DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Candu


__ADS_3

🌸Aku tak pernah menduga, bahwa aku membutuhkanmu seperti candu. 🌸


***


POV NATHAN


Anindira hamil?


Ah aku senang sekali mendengar kabar yang meluncur dari bibir indahnya. Akhirnya proyek membuat adik Arsy berhasil. Yes!


Aku mengajak Anindira untuk kontrol kehamilan dengan Dokter Ria. Di sana tempat dulu Jihan memeriksakan kandungannya. Bukan karena aku belum bisa melupakan Jihan, tapi itu karena aku tahu Dokter Ria sangat kompeten di bidangnya.


"Selamat, bro! akhirnya tokcer juga nih." seru Faizal, ketika aku mampir ke kliniknya, untuk mengabarkan kehamilan Anindira.


Yah, seperti kata Arsy, aku ingin pamer padanya.


"Iya dong, makanya cepetan nikah!"


Faizal tertawa garing, "Selow. Kan sebentar lagi."


Pernikahan Faizal dan Lisa memang akan di selenggarakan tahun ini. Rencana di bulan sepuluh. Sekitar 6 bulan lagi.


"Terus gimana keadaan Nindi? ngidam aneh gak?"


Aku terdiam, teringat pesan Dokter Ria kemarin yang menyuruhku untuk 'puasa'. Itu benar-benar membuatku tersiksa. Menyentuh Anindira bagaikan candu untukku. Mungkin karena sudah beberapa tahun aku tidak pernah dekat atau bersentuhan dengan wanita. Apalagi Anindira cenderung agresif jika bersamaku.


Ah, aku jadi memikirkan yang tidak-tidak. Buang pikiran itu Nathan!


"Belum ngidam aneh sih, tapi harus puasa dulu."


Mendengar itu Faizal tertawa terbahak-bahak.


"Haha. Rasain! pantes tuh muka asem banget. Kurang jatah ya."


"Sialan!" aku mengumpat padanya, sambil meminum air mineral yang di sediakan Faizal. Aku memang lebih menyukai air mineral di banding kopi atau yang lainnya.


"Oh iya. Gimana keadaan Resto Green yang di Jogja?" tanya Faizal.


"Sudah mulai membaik sih. Gue udah kasih peringatan ke Rani buat beresin semua. Kalau gak ya terpaksa ambil jalur hukum."


"Rani sepupu lo itu kan?"


Aku mengangguk singkat. Malas untuk membalas hal itu sekarang. Rani memang sudah di temukan. Dan dia janji akan bertanggung jawab dengan penggelapan dana yang ia lakukan. Sementara ini aku hanya bisa menunggu, sambil fokus dengan cabang yang ada di Jakarta.


"Syukur deh kalau gitu. Oh iya, gue dapat pesan dari Lisa, katanya Nindi gak usah pikirin tentang mamanya. Masalah hutang sementara di handle sama Lisa."


Aku menghela napas berat, "Kalau Anindira tahu, pasti dia sedih. Gue ngerasa gak berguna jadi suaminya."


"Gak gitu, Nat. Kita ngerti kok kondisi lo sekarang. Yang penting kalian akur terus. Jangan ribut-ribut lagi. Belajar dari pengalaman, Nat. Turunin dikit ego. Nindi kan masih muda."


Aku hanya bisa mendengus mendengar perkataan Faizal yang menurutku sok tahu. Sejak kapan dia pindah profesi dari psikiater menjadi konsultan keluarga?


Menikah saja belum, sudah sok menasehati.


"Oh iya, mana obatnya?" aku hampir lupa kalau tujuan utamaku kesini adalah untuk meminta resep obat.

__ADS_1


"Nat, lo yakin gak perlu bilang ke Nindi?"


Aku menggeleng cepat, "Gak usah, nanti dia khawatir."


Bukan tanpa alasan aku meminta obat dari Faizal. Ini karena mimpi-mimpi buruk itu kembali datang hampir setiap malam.


Aku tidak ingin Anindira khawatir, apalagi di masa kehamilannya sekarang.


Faizal ingin menjadwalkan terapi lagi untukku, tapi aku menolak.


Mungkin karena masalah yang terjadi akhir-akhir ini, aku jadi lebih sensitif hingga penyakitku kembali kambuh. Walaupun tidak separah dulu.


*****************


POV ANINDIRA


Pesta pernikahan Sarah


Aku turun dari mobil dengan menggandeng Mas Nathan. Beberapa pasang mata kini menatap kami, tamu undangan Sarah memang sebagian juga ku kenal. Teman-teman semasa kuliah dulu yang seangkatan denganku dan Sarah. Terdengar jelas bisik-bisik mereka begitu kami memasuki aula resepsi. Dan kebanyakan dari mereka menatap Mas Nathan dan terang-terangan mengagumi pahatan yang sempurna di wajah dan tubuhnya itu.


"Wow. Hot dady."


"Hei lihat tuh. Itu kan Pak Nathan, jadi benar ya dia nikah sama mahasiswinya sendiri?"


"Gila! gans banget tuh cowok. Gue juga mau punya suami kayak gitu "


"Njirr, tau gitu gue pepet terus tuh Pak Nathan biar bisa jadi bininya."


"Gue kira dia gay. Habis dingin banget orangnya. Ternyata doyan cewek juga. Cantik lagi tuh cewek. Angkatan berapa sih?"


"Kalau tahu begini, saya gak mau datang!" bisik Mas Nathan dengan nada kesal.


"Cuekin aja sih, Mas. Mereka kan dulu mahasiswa kamu juga."


"Bukan gitu, saya gak suka ada cowok lain menatap kamu."


Aww. So sweet sekali suamiku ini. Aku semakin mengeratkan pegangan tanganku padanya. Siapa yang tidak bangga mempunyai suami sepertinya?


Bahkan malaikat juga tahu, aku yang jadi pemenangnya.


Kami naik ke pelaminan, mengucapkan selamat pada Sarah dan pria yang sekarang sudah resmi jadi suaminya.


"Selamat, ya Sarah...." aku memeluk erat sahabatku itu. Dia sangat cantik menggunakan gaun berwarna soft gold. Aura bahagia terpancar jelas dari wajahnya.


"Makasih Nindi.. eh ada Pak Nathan juga. Jangan kasih materi kuliah di sini ya, Pak." ucap Sarah lagi.


Mas Nathan hanya tersenyum lebar menanggapi candaan Sarah.


Setelah mengucapkan selamat, aku dan Mas Nathan berjalan menuju prasmanan, tempat berbagai makanan di hidangkan.


Air liurku hampir saja menetes melihat banyaknya makanan enak terpajang. Aku mengambil beberapa macam menu dalam satu piring. Mas Nathan sampai menatapku ngeri.


"Sayang, kamu yakin makan itu semua?"


"Iya mas, nih kayaknya bawaan baby." sahutku pelan, sambil mengusap perutku yang masih rata.

__ADS_1


"Oh begitu. Ya udah kamu makan apa yang kamu mau. Kalau kurang, nanti di luar kita beli makanan lagi."


Aku mengangguk semangat, lalu mulai menyantap satu-satu hidangan yang ku pilih tadi.


Namun, tiba-tiba perutku terasa mual. Aku berusaha menahannya tapi tidak bisa.


"Kamu kenapa?" tanya Mas Nathan, begitu melihat ekspresi ganjil-ku dan berhenti makan.


Wajahku pasti merah saat ini karena menahan mual.


"Mual ,mas. Hemmp."


Wajah Mas Nathan langsung terlihat panik, "Ayo kita keluar sekarang."


Aku mengikuti lelakiku itu, keluar dari aula tersebut sambil terus menahan mual yang semakin hebat.


Sampai di luar, aku sudah tidak tahan lagi.


Dan.... terjadilah.


Aku mengeluarkan isi perutku sebelum sampai di mobil. Dan parahnya sampai mengenai jas hitam yang di kenakan Mas Nathan.


Habislah sudah!


Malu sekali rasanya. Beberapa orang yang berada di luar aula pun menatap kami dengan penasaran.


Sedangkan Mas Nathan..... suamiku itu masih terdiam, dia mematung dan syok tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Huaaaa..... Maafin aku Mas Nathan.


Sumpah! ini tidak di sengaja. Rasanya aku ingin menangis saat ini juga.


"Maafin aku, Mas." ujarku pelan dan takut.


Mas Nathan terkesiap, sepertinya dia sudah berhasil menguasai diri.


Dengan cepat, ia melepaskan jasnya yang sudah kotor itu, lalu memasukkan ke bagasi mobil.


"Hiks maaf ya, Mas."


"Sst. gak apa. Sekarang kita pulang aja ya. Oke!"


Dia menuntunku untuk masuk ke dalam mobil.


"Tapi aku masih lapar."


"Kamu masih lapar?" tanya Mas Nathan, dia menatapku tak percaya.


Aku mengangguk pelan. Memang benar masih lapar kok.


"Oke. Kita cari makan di luar ya habis ini. Tapi kamu juga harus minum obat dari Dokter Ria. Biar mual kamu berkurang."


"Siap bos!" aku tersenyum lebar, karena Mas Nathan tidak marah. Dia justru akan mengabulkan permintaanku yang ingin makan lagi.


*Hihi. Ternyata seperti ini rasanya jadi ibu hamil.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸*


__ADS_2