DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Kejujuran


__ADS_3

"Arsy bagaimana hari ini? senang?"


Arsy menganggukkan kepala sambil menikmati es krim coklatnya.


Aku dan Arsy baru saja sampai di rumah. Sedangkan Bu Gea, ia langsung pulang setelah selesai bermain di Mall tadi.


"Jadi ibu tadi Oma Arsy?" tanya Arsy dengan mulut yang belepotan.


Aku tersenyum, dan segera mengambil tisu untuk mengusap pipi dan mulutnya yang penuh coklat.


"Iya, Ibu tadi Omanya Arsy."


"Kenapa Arsy baru tau sekarang?"


"Hemm. Soalnya Oma Gea kan baru pulang dari luar negeri."


Arsy terdiam, lalu kemudian mengangguk mengerti. Hufh. Terpaksa deh berbohong. Nggak mungkin kan aku bilang padanya, kalau Mas Nathan yang melarangnya bertemu selama ini.


"Jadi Oma Gea itu ibunya Mama Jihan?"


Deg! aku langsung menatap wajah Arsy saat itu.


"Arsy tahu darimana?"


"Dari Tante Bella. Dulu papa bilang, Arsy gak boleh inget-inget mama Jihan, biar mama Jihan bahagia di surga. Tapi kemarin waktu jalan-jalan sama Tante Bella, Arsy di kasih foto Mama Jihan sama Tante Bella."


"Terus Arsy senang?"


Wajah Arsy berbinar ceria, "Iya, Arsy jadi punya foto mama Jihan deh. Tapi ini rahasia, ya. Mama jangan bilang ke papa."


Ya Tuhan... miris sekali rasanya. Aku harus menutupi ini dari Mas Nathan, tapi entah kenapa hati ini juga sakit, mendengar Arsy bicara tentang ibu kandungnya. Sadarlah Anindira!


Jangan seperti ini.


"Baik, mama janji. Tapi Arsy harus simpan dengan baik ya. Supaya gak ketahuan papa."


Arsy mengangguk senang. Kemudian, dia mengecup kedua pipiku.


"Makasih mama."


"Sama-sama cantik."


Ya... cukup begini saja. Biarlah semua mengalir apa adanya.


Aku juga tidak berhak untuk melarang Arsy untuk tahu ibu kandungnya. Lagipula, Jihan sudah tidak ada. Jadi aku tidak pantas untuk cemburu kan?


****


Malam hari,


Mas Nathan pulang dengan wajah kusut dan berantakan. Dia masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan.


Aku masih diam saja, memandangnya dari atas ranjang.

__ADS_1


"Mas, kamu dari mana kok baru pulang?"


Mas Nathan menoleh kaget menatapku.


"Ah sayang, kamu belum tidur?"


"Belum, aku tunggu kamu. Ada yang mau aku omongin. Tapi... kamu baik-baik aja?"


Aku bertanya khawatir, karena penampilan Mas Nathan hari ini terlihat berantakan.


"Iya gak apa-apa. Aku cuma capek banget. Ya udah, aku mandi dulu ya. Habis ini baru kita bicara."


Aku mengangguk, dan segera menyiapkan pakaian ganti untuk Mas Nathan, begitu dia memasuki kamar mandi.


Tidak berapa lama, Mas Nathan keluar dengan rambut basah, dan handuk yang melingkari pinggangnya. Aku pun menghampiri Mas Nathan, dan menyerahkan setelan piyama yang telah ku siapkan tadi.


"Makasih sayang."


"Hu'um. Sama-sama. Udah makan, Mas?"


"Udah, tadi makan di luar. Huaaah capeknya...." Mas Nathan selesai memakai baju, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Kasihan sekali suamiku ini, dia pasti sangat kelelahan karena harus bekerja di kampus, juga mengunjungi Resto.


Aku menaiki ranjang, dan ikut merebahkan tubuhku di samping Mas Nathan.


"Jadi, apa yang mau kamu omongin?" tanya Mas Nathan, ia memiringkan tubuhnya menghadapku.


"Tentang Bu Gea, aku rasa harus jujur sama kamu, Mas. Bu Gea minta bantuanku untuk sering ketemu Arsy. Kalau kamu mengijinkan, aku yang akan temani setiap mereka bertemu. Bagaimana?"


"Mas, biar bagaimana pun Bu Gea nenek Arsy. Kasihan kalau dia gak bisa bertemu dengan cucunya sendiri." aku berkata untuk membujuknya.


Mas Nathan menghela napas panjang, sebelum kembali bicara, "Aku tahu, dia akan meminta begitu sama kamu. Jadi, kamu setuju?"


"Aku belum jawab. Kan harus ijin suamiku dulu."


"Pintar! sepertinya Anindira yang dulu centil dan manja sudah berubah sekarang." ucap Mas Nathan, sambil meledekku gemas.


"Kalau punya suami Dosen kan harus jadi pintar juga."


Gelak tawa Mas Nathan memenuhi ruangan kamar kami, kemudian tangannya terulur mengusap wajahku.


"Aku ijinkan. Asal jangan biarkan Arsy dan Ibu berdua."


"Alhamdulillah. Aku akan bilang sama Bu Gea nanti."


"Iya, sini mendekat." Mas Nathan menarikku agar lebih merapat pada tubuhnya. Ia mengusap rambutku dengan lembut.


"Anindira... apa pun yang terjadi nanti, apa kamu tetap percaya sama aku?"


Loh apa ini? kenapa Mas Nathan tiba-tiba bicara begini.


"Maksud kamu, Mas?"

__ADS_1


"Maaf aku bicara ngelantur. Kalau itu kamu, pasti kamu akan percaya sama aku kan? apa pun yang terjadi."


Ada yang aneh dengan nada bicaranya saat ini. Suara Mas Nathan sedikit bergetar. Ketika aku menatap matanya, tatapan tajam tadi berubah menjadi sendu.


"Aku akan percaya sama Mas Nathan apa pun yang terjadi. Bukankah sebuah hubungan akan berakhir indah, kalau di dasari rasa saling percaya?"


Mas Nathan terdiam, sedetik kemudian ia tersenyum dan memeluk tubuhku.


"Terima kasih, Anindira. Terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini. Aku hanya gak mau merasakan kehilangan lagi seperti dulu."


Aku tidak menjawab dengan kata, tapi hanya menikmati pelukan Mas Nathan yang hangat seperti boneka beruang ukuran besar.


"Mas, besok bisa temani ke dokter kan? kita bisa lihat jenis kelaminnya besok."


"Oh ya? Bisa. Besok aku luangkan waktu ya. Kita ke dokter tengok adek bayi." sahut Mas Nathan antusias.


Walaupun aku merasa ada yang janggal dengan Mas Nathan malam ini, tapi aku berusaha menepisnya. Mungkin Mas Nathan memang sedang sensitif saja karena banyak pekerjaan, jadi ia berkata seperti tadi.


Yang terpenting, aku tidak sabar untuk menunggu hari esok.


🌸🌸


Di rumah sakit,


Aku dan Mas Nathan memasuki ruangan Dokter Ria dengan perasaan gugup.


Rasanya jantungku berdebar, karena akan melihat sang buah hati di dalam perut.


Dokter Ria tersenyum, dan langsung memintaku berbaring di ranjang pasien.


Setelah siap, ia mulai menggerakkan sebuah alat USG di atas perutku.


Mas Nathan berdiri tegang di samping, sambil memegang tanganku. Sedangkan matanya fokus menatap ke layar monitor di depan.


"Lihat, ini bayinya sedang menghadap kesini. Ini tangannya, lalu ini kepalanya. Kelaminnya... sebentar ya di cari dulu. tertutup dengan kakinya." kata Dokter Ria menjelaskan.


Aku dan Mas Nathan masih tegang tak menjawab.


"Oh ini dia. Selamat ya Nathan dan Anindira. Bayi kalian berjenis kelamin laki-laki."


Mas Nathan tersenyum lebar, ia mengecup pipiku saat itu juga, hingga membuatku malu dan tidak enak hati. Untung saja Dokter Ria memaklumi, ia hanya tersenyum kecil melihat tingkah Mas Nathan yang sedang bahagia.


"Berarti aku sudah dapat sepasang nanti. Makasih, sayang." ucap Mas Nathan padaku.


"Alhamdulillah. Di jaga ya kandungannya. Jangan banyak pikiran. Banyak konsumsi makanan sehat." timpal Dokter Ria.


"Baik, Dok. Saya akan ingat itu."


Setelah di rasa cukup untuk melakukan pemeriksaan, kami pun pulang.


Dalam perjalanan, tak hentinya Mas Nathan mengungkapkan rasa bahagianya, karena akan mempunyai anak laki-laki.


Aku menanggapinya dengan senyuman, sambil terus mengusap perutku yang mulai membuncit.

__ADS_1


Terima kasih, Sayang. Mama tidak sabar untuk melihat kamu lahir ke dunia. Kehadiran kamu, telah melengkapi kebahagian keluarga ini.


🌸🌸🌸


__ADS_2