DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
EKSTRA PART 3


__ADS_3

POV AUTHOR


***Part ini mengandung adegan 21+ ya... adek kecil atau yang belum cukup umur di skip dulu. Hehehe. 😁😁


Dua bulan kemudian...


Kehidupan Nindi terasa lebih sempurna. Mempunyai suami tampan dan baik, juga sepasang anak yang lucu. Arsy sudah masuk sekolah dasar sekarang. Dia sangat senang dan bangga mempunyai adik seperti Nadi.


Di sekolah, dia pun selalu memamerkan foto adiknya itu.


Pagi ini, setelah menyiapkan sarapan Nindi bergegas kembali ke kamar, untuk membangunkan Nathan.


Ya.. dia selalu menyiapkan sarapan sendiri meskipun ada Bi Munah. Nindi ingin membiasakan diri, karena tiga bulan lagi Bi Munah akan pensiun. Wanita paruh baya itu ingin kembali ke kampung halamannya.


"Mas... bangun. Kamu ada jadwal pagi kan hari ini." bisik Nindi, tidak ingin Nadi ikut terbangun.


Putra keduanya itu masih tidur dengan damai di atas box bayi.


"Mas..."


Nathan menggeliat, matanya sedikit terbuka, lalu tersenyum dan menarik pinggang Nindi begitu saja.


"Huaa.." Nindi memekik tertahan. Dia jatuh di atas tubuh Nathan. Matanya melotot kesal karena ulah nakal suaminya itu.


Nathan terkekeh, "Bangunkan aku dengan cara lain." bisiknya.


Astaga. Nindi berusaha melepaskan diri, namun pelukan suaminya semakin kencang, bahkan kini wajah Nathan mulai mendekat, mengecup batang leher Nindi, menghisapnya kuat dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Hingga wanita itu mendesis.


"Mas, jangan begini. Nanti kalau Nadi bangun gimana."


Gerakan Nathan terhenti, wajahnya berubah cemberut saat ini. Dia melepaskan Nindi, dan merubah posisinya menjadi duduk.


"Aku kangen. Kamu selalu sibuk dengan Nadi. Jadi kapan? sudah dua bulan, Nin."


Nindi terperangah, tidak menyangka kalau pria dingin di hadapannya bisa merajuk seperti sekarang. Bahkan cemburu dengan anaknya sendiri.


"Maaf, tapi waktunya belum tepat sayang..." Nindi mengalungkan tangannya di leher Nathan, memaksa pria itu untuk menatapnya.

__ADS_1


"Sekarang Mas mandi, aku udah siapkan sarapan di bawah."


Cup.


Satu kecupan mendarat di bibir Nathan, sogokan agar pria itu mau mengerti. Namun, Nindi salah. Nathan tidak melepaskannya begitu saja, pria itu menyeringai, lalu kembali mempertemukan bibir mereka dan menjelajahi rongga mulut Nindi lebih dalam.


Tangan Nathan pun tidak tinggal diam, bergerilya nakal menyusup masuk ke dalam kaos yang di kenakan Nindi, mengusap punggung mulus wanitanya. Nathan sama sekali tidak memberikan ruang untuk Nindi bergerak, dia bahkan menarik tubuh Nindi hingga duduk di pangkuannya. Lalu kembali mencium bibir Nindi dengan intens.


Nindi yang awalnya menolak, akhirnya pasrah. Dia juga merasa kasihan dengan suaminya. Sudah dua bulan Nathan puasa. Karena Nindi sedang nifas, dan juga berbagai macam halangan setiap mereka ingin melakukannya.


"Sebentar ya...?" bisik Nathan di telinga Nindi.


Wanitanya itu tidak menjawab, hanya mengangguk kecil sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Nathan.


Setelah mendapatkan ijin, Nathan segera melepaskan kaos yang di kenakan Nindi, melemparnya asal ke lantai, hingga tubuh Nindi terekspos sempurna di hadapannya.


Dia menatap kagum tubuh istrinya itu, yang bagi Nathan tetap indah, walaupun habis melahirkan.


Perut Nindi sudah mulai rata lagi. Walaupun Nathan tidak pernah mempermasalahkan hal itu, namun Nindi tetap menjaga berat badannya, dengan memakan makanan sehat.


🌸🌸🌸


Terlambat.


Arggh. Nathan mengerang prustasi. Dia baru saja sampai di kampus. Terlambat setengah jam. Itu rekor terburuknya di kampus. Padahal hari ini adalah jadwalnya untuk menjadi dosen penguji.


Ini karena kegiatan panasnya tadi bersama Nindi. Kalau saja Nadi tidak menangis tadi, mungkin akan memakan waktu lebih lama lagi.


Nathan melangkah cepat menuju ruangan aula. Tempat para dosen penguji sudah berkumpul. Tadi sebelum sampai kampus, Nathan sudah di hubungi, bahwa posisinya di gantikan sementara oleh Pak Randi.


Begitu sampai, Pak Randi langsung menyerahkan semuanya pada Nathan. Tahun ini adalah tahun terakhir Nathan menjadi dosen. Karena dia sudah memutuskan untuk fokus pada bisnis dan usahanya. Lagipula sudah ada Nadi. Dia tidak ingin terlalu sibuk untuk anak-anak dan istrinya.


Kurang lebih dua jam, akhirnya sidang selesai. Saat Nathan hendak keluar, seseorang menghentikan langkahnya. Wanita muda berkulit kuning langsat, dan berwajah polos, dia adalah Rina.


"Terima kasih, Pak." ucap Rina tulus. Selama ini dia sangat di bantu oleh Nathan. Dosen pembimbingnya itu berhasil menghantarkannya pada kelulusan tahun ini. Rina sangat senang.


Nathan tersenyum kecil, "Sama-sama."

__ADS_1


"Pak, boleh saya main ke rumah bapak? saya mau bertemu dengan Kak Nindi juga Nadi."


"Oh boleh. Kapan?"


"Sore ini, Pak. Nanti saya main kesana sama calon suami saya."


Nathan mengangguk, "Oke. Nanti saya sampaikan sama Nindi."


"Iya. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak."


Rina pun berlalu, dia menghampiri seorang pria yang sejak tadi menunggunya. Mungkin itu calon suami Rina.


"Jadi... kamu sudah memutuskan, Pak Nathan?"


Nathan menoleh, Pak Randi sudah berada di sampingnya sekarang.


"Ya... saya mau berhenti. Mungkin bulan ini terakhir."


"Yah, sayang sekali. Hilang sudah dosen idola di kampus ini." ucap Pak Randi.


Nathan terkekeh pelan, dia tidak pernah meminta untuk menjadi idola. Padahal dia sudah menikah, tapi entah kenapa masih banyak saja mahasiswi yang berusaha mendekatinya, apalagi setelah mengetahui kalau dia menikahi mahasiswinya sendiri.


"Kalau begitu, anda saja yang jadi idola, Pak." usul Nathan.


Pak Randi mencebik kesal, sudah jelas itu tidak mungkin. Yang ada sekarang, Pak Randi mendapat predikat dosen menyebalkan. Selain galak, perawakannya biasa saja. Jika Nathan di sebut dosen ter-hot, maka Pak Randi di juluki dosen ter- anyep versi mereka.


Nathan tertawa, dia mengalihkan pandangan, menatap gedung kampus dengan pandangan sendu. Begitu banyak kenangan di kampus ini. Terutama... pertemuannya dengan Nindi. Mahasiswi centil yang selalu mengganggu dan mengusik hari-harinya dulu.


Wanita yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Menjadi obat untuk sakit yang di deritanya selama bertahun-tahun.


*Anindira Maheswari... Terima kasih karena kamu sudah hadir di kehidupanku.


🌸🌸🌸


Bonus pict*


__ADS_1


__ADS_2