DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 8


__ADS_3

🍀POV 3 NATHAN🍀


Dua hari ini mimpi itu datang lagi. Mimpi buruk berupa pengkhianatan dan tragedi yang sukses membuat hidupku menjadi gelap.


Rasa sakit itu kembali aku rasakan.


Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawaku juga saat itu?


Aku marah, merasa sangat sakit.


Aku melampiaskannya dengan melempar semua barang - barangku.


Ketika aku terbangun, samar - samar aku melihat Faizal.


Sahabat sekaligus psikiaterku yang ku juluki sok tau itu.


Disana juga ada Anindira sedang bicara berdua dengan Faizal.


Anindira menyadari kalau aku sudah terbangun, mata kami bertemu. Aku segera membuang muka, tidak ingin berlama - lama menatap matanya.


Dia pasti sudah mengetahui semuanya dari Faizal.


Faizal menghampiriku.


"Ini obatnya. Sudah kubilang kan untuk datang. Besok jadwal kamu terapi. Kamu harus datang. Demi Arsy."


Aku tak menjawab. Tapi Faizal pasti tau aku akan datang karena dia sudah menyebut nama Arsy.


Faizal akhirnya pergi meninggalkan aku dan Anindira.


Gadis itu beringsut mendekatiku, menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa ku artikan.


Kenapa?


Lihatkan..aku tak sesempurna itu untuk di perjuangkan.


Dia pasti akan berhenti kan, dia masih muda, masa depannya masih panjang.


Buat apa dia masih bertahan dengan seorang pria sakit sepertiku, yang umurnya terpaut 8 tahun dengannya?


Gadis itu duduk di sampingku. Memaksaku untuk menatapnya.


Tanpa di duga, dia menangis.


Anindira menangis. Gadis konyol periang yang selalu bersikap semaunya itu kini menangis sesenggukan.


"Pasti sakit kan pak.. pasti rasanya sakit sekali karena bapak selama ini memendamnya sendirian."


Ujarnya di sela - sela tangisnya.


Aku tak percaya ini.


Dadaku kembali berdesir.

__ADS_1


Dan air mata yang selama ini ku tahan, akhirnya luluh, bersama dengan pelukannya.


****************************************


🍀POV ANINDIRA🍀


~ Hanya dengan hal yang sederhana kau dapat membuatku tersenyum. Apa benar cinta sesederhana itu?


__NATHAN__


***


Namanya Faizal, dia memperkenalkan diri begitu selesai memeriksa keadaan Pak Nathan, sebagai teman Pak Nathan sekaligus psikiater pribadinya. Dan ternyata Pak Nathan tadi pingsan bukan tertidur, sepertinya benar kata Arsy aku memang bodoh, membedakan tidur dan pingsan saja aku tidak bisa, untung saja Faizal cepat datang saat itu.


"Jadi.. Pak Nathan sakit apa, kak?"


Aku memanggilnya kak Faiz. Karena dia bilang masih single. Dan tidak mau dipanggil bapak.


Kak Faiz menghela napas sebelum menjawab pertanyaanku.


"PTSD. Kamu tau itu?"


Aku melongo mendengarnya. Istilah asing yang baru ku dengar. Yang aku tahu hanyalah PSTD ( pencak silat tenaga dasar ). Jelas beda jauh kan...


Kak Faiz tersenyum, sepertinya sadar kalau aku tidak tahu apa itu PTSD.


"Post Traumatic Stress Disorder atau gangguan stress pasca trauma. Gangguan kejiwaan yang dipicu oleh kejadian tragis yang pernah dialami atau disaksikan. Dalam kasus Nathan gejalanya sudah tergolong berat. Dia harus terapi dan pengobatan SSRI.


Aku terdiam mendengarkan penjelasan Kak Faiz. Tidak menyangka Pak Nathan mengidap penyakit itu. Apa itu alasannya Pak Nathan seperti menutup dirinya.


"Anindira, Nathan beberapa kali bercerita tentang kamu saat terapi. Sepertinya dia mulai membuka hatinya buat kamu. Saya akan menceritakan semuanya yang di alami Nathan. Karena saya gak mau Nathan mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya. Jadi setelah ini pilihan ada di tangan kamu."


Aku menatap Kak Faiz. Meremas kedua tanganku. "Baiklah kak. Aku siap." Ucapku mantap. Memang inilah yang aku tunggu. Aku ingin tahu semua tentang Pak Nathan.


Kak Faiz akhirnya menceritakan semuanya dari awal.


"Nathan sejak dulu memang pendiam, tapi tidak parah seperti sekarang. Dia pintar dan sudah menjadi asisten dosen. Jihan pacarnya 1 kampus dengannya. Tak berapa lama mereka menikah. Karena umur mereka yang masih muda, pertengkaran sering terjadi. Apalagi Jihan wanita yang sedikit nakal. Nathan sering datang ke rumah saya untuk meminta saran tentang masalah keluarganya.


Tapi hubungan mereka akhirnya sedikit membaik setelah kelahiran Arsy."


Kak Faiz lalu menarik napas, sepertinya berat untuk melanjutkan ceritanya.


"Kamu yakin mau dengar ini?" Kak Faiz kembali bertanya.


Aku kembali menganggukkan kepalaku.


Kak Faiz menatapku lama, lalu kembali bicara.


"Puncaknya 5 tahun lalu. Saat Arsy berumur 1 tahun, Nathan mengalami hal yang tragis.


Kedua orang tuanya kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit. Ditambah lagi Jihan istrinya, ternyata telah berselingkuh, bahkan membawa selingkuhannya ke rumah mereka, saat Nathan sibuk mengurus orang tuanya.


Hari itu aku menerima telepon dari Nathan, dia bilang untuk segera datang ke rumahnya.

__ADS_1


Aku datang dan yang kulihat, Nathan hanya menatap kosong ke arah tubuh Jihan yang tergeletak penuh darah."


Aku syok mendengarnya. "Jadi.. Pak Nathan yang......"


Ini gak mungkin kan Pak Natham yang menyebabkan Jihan seperti itu.


"Bukan, ini gak kayak yang kamu pikir, Nin. Bukan Nathan yang menyebabkannya..." Kak Faiz menggantungkan kata - katanya.


"Tapi Jihan bunuh diri. Selain berselingkuh Jihan juga ternyata pecandu narkoba. Nathan marah. Lalu menceraikan Jihan saat itu juga, dan hendak melaporkannya agar dia bisa di rehab, tapi Jihan malah memilih mengakhiri hidupnya sendiri mengiris tangannya dengan kaca. Dan tidak lama setelah itu Nathan juga mendapat kabar dari rumah sakit kalau orang tuanya meninggal." Lanjutnya pelan.


Badanku langsung terduduk lemas mendengarnya. Bagaimana mungkin bisa setragis itu. Dalam 1 waktu Pak Nathan kehilangan semuanya. Hanya Arsy yang tersisa. Pantas saja ia sangat menyayangi Arsy.


"Itulah alasan Nathan menutup diri sekarang. Dia tidak percaya sama siapa pun. Dan dia tidak bisa tidur tanpa obat selama ini. Karena selalu di hantui mimpi buruk. Tapi belakangan ini kondisinya lebih membaik. Harus ada yang mendukungnya. Anindira... pikirkanlah lagi. Kalau kamu tidak serius, lebih baik berhenti sekarang. Itu pesan saya."


Aku tidak menjawab. Entah kenapa hatikku sakit mendengarnya. Aku kembali menatap ke arah Pak Nathan. Ternyata dia sudah bangun dan sedang melihat ke arahku. Pandangan kami sempat bertemu tadi.


Tidak berapa lama Kak Faiz pamit, setelah berbicara sebentar dengan Pak Nathan.


Tinggallah kami berdua di kamar. Dan aku memutuskan menghampiri Pak Nathan.


Walaupun aku masih ragu, takut Pak Nathan marah atau mengamuk lagi.


Aku hanya ingin memeluknya kali ini. Ingin Pak Nathan berbagi, ingin mengurangi beban yang ia rasakan selama ini.


************


Esoknya di kampus


Aku menceritakan semuanya pada Sarah. Setidaknya aku juga butuh saran dari sahabatku itu.


Sarah menatapku takjub setelah mendengar aku bercerita.


"Gila ya, Nin.. hidup lo udah kayak di sinetron. Tapi.. gue juga gak ngerti si. Gue taunya sakit tuh pilek, batuk, meriang, gak tau sakit - sakit berat kayak ptsd itu. Hiii jangan sampe deh.." Sarah bergidik ngeri.


"Jadi gimna dong, Sar.." Aku benar - benar bingung sekarang.


"Ya itu mah gimna lo aja. Lo serius gak sama Pak Nathan. Kalau serius ya lo harus dukung dia, support dia. Terus lo harus banyak - banyak baca deh tentang penyakit itu. Biar gak bodoh - bodoh amat."


Aku menoyor kepalanya gemas. Bagaimana bisa dia bilang aku bodoh. Padahal ya level kecerdasannya juga setara denganku. 11 12 lah....


"Nyesel gue cerita sama lo." Ujarku sewot.


Sarah hanya tertawa.


"Ya pokoknya keputusan ada di tangan lo sendiri, Sar. Kan lo yang bakal jalanin. Gue mah cuma bisa bantu doa aja yaa..."


Aku kembali berpikir. Semua bilang keputusan ada di tanganku. Aku sendiri juga bingung dan galau. Mendengar cerita Kak Faiz, aku juga merasakan sakit dan tidak tega dengan Pak Nathan.


Jadi aku harus gimana?


Apa aku harus tetap lanjut atau berhenti dari sekarang?


****

__ADS_1


__ADS_2