
🍀Akhir yang bahagia...
***
Aku terbangun ketika merasakan ada gerakan di sampingku, mata ini terbuka dan pemandangan indah terpampang di depanku. Wajah Mas Nathan yang kini sedang terpejam, dan tangannya melingkar memelukku.
Terima kasih Tuhan.. Engkau telah menghadiahkan suami yang sempurna bagiku.
Mas Nathan tidur dalam damai. Bagaimana bisa saat tidur pun dia masih tampan seperti ini. Tidak ada dengkuran, dan mulutnya terkatup rapat.
Aku menyentuh hidungnya yang menjulang tinggi. Rasanya bagaikan mimpi bisa melihat dia sedekat ini.
Tapi tunggu, aku merasa ada yang kurang.
Oh iya Arsy! dimana dia. Bukannya semalam dia tidur di kamar ini.
"Arsy dimana?" aku meringis panik.
Dengan gerakan pelan aku menyingkirkan tangan Mas Nathan, dan memeriksa sekeliling. Di sampingku tidak ada, di dalam selimut juga tidak ada.
Ini gawat! Kalau Arsy hilang bagaimana?
Bisa - bisa aku masuk berita nanti, dengan judul ibu tiri yang teledor menghilangkan anak sambungnya di malam pertama pernikahannya.
Aku bergidik ngeri membayangkan hal itu. Ini masih tengah malam, tidak mungkin kalau Arsy keluar kamar sendiri.
Ah, atau jangan - jangan dia jatuh ke kolong?
Baru saja aku hendak turun dari kasur untuk memeriksa kolong tempat tidur, tapi tubuhku tertarik.
"Huaa.." aku memekik. Ternyata Mas Nathan menarikku dan kini matanya sudah terbuka.
"Mau kemana?" tanyanya bingung dengan mata yang masih mengantuk.
"Arsy mas. Kok nggak ada. Bukannya tadi tidur bareng kita?"
Bukannya menjawabku, dia malah tersenyum kecil.
"Sudah aku pindahin ke kamarnya tadi."
"Eh kenapa?"
"Kasurnya nggak muat." jawab Mas Nathan.
Aku terdiam. Masa sih nggak muat? Ini kan kasur ukuran king. Mas Nathan meletakkan sebelah tangannya di atas kepala. Matanya mulai terpejam lagi. Tapi aku tahu dia tidak benar - benar tidur. Ku lirik ponselku di atas meja yang sejak tadi bergetar. Aku segera meraihnya.
Ada banyak chat yang berisi ucapan selamat untukku.
Dan apa ini? Ada grup wa baru. Aku membukanya karena penasaran.
Dan isinya membuatku syok. Mereka adalah teman - teman kampus yang satu mata kuliah denganku. Ah benar - benar teman yang biadab!
Bisa - bisanya mereka membicarakanku tapi mengundangku juga ke grup itu.
[ Hayoo tebak, Pak Nathan lagi ngapain sekarang]
Aku mulai membaca pesan grup itu dari atas.
[ Lagi kasih materi ke Nindi. Haha.]
[ Aseek materi apakah itu? ]
[ Anak - anak diam ya.. nanti di hukum Pak Nathan. Tapi Nindi kuat nggak ya.. secara Pak Nathan udah lama menduda. wkwk]
[ Ssst. Siapa itu yang invite Nindi. Parah lo. Orang lagi ena' ena di ganggu ]
[ Woy Nindi online. ****** lo pada ]
Aku jadi sakit kepala membaca isi pesan mereka yang sangat random. Langsung aku ketik balasan, burupa makian pada mereka saat itu juga, dan segera leave dari grup laknat itu.
Lalu ada juga pesan dari Sarah yang terlewat. Dia menanyakan hadiahnya.
[ Gimana hadiah gue? Oke kan! Jangan lupa di pakai ya..haha. Oh iya kalau lo suka, jangan lupa beli ya sama gue. Nih gue kirim contoh model lainnya ]
Wajahku langsung terasa panas melihat pesan Sarah. Astaga! Jadi bisnis tambahan dia sekarang jual lingerie? Kenapa juga temanku tidak ada yang benar begini.
__ADS_1
"Lihat apa sih dari tadi." Mas Nathan kini ikut duduk, dan mengintip ponselku.
Karena kaget, ponsel itu terlepas begitu saja dari tanganku. Menampilkan foto - foto yang tadi di kirim oleh Sarah.
Aku berusaha menutupinya dengan bantal, tapi sepertinya Mas Nathan sudah melihat itu. Ekspresinya berubah kaku.
Huaa bagaimana ini. Aku langsung menyusup ke bawah selimut saking malunya. Dalam hati komat kamit baca doa agar Mas Nathan tidak mengungkitnya.
Ku dengar Mas Nathan tertawa saat ini.
"Hei kenapa? Ayo keluar."
"Nggak mau. Aku malu! Itu Sarah yang kirim gambar."
"Haha. Jadi kamu mau beli?"
Aku langsung menyembulkan wajahku dari balik selimut. Menatapnya dengan kesal.
"Mas!"
Aku marah karena Mas Nathan terus menggodaku. Bahkan dia sampai menunjukkan model yang ia suka. Dasar laki-laki!
Tapi amarahku langsung mereda ketika Mas Nathan ikut masuk ke dalam selimut dan berkata...
"Jangan marah lagi, sayang."
Mana mungkin aku bisa marah ketika dia sekarang memelukku seperti anak kecil. Sosok Mas Nathan yang baru pertama kali aku lihat, dengan rambut yang berantakan dan wajah yang sayu karena bangun tidur.
Aku menyukainya.
Dan selanjutnya apa yang terjadi? Hanya aku dan Mas Nathan yang tahu. Hehe.
*****
Satu bulan setelah pernikahan,
Akhirnya hari ini tiba, rasanya senang dan bangga sekali saat namaku di panggil ke podium untuk di wisuda.
Mas Nathan ikut bergabung bersama jajaran dosen yang menyambut dan memberi selamat padaku.
"Terima kasih Pak.."
Sebenarnya yang membuat aku bertambah bangga adalah, aku bisa membuktikan walaupun telah memutuskan menikah lebih dulu, tapi kuliahku tidak terhambat. Bahkan lulus dengan nilai yang memuaskan. Semua berkat bantuan Mas Nathan tentu saja.
Bahkan kami sampai menunda rencana bulan madu kami, sampai aku lulus.
Setelah acara selesai, rombongan para sarjana muda beranjak keluar dari ballroom kampus dengan wajah sumringah. Sarah tak hentinya menangis menggandengku. Dia sangat sedih karena harus terpisah denganku.
Terlihat lebay memang. Tapi tidak bagiku, karena Sarah memang sahabat sejatiku sejak masa sekolah dulu.
Setelah sampai di luar kami memisahkan diri untuk mencari keluarga masing - masing.
"Nindiii.."
Mama menghampiriku dan langsung merentangkan tangannya untuk memelukku.
Dia datang bersamaTante Lisa dan Kak Faiz.
"Mama..." aku memeluknya, dan mengecup kedua pipi mamaku. Hampir sebulan kami tidak bertemu. Rasanya aku kangen sekali dengan mama.
"Selamat ya Nindi akhirnya lulus juga." kali ini Tante Lisa yang bergantian memelukku.
"Makasih Tante.. "
"Nah karena sekarang kamu sudah lulus, jadi sudah bisa program kasih cucu ya buat mama." kata Mama menoleh, sambil menatapku penuh harap.
Aku tertunduk malu mendengar mama bicara seperti itu. Tidak usah di suruh, itu sudah pasti dong ma..!
"Haha. Mama kamu kesepian tuh, Nin" tante Lisa ikut menimpali.
"Makanya yang giat ya.."
Aku memegang pipiku yang memanas "Mama Tante.. apa sih. Kok jadi ngomongin itu "
Mereka semakin gencar meledekku, bahkan Kak Faiz juga ikut - ikutan. Sepertinya dia sudah ketularan sifat rese Tante Lisa.
__ADS_1
"Ngobrolin apa sih, kayaknya seru banget."
Mas Nathan tiba-tiba saja hadir di antara kami.
"Eh Mama sudah datang..."
Setelah itu Mas Nathan menyalami tangan mamaku.
"Mas.. sudah selesai di dalam?" aku bertanya padanya. Mas Nathan kelihatan lelah. Aku mengusap keningnya yang berkeringat dengan sapu tangan. Membuat beberapa pasang mata menatap kami.
"Ekhem.. udah sah sih. Tapi nggak usah pamer kemesraan juga kali." ujar Kak Faiz.
"Ih sirik yaa..Makanya cepat Nikah, biar nggak jadi jomblo abadi." aku menyahut, dengan sengaja mengait tangan Mas Nathan di depannya.
Kak Faiz merengut dan melirik ke arah Tante Lisa. "Pengennya sih begitu.. ya nggak Lis?"
"Kenapa tanya sama aku." Tante Lisa kikuk, dan membuang muka ke arah lain.
"Ya kan lamaran aku belum di jawab sama kamu."
Perkataan Kak Faiz sungguh di luar dugaan. Aku terkejut dan hampir saja berteriak kalau Mas Nathan tidak menutup mulutku dengan tangannya.
Aku segera menepisnya, tidak sabar ingin bertanya.
"Beneran?"
"Nggak tau, tanya saja sama dia." Tante Lisa beranjak pergi menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Melihat reaksi Mas Nathan dan mama yang biasa saja, itu tandanya hanya aku yang tidak tahu perkembangan mereka di sini. Jahat!
Padahal aku yang paling ingin mereka bersatu.
Faizal baru saja hendak menyusul Tante Lisa, tapi mama mencegahnya.
"Kamu di sini saja dulu, biar saya yang susul Lisa." kata mama, lalu bergegas mengejar Tante Lisa.
Kak Faiz langsung terlihat murung. Kasihan sekali dia.
"Padahal aku serius loh Nin sama Tante kamu, makanya aku langsung melamar."
"Sabar ya Kak, yang penting Kak Faiz jangan menyerah. Tante Lisa cuma masih belum yakin saja mungkin. Dia kan pernah gagal dulu. Semangat." aku menyemangati Kak Faiz.
Tiba-tiba dia tersenyum, aku jadi sedikit ngeri kalau melihat dia tersenyum seperti itu. Takut kalau dia ketularan depresi, kan sehari-harinya dia selalu berurusan dengan orang depresi.
"Kayaknya aku perlu belajar sama kamu ya Nin.." Kak Faiz terkekeh.
"Lihat saja sekarang Nathan jadi bucin begitu. Haha "
Mas Nathan langsung mendelik padanya.
"Tidak bisa! usaha sendiri sana!"
Kak Faiz kembali tertawa melihat Mas Nathan seperti itu.
Setelah Tante Lisa dan mama kembali, kami foto bersama, dengan aku yang masih memakai baju wisuda dan toga. Beberapa kali Mas Nathan membisikkan kata cinta dan bangga padaku.
Langit yang cerah saat ini, secerah hatiku sekarang. Rasanya baru kemarin aku masuk kuliah. Tapi sekarang aku sudah lulus dan menyandang status baru.
Seorang istri sekaligus ibu dari Arsy. Sungguh Tuhan sangat baik, memberikan kebahagiaan bertubi-tubi padaku.
Setelah acara ini selesai, kami sudah punya rencana. Aku, Mas Nathan dan Arsy akan berlibur ke Jepang.
Tante Lisa sudah merekomendasikan berbagai tempat yang bagus untuk di kunjungi di sana.
Pernikahan ini bukanlah akhir, namun awal suatu hubungan yang baru. Di depan sana, batu kerikil hingga gundukan batu besar pasti sudah menanti kehidupanku selanjutnya.
Aku dan Mas Nathan sudah bertekad dan mengikat janji untuk melewati batu itu sampai menjadi serpihan.
**💕💕💕
Sampai di sini selesai untuk season 1 yaa. .
Insya Allah next akan ada season 2.
Di tunggu 😘😘**
__ADS_1