
🍀 Mungkin ketidaksempurnaan yang membuat kita begitu sempurna satu sama lain.
_Nathan_
🍀
Aku terbangun di sebuah ruangan.
Mataku mengedarkan pandangan, ruangan yang terlihat rapi, dengan nuansa warna putih dan bau obat yang menyengat khas rumah sakit.
"Selamat pagi Nona Nindi..gimana keadaannya sudah membaik?"
Aku hanya membalas dengan tersenyum pada suster yang menyapaku. Dia sedang mengambil sampel darahku.
"Sudah selesai, saya tinggal dulu ya..."
Suara pintu kamar terdengar, dan seseorang masuk ke dalam, berbarengan dengan keluarnya suster tadi. Orang itu membawa bingkisan buah di tangannya.
"Mama... " Aku tersenyum sumringah melihat kedatangan mamaku. Aku ingin bangun tapi kepalaku masih sedikit pusing.
"Jangan banyak bergerak. Kamu ini bikin mama khawatir."
Aku menggeleng pelan. "Aku enggak apa - apa kok."
"Makanya udah besar jangan main hujan - hujanan, ditambah lagi kamu belum makan kan dari pagi. Untung aja dosen kamu itu langsung bawa kamu ke rumah sakit. Oh iya dia baik banget lho. Sampai gotong kamu kesini hujan - hujan, terus dia juga yang bayarin biaya rumah sakit kamu, terus...."
"Dosen.. Pak Nathan?!"
Mama mengangguk "Oh jadi dia yang namanya Pak Nathan. Ganteng banget duh... Pantesan kamu klepek-klepek ya."
Mama memberikan satu potongan apel kepadaku.
"Semalam dia telepon mama, kabarin keadaan kamu. Jadi mama langsung kesini. Terus dia langsung pergi. Tapi kayaknya keadaannya juga gak baik. Mukanya pucat."
Aku terdiam mendengarkan mama bicara. Apa yang terjadi sama Pak Nathan ya..
Apa dia baik - baik saja?
"Ma.. kapan Nindi boleh pulang?"
"Tadi sih dokter bilang keadaan kamu sudah membaik. Tinggal tunggu visit dokter hari ini yaa...nanti kamu bisa pulang."
Aku mengangguk. Pikiranku masih melayang ke kejadian kemarin. Saat pak Nathan menyusulku hujan - hujan.
"Kenapa? Mau buru - buru ketemu dosen kamu?" Mamah terkekeh meledekku.
"Ish mama. Jangan ngeledek terus ah. Nindi malu tau..." Aku menutupi wajahku dengan selimut.
Gelak tawa memenuhi ruanganku. Untung saja ini ruangan VIP jadi tidak mengganggu pasien lainnya.
Beginilah aku dan mama. Kita memang sering bercanda seperti layaknya teman.
Karena mamaku adalah satu - satunya keluargaku. Dan kami sudah berjanji tidak ada rahasia apapun diantara kami.
*****
Saat ini aku sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Sebenarnya keadaanku sih enggak parah banget. Tapi pak Nathan saja yang terlalu lebay sampai membawaku ke rumah sakit segala.
Sekarang Pak Nathan sedang bersamaku, sebelumnya ia sudah meminta ijin pada mama untuk mengajakku keluar. Tentu saja mamaku dengan senang hati mengijinkannya. Sepertinya mama juga sudah terhipnotis oleh wajah ganteng Pak Nathan.
Apalagi penampilannya hari ini, sangat santai dengan atasan hoodie dan celana jeans. Orang yang melihatnya pasti tidak menyangka kalau dia sudah mempunyai anak.
"Kita mau kemana pak?" Aku bertanya padanya. Kulihat ia membelokkan mobilnya ke arah mall yang terletak di tengah kota.
"Saya mau ajak kamu membeli perlengkapan untuk tugas karya akhir. Kamu sudah tahu kan barang apa yang dibutuhkan."
"Oh iya." Aku hanya menjawab singkat. Itu karena aku masih sedikit kecewa dengannya. Perihal apa yang aku lihat kemarin di rumahnya. Rasa penasaran masih ada. Ingin tahu siapa sebenarnya wanita itu. Tapi aku enggan menanyakan hal itu sekarang.
Pak Nathan sepertinya menyadari perubahan sikapku yang tidak banyak bicara dengannya. Ia memarkirkan mobilnya di basement.
"Apa ada yang mau kamu tanyakan sebelum kita turun?"
Aku hanya meliriknya sekilas. Lalu melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobilnya tanpa berkata apa - apa.
Dasar gak peka!
Aku mengumpat dalam hati. Lalu dengan cepat berjalan mendahuluinya.
Dan langkahku berhenti ketika aku merasakan tanganku di tarik. Pak Nathan ternyata sudah ada di sampingku sekarang.
"Kamu salah jalan. Lift untuk ke atas ada di sebelah sana." Ucapnya datar dengan tidak melepaskan tangannya dariku.
Hal yang mengejutkan tentu saja. Dia juga menggandeng tanganku menuju lift.
__ADS_1
Aku menganga tak percaya dengan apa yang di lakukan Pak Nathan.
Di dalam lift pun ia masih tetap menggenggam tanganku.
"Pak... Ini apa?" Aku mengangkat sebelah tanganku yang masih di genggam olehnya.
"Tangan." Jawabnya singkat.
Hah! Iyalah tangan.. masa kaki. Aku hanya mendengus kesal mendengar jawabannya. Keluar dari lift ia menarikku menuju toko yang menjual bermacam - macam kamera.
Setelah memasuki toko barulah dia melepaskan tanganku.
Dia berjalan menyusuri etalase dan melihat - lihat beberapa kamera. Dari yang ukuran kecil sampai ukuran besar terpajang rapi disana.
Aku mengikutinya dengan diam. Ada rasa senang juga tadi pak Nathan menggandeng tanganku walaupun dengan cara yang tidak romantis sama sekali.
Aku justru merasa seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
"Ini bagus buat pemula." Pak Nathan menyodorkan kamera DSLR dengan merk yang cukup terkenal.
Aku memeriksanya. Memang bagus. Tapi begitu aku melihat label harganya, mataku langsung melotot . Enam juta lebih. Untuk harga sebuah kamera.
"Gak usah deh pak. Saya bisa pinjam punya Sarah kok. Dia janji mau pinjemin."
"Kenapa? Kalau kamu beli kan nanti bisa di gunain lagi. Udah enggak apa - apa. Saya yang bayar."
Pak Nathan berkata santai sambil berlalu menuju kasir tanpa menunggu persetujuanku lagi.
Aku melongo. Enam juta lho. Bukan jumlah yang sedikit kan.
Aku memang bisa saja meminta sama mama. Tapi aku tidak mau merepotkan dia. Membayar biaya kuliahku saja sudah mahal.
Sikap pak Nathan yang berbeda hari ini membuatku curiga. Entah kesambet apa dia sampai berubah seperti ini.
Atau jangan - jangan sakitnya tambah parah gara - gara kehujanan denganku kemarin?
Aku bergidik ngeri membayangkannya.
Tanpa sengaja mataku tertuju pada tripod yang di pajang tidak jauh dari tempatku berdiri, merasa membutuhkannya, jadi aku juga mengambilnya dan bergegas menyusul Pak Nathan ke kasir.
Aku berniat membayarnya sendiri untuk tripod, tapi ternyata dia membayarnya sekaligus berikut kamera tadi.
"Pak emang gaji dosen gede ya?" Tanyaku penasaran melihat dia segampang itu mengeluarkan uang yang nominalnya tidak kecil bagi mahasiswi sepertiku. Aku jadi tidak enak hati padanya.
"Memangnya kamu pikir saya cuma kerja sebagai dosen aja. Saya juga punya usaha sendiri." Jawabnya cuek sambil berlalu.
"Wah. Bapak tajir dong..." Aku menatapnya kagum. Ganteng, pintar, atletis, plus tajir.
Cowok seperti ini ternyata ada juga di dunia nyata. Kalau saja dia tidak judes sempurna sudah.
Pak Nathan tertawa pelan mendengar perkataanku tadi.
"Kita makan siang dulu." Ucapnya lagi. Nada bicaranya flat, datar. Seperti memberiku perintah. Enggak ada manis - manisnya deh.
Sampai di food court ia memilih meja di paling ujung yang tidak banyak orang. Aku memilih duduk di hadapannya.
Dia juga memesan banyak makanan, seperti orang yang beberapa hari tidak makan. Sedangkan aku hanya memesan minuman dingin dan sepiring kentang goreng.
Pak Nathan menatapku aneh.
"Kenapa pesannya dikit banget?"
"Masih kenyang. Segini juga perut aku mah udah muat pak."
"Pantes tuh badan tipis."
Apa?
Tipis dia bilang? Aku menatap tubuhku sendiri, untuk memastikan apa yang Pak Nathan bilang tadi.
Melihat reaksiku seperti itu, dia malah semakin tertawa mengejekku.
Dan itu sukses membuatku dongkol.
"Oh iya saya lupa. Bapak kan sukanya sama cewek bohay, seksi kayak tante kemarin kan.."
Aku sengaja menyindirnya. Sambil memasukkan kentang goreng ke mulutku. Happ! Tiga biji sekaligus.
"Uhuk!" Dia langsung terbatuk mendengarnya. Lalu dengan cepat meminum air mineral yang ada di depannya.
"Maksud kamu Bella?"
"Oh namanya Bella!" Aku menaikkan sebelah alisku.
__ADS_1
"Jadi daritadi kamu sinis sama saya gara - gara itu? Kenapa gak tanya langsung aja sih. Heran sama cewek. Sukanya dibikin ribet sendiri."
Melihatku diam saja tidak menjawab sepertinya dia sadar kalau aku masih marah. Pak Nathan kembali menghela napas.
Lalu ia mulai bicara lagi, dan penjelasan itu mengalir begitu saja dari mulut Pak Nathan tentang siapa itu Bella, apa kepentingannya kemarin berada disana, juga ada hubungan apa dirinya dengan Bella.
Aku terpaku mendengar semua cerita Pak Nathan. Sedikit merasa bersalah karena sudah marah padanya.
Setelah dia selesai bicara, aku terdiam lama. Pikiranku masih tidak fokus dan juga bingung harus bagaimana.
Apalagi mengingat sikap Pak Nathan hari ini padaku.
Apa maksud Pak Nathan melakukan ini semua?
Mengajakku keluar, menggandeng tanganku tadi, membelikan beberapa perlengkapan untuk tugas akhirku, dan sekarang menjelaskan semuanya tanpa aku minta.
Apa aku boleh berharap lebih sekarang?
"Ekhemmm. Jadi ada lagi yang mau kamu tanyain? Kan saya pernah bilang kalau ada yang mau kamu tahu, langsung tanyakan sama saya."
Aku mengangguk. "Ada banyak. Tapi bapak harus jawab semua ya."
"Tergantung kalau pertanyaannya tidak aneh ya saya jawab."
"Ok. Pertama, umur bapak berapa?"
Pertanyaan konyol memang. Tapi aku memang benar-benar tidak tahu umur Pak Nathan yang sebenarnya. Dan mulai sekarang aku ingin tahu semua tentang Pak Nathan meskipun itu hal yang kecil.
"30." Jawabnya singkat. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menatap lurus padaku.
Wah. Beda 8 tahun denganku. Tidak terlalu jauh.
"Oke. Warna kesukaan?" Lanjutku. Ini penting. Karena aku pernah membaca di internet tentang kepribadian seseorang bisa dilihat dari warna kesukaannya.
"Semua warna."
Aku melongo tak percaya. Semua warna? Oke terserah bapak.
"Hobi?"
"Gak ada."
What? Bagaimana bisa orang enggak punya hobi. Kali ini aku dibuat bingung oleh jawabannya.
"Cita - cita?" Aku bertanya lagi dengan sedikit kesal.
"Setinggi langit..." Dia kembali menjawab, masih dengan wajah datarnya.
Lihat! Jawaban macam apa itu.
"Bapak jangan asal jawab dong. Saya serius tanya tau!" Aku berkata protes padanya.
Dia malah tersenyum geli "Pertanyaan kamu yang aneh. Udah kayak sensus penduduk."
Aku merengut. Okelah. Aku kalah lagi dengannya. Apalagi di sogok senyuman itu.
"Pertanyaan terakhir."
"Hemm?" Pak Nathan sengaja memasang wajah yang serius. Sambil memajukan tubuhnya. Dan melipat tangannya di atas meja. Persis seperti murid yang sedang mendengarkan guru bicara.
Benar - benar menyebalkan. Kalau bukan karena suka mungkin aku sudah meninggalkannya daritadi. Lihat saja pembalasanku.
"Siapa orang yang bapak sayangi?" Aku ikut memajukan tubuhku. Menatap lekat matanya.
Dia terlihat terkejut sekarang. Double Kill.
Kena kau Pak!
Aku sudah menebak pasti dia akan menjawab Arsy, Bi Munah, atau malah Jihan?
Tidak mungkin dia menjawab kalau itu diriku kan?
Lagipula aku hanya ingin menggodanya saja. Karena sejak tadi ia sudah membuatku kesal.
"Kamu."
Tuh benar kan tebakanku. Eh, tapi dia bilang apa tadi?
Tanpa sadar aku menjauhkan tubuhku. Kaget dengan apa yang barusan aku dengar.
Aku menatapnya tak percaya, dan Pak Nathan...
Dia malah kembali asyik mengunyah makanannya setelah berkata begitu, seolah itu bukan hal yang besar.
__ADS_1
Aku menepuk pipiku sendiri. Ini bukan mimpi kan?
**************************