DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 15


__ADS_3

🍀Bukan karena kau indah lalu aku mencintaimu, tapi karena aku mencintaimu kau selalu nampak indah bagiku.


****


Sebulan telah berlalu..


"Jadi sekarang lo manggilnya mas dong ke Pak Nathan?" Sarah menatapku tak percaya.


Aku dan Sarah sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota.


Sarah ingin mencari bahan untuk TA, dan dia meminta aku menemaninya.


Sudah lama sekali kami tidak jalan bersama karena di sibukkan dengan tugas akhir.


Setelah berhasil menemukan apa yang dibutuhkan, kami melepas lelah di sebuah kafe. Dan dia menagih janjiku untuk bercerita tentang Pak Nathan. Karena kami tidak punya waktu untuk mengobrol santai jika di kampus.


"Iya, itu juga kalau di luar kampus aja kok. Habis dia marah sih kalau gue panggil bapak di depan orang. Ini gara - gara nyokap gue yang ngomporin."


Sarah tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.


"Haha. Pak Nathan jadi bucin gitu sama lo. Gilaaaa....setelah penantian 7 bulan purnama."


"Yee lebay." Aku bersungut sebal padanya.


"Predikat jomblo abadi udah lepas dong dari gue."


"Yaa.. ya ya. Selamat deh ya Nindi. Gue ikut senang kok dengernya." Ujar Sarah. Dia tersenyum tulus. Aku membalas senyumnya.


Pikiranku sekarang menerawang jauh, saat pertama melihat Pak Nathan dulu. Bagaimana tingkah konyolku yang selalu mengekori dia di kampus, bahkan tanpa malu menggodanya. Aku sering berkhayal kalau dia jadi suamiku nanti, nyatanya sekarang impian itu sudah selangkah lebih dekat.


"Habis ini rencana lo kemana?" Sarah bertanya membuyarkan lamunanku.


"Gue mau bimbingan TA sama Pak Nathan."


"Eciyee.. bimbingan TA apa bimbingan cinta.."


"Haduh Sar, boro - boro deh. Dalam satu pekan tuh ya, gue bisa santai hari Sabtu sama Minggu aja. Senin sampai Jumat harus bimbingan. Untuk jemput Arsy aja sekarang gue dilarang. Katanya harus fokus ke TA dulu."


Sarah tertawa puas mendengar penuturanku.


"Haha lo tau kan Pak Nathan orangnya kayak gimana. Ke mahasiswi lain aja killer kalau menyangkut materi pelajaran dia. Jadi wajarlah dia juga tegas sama lo."


"Iya juga yaa... Makanya gue harus tahan deh. Biar cepat lulus juga."


Ketika sedang asyik mengobrol, ponsel di tasku bergetar. Menampilkan foto Pak Nathan yang ku foto diam - diam di pantai.


"Iyaa mas, saya lagi di mall sama Sarah."


Mendengar kata 'mas' yang aku ucapkan tadi. Ekspresi Sarah langsung berubah. Sepertinya dia menyadari siapa yang meneleponku saat ini. Dia mendekatkan telinganya, ingin menguping pembicaraanku.


Melihat itu, aku langsung mendorong kepalanya agar menjauh.


"Iyaa.. iyaa aku datang kesana Sekarang.".


Aku menaruh jari telunjukku di atas bibir, agar Sarah diam.


Setelah pembicaraan selesai, Sarah langsung memberondongku dengan berbagai pertanyaan.


"Kenapa Nin? Dia bilang apa? Lo disuruh kemana?"


"Kepo." Jawabku singkat.


Mendengar jawabanku Sarah langsung memonyongkan bibirnya. Kesal.


Aku meraih kaca kecil dari tasku. Lalu membenarkan lipstik yang belepotan karena makan tadi.


Melihatku seperti itu membuat Sarah meringis geli.


"Njirr. Sejak kapan lo pake lipstik. Biasanya juga tuh bibir minyakan."


Aku hanya mengerling malas. Begini nih kalau punya teman jomblo bertahan.


"Namanya orang jatuh cinta tuh yaa... Yang tidak biasa bisa menjadi biasa.


Yang biasa bisa menjadi tidak biasa.


Enggak ngerti kan... Makanya jatuh cinta!."


Sarah hanya melongo mendengar filosofi yang aku karang barusan. Mungkin dia heran kenapa sahabatnya ini jadi pintar berkata - kata sekarang. Ya jelas dong.. kan pacar dosen. Harus pintar dan cerdas.

__ADS_1


Setelah selesai makan, aku memanggil waittress, lalu membayar pesananku dan Sarah. Karena memang aku berniat mentraktirnya makan hari ini.


"Sar gue duluan yaa... Nih Pak Nathan udah nunggu gue di Taman kota. Gue mau lihat hasil TA gue. Bye baby.."


"Yaa.. hati - hati. Jangan lupa cerita yaa nanti."


"Oke sipoo." Aku mengedipkan sebelah mataku. Lalu beranjak pergi meninggalkannya disana.


******


Di Taman Kota


Aku menghampiri Pak Nathan yang duduk sendirian disana.


Sebelumnya aku memang pernah kesini, bedanya saat itu ada Arsy juga, kalau sekarang aku hanya berdua dengan Pak Nathan. Eh.. mas Nathan maksudku. Jadi mulai sekarang aku harus memanggilnya Mas Nathan yaa...


"Mas.." Aku menyapanya. Dia menoleh dan menggeser tubuh ke samping, agar aku bisa duduk di sebelahnya.


Jantungku berdegup kencang saat ini. Seperti habis lari maraton keliling kota.


"Mas..." Panggilku lagi dengan nada manja.


Dia menatapku aneh. Aku hanya memegang kedua pipiku sambil tersenyum malu.


"Kamu habis mabuk ya..."


Dengan cepat aku menggeleng, "Enggak kok. Nih coba cium enggak ada bau alkohol kan."


Dia melotot kaget ketika aku mendekatkan tubuhku.


"Eits. Stop. Nanti kita malah di kira mesum disini. Mana TA kamu, katanya sudah sampai bab tiga."


Perkataannya barusan, sukses membuatku mengerucutkan bibir. Lihatkan... sikapnya masih saja kaku seperti kanebo kering!


Ku serahkan pengantar karya TA yang sudah aku siapkan. Tulisan besar kapital tercetak di halaman awal,


PERANCANGAN PROMOSI DAN PEMBUATAN FILM PENDEK


"HEAL ME"


Dia membacanya dengan serius. Keningnya mulai berkerut, dan kulihat dia mencoret dengan pulpen di beberapa bagian.


Alamak. Revisi lagi.


"Di bab tiga, tentang konsep perancangan dan story line masih ada yang perlu di perbaiki."


Ucapnya sambil menyerahkan laporan TA ku kembali.


"Jangan manyun, kalau enggak di revisi sekarang juga nanti akan di tolak sama penguji." Tambahnya lagi.


"Iyaa pak.."


Dia mendelik menatapku. Ups.


"Iya mas..." Aku mengulanginya lagi. Tuh kan barusan aku lupa lagi.


"Mau makan?" Tanyanya lagi


Aku menggeleng. "Sudah tadi sama Sarah."


"Oh. Mau jalan?"


"Pulang aja yah.. aku cape." Jawabku pelan. Lalu memijit tengkukku yang terasa pegal.


Yaa.. aku memang lelah. Hampir seharian tadi jalan dengan Sarah. Mas Nathan hanya mengangguk lalu bangkit dari duduknya, mengajakku pergi.


Kami jalan menuju mobil. Tempat untuk parkir mobil memang lumayan jauh dari taman, terletak di pinggir jalan raya besar.


Ketika sampai mobil, langkahku terhenti. Aku penasaran karena terlihat beberapa orang berkerumun di seberang jalan, tidak jauh dari mobil Mas Nathan.


Sepertinya ada kecelakaan, karena ada ambulans juga di sana, petugas ambulans membawa korban dengan tandu. Aku menyipitkan mata berusaha melihat dengan jelas apa yang terjadi disana.


Ada sebuah mobil yang hancur bagian depan, dengan sepeda motor yang tergeletak.


"Mas di depan ada kecelakaan. Sepertinya tabrakan mobil dan motor ya mas.." Aku menggumam pelan.


Tidak ada jawaban dari Mas Nathan, kupikir dia sudah masuk ke dalam mobilnya. Namun setelah aku menoleh, Mas Nathan masih ada di sampingku.


Dia mematung dengan wajah pucat. Guratan ketakutan di mata Mas Nathan terlihat sangat jelas.

__ADS_1


Aku mendekatinya "Mas.. kenapa?"


"Kecelakaan!" Mas Nathan mencengkram kuat tanganku. Bibir dan kakinya bergetar hebat. Kenapa Mas Nathan seperti ini. Apa ada hubungannya dengan penyakitnya.


"Mas tenang...oke." aku berusaha menenangkannya. Aku merintih kesakitan karena Mas Nathan mencengkram tanganku semakin kuat.


"Ibu..ayah..." Napasnya kini terengah - engah.


Aku paham sekarang. Dia pasti teringat kecelakaan ibu dan ayahnya. Selain ptsd apa dia juga punya phobia.


"Itu bukan mobil orang tua Mas Nathan." Sahutku kembali.


Tapi percuma. Mas Nathan seperti hilang kendali sekarang. Dia memukul - mukul kaca mobil. Berteriak histeris.


Dalam kepanikan aku teringat siapa yang bisa mengatasi masalah ini.


Dengan tangan gemetar aku mengambil ponsel dan menghubungi nomor orang itu.


"Kak Faiz. Tolong.. bisa ke Taman Kota sekarang. Mas Nathan kambuh lagi. Dia hilang kendali."


Setelah sambungan telepon terputus, aku berusaha kembali menenangkannya. Tak peduli tanganku yang terluka karena terus di cengkram olehnya.


Aku mendelik pada beberapa orang di sekitar, yang kini menatap lurus ke arah kami, sambil berdesis ucapan kengerian dari mulut mereka.


Tapi aku tidak peduli. Aku tetap berusaha menenangkan Mas Nathan yang terus memanggil nama ibu dan ayahnya.


Dan terakhir dia juga menyebut nama Jihan....


Ada rasa ngilu di hati ini mendengarnya. Tapi aku segera menepis perasaan itu. Kesehatannya lebih penting sekarang. Semoga saja Kak Faiz cepat datang.


*********


Aku berada di klinik Kak Faiz sekarang, setelah tadi Kak Faiz menemukanku dan Mas Nathan di taman, dia segera memberikan obat penenang untuk Mas Nathan.


Aku meminum coklat panas yang di sediakan Kak Faiz untukku. Mas Nathan sudah tertidur di ruang istirahat.


Tubuhku masih sedikit gemetar. Aku masih shock dengan kejadian tadi.


"Kenapa kak Faiz enggak cerita dari awal kalau Mas Nathan juga punya phobia." ucapku pelan.


Kak Faiz yang duduk di hadapanku menghela napas. "Aku pikir hubungan kalian tidak akan sejauh ini. Tapi tenyata sudah sampai kamu memanggilnya Mas."


Aku hanya tersenyum kaku. Kalau situasinya normal mungkin aku akan tertawa mendengarnya.


"Apa itu berbahaya?"


"Ptsd dan trauma yang tidak bisa hilang. Selama 8 tahun dia sudah jadi pasienku.


Nathan bilang gangguan mimpi buruknya belakangan ini sudah berkurang, dia tidak minum obat anti depresi lagi. Tapi situasi tadi sepertinya mengingatkan dia kembali dalam masa lalu. Itu sangat berbahaya....dia bisa hilang kendali seperti yang kamu lihat."


"Bagaimana bisa seburuk itu?" aku menggumam lemah.


Kak Faiz bangun dari duduknya, berjalan menuju lemari yang terletak di sudut ruangan.


Ia membawa sebuah kotak P3K.


"Tangan kamu luka. Sini di obatin dulu."


Aku menolaknya dengan halus. "Biar saya aja kak."


"Aku memang dokter psikiater, tapi biar begitu aku juga tahu cara merawat luka yang benar."


Dia tetap bersikeras mengobati lukaku.


Aku diam saja. Menatap Kak Faiz yang dengan telaten membersihkan lukaku.


"Kak.. apa Mas Nathan belum bisa melupakan Jihan ya..?"


Kak Faiz terdiam sebentar, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya tadi. memberikan obat merah di lukaku, lalu menempelkan plester dengan rapi.


"Sudah selesai." Ujar kak Faiz. Ia memasukkan kembali perlengkapan obat ke dalam kotak P3K.


"Udah jangan di pikirin lagi." Dia mengacak - ngacak rambutku, setelah itu berlalu pergi ke dalam ruangan tempat Mas Nathan beristirahat.


Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya, orang yang aku sukai sakit, trauma, bahkan dia masih terus mengingat dan menyebut nama istrinya yang sudah meninggal.


Mas Nathan memang tidak menyimpan foto Jihan satu pun di rumahnya. Tapi nama Jihan sepertinya masih tersimpan rapi di hatinya.


Apa aku salah jika sekarang aku merasa kecewa...

__ADS_1


**********************


__ADS_2