DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Lelahnya Nathan?


__ADS_3

๐ŸŒธSaat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu. ๐ŸŒธ


POV NATHAN


๐ŸŒธ


"Pak Nathan, ini judul materi saya untuk tugas akhir." Rina mahasiswi yang ku bimbing menyerahkan TA-nya padaku.


Kami sedang berada di perpustakaan kampus saat ini. Aku melihat isi materi yang dia berikan, dan mulai mencoret beberapa hal yang perlu di revisi. Gadis di hadapanku menunggu dengan gelisah.


"Ini! perbaiki yang saya tandai."


Rina melongo begitu melihat sebagian besar karyanya ku coret. Habis bagaimana lagi, memang kenyataannya begitu. Aku tidak pernah pilih kasih pada siapa pun dalam hal ini.


"Pak ini serius? saya harus revisi lagi?"


Aku hanya menatapnya datar, "Kamu mau lulus kan? ikuti saja, kalau gak di revisi sekarang pun, nanti TA kamu tetap akan di tolak untuk sidang."


Rina masih terdiam, kentara sekali kalau dia tidak senang dengan caraku. Aku tidak peduli. Kalau dia tidak suka, silakan adukan saja ke Radit, kepala jurusannya. Biar dia bisa sekalian mengganti-ku.


"Baik, pak. Terima kasih." ucap gadis itu pasrah.


Rina akhirnya pergi meninggalkanku di perpustakaan. Selepas kepergiannya, aku pun berkemas, bersiap untuk pergi. Karena hari ini mata kuliahku hanya pagi saja. Aku harus pergi ke Resto, untuk meninjau keadaan di sana.


Tidak ingin terjadi hal yang sama seperti cabang baru di Jogja.


***


Resto Green


Tok. Tok


Seseorang mengetuk ruangan kerjaku di Resto.


"Masuk."


Pras masuk ke dalam ruanganku. Dia adalah seorang pria muda yang sudah setahun ini menjabat sebagai manajer operasional. Cabang di Jakarta ini memang terbilang baru. Di buka kurang lebih setahun yang lalu, setelah aku menikah dengan Anindira. Jadi total cabang Resto Green ada 3. Pertama di Bandung, tempat dulu aku melamar Anindira. Lalu di Jogja dan Jakarta.


"Selamat siang, Pak. Ini laporan keuangan dan penjualan bulan ini." Pras menyerahkan map berwarna hijau padaku.


"Oke. Terima kasih. Oh iya, bagaimana kinerja para pegawai?"


"Sejauh ini baik, Pak. Kalau bapak mau lihat, bisa saya antar."


Aku berpikir sebentar, "Hem boleh."


Setelah membereskan berkas penting yang berserakan di meja, aku keluar ruangan mengikuti langkah Pras untuk melihat para pegawai resto. Baru setelah pekerjaan ini selesai, aku bisa pulang dengan tenang. Karena sekarang aku harus fokus, tidak ingin kejadian seperti di Jogja terulang di sini. Biar bagaimanapun Anindira tanggung jawabku. Apalagi sebentar lagi akan ada anggota baru di keluarga kami.

__ADS_1


Pertama, tempat yang di tinjau lebih dulu olehku adalah dapur. Melihat para juru masak menyiapkan hidangan. Menu Resto Green menyediakan makanan tradisional Indonesia. Seperti ikan bakar, ayam bakar, dan lain-lain.


Setelah di rasa cukup, Pras mengantarkan-ku untuk melihat kinerja para waitress. Mereka tersenyum dan menyapaku hormat. Dan, aku sedikit terkejut melihat wajah yang ku kenal berdiri di antara jejeran para waitress.


Dia tersenyum kikuk ketika aku menatapnya.


"Kamu kerja di sini?"


Gadis itu menunduk, terlihat gugup.


"Er.. iya, Pak. Saya bekerja part time setelah pulang kuliah. Karena cuma di sini yang bisa terima pekerjaan paruh waktu."


Aku terdiam tak lagi bertanya. Ya, memang di Resto Green aku menerima pekerja paruh waktu. Itu semata-mata untuk membantu pelajar yang masih bersekolah, atau kuliah. Terkadang banyak di antara mereka yang bernasib kurang beruntung, dan kekurangan biaya. Jadi mereka bisa tetap melanjutkan pendidikannya sambil bekerja.


"Oh... Kerja dengan baik. Dan jangan lupa tugas akhir di selesaikan."


"Baik, Pak."


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


POV ANINDIRA


Sudah jam 7 malam, Mas Nathan belum sampai juga. Biasanya dia selalu pulang di sore hari. Mungkin urusannya di resto belum selesai. Aku berusaha maklum karena cabang di Jakarta belum begitu lama. Lagipula dia sedang bekerja keras untuk menutup kerugiannya akibat ulah sepupunya itu.


Aku sedang menonton TV di ruang keluarga bersama Arsy. Siang tadi, mama dan Tante Lisa akhirnya pamit pulang, setelah ku tinggal masuk ke kamar. Sebenarnya aku merasa bersalah pada mama, tapi karena ucapan Tante Lisa mood-ku jadi rusak.


"Mama, kalau ini warnanya apa?" Arsy mendongakkan wajah untuk bertanya padaku.


"Coba mama lihat."


Ternyata Arsy sedang mewarnai kereta dengan cerobong asap di atas. Mungkin tugas dari sekolahnya.


"Asapnya warna hitam atau abu-abu tua bisa. Terus untuk gerbongnya boleh suka-suka Arsy."


"Kalau warna-warni boleh?"


"Tentu, pasti cantik kalau ada kereta warna warni."


Arsy tersenyum lebar memamerkan gigi susunya yang putih. Lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan aku, hanya menatap kosong ke layar TV.


"Assalamualaikum..."


Mas Nathan akhirnya datang, mungkin karena aku sedang melamun jadi tidak mendengar suara mobilnya. Dia pun berjalan menghampiri kami.


"Waalaikumsalam.."


"Halo kesayangan papa semua. Lagi apa nih." ucap Mas Nathan, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1


"Lagi mewarnai pa. Kenapa papa baru pulang." sahut Arsy, sambil terus mewarnai asap kereta dengan warna abu tua.


"Papa sibuk sayang. Halo dede di perut bagaimana kabarnya." kali ini Mas Nathan mengusap lembut perutku.


"Kenapa hanya dede yang di sapa, mamanya gak?"


"Ya ampun, lihatlah de. Mama kamu cemburu sama kamu." bisik Mas Nathan , sambil mendekatkan kepalanya ke perutku.


Tingkahnya itu membuatku tidak bisa menahan senyum. Setelah itu, Mas Nathan merebahkan kepalanya di atas pangkuanku, lalu menarik tanganku agar mengusap-usap kepalanya.


"Kenapa, Mas?"


"Gak apa. Saya cuma capek. Begini dulu ya sebentar. Butuh asupan energi."


Aku tersenyum menatap wajah tampan lelakiku yang kelihatan lelah. Pasti dia sibuk sekali hari ini. Ada sedikit lingkaran hitam di matanya. Apa selama ini Mas Nathan kurang tidur?


"Papa kenapa tiduran di situ? kayak anak kecil." kata Arsy, dia sudah menyelesaikan tugasnya.


"Papa kan capek."


"Kalau capek tidur di kamar sana. Mama nanti keberatan pangku papa. Lagian Arsy juga mau di pangku sama mama."


"Gak mau." tolak Mas Nathan.


"Ish papa! jangan pelit. Itu nanti dede bayi nya kejepit kalau sama papa."


"Ya gak lah, papa kan tidurannya di pangkuan mama. Bukan di perut."


Aku hanya bisa tertawa melihat papa dan anak ini beradu mulut. Mas Nathan tetap bersikeras, tidak mau bangun. Sedangkan Arsy, dia mulai menarik-narik tangan Mas Nathan agar papanya itu duduk dan beranjak dari pangkuanku.


"Mas, sama anak sendiri kok gak mau ngalah sih." akhirnya aku ikut bicara menengahi mereka.


"Mis simi inik sindiri kik gik ngilih sih. Bela aja terus anaknya." oceh Mas Nathan, lalu bangun dan melenggang menuju ke atas.


Ada apa dengan dia?


Kenapa sikapnya aneh begitu?


Aku menatap punggung Mas Nathan yang semakin jauh dengan tak percaya.


Arsy kan anaknya juga, kenapa dia marah aku membelanya?


"Ma, papa kenapa sih?" tanya Arsy keheranan.


Sama! aku juga bingung. Apa bawaan baby lagi?


Terakhir Mas Nathan mengalami morning sickness saat tahu aku hamil.

__ADS_1


Dan sekarang dia jadi sensitif dan tidak mau mengalah dengan anaknya sendiri?


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


__ADS_2