DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Gaun baru


__ADS_3

"Huaa bagaimana ini, Mas. Bajuku..." aku meringis, dan mengeluarkan air mata sambil menunjuk ke arah cermin besar kamar kami.


"Kenapa?" mas Nathan yang baru selesai mandi, datang dengan wajah panik.


"Gaunnya gak muat, Mas. Ini aku beli sebulan lalu, rencana mau di pakai ke acara pernikahan Tante Lisa. Bagaimana ini..."


Aku mengusap wajah dengan kasar, begitu melihat gaun berwarna pink soft itu tidak bisa masuk ke tubuhku. Perut yang sudah membuncit di usia kandungan 5 bulan, membuatku harus merelakan beberapa baju kesayangan.


Mas Nathan juga sudah membelikan beberapa daster untuk ku pakai di rumah, dari mulai gambar karakter, bunga dan abstark. Banyak sekali...


"Hei, kita beli baru lagi ya...." ucap Mas Nathan, dia berusaha menenangkanku.


Melihatku yang masih manyun, Mas Nathan menangkupkan tangannya di kedua pipiku.


"Lagi manyun gini aja cantik"


"Huu bohong." aku mendorong dadanya yang masih belum memakai baju.


Dengan sigap ia menahan tanganku, hingga terus menempel di atas dadanya itu.


Ya ampun Mas...hilang sudah predikatmu sebagai Dosen killer, kalau mahasiswa-mu tahu, sikap kamu begini....


"Aku serius kok. Gak percaya? nih coba rasain. Di menit pertama setelah berbohong, akan menyebabkan sistem saraf melepas kortisol ke dalam otak, hormon adrenalin juga ikut terpacu sehingga membuat jantung berdetak cepat, pupil melebar dan berkeringat. Coba ada ciri-ciri itu sekarang?"


Astaga!


Rasanya aku seperti sedang menerima materi dari suami sendiri.


"Iya aku percaya, sayang... makasih."


Mas Nathan tersenyum, ia mengecup tanganku, lalu meraih baju yang sudah ku siapkan sebelumnya.


"Masih satu minggu lagi kan... kita cari gaun ya buat kamu. Dan yang penting, jangan terlalu ketat."


"Iya, Mas ada waktu kapan?"


"Kalau hari ini pulang cepat aku kabari."


"Oh ya sudah. Aku ke bawah dulu ya, bantu Arsy siap-siap."


"Ekhem."

__ADS_1


Aku kembali menoleh, walaupun tangan kananku sudah memegang handle pintu.


"Apa, Mas?"


"Kamu lupa?" tanya Mas Nathan dengan wajah merengut.


Hemm aku mencoba mengingat apa yang lupa.


Ah iya!


Dengan gerakan maju tiga langkah, aku sudah berada di hadapannya. Dan...


Cup


Morning kiss.


Mas Nathan tersenyum lebar, itu pertanda aku sudah di lepaskan, dan boleh melanjutkan aktivitas.


🌸🌸🌸🌸


Aku, Mas Nathan dan Arsy baru saja pulang dari butik untuk membeli gaun. Dan sekarang, kami berada di sebuah mall untuk jalan-jalan sebentar, sekaligus mengajak Arsy bermain. Karena sudah lama sekali kami tidak jalan bersama.


Mas Nathan menemani Arsy bermain bom bom car. Sedangkan aku, hanya duduk di pinggir area seperti pemandu sorak mereka. Tak lupa juga, untuk memotret dan merekam semuanya.


Setelah puas bermain bombom car, Arsy meminta di belikan gulali ukuran besar yang ada di salah satu booth.


"Permisi, maaf mengganggu. Boleh minta waktunya sebentar?" sapa seorang wanita, yang ku perkirakan sebagai SPG.


"Ya?"


"Begini, kami sedang mencari model satu keluarga, untuk di jadikan foto promosi di booth kami. Boleh minta waktunya?"


Aku dan Mas Nathan saling berpandangan.


"Foto? aku mau, aku mau." sahut Arsy antusias.


Bisa di tebak kan selanjutnya? jika Arsy yang meminta, maka mau tidak mau, Mas Nathan akan mengikuti.


Dan di sinilah kami berada sekarang, di booth foto. Beberapa SPG nya mulai merapikan sedikit penampilan kami.


"Eh, kalau Mas nya mah gak perlu di apa-apain, udah pas ganteng." celetuk salah satu SPG berwajah bulat.

__ADS_1


Aku langsung mendelik tajam padanya, dan dia menyadari itu, dan langsung tertunduk meminta maaf.


"Makanya Neng, punya mata di jaga! jangan jelalatan lihat suami orang."


Ingin rasanya aku berkata seperti itu. Tapi mati-matian ku tahan. Sabar Nindi... orang sabar di sayang suami.


Persiapan selesai, dan fotografer mulai mengarahkan gaya kami bertiga. Saat foto pertama, aku hampir tertawa kencang, melihat ekspresi Mas Nathan yang kaku dan datar.


Benar-benar flat tanpa ekspresi.


Ya... kami memang pernah foto bersama, tapi itu selfie melalui kamera ponsel. Jelas berbeda seperti sekarang, yang di lakukan oleh fotografer dan di tonton pengunjung mall.


Arsy dengan gayanya yang lihai berhasil mencairkan suasana, Dia berhasil membuat Mas Nathan tersenyum. Ku lihat beberapa pengunjung terkagum-kagum menatap Mas Nathan. Bahkan sampai ada yang menunjuk dirinya sebagai artis. Sungguh tak patut!


Hei! di sini ada istrinya loh. Mereka gak melihat apa! perutku sedang hamil hasil perbuatannya.


"Yap selesai. Bagus. Boleh sekali lagi? tapi kali ini Mas dan Mba bergaya saling berpandangan."


Aku tersenyum mengiyakan, dan Mas Nathan hanya pasrah menurutinya.


"Satu... dua... tiga...."


Foto gaya terakhir, dengan Arsy berada di pangkuannya, dan Mas Nathan menggenggam tanganku, lalu saling berpandangan.


Tatapan itu... masih sama seperti dulu. Saat aku baru mengenalnya. Tatapan dingin yang menyimpan banyak luka. Hanya saja, kali ini aku melihat cinta di sana.


Terima kasih, Mas... karena telah memberikan cinta untukku.


"Selesai... Terima kasih." ucap fotografer itu, ekspresinya puas.


Jelas saja, dia berhasil mendapatkan model yang berkualitas seperti Mas Nathan. Booth mereka pasti akan ramai setelah ini.


Setelah selesai, aku melihat ekspresi lega di wajah Mas Nathan. Aku tahu, pasti berat untuknya melakukan hal ini, mengingat sifat Mas Nathan yang tertutup, tapi dia mau melakukan ini demi anak dan istrinya. So sweet kan...


Sebagai bonus, SPG booth itu memberikan kami merchandise, dan salinan foto tadi untuk di bawa pulang.


"Kalian senang?" tanya Mas Nathan.


"Senang." jawabku dan Arsy bersamaan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Suka cerita ini?


Jangan lupa vote yaa beb, sebagai bentuk dukungan kalian ke author πŸ€—πŸ€—


__ADS_2