DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Cemburu buta


__ADS_3

Ting. Tong.


Bel berbunyi ketika aku sedang bersantai sambil meminum susu hamil. Aku segera melangkah ke depan untuk membukanya.


"Kak Faiz?"


"Hei. Nathan ada?"


"Mas Nathan belum pulang. Mungkin sebentar lagi."


Wajah Kak Faiz terlihat gelisah, dan dia menghentakkan kakinya beberapa kali.


"Kenapa kak? mau masuk dulu?" tanyaku padanya.


Kak Faiz mendongak cepat, "Oh iya boleh. Aku ada perlu sama Nathan."


"Silakan." aku mempersilakan masuk Kak Faiz.


"Mau minum apa Kak?"


"Hem, kopi kalau gak ngerepotin."


Aku tersenyum mendengarnya, "Ya gak lah, oke aku siapin dulu ya."


Setelah itu, aku beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Kak Faiz. Kebetulan Bi Munah sedang belanja ke pasar, sehingga harus menyiapkan minuman sendiri. Dalam hati, aku bertanya-tanya, ada apa ya? tumben sekali Kak Faiz main ke sini.


Biasanya dia akan menelepon dulu kalau mau mampir.


"Ini kak minumnya. Silakan." ucapku, sambil meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja tamu.


"Makasih, Nin. Kamu sendiri?" Kak Faiz tersenyum, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Iya, Bi Munah ke pasar, Mila lagi jemput Arsy."


Kak Faiz menganggukkan wajahnya mengerti, lalu mulai meminum kopi yang ku buatkan tadi.


"Wah, ini enak banget. Kamu jago ternyata meracik kopi." puji Kak Faiz. Dia mengacungkan jari jempolnya.


Aku hanya tersenyum malu, "Hehe. Syukur deh kalau enak. Aku memang biasa buat kopi untuk mamaku dulu. Tapi sayang Mas Nathan gak suka kopi. Jadi dia gak bisa rasain deh kehebatan'ku ini "


Kak Faizangs langsung tergelak mendengarnya, "Haha. Kalau begitu kamu cocoknya jadi istri aku ya yang suka kopi."


Aku langsung terdiam, menanggapi candaan Kak Faiz, yang menurutku sangat tidak lucu itu. Kak Faiz pun menyadarinya, begitu menatap wajahku yang datar.


"Ah maaf. Gak usah di pikirin. Aku hanya bercanda."


Suasana canggung seketika menyelimuti kami. Kak Faiz pun meminum kopi kembali untuk menutupinya.


Tidak lama.kemudian, aku melihat mobil Mas Nathan memasuki halaman rumah.


"Nah itu Mas Nathan sudah pulang." aku segera beranjak untuk menyambut kedatangan suamiku itu.


Mas Nathan melangkah masuk, ia terkejut mendapati Kak Faiz sedang duduk di ruang tamu.


"Faizal? kok kamu di sini?" tanya Mas Nathan heran.


"Kak Faiz katanya ada perlu sama kamu mas, jadi dia mau nunggu kamu." aku menyahut, sebelum Kak Faiz bicara. Lalu, meraih tas Mas Nathan dan membantu membawakannya.


"Yo, Nat. Aku nunggu kamu." seru Kak Faiz, sambil tersenyum lebar.


Mas Nathan mengerutkan alisnya, "Oh oke. Aku ganti baju dulu."


Aku mengikuti langkah Mas Nathan yang berjalan ke atas, menuju kamar kami.


Sampai di sana, aku menyiapkan baju Mas Nathan, ketika dia mulai melepaskan kemejanya.


"Mau makan?"


"Aku sudah makan." sahut Mas Nathan. Wajahnya terlihat masam saat menjawab pertanyaanku. Ada apa dengannya?


Setelah berganti baju, Mas Nathan tidak langsung turun ke bawah, dia malah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


Aku menatapnya keheranan.


"Loh kok tiduran, Mas? kan ada Kak Faiz di bawah?"


"Biarin aja. Dia datang bukan buat ketemu aku kan." jawab Mas Nathan dengan nada ketus.


What?


Aku menghela napas melihat wajah Mas Nathan yang saat ini sedang cemberut. Ekspresinya datar dan dingin. Jadi dia cemburu?


Wah, wah. Seorang Nathan Mahendra cemburu untukku. Ini suatu kehormatan, mungkin akan menjadi rekor Muri, saking langkanya.


"Apa ini? kamu cemburu?"


Mas Nathan memalingkan wajahnya, membuatku tersenyum gemas.


Aku mendekatinya, dan menyentuh wajah Mas Nathan.


"Coba sini, aku mau lihat wajah orang yang lagi cemburu kayak gimana."


"Ini gak lucu, Nin." Mas Nathan menepis tanganku.


Di bilang begitu, aku malah makin tersenyum lebar untuk menggodanya.


"Mas, Kak Faiz itu calon suami Tante aku. Kamu tahu itu kan?"


"Entahlah. Tapi dia pernah suka kamu."


"Ya ampun, Mas. Aku yakin Kak Faiz dulu itu gak benar-benar suka sama aku. Lagipula ya, dia udah berjuang loh selama ini buat dapatin Tante Lisa. Dia juga sahabat kamu kan."


Mas Nathan akhirnya mau menatapku. Beginilah kalau dia sedang cemburu.


Terakhir melihatnya seperti ini adalah saat kami honeymoon ke Jepang. Saat itu ada seorang bule yang bertanya padaku. Dan Mas Nathan langsung marah melihatku meladeni bule itu. Ah, sungguh kenangan yang manis. Matanya kelihatan sayu, seolah ada beban yang tidak mau ia ungkapkan.


"Maaf, aku cuma terlalu takut. Gak seharusnya aku kayak gini."


"Sudah. Kamu suamiku yang paling tampan sedunia. Dunianya Anindira."


"Setelah jadi istri, kamu jadi lebih pandai gombal ya."


"Itu keahlianku dari dulu kan." sahutku sombong.


Mata Mas Nathan membulat lucu, "Wah lihat. Istriku punya keahlian yang bagus sekali."


"Mas.. ihh. Udah sana, kasihan Kak Faiz nunggu di bawah."


"Aku temui dia dulu ya, kamu gak usah ikut turun ke bawah!"


Aku memutar bola mataku, dia masih tidak ingin aku menemui Kak Faiz?


"Iya iya." jawabku sekenanya, biar cepat!


Mas Nathan mengecup bibirku sekilas, lalu ia segera bangkit dan beranjak keluar kamar.


"Aku segera kembali." bisiknya, sebelum menghilang di balik pintu.


Aku hanya tersenyum geli melihat tingkah Mas Nathan. Dia memang sedang sensitif akhir-akhir ini. Dokter Ria bilang, wajar kalau suami sensitif, bahkan ikut ngidam saat istrinya hamil. Itu karena adanya perubahan hormonal.


Yah, semoga saja ini tidak lama, kan tidak lucu kalau aku dan Mas Nathan ngidam bersamaan nanti.


🌸🌸🌸


Mas Nathan dan Kak Faiz baru saja pergi tadi, mereka bilang akan segera kembali karena ada keperluan mendadak. Meskipun penasaran, tapi aku berusaha menahan diri untuk tidak bertanya.


Baru saja hendak istirahat, tapi bel kembali berbunyi. Saat ini Bi Munah sudah pulang, biarlah dia yang membukakan pintu, aku ingin merebahkan tubuhku sebentar.


Tok.Tok.


"Non Nindi..."


Terdengar suara Bi Munah di depan pintu kamarku. Ada apa ya? apa yang datang tamuku?

__ADS_1


"Ya Bi.. kenapa?" aku berkata sambil membuka pintu kamar.


Wajah Bi Munah terlihat gelisah, dia meremas kedua jarinya bersamaan.


"Itu Non, ada tamu."


"Siapa? kalau tamu buat Mas Nathan bilang aja dia lagi keluar, Bi."


Bi Munah menggeleng pelan, "Iya tamu Mas Nathan, tapi Non Nindi harus temui juga."


Aku mengerutkan kening, heran dengan maksud Bi Munah. Tamu Mas Nathan, tapi aku harus ketemu? siapa ya?


"Yang datang Bu Gea, mantan mertuanya Den Nathan." ucap Bi Munah, menjawab rasa penasaranku.


What?


Mantan mertua Mas Nathan, berarti ibunya Jihan?


Astaga!


"Bi Munah, udah hubungin Mas Nathan?"


"Udah, non. Katanya lagi perjalanan pulang, sebentar lagi sampai."


Aku terdiam, dan berpikir sejenak. Apa aku harus turun dan menemuinya?


Kalau turun ke bawah, aku bingung harus bicara apa nanti.


Tapi Mas Nathan dalam perjalanan pulang, sepertinya tidak sopan kalau aku membiarkan dia menunggu sendiri.


Santai! Rileks Anindira. Biar bagaimanapun beliau neneknya Arsy. Aku harus menemuinya.


"Ya sudah. Nanti aku turun ke bawah ya. Bibi siapin minuman aja buat... siapa tadi namanya?"


"Bu Gea, Non." sahut Bi Munah.


"Oh iya, Bu Gea."


Bi Munah mengangguk, lalu bergegas turun ke bawah.


Sedangkan aku, kembali masuk ke kamar untuk merapikan penampilan.


Bu Gea adalah mantan mertua Mas Nathan. Dia pasti akan membandingkan diriku dengan anaknya, Jihan. Jadi, aku harus berpenampilan baik sekarang.


Setelah di rasa cukup, aku menemui Bu Gea di bawah.


Aku melihat dia sedang berdiri di ruang tamu, memandang fotoku, Arsy dan Mas Nathan saat pernikahan dulu. Foto itu memang sengaja di cetak ukuran besar, untuk di pajang.


"Ehem. Maaf lama menunggu, Bu."


Bu Gea menoleh, dia melihat penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wanita itu berpenampilan modis dan anggun, dengan setelan rok dan blouse warna hitam. Sangat cantik untuk wanita seumurannya. Aku jadi sadar, dari mana Jihan dan Bella mewarisi wajah sempurna itu. Mereka sangat mirip dengan ibunya.


"Saya tidak menunggu kamu, tapi menunggu Nathan. Oh ya, di mana cucu saya?"


Jleb.


Tidak menungguku dia bilang?


Aku sekarang nyonya di rumah ini.


Sabar Anindira... tarik napas, buang....Hufh.


Aku berusaha tetap tersenyum, "Mas Nathan sedang dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi datang, kalau Arsy masih di sekolah, setengah jam lagi waktunya dia pulang."


Bu Gea tersenyum miring, "Selamat atas pernikahan kalian. Maaf telat, karena saya juga tidak di undang ke acara kalian."


Ini namanya satire alias Sindiran. Aku jelas tahu maksud dari kata-katanya itu. Sepertinya Bu Gea sengaja untuk memancingku.


Andai aku punya pintu kemana saja seperti Doraemon, rasanya ingin sekali aku ku gunakan sekarang. Untuk pergi ke tempat Mas Nathan, dan membawanya segera ke sini.


*Mas Nathan cepatlah datang....!!!

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸*


__ADS_2