DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 17


__ADS_3

🍀Bukan kata romantis atau mawar, tapi mahar yang akan kuberikan untukmu.


_Nathan


*****


"BANGS** !" Pekik Mas Nathan sambil menarik Kak Faiz dan mencengkram leher pria itu.


Sedangkan aku, hanya terdiam di belakang Mas Nathan. Mendengar kedua pria dewasa itu beradu mulut.


Aku tidak menyangka Mas Nathan bisa marah seperti ini. Bahkan sampai ia berkata kasar pada Kak Faiz.


Dan aku juga masih mencerna apa yang di katakan Kak Faiz barusan. Semuanya membuatku pusing.


"STOP !"


Kini aku berteriak menghampiri mereka. Mendengar itu sontak Mas Nathan melepaskan cengkramannya pada kak Faiz.


"Maaf aku sudah membuat hubungan kalian seperti ini." Aku mulai bicara dengan pelan.


"Tapi kenapa kalian ribut sendiri sih."


Seketika hening. Dan mereka kompak menoleh ke arahku.


"Mas Nathan.. aku bingung harus gimana lagi. Bukannya mas sendiri yang mendorong aku buat menjauh. Tapi sekarang......"


Aku tidak sanggup melanjutkan lagi ucapanku.


Air mataku kembali menetes.


Mas Nathan selalu berubah - ubah. Dia juga tidak pernah memberi kejelasan hubungan kami. Tapi sekarang dia malah marah dengan Kak Faiz.


"Anindira. Kamu itu milik saya. Saya enggak mau ada orang lain yang suka sama kamu."


Perkataan Mas Nathan tadi sukses membuatku kesal. Dia selalu saja bersikap seenaknya seperti ini. Dengan gusar aku mengusap air mataku.


"Aku bukan milik siapa - siapa sekarang." Tukasku kesal.


Mas Nathan melipat tangannya di dada.


"Saya akan membuat kamu jadi milik saya."


Dia menghentikan perkataannya. Lalu kembali menatap wajahku.


"Saya akan menikahi kamu." Kata Mas Nathan dengan lantang. Namun kali ini sorot matanya menatap tajam ke arah Kak Faiz.


Aku terbelalak mendengar perkataan Mas Nathan. Begitu juga Kak Faiz.


"Me-menikah?"


Dengan paksa dia menarik tanganku hingga tubuhku tersentak, lalu menggenggam erat tanganku di depan Kak Faiz.


Melihat hal itu, Kak Faiz mengeratkan jemarinya. Rahangnya semakin mengetat. Aku tahu sekarang dia sedang menahan amarahnya sekuat tenaga.


Aku hanya menatapnya dengan pandangan memohon. Berharap agar dia tidak terpancing oleh Mas Nathan.


Dan itu berhasil, Kak Faiz perlahan meregangkan tangannya, bahunya yang tadi naik, kini turun dengan sendirinya. Napasnya mulai teratur.

__ADS_1


"Aku pulang ya Nin.." Dia kembali bicara, namun hanya padaku.


Dia berjalan gontai menuju mobilnya. Kulihat Mas Nathan di sampingku, dia tersenyum pongah menatap kepergian Kak Faiz.


**********


"Di minum mas.."


Aku meletakkan secangkir teh hangat untuknya, lalu duduk kembali di hadapannya.


Setelah kejadian tadi kami duduk di teras. Aku tidak mau mengajaknya masuk ke dalam karena mamaku tidak ada di rumah.


Bisa - bisa aku khilaf nanti kalau hanya berduaan dengannya di dalam rumah.


"Iya..makasih."


Mas Nathan menyeruput teh itu. Dan ekspresi wajahnya langsung berubah.


Aku hanya mendengus ketika ia mendelik padaku. Rasain!


Nikmati saja teh spesial itu. Dia memang tadi meminta teh tawar hangat. Tapi aku sengaja memberikan sedikit garam di dalamnya dengan air yang masih panas.


"Sepertinya kesalahan saya fatal ya sampai di suguhi tes panas dan asin kayak gini." Ujar Mas Nathan. Ia kembali meletakkan cangkir teh itu di atas meja.


"Ohh ya.. wah maaf ya PAK saya gak sengaja." Jawabku. Dengan sengaja aku memasang wajah polos untuknya.


Dia tersenyum kecil. "Maaf.."


"Apa? Aku enggak dengar tuh."


"Maafin saya Anindira Maheswari..." Dia mengulangi. Kali ini dia mencondongkan tubuhnya ke depan, dan menyentuh kedua pipiku.


"Saya minta maaf Anindira."


"Kenapa?" Aku membalasnya. Kami saling menatap dalam posisi itu.


"Karena saya sudah menyakiti kamu."


"Terus yang bapak bilang tadi. Itu serius?"


"Mas!" Dia mengoreksi ucapanku.


"Haish. Iya iya.. mas!" Aku langsung melepaskan kedua tangannya dari wajahku.


"Serius atau enggak. Atau cuma karena di depan kak Faiz aja."


"Hemm tergantung."


Aku mendelik tajam ke arahnya. Ujung bibir Mas Nathan tertarik ke atas melihat aku cemberut padanya. Dia meraih tanganku di atas meja.


"Tergantung... Apa kamu mau menikah dengan duda anak satu seperti saya."


Aku terperangah mendengarnya. Jujur saja aku senang. Tapi aku juga sebal. Kenapa aku di lamar dengan cara tidak romantis seperti ini.


Dia terlihat kebingungan melihat ekspresiku yang masih diam saja tidak menjawab.


"Ah.. maaf kalau saya enggak bisa romantis. Saya enggak tahu romantis versi ABG itu seperti apa." Ujar Mas Nathan lagi. Dia sudah bisa menebak apa yang ada di pikiranku.

__ADS_1


Kali ini ia menggenggam lagi satu tanganku yang bebas.


Aku merasakan tangannya semakin dingin. Mendadak aku sadar, apa dia sudah lama menungguku di sini tadi..


"Saya tidak bisa memberikan kata romantis, tidak bisa memberikan bunga mawar untuk kamu. Tapi saya akan memberikan mahar untuk kamu." Mas Nathan kembali berkata. Menatapku dengan serius.


Hatiku terenyuh mendengar perkataannya. Air mataku mulai berlinang, tapi kali ini air mata bahagia dan bangga. Hal seperti ini tidak berani aku bayangkan sebelumnya. Tapi malam ini semua terjadi. Jikapun ini mimpi, aku tidak mau bangun untuk selamanya.


"Mas..." Kali ini aku bicara.


"Hem?"


"Mas tetap mau sama aku, walaupun tingkahku absurd dan konyol?


Mas Nathan mengangguk sambil tersenyum.


"Hemm..enggak marah kalau aku dance kayak kemarin dan idolain oppa - oppa Korea juga?"


Kali ini Mas Nathan mengernyit.


"Dance? Okelah... Tapi oppa Korea? memangnya saya saja kurang. huh?!"


Haha! Narsis sekali dia.


Susah ya memang kalau punya calon yang ganteng, enggak tahu kekurangan dirinya dimana.


"Enggak kurang sih. Malah terlalu tampan. Hehe."


Jawabanku barusan membuat Mas Nathan kelimpungan. Kelihatan sekali kalau dia gugup.


Aaa manis sekali Mas Nathanku ini kalau sedang malu - malu.


*****


Di kamar


Aku sedang mengerjakan laporan tugas akhirku, pernyataan Mas Nathan kemarin membuatku semakin bersemangat untuk lulus. Ku lirik ponsel yang sejak tadi bergetar dan menyala.


Ya ampun.. siapa sih!


Dengan sedikit kesal aku meraihnya, ternyata itu pesan dari Mas Nathan. Ada sepuluh chat yang belum ku baca.


Isinya hanya sekedar menanyakan makan atau sudah tidur belum.


Aku terperangah membacanya. Bagaimana bisa Mas Nathan berubah seperti ABG puber sekarang. Bahkan dia bertanya terus kenapa aku tidak menjawab chatnya.


Aku baru saja membalas pesannya, ketika ada pesan baru lagi dari Kak Faiz.


[ Bisa kita bertemu besok? Ada yang mau aku omongin ]


Aku menimbang - nimbang harus menjawab apa. Hubunganku dengan Mas Nathan baru saja membaik. Aku juga tidak tahu kalau ternyata Kak Faiz menyukaiku.


Padahal kita hanya baru jalan sekali tadi ke bioskop.


Aku menghela napas. Kenapa kedua pria itu bersikap begini sih, tidak sesuai umur mereka. Astaga. Mereka itu sudah kepala tiga kan!.


*************

__ADS_1


__ADS_2