
POV AUTHOR_
"Keluarga Nyonya Anindira." akhirnya dokter keluar dari ruangan.
Waktu satu jam, terasa satu abad bagi Nathan, dia terus berjalan mondar-mandir di depan IGD dengan penuh kecemasan. Menunggu pintu itu terbuka.
"Saya suaminya, Dok." ucap Nathan.
"Saya ibunya." Mama Lusi ikut maju ke hadapan dokter pria setengah baya itu.
"Nyonya Anindira akan di pindahkan ke ruangan intensive. Saya perlu bicara dengan suami Nyonya Anindira."
Nathan mengangguk. Setelah itu ia mengikuti langkah dokter ke ruangannya. Sedangkan Anindira, pindah ke ruang intensive ditemani oleh Lusi.
Diam-diam Faizal mengikuti Nathan, ia khawatir karena kondisi psikis sahabat sekaligus pasiennya itu sedang tidak stabil saat ini.
Sampai di ruangan, Nathan duduk di hadapan dokter dengan perasaan tak menentu.
Dokter itu menatap Nathan dengan seksama, kemudian beralih membaca berkas di tangannya.
"Saya Fadil, dokter yang menangani Nyonya Anindira. Dengan Bapak Nathan, betul?"
"Iya, Dok. Bagaimana kondisi istri saya?"
Dokter Fadil menghela napas, sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Kondisi Nyonya Anindira sudah melewati masa kritis, bayinya juga selamat meskipun mengalami pendarahan....."
Nathan merasa bersyukur mendengar kabar itu. Namun perasaan leganya tidak bertahan lama, karena Dokter Fadil kembali bicara. Perkataan Dokter selanjutnya, sukses membuat Nathan limbung. Dia tersungkur di lantai, tidak dapat menahan kesedihannya.
Beruntung ada Faizal, dia segera masuk ke dalam ruangan dokter, begitu mendengar keributan dari dalam. Firasatnya benar, bahwa ada yang tidak beres dengan kondisi Nindi.
"Anda siapa?" tanya Dokter Fadil.
"Saya Faizal psikiater pribadi Nathan."
"Ah begitu... pantas saja. Seharusnya saya tidak bicara dengan dia tadi." Dokter Fadil mengangguk paham.
Sebelumnya ia merasa ragu untuk bicara tadi, melihat sorot mata Nathan yang berbeda. Namun karena Nathan adalah suami Anindira, Dokter Fadil pikir dia berhak tahu kondisi istrinya saat ini.
πΈπΈπΈπΈ
Kenapa ini harus terjadi lagi?
Apa aku memang tak pantas untuk bahagia dan di cintai.
__ADS_1
"Anindira, sadarlah. Kuat ya sayang...demi bayi kita. Maaf.. aku gak akan menghalangi keinginan kamu, apa pun itu. Aku mohon sadarlah..." Nathan menyentuh tangan Nindi, mengecupnya lama. Berharap ada pergerakan di sana.
Namun, Nindi masih tidak merespon. Beberapa alat sudah terpasang di tubuhnya. Penjelasan dokter memberikan hantaman kuat untuknya. Nindi mengalami koma sementara. Dan dokter tidak bisa memprediksi kapan akan sadar.
Shock yang dia alami, menyebabkannya kekurangan oksigen. Hingga dia tidak bisa sadarkan diri. Kondisi yang sangat langka menurut dokter. Bayinya selamat. Usia kandungan masih empat bulan, hingga tidak bisa di keluarkan.
Satu-satunya cara adalah, dengan memasang berbagai alat di tubuh Nindi, untuk kebutuhan nutrisi bayi di dalam perut, agar bayinya bisa di selamatkan.
Nathan terus terisak di tepi ranjang tempat Nindi terbaring. Dari luar ruangan, Lusi memperhatikan kondisi anak dan menantunya dengan hati miris. Namun dia berusaha kuat, mengingat kondisi Nathan juga tidak stabil saat ini. Harus ada yang sehat jasmani dan rohani, untuk memperjuangkan hidup Nindi. Begitu pikir Lusi.
"Faizal, jadi bagaimana sekarang?" tanya Lisa, dia baru saja sampai setelah mengantarkan Arsy pulang.
Faizal memberi isyarat pada Lisa, agar wanita itu mengikutinya.
Setelah cukup jauh dari Lusi, Faizal pun menjelaskan kondisi Nindi, lalu dia juga mengungkap kecurigaannya terhadap Bella.
Ekspresi Lisa berubah marah mendengarnya. "Dasar wanita gila!" umpat Lisa.
"Ayo antar aku ke rumah dia."
"Buat apa?"
"Ya aku mau hajar dia supaya mau ngaku! ngapain repot-repot selidiki, sudah jelas pelakunya cewek setan itu."
Lisa mengepalkan tangannya, sungguh dia tidak bisa sesabar itu. Rasanya ia ingin menghajar Bella sampai sekarat, karena sudah membuat Nindi koma. Tapi perkataan Faizal ada benarnya juga. Wanita seperti Bella itu ular, dia tidak akan mau mengaku jika tidak ada bukti. Lisa pun bertekad untuk mencari bukti itu, walaupun harus ke lubang semut sekalipun.
πΈπΈπΈπΈ
Bella meringkuk ketakutan di sudut ruangan yang bercat pink. Suasana ceria pernak pernik mewah berwarna pink di ruangan itu, sangat kontras dengan perasaannya sekarang, yang diliputi resah dan gelisah. Dia mengunci semua jendela dan pintu kamarnya.
Beberapa jam yang lalu...
Saat itu, tanpa sengaja Bella melihat Nathan dan keluarganya di mall. Mereka tertawa bahagia, membangkitkan rasa cemburu di hatinya.
Dengan perasaan marah, ia mengikuti mobil Nathan. Ingin rasanya dia menabrak mobil itu. Jika memang dirinya tidak bisa memiliki Nathan, maka lebih baik mereka mati bersama. Begitu pikir Bella.
Dia tidak sanggup membayangkan senyum lebar Nindi, dan tatapan penuh kasih sayang Nathan yang ditujukan pada Nindi.
Namun, Bella mengurungkan niatnya. Buat apa dia mati? kenapa bukan Nindi saja yang mati?
Mobil Nathan berhenti di depan Resto. Bella tetap berada di dalam mobil. Menunggu dalam keputusasaan. Segala macam cara sudah ia lakukan untuk memisahkan Nindi dan Nathan.
Dan kesempatan itu datang. Dia melihat Nindi keluar bersama Arsy.
Senyuman licik terukir di wajah cantiknya saat itu. Dengan penuh kebencian, Bella melajukan mobilnya kencang untuk menabrak Nindi.
__ADS_1
Kembali ke saat ini..
Bella menutupi tubuhnya dengan selimut,
Bagaimana ini? Nindi menghindar. Apa dia selamat?
Gawat kalau dia selamat. Dia pasti akan bersaksi kalau aku yang mengemudikan mobil itu. Dia lihat wajahku tadi.
Bella menjambak rambutnya sendiri, dia merasa takut akan di laporkan. Dia tidak mau di penjara. Tidak mau!
Dasar cewek si*l! kenapa dia gak ketabrak aja sih tadi.
Aku gak mau masuk penjara... gak boleh!
Tok. Tok. Tok.
Bella terkejut, mendengar ketukan di pintu kamar.
"Bella? kamu sudah pulang? ayo makan dulu. Mama sudah masak." suara Bu Gea terdengar dari luar kamarnya.
Tidak ada sahutan dari Bella.
"Bel? kamu tidur?" tanya Bu Gea lagi.
Bella masih tidak menjawab, dia gemetar ketakutan. Air matanya mulai menggenang. Bagaimana kalau mama tahu nanti?
Perbuatannya tadi hampir saja mencelakai Arsy.
"Arrrrgghh... Huhu." Bella berteriak histeris, membuat Bu Gea panik.
Ketukan pintu berubah menjadi gedoran yang keras.
"Bel, buka pintunya. Ada apa? kamu kenapa?"
"Bella!!"
Bu Gea sangat panik. Apa yang terjadi dengan Bella? kenapa dia berteriak tadi.
Serentetan pertanyaan kembali keluar dari mulut Bu Gea. Tapi pintu kamar Bella tetap tertutup, dan tidak ada sahutan lagi dari dalam.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
**Dukung terus Author dengan tinggalkan komentar, like dan Vote yaaa.... π€π€
Love buat kalian... love. love love.love. love . love. love .love . love. love. love. love. love. love. love. love. love**.
__ADS_1