
"Aku heran deh sama Nindi, mau-maunya maafin Nathan. Hotel loh. Kenapa keponakanku itu polos banget sih." Lisa terus mengoceh sejak tadi. Kami sedang berada di mobil.
Aku Faizal, calon suaminya harus bisa tahan banting. Lebih baik diam saja, tidak menanggapi. Daripada nanti salah omong, dan menjadi sasaran empuk Lisa.
Gadis ini cantik. Dengan wajah tirus dan tegas. Mungkin orang akan bilang dia judes dan galak. Aku pun seperti itu pada awalnya. Tapi ada sesuatu yang membuatnya menarik dan berbeda dari wanita lain.
Dari keponakan lanjut ke tantenya. Mungkin itu anggapan kalian. Aku memang pernah menyukai Nindi, tapi tidak sebesar itu, sampai harus merebutnya dari Nathan. Aku mundur dengan gentle.
Di saat patah hati melanda, Tuhan mengirimkan seorang wanita untukku. Menaklukannya tidak mudah, perlu beberapa trik dan pengorbanan. Karena dia istimewa.
Tapi, jika Lisa sedang kumat seperti ini, aku hanya bisa diam. Tidak ingin menimpali. Nathan sahabatku, dan aku sangat mengenal dia. Tidak mungkin dia mengkhianati Nindi. Dengan yang pertama pun, dia setia sampai akhir hayatnya Jihan.
Kehidupannya sudah tidak beruntung sejak muda, pernikahan Nathan pun tidak berjalan mulus dulu. Padahal apa yang kurang darinya?
Wajah tampan, karir oke. Mungkin kurangnya hanya satu. Kurang humoris sepertiku. Haha.
Bukankah wanita suka pria yang humoris?
"Faiz, kamu kok diam aja sih!"
"Hemm aku lagi sibuk nyetir, Yank. Nanti kalau nabrak gimana."
"Yank... yank. Palamu peyang!" Lisa kembali bersungut.
Kan... aku salah lagi. Wanita memang selalu benar. Apalagi wanita seperti Lisa. Ada yang bilang, kenapa aku tahan dengan sikap Lisa?
Kenapa ya?
Mungkin karena sayang.
"Udah gak usah omongin Nathan lagi. Nanti orangnya keselek."
"Biarin. Aku pokoknya gak terima. Eh bahkan dia bawa cewek itu loh ke rumah. Gak tau malu banget kan."
Aku melirik Lisa sekilas, bibirnya yang tipis mengundang setiap orang untuk mencicipinya.
Duh sadar Faizal!
Jangan sampai kena tabok. Pernah aku mencium bibirnya sekilas karena gemas. Reaksi Lisa bisa di tebak, dia mengamuk tidak mau bicara padaku seminggu.
Dia bilang, tubuhnya hanya untuk suami seorang. Prinsip yang bagus memang.
__ADS_1
"Dia ajak cewek itu kan biar Nindi percaya."
"Kamu sekongkol ya sama Nathan."
"Sekongkol apa sih, Yank. Aku aja jarang ketemu sama Nathan. Kecuali kalau dia mau ambil obat."
"Obat?"
Duh keceplosan! maafin sahabatmu ini, Nat.
"Ya.. gitu. Dia suka mampir buat ambil obat. Untuk jaga-jaga."
"Oh..." Lisa menjawab singkat. Pandangannya beralih menatap ke luar jendela.
Hufh. Untung saja Lisa tidak bertanya lebih jauh.
******
"Ini bagus, Yank?" Lisa memperlihatkan dirinya dalam balutan gaun pengantin berwarna putih.
Kami sedang melakukan fitting gaun. Acara pernikahan sudah di depan mata. Persiapan sudah matang. Hanya tinggal konfirmasi ke EO dan terakhir, menyebarkan undangan.
"Hemm, bagus."
Wajah Lisa merona karena pujian yang ku lontarkan. Aku senang, karena sisi imutnya hanya dia tunjukkan di depanku.
"Faizal?" seseorang menepuk pundakku.
Aku menoleh.
"Bella?" ucapku tak percaya.
"Halo, kamu lagi apa di sini?" tanya Bella, dengan gayanya yang sok akrab.
Gawat! sebelum ada yang terbakar aku harus bertindak.
"Lagi fitting gaun." jelasku padanya, tanganku tidak tinggal diam, menarik tangan Lisa, dan menggenggamnya erat.
Bella mengerjap menatap Lisa dari ujung rambut sampai ujung kepala, seolah sedang menilai penampilan calon istriku ini.
"Oh... kamu udah tobat nih sekarang."
__ADS_1
Aku hanya membalas ucapan ambigu itu dengan senyuman.
"Asal jangan sampe bucin kebangetan kayak Nathan tuh." lanjut Bella lagi.
Duh. Perang deh ini.
Benar saja firasatku. Lisa menepis tanganku, lalu menggulung lengan kemejanya yang panjang sampai siku.
"Lis kamu mau apa?" tanyaku takut.
"Mau baku hantam!" sahut Lisa dengan nada galak.
Bella jelas terkejut dengan nada suara Lisa yang tak biasa. Bukannya pergi, dia malah memandang Lisa remeh.
"Jadi selera Faizal si psikiater playboy, beralih jadi cewek bar-bar begini ya?"
Bangsuy memang nih cewek. Cantik iya, tapi kalau sifatnya menyebalkan begini buat apa? cuma akan jadi pajangan cowok brengs*k.
Sebelum Lisa yang maju dan urusan menjadi runyam, aku langsung maju menghadapi Bella.
"Bella, bisa gak kamu pergi dan gak ganggu kami? ini ruangan fitting untuk pengantin, memang kamu mau menikah? huh?"
Wajah Bella menegang karena ucapanku. Dia mengepalkan tangannya, lalu pergi meninggalkan aku dan Lisa.
Hufh. Syukurlah, gangguan hilang.
"Kenapa kamu yang maju?" omel Lisa. "Harusnya aku aja, baru juga mau di tabok, kamu malah maju sendiri. Sengaja kan?"
"Bukan gitu, Sayang... aku cuma gak mau nanti kamu lecet."
"Alasan!"
Lisa ngambek, dia pergi meninggalkanku, berjalan lebih dulu di depan.
Sabar Faizal.... Orang sabar di sayang Tuhan.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
***Haii... Mulai part ini, aku akan mengembangkan cerita Faizal dan Lisa, juga setiap karakter yang ada di Novel ini.
Tinggalkan like ,vote dan komentar yaa.. πππ***
__ADS_1