
🍀 Jatuh cinta itu mudah, yang susah mempertahankannya.
_Anindira.
****
Aku berlari kecil menaiki tangga menuju kelas. Hari ini benar - benar apes.
Di perjalanan tadi ban motorku bocor dan harus mendorong jauh untuk menemukan tukang tambal ban. Itu pun motorku harus ditinggal disana. Jadi terpaksa aku naik ojek online menuju kampus.
Ini gawat! Aku sudah terlambat.
Koridor kampus di fakultasku sudah mulai sepi. Hari ini juga ada kelas Pak Nathan.
Nafasku masih terengah, ketika aku sampai di depan ruang kelasku. Dengan perlahan aku meraih gagang pintu dan membukanya sedikit.
Kulihat Pak Nathan sudah ada disana. Dia sedang berdiri memberikan materi dengan suaranya yang lantang.
Ketika terdengar suara pintu terbuka, sontak seluruh mata tertuju ke arahku.
"Permisi pak..maaf saya terlambat." Aku berkata pelan sambil memasuki kelas.
Dengan ragu aku mengangkat wajah menatap sosok Pak Nathan di depan kelas.
Dia hanya menoleh sekilas, lalu kembali mengawasi mahasiswanya yang sedang mengerjakan soal darinya.
"Kamu...sudah tahu kan letak pintu untuk keluar." Dia kembali berkata dengan tatapannya yang horor.
Aku hanya diam berdiri di depan kelas. Apa benar tadi Pak Nathan mengusirku?
Serius nih, beneran.
"Pak..."
"Kamu mau keluar sekarang atau masuk duduk disini tapi saya anggap kamu enggak ada?" Bentaknya kencang. Seisi kelas langsung kembali menunduk, tidak ada yang berani menatap Pak Nathan sekarang. Bahkan bernapas pun sepertinya mereka tahan.
Aku meneguk salivaku. Kalau sudah begini sudah enggak ada harapan lagi deh.
Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kelas, sambil bergumam kesal padanya.
"Dasar tega!"
Pak Nathan tidak peduli, ia langsung melengos mendengarku berkata seperti itu.
Menyebalkan. Bagaimana bisa dia mengusirku dari kelas cuma gara - gara telat sebentar saja. Itu juga kan ada alasannya. Kenapa dia tidak mau dengar alasannya dulu sih.
Karena terlanjut kesal akhirnya aku memutuskan untuk membolos kuliah saja hari ini.
Baru kemarin dia bersikap manis padaku. Sekarang malah mengusir pacarnya sendiri dari kelas.
Ups. Pacar?
Iya.. jadi setelah penembakan yang sama sekali tidak romantis itu, aku menganggapnya resmi menjadi pacarku.
Walaupun Pak Nathan tidak bilang apa - apa lagi setelah perkataan singkatnya kemarin,
tapi cinta itu tidak butuh kata - kata kan.. hanya perlu tindakan.
Aku segera memesan ojek online, tidak berapa lama seorang pria dengan jaket hijau, dan motor matic datang menjemputku di depan kampus.
"Mba Anindira?"
Aku mengangguk, lalu dia memberikanku helm hijau.
"Sesuai di map aplikasi ya mas, alamatnya." Ujarku memberikannya instruksi.
"Oke siap mbak."
Dalam hati aku tersenyum membayangkan reaksi Pak Nathan nanti kalau dia tahu aku membolos kuliah, dan malah ada di tempatnya. Hihi.
Iyaa aku memang berencana ke rumah Pak Nathan sekarang. Untuk bertemu Arsy tentunya ya bukan dia!.
__ADS_1
****
Di rumah Pak Nathan
"Oh wait til’ I do what I do
Hit you with that ddu-du ddu-du du
Hit you with that ddu-du ddu-du du"
Lagu dari blackpink mengalun kencang, aku dan Arsy sedang asyik menari, meniru gaya artis Korea yang sedang kami tonton di ruang keluarga.
"Ayee ayee.."
Aku menghayati peranku sebagai Jennie, berlenggak lenggok layaknya penari profesional. Sedangkan Arsy mengikuti gaya Lisa, dia tak kalah heboh denganku.
Bi Munah hanya tertawa geli memperhatikan tingkah kami.
"ajigeun jal moreugetji
guji weonhamyeon Test me
neon bul bodeushi ppeonhae
manmanan geol weonhaettamyeon
Oh wait til’ I do what I do
Hit you with that ddu-du ddu-du du
Hit you with that ddu-du ddu-du du"
Aku bernyanyi dan berputar kembali. Lalu...
Brukk!!.
Saking semangatnya aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Maka..sih." Aku terkejut ketika melihat tangan itu. Ketika aku mendongak benar saja itu tangan Pak Nathan.
Berarti dari tadi Pak Nathan lihat dong aku joget-joget kayak tadi. Huaa Malu!.
Aku langsung menutup wajahku dengan kedua tanganku, menolak tangan Pak Nathan yang tadi ingin membantuku berdiri.
"Jadi.. kamu bolos kuliah buat lakuin hal enggak faedah kayak gini." Dia menyindirku degan sinis.
Lalu berjalan melewatiku, dan menyapa Arsy yang berada di belakangku.
"Halo sayang, papa pulang.." Pak Nathan bicara dan mengecup pipi Arsy.
Tindakannya sukses membuatku mupeng, ingin di cium juga.
"Halo papa. Aku tadi nari sama kak Nindi. Seru lho pah. Du Du Du...oye oye." Ujar Arsy sambil menirukan gaya yang tadi aku ajarkan.
Aku meringis menatap Pak Nathan ketika ia mengalihkan pandangannya padaku. Tatapannya tajam bagaikan sinar laser.
"Arsy ke kamar dulu ya sama Bi Munah. Papa mau ajarin kak Nindi belajar. Biar 'pintar'."
Bahkan Pak Nathan sengaja menekankan kata 'pintar' di ucapannya barusan. Mendengar itu aku hanya merengut, bagaimana bisa pintar kalau tadi pagi saja aku di usir olehnya dari kelas.
"Siap papa.." kemudian Arsy beralih melihatku.
"Kak Nindi, belajar yang rajin ya sama papaku, biar pintar kayak Arsy."
Aku tersenyum kecut mendengarnya. Kenapa kalau saat seperti ini Arsy mirip sekali dengan papanya. Malas menjawabnya aku hanya mengacungkan dua jempolku pada Arsy sambil tersenyum paksa.
Setelah Arsy pergi ke kamarnya, Pak Nathan duduk di sofa. Ia melepaskan dua kancing kemejanya. Sepertinya ia merasa gerah dan kepanasan.
Melihat aksinya itu aku pun jadi ikut kepanasan juga.
Dadanya yang hot banget, membuat aku ingin menyender disana terus usel - usel manja.
__ADS_1
Aku segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran - pikiran yang tidak dibenarkan itu. Dia melirikku yang masih berdiri di depannya.
"Ngapain geleng - geleng. Duduk." Pak Nathan berkata pelan.
Aku menurutinya. Duduk di sampingnya.
"Sampai mana kemajuan tugas karya akhir kamu?"
Jleb. Aku lupa sama sekali. Memulainya saja belum. Sambil tersenyum lebar aku menggeleng padanya.
Pak Nathan langsung menghela napas dan memijit keningnya.
"Kenapa pak? Pusing ya..." Aku bertanya khawatir.
"Iya. Gara - gara tingkah kamu." Jawabnya dengan gusar. Lalu kembali melihatku.
"Dengar ya jangan ajari anak saya hal aneh kayak tadi."
"Itu gak aneh pak, itu seni lho. Seni tari."
Dia malah terperangah, seolah tak percaya dengan apa yang aku ucapkan tadi.
"Gerakan kamu itu bukan dalam kategori tari tau. Absurd. Gak jelas. Cuma jingkrak-jingkrak heboh."
Haish. Patah hati adek pak....kejam banget sih dibilang gerakan absurd.
"Bapak sih tadi kenapa malah ngusir saya. Padahal kan saya niat belajar dengan benar dan baik. Sedikit curhat ya pak, saya telat tuh gara - gara ban motor saya bocor kan, terus saya harus dorong jauh. Dan...."
Perkataanku berhenti, karena mendadak aku teringat kalau motorku masih di bengkel saat ini. Aku menepuk jidatku.
"Ya Ampun motor saya masih di bengkel pak. Saya janji mau ambil siang ini. Kayaknya saya harus pergi sekarang deh."
"Ehh tunggu.. udah biarin aja. Nanti tinggal telepon minta diantar ke alamat rumah kamu. Biar saya yang urus. Sekarang saya mau liat laporan TA kamu. Dibawa kan..."
Aku mengerucutkan bibir. Dengan wajah manyun aku mengambil laporan tugas akhir dari tas ransel yang kugunakan, dan menyerahkannya pada Pak Nathan.
Huaalah. Apes benar aku hari ini!
Nasib punya pacar dosen pembimbing, boro - boro romantisan. Malah membahas tugas terus.
Jadi kapan bahas tentang kita ini pak?.
******
Sampai di rumah aku merebahkan tubuhku di kasur. Lelah sekali rasanya.
Pak Nathan benar - benar menyiksaku tadi. Dia memaksaku mengerjakan tugas karya akhirku disana.
Setelah selesai dia langsung mengantarkanku pulang. Dan tentang motorku, saat aku tiba di rumah, motor itu sudah terparkir manis di halaman rumahku. Rupanya Pak Nathan menepati janji untuk mengurusnya.
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunanku. Layar ponsel tertera nama Dosbing Cinta. Aku tersenyum geli dengan tingkahku sendiri yang sedikit alay.
[ Sudah tidur? ]
Begitu isi pesan Pak Nathan.
[ Belum.. :). Besok libur. Mau jalan - jalan? ]
Aku membalas pesannya dengan cepat.
[ Oke. Nanti saya jemput bersama Arsy. See you tomorrow.]
Aku mengernyit heran. Sudah begini saja?
Enggak ada basa - basinya gitu. Sayang cinta atau apalah.
Apa pria yang sudah dewasa memang begini semua ya.
Kaku kayak kanebo kering!.
***************************
__ADS_1