggak di jawab. Bikin khawatir tau."
"Ah iya maaf saya sibuk sekali di...."
Ucapan Mas Nathan berhenti di sana. Aku mengernyit heran.
"Halo? Mas..?"
Tiba - tiba terdengar suara wanita dari sana. Sepertinya dia sedang di samping Mas Nathan, karena aku bisa mendengar dengan jelas dia bicara.
"Mas, aku pergi dulu ya.. sampai jumpa besok." suara wanita itu terdengar manja di telingaku.
Astaga!
__ADS_1
"Itu suara siapa? Perempuan ya... Mas kamu main perempuan di belakang aku ya!" aku berteriak padanya di telepon.
"Eh? bukan. Biar saya jelasin..." sahut Mas Nathan di sana.
Aku sudah terlanjur marah. Dia tidak menghubungiku berhari - hari. Dan sekarang malah meneleponku dengan bersama perempuan lain.
"Bohong! Ah udah. Dasar Pak Nathan Mahendra dosen killer nyebelin nomor satu!"
Aku nyerocos marah dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Duh Gusti cobaan apa lagi ini. Mau nikah saja banyak sekali ujiannya. Aku menangis. Kesal dengan keadaan.
Ku lihat ponselku, tidak ada telepon atau chat lagi dari Mas Nathan. Padahal aku berharap dia menjelaskannya. Menghubungiku kembali.
Walaupun memang tadi aku yang tidak ingin mendengarkan penjelasannya, tapi seharusnya Mas Nathan lebih usaha dong.
Chat lagi, telepon lagi, atau di rayu.
Bukannya harus begitu kalau pacarnya ngambek.
Aku mencoba untuk tidak peduli, menarik selimut dan berusaha memejamkan mataku, walaupun hati ini merasa tidak tenang dan gelisah.
******
Aku terbangun karena mendengar ketukan di pintu kamarku. Saat berjalan menuju pintu, aku melihat pantulan wajahku di cermin yang lebih mirip dengan zombie.
Mata yang sembab karena hampir semalaman menangis, dengan rambut yang kusut tidak karuan. Sungguh berantakan sekali.
Dengan malas aku membuka pintu. Ternyata Tante Lisa yang datang ke kamarku. Dia berdiri persis di hadapanku saat ini.
"Ada apa tante? Aku masih ngantuk."
Tante Lisa mengamati penampilanku sebentar sebelum akhirnya menjawab.
"Ada teman kamu tuh datang."
"Eh siapa?"
Dia mengedikkan bahu dan berlalu begitu saja tanpa menjawab. Aku menggaruk kepalaku, bingung. Siapa sepagi ini sudah datang. Apa mungkin Sarah ya? Temanku kan cuma Sarah yang suka datang ke sini.
Dengan rasa penasaran aku melangkah menuju ruang tamu.
Dan.. mataku terbelalak melihat siapa yang duduk di sana. Mas Nathan?
"Hai.. "
Mas Nathan berdiri, menyapaku kaku.
Aku mematung sejenak. Mencoba memahami situasi. Ya ampun. Aku baru sadar. Sekarang aku hanya menggunakan baju tidur, dengan rambut yang berantakan, dan mata yang bengkak karena menangis semalam.
Dengan cepat aku berlari ke dalam, dan hampir saja menabrak mamaku yang sedang membawa minuman untuk Mas Nathan.
"Loh Nindi.. kok kamu enggak ganti baju dulu." Mama kaget dan menegurku.
Tante Lisa...Kenapa dia tidak bilang Mas Nathan yang datang sih. Pasti dia sengaja mau ngerjain aku.
Sampai di kamar aku membersihkan diri dengan kilat. Mencuci wajah dan menggosok gigi. Lalu menggunakan sedikit BB cream untuk menyamarkan kantung mataku, dan terakhir mengganti baju. Selesai.
Tak ingin Mas Nathan lama menunggu, Aku segera keluar kamar dan berpapasan kembali dengan Tante Lisa, dia cekikikan menertawakanku. Hemm bagus sekali tante!
Dia pasti senang sudah membuatku seperti orang bodoh tadi. Tapi aku tidak memperdulikannya, terus berjalan melewatinya dengan gaya elegan.
Di ruang tamu, Mas Nathan masih menunggu dengan di temani mama. Melihat kedatanganku mama tersenyum dan bersiap untuk pergi meninggalkan kami berdua.
"Mama tinggal dulu ya Nathan.. mau masak dulu."
"Ah iya Mah.. makasih." Mas Nathan menjawab dengan sopan.
Setelah kepergian mama, dia beralih menatapku yang duduk sedikit jauh darinya.
"Kamu enggak mau sambut saya?" Seru Mas Nathan.
"Kenapa ada di sini? Bukannya seminggu di Jogja?" aku mengabaikan ucapannya tadi, dan malah berbalik bertanya padanya.
"Yah kecewa deh.. padahal saya sudah belain pulang cepat loh. Karena ada yang marah semalam."
"Heh? Jadi Mas Nathan pulang karena aku?" pekikku tak percaya.
"Kamu matiin telepon begitu aja tanpa dengar penjelasan saya. Gimana saya enggak khawatir. Malam itu juga saya bersiap buat kembali ke Kota. Sekarang juga baru sampai."
Aku terperangah mendengarnya. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria ini. Padahal aku mengharapkan dia mengirim chat padaku atau telepon balik untuk merayuku. Tapi nyatanya dia malah datang langsung kemari!
Mas Nathan menghela napas. Ia terlihat lelah saat ini.
"Perempuan yang semalam bicara itu sepupu saya. Kan saya pernah bilang kalau saya pergi dengan sepupu dan investor ke Jogja? Dan sepupu saya itu dia. Rani namanya."
Setelah mendengar penjelasan darinya, aku sungguh merasa bersalah karena sudah marah dan curiga padanya. Bahkan sampai membuat Mas Nathan pulang meninggalkan pekerjaannya.
"Maaf mas.." ucapku pelan sambil menundukkan wajah.
Mas Nathan menoleh padaku.
"Enggak apa. Justru saya senang sudah melihat penampilan kamu dengan muka bantal tadi." ujarnya sambil tertawa meledekku.
Ya ampun. Aku menutup wajah dengan kedua tanganku karena malu.
"Mas!!"
"Haha. Hei enggak usah malu." Dia menarik kedua tanganku yang masih menutupi wajah.
"Nanti setiap hari juga saya lihat pemandangan itu." Bisiknya tepat di telingaku.
Blush. Aku merasakan wajahku memanas saat ini. Bagaimana ini. Nanti setiap hari dia lihat wajah jelekku dong.
__ADS_1
Terus setiap hari juga aku lihat si roti sobek.
Astaga....untung saja jantung ini ciptaan Tuhan. Kalau ciptaan manusia mungkin sudah copot lebih dulu.
***********
POV AUTHOR
Nindi dan tantenya yang bernama Lisa, melepas lelah di sebuah cafe. Mereka baru saja keluar dari salon kecantikan.
Pernikahan Nindi dan Nathan berselang satu bulan lagi. Membuat mereka semakin sibuk.
Sebenarnya Nindi dan Nathan sudah sepakat untuk menyelenggarakan resepsi secara sederhana, karena kerabat mereka pun tidak banyak. Mereka hanya akan mengundang orang - orang terdekat saja.
"Tante... Nanti Mas Nathan mau ke sini. Ada barang yang mau kita cari." Ujar Nindi pada Lisa.
"Alahh alesan. Bilang aja biar bisa ketemuan. Harusnya kamu tuh udah di pingit. Enggak boleh ketemu." Sahut Lisa. Ia curiga kalau itu hanya akal - akalan keponakannya saja untuk bertemu dengan Nathan.
"Iih apa sih tante. Aku kan masih ada tugas, sudah bab akhir sih. Nikah, terus sidang. Haduh double deh senam jantungnya."
Tante Lisa tertawa kecil mendengarnya, melihat tingkah Nindi yang masih seperti anak kecil, dia tidak menyangka malah keponakannya itu yang akan melangkahinya lebih dulu.
"Kenapa enggak tunggu lulus aja sih."
"Hehe. Lebih cepat lebih baik tante. Apalagi ya.. aku tuh udah suka lamaa banget sama Mas Nathan." Jawab Nindi sambil senyum - senyum sendiri.
Matanya tertuju ke pintu cafe, "Ah itu dia."
Anindira melambaikan tangannya dengan semangat pada Nathan yang baru saja memasuki cafe, dia tidak datang sendiri ternyata. Nathan datang bersama Faizal.
"Loh Mas habis dari Klinik?" Tanya Nindi heran pada Nathan yang kini sudah di dekatnya.
"Iyaa.. tadi ada urusan sebentar. Eh dia malah minta ikut. Bosan katanya." Jawab Nathan sambil terkekeh dan melirik Faizal yang terlihat salah tingkah.
Dalam hati Faizal merutuki nasibnya. Ia tidak tahu kalau Nathan akan bertemu dengan Nindi. Dia pikir Nathan hanya ingin keluar sendiri.
Faizal berusaha tersenyum meski hatinya terasa berdenyut, tapi matanya berhenti menatap seorang wanita yang bersama Nindi. Dia heran melihat wanita itu hanya duduk tenang di kursinya tanpa menoleh sedikit pun.
Nindi yang melihat arah tatapan Faizal, tersenyum mengerti.
"Ah Kak Faiz, kenalin ini Tante aku. Namanya Tante Lisa."
Faizal mengangguk sopan. Yang hanya di balas dengan satu lirikan dari Lisa.
"Halo.. err..Tan.."
"Lisa! Panggil aja Lisa. Kamu kan seumur sama saya. Masa panggil Tante. Memang saya setua itu." Sahut Lisa dengan sangat ketus.
Faizal terlihat terkejut di bentak seperti itu oleh wanita. Nindi hanya menahan tawa melihat ekspresi Faizal. Sedangkan Nathan, dia duduk dengan cueknya di samping Nindi.
Dia sudah tahu sikap Lisa, karena sudah bertemu dengannya kemarin di rumah Nindi.
"Oh iya...kok kamu enggak pernah cerita Nin, kalau kamu punya tante." ucap Faizal kemudian.
"Memangnya kamu orang penting buat Nindi sampai dia harus cerita ke kamu?" Lisa kembali menyela dengan tatapan sinisnya.
"Bukannya pacarnya Nindi itu Nathan ya?"
"Tante.. jangan judes gitu dong. Kak Faiz itu dokternya Mas Nathan, nah dia juga teman aku." Nindi akhirnya menengahi mereka. Dia sedikit merasa tidak enak dengan Faizal.
Lisa yang duduk di hadapan Faizal, menaikkan satu alisnya.
"Dia dokter?" tanya Lisa heran, ekspresinya menunjukkan kalau dia tidak percaya.
Nindi mengangguk dan tersenyum pada Lisa.
Mendadak pikiran itu terlintas di kepalanya. Ide yang menurutnya sangat briliant. Melihat Faizal dan Lisa yang sama - sama single. Apa salahnya kalau di coba dulu.
"Mas kita berangkat sekarang ya..." Nindi bergelayut pada lengan Nathan, sambil mengedipkan sebelah matanya.
Nathan kelihatan bingung melihat tingkah Nindi yang menurutnya aneh.
Dasar tidak peka!' rutuk Nindi dalam hati
"Katanya mau cari barang." Rengeknya lagi.
"Oh iya oke. Terus mereka?" Nathan beralih menatap Lisa dan Faizal
Nindi kembali berakting, pura - pura sibuk berpikir.
"Ah iya. Kak Faiz kebetulan banget ada di sini. Jadi bisa temani Tante aku dulu ya Kak, dia baru datang dari Jepang. Terus kalau Kak Faiz enggak keberatan juga bisa anterin Tante aku pulang ya...soalnya aku takut lama sama Mas Nathan. Hehe."
Perkataan Nindi tadi suskes membuat Lisa marah, ia mendelik menatap keponakannya itu, yang sekarang sedang tersenyum menyebalkan.
Sekali lihat saja Lisa tahu arti dari tatapannya Faizal, kalau dia itu menyukai Nindi. Makanya Lisa tidak suka dengan Faizal dari awal kedatangannya tadi. Faizal tipe picisan yang dia benci.
Dia baru saja mau menjawab, tapi Faizal sudah menyelanya lebih dulu.
"Iya tenang saja. Kamu pergi saja sama Nathan. Tante kamu..eh Lisa maksudnya biar aku antar pulang nanti."
Yes berhasil!
Nindi bersorak dalam hati. Dia melempar senyum pada keduanya, setelah itu langsung menarik tangan Nathan untuk pergi.
Dia juga mendoakan dalam hatinya, semoga mereka berjodoh. Nindi berpikir, siapa tahu kalau tantenya mendapatkan jodoh dia bisa berubah tidak galak lagi.
Sikap Lisa sebenarnya mengingatkan pada sikap Nathan dulu.
Nathan yang dulu sangat tertutup, dingin dan galak padanya.
Ternyata sekarang sudah bisa membuka hatinya. Bahkan bisa bersikap romantis padanya.
Karena rasa trauma dan phobia itu memang seharusnya di lawan.
__ADS_1
**********************