DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Pulang ke rumah


__ADS_3

Kalau ada yang bertanya bagaimana perasaanku sekarang?


Entahlah...


Aku merasa hatiku kosong, terbangun dari tidur yang panjang membuat segalanya berbeda. Hanya satu Minggu... namun rasanya seperti berabad-abad. Aku bersyukur karena tidak kehilangan bayi ini.


Mas Nathan mengajakku jalan-jalan ke taman rumah sakit, dia mendorong kursi rodaku dengan lembut.


"Sayang, apa ada yang sakit?"


Aku menggeleng dan mengukir senyum untuknya. Wajah itu masih tetap sama, hanya penampilannya yang berbeda. Rambut yang tidak di sisir teratur, kemeja yang kusut, dan lingkar mata yang terlihat di sekitar matanya.


Kondisi Mas Nathan sangat memprihatinkan.


"Ma.. maaf, Mas."


"Maaf untuk apa?" Mas Nathan mengecup tanganku.


"Tidurmu pasti kurang. Bagaimana dengan obat kamu?"


Mas Nathan terkekeh, "Aku gak apa. Lihat, suami kamu ini masih sangat gagah kan?"


"Iya.. suamiku ini masih terbaik di dunia."


Mas Nathan tersenyum, dia meletakkan kepalanya di pangkuanku.


"Please, jangan seperti ini lagi. Jangan buat aku khawatir lagi. Aku gak akan bisa maafin diriku sendiri kalau sesuatu terjadi lagi sama kamu."


Aku mengusap rambutnya dengan lembut. Tak terasa air mata ini kembali jatuh. Sungguh Tuhan sangat baik...


Memberikanku kesempatan kedua untuk hidup di sisinya.

__ADS_1


Namun masih ada yang menjanggal di hatiku sekarang. Tentang Bella...


Aku masih teringat jelas siapa pelaku penabrakan itu. Tapi begitu aku bertanya, tidak ada yang menjawab sama sekali. Tante Lisa, Kak Faiz, Mama, juga Mas Nathan. Mereka semua bungkam.


Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan?


🌸🌸🌸


Dokter Fadil akhirnya mengizinkanku untuk pulang. Dalam perjalanan, Mas Nathan tak hentinya menatap dan menggenggam tanganku di mobil.


"Arsy sudah menunggu di rumah." ucap Mas Nathan.


"Iya, aku kangen Arsy."


Mas Nathan tersenyum, "Dia rajin belajar sekarang. Cita-citanya ingin menjadi dokter."


"Bagus. Arsy pasti bisa. Dia pintar seperti papanya."


Setelah perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya kami sampai.


Karena kondisi tubuhku masih lemah, maka aku masih di bantu dengan kursi roda.


Begitu turun dari mobil, suasana rumah terlihat sepi. Tidak ada celotehan Arsy seperti biasanya. Aku sedikit kecewa, karena tidak ada mama juga di sana.


Ku pikir mama menunggu di rumah, karena beliau tidak menjemputku di rumah sakit. Tapi ternyata tidak ada. Apa ma tidak peduli padaku?


Mas Nathan mendorong kursi roda menuju pintu depan.


Dan saat pintu terbuka...


Aku terperangah melihat dekorasi di dalam rumah.

__ADS_1


Banner besar bertuliskan SELAMAT DATANG, tertempel di dinding. Tiba-tiba semua orang yang ku sayangi muncul. Tante Lisa dan Kak Faiz muncul dari balik sofa, sedangkan mamaku menampakkan dirinya dari balik tembok pembatas ruang tamu, bersama si cantik Arsy yang mengenakan topi warna pink berbentuk telinga kelinci.


Tak ketinggalan Bi Munah dan Mila.


Aku sangat terharu, seketika tangis dan tawa memenuhi ruangan ini. Mereka bergantian memelukku, mengucapkan syukur atas kesembuhanku.


"Kamu suka?" bisik Mas Nathan.


"Mas ih, nakal banget sih. Aku sampai sedih loh, waktu tadi di rumah sakit kamu bilang mama gak bisa datang."


Mas Nathan terkekeh, dia menunduk dan merangkul pundakku dari belakang. Mengecup keningku dengan penuh kelembutan.


"Ehem...ciye berasa dunia milik berdua deh. Untung gue udah nikah." seru Kak Faiz. Dia pun merangkul Tante Lisa, yang kini tersipu malu.


"Oh aku lupa. Di sini ada pengantin baru. Kalah pamor dong kita, Mas." aku berkata sambil mendongak, menatap Mas Nathan.


"Gak, tetap Nadi nomor satu." sahut Mas Nathan.


"Apa tuh Nadi?" Tante Lisa mengernyit bingung.


"Nathan - Nindi." jawab Mas Nathan cuek.


"Warbiyasah. Nathan kena virus alay, Bro!" Kak Faiz menatap geli ke arah kami.


"Dia pasti tertular sama Nindi." mama ikut menimpali, sambil geleng-geleng kepala.


"Hei, kenapa kalian seperti itu?" aku sewot, karena semuanya mengejek Mas Nathan.


Nadi? seketika senyumku mengembang. Hal kecil seperti ini saja sudah bisa membuatku berbunga-bunga. Sungguh pengaruh Mas Nathan sangat besar untukku.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2