
Dalam kehidupanku baru kali ini ada wanita yang menangis untukku selain Ibu.
Dia adalah Anindira.
Gadis yang katanya menyukaiku itu,
Bukannya berlari menjauh dariku, malah semakin mendekat.
Hari ini jadwalku terapi dengan Faizal. Aku datang menepati janjiku.
" Nathan.. gejala sakitmu ini disebut Intrusively reexperiencing the traumatic event.
Kamu mengalami ingatan dan mimpi buruk yang berulang tentang kejadian tersebut, yang membuat kamu trauma. Sekarang coba kamu tarik napas yang dalam sekarang, perlahan...lalu buang. Terus lakukan seperti itu."
Aku mengikuti instruksinya. Menarik napas dalam, dan melakukan meditasi pikiran.
Tak lama aku tertidur, dan kejadian itu berkelebatan kembali, seolah aku sedang menonton film yang aku sendiri sebagai perannya.
Jeritan dan tangisan Jihan yang memohon untuk di maafkan.
Juga darah yang tiba - tiba mengalir dari tangannya.
Jangan Jihan.
Aku ingin mencegah tapi badanku tidak bisa bergerak.
Ku mohon Jihan.. jangan lakukan itu.
Aku kembali berteriak disana.
Tidak!!
__ADS_1
Dan aku sudah terbangun dengan napas terengah. Bulir keringat mengalir di wajahku.
Faizal menatapku. Ia tersenyum lebar lalu menepuk pundakku.
" Hebat Nathan. Kamu sudah bisa menguasai dirimu sekarang. Pelan - pelan saja. Kamu pasti bisa."
Aku memejamkan mata, dan mengatur napasku.
Yaa.. ini suatu kemajuan. Biasanya aku akan kehilangan kendali, kepalaku akan sakit dan mengamuk jika mimpi itu datang. Tapi kali ini tidak. Aku hanya sedikit merasa lelah.
"Nathan bukannya kamu juga suka menulis puisi dulu? Kamu bisa menulis untuk menuangkan perasaan kamu. Itu bagus buat terapi penyembuhan."
"Baiklah. Nanti aku pikirkan."
"Kalau Anindira bagaimana?? Coba kamu pikirkan juga. Dia gadis yang baik. Saranku kamu harus mulai membuka hati. Kenangan yang buruk akan hilang kalau kita menggantinya dengan kebahagiaan. Dia gadis yang tulus. Apalagi dia menyayangi Arsy.
Itu yang paling penting kan..."
Mungkin dia memang benar.
Sudah waktunya aku sedikit membuka hati...
Apa benar Anindira orang yang tepat?
"Dia juga cantik. Kalau kamu tidak mau aku bisa menggantikan kamu."
Aku melotot tajam menatap Faizal.
Dia tertawa. Bagus. Tertawalah yang kencang sana.
"Haha. Bercanda bro.. ini resepnya. Jangan di minum setiap hari dulu. Kurangi dosisnya perlahan - lahan. Supaya kamu bisa lepas sepenuhnya dari obat ini. Alihkan pikiran ke hal yang positif. Ingat Nathan. Kamu juga berhak bahagia."
__ADS_1
*******
Sudah 3 hari aku tidak melihat Anindira di kampus. Dia juga tidak datang ke rumah untuk menemani Arsy.
Kemana dia??
Apa dia sengaja menghindariku?
Ah tidak. Aku segera menepis pikiran burukku. Harus berpikir positif. Begitu pesan Faizal.
Aku meraih ponsel dan mengetik pesan untuknya.
[ Kenapa tidak kuliah ]
Tidak berapa lama dia membalas. Ternyata dia sakit demam. Aku menghela napas lega. Bukan lega karena dia sakit. Tapi lega karena pikiran burukku tidak terjadi.
Aku berniat mengajak Arsy menjenguknya sore nanti. Tapi sebelum itu aku mau mampir ke tempat Faizal mengambil jaketku yang ketinggalan kemarin.
Sampai disana, aku melihat pemandangan yang mengejutkan. Anindira dan Faizal.
Mereka sedang asyik bercengkrama. Sejak kapan mereka jadi sedekat itu?
Ada perasaan kesal dan marah melihat mereka. Aku menegur mereka.
Setelah puas memergoki dan menyindir mereka, aku segera pergi meninggalnya.
Anindira masih berlari mengejarku. Dia terlihat kelelahan. Kenapa juga dia harus mengikutiku. Badan tipis dan kurus seperti itu mana bisa mengejarku.
Dasar ABG labil !
**
__ADS_1