DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
EKSTRA PART 1


__ADS_3

"Mas jangan lama-lama ya di sana. Nanti kalau kangen gimana..." Aku merengek manja pada Mas Nathan yang sedang packing baju ke dalam koper.


Hari ini dia akan berangkat ke Jogja untuk kembali mengurus resto. Seandainya aku tidak hamil besar saat ini, pasti akan ikut Mas Nathan ke sana.


Arsy sedang di bawa ke rumah Bu Gea. Ya... hubungan Mas Nathan dengan mantan mertuanya itu lumayan membaik. Arsy juga sudah memanggil Bu Gea dengan sebutan nenek.


"Iya sayang.. cuma tiga hari kok di sana." Mas Nathan mengelus pipiku lembut. Kemudian pandangannya beralih menatap perut buncitku.


"Halo Dede... jangan nakal yah selama papa gak ada. Baik-baik di dalam sana." ucap Mas Nathan, dia menekuk lututnya di hadapanku.


"Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungin mama kamu ya..."


Aku mengangguk. Mas Nathan memang menyarankan agar aku tinggal bersama mama dulu, selama dia pergi ke Jogja. Tapi aku menolak. Karena di sana ada Tante Lisa dan Kak Faiz. Mereka memang belum pindah, karena rumah Kak Faiz belum selesai di renovasi.


Rasanya tidak enak jika harus merepotkan mama.


"Iya Mas. Tenang aja. Waktu lahiran juga sebulan lagi kok."


Cup. Mas Nathan mengecup keningku lama. Matanya menatapku dalam.


"Jaga diri, jangan pecicilan dan banyak tingkah."


"Siap Bos." ucapku, sambil berpose hormat seperti dalam upacara bendera.


"Jangan joget-joget juga selama aku gak ada.


Haha. Mas Nathan pasti takut jiwa fangirlku kumat selama dia tidak ada tiga hari nanti.


"Tenang aja, Mas. Aku gak akan nakal."


Senyum manis terukir di wajahnya Mas Nathan, "Bagus."


Cup.


Kali ini aku yang mengecupnya, bukan di kening atau pipi, tetapi di bibirnya yang lembab.


Mas Nathan terkejut. Dia melebarkan matanya.


"Hei, kamu mau buat aku telat naik pesawat ya." tukasnya kesal.


Aku terkekeh geli, karena berhasil menggodanya saat ini.


"Ya udah tunda aja."


"Gak bisa sayang... tiketnya udah di beli sama karyawan aku. Sore ini jam penerbangannya. Takut macet di jalan, jadi aku harus berangkat sekarang." sahut Mas Nathan. Kopernya sudah terkunci rapi, dan dia sudah berjalan menuju pintu kamar.


Entah kenapa rasanya berat sekali melepas kepergian Mas Nathan saat ini. Padahal bukan hanya hari ini dia pergi ke luar kota. Tapi sekarang perasaanku benar-benar tidak enak.


Mas Nathan menghentikan langkahnya, begitu melihatku diam, tak beranjak dari tempat semula.

__ADS_1


"Sayang... dengar ya. Apa pun yang terjadi, aku pasti akan datang. Kalau ada apa-apa kamu hubungin aku ya. Saat itu juga aku pulang."


Dengan berat hati, aku mengangguk dan berusaha tersenyum padanya.


🌸🌸🌸


Sudah pukul lima sore.


Baru beberapa jam Mas Nathan pergi, rasanya sepi sekali. Apalagi tidak ada Arsy di rumah. Hanya ada aku dan Bi Munah yang sedang sibuk di dapur.


Apa pesawat yang di tumpangi Mas Nathan sudah berangkat ya?


Katanya jadwal penerbangan jam empat sore tadi. Sudah lewat satu jam.


"Neng Nindi... mau cemilan? Bibi sudah buat puding."


Bi Munah datang menawarkan puding buah segar padaku. Sepertinya enak...


"Boleh, Bi."


"Ini Neng. Di makan ya... biar dede bayinya juga sehat."


"Makasih, Bi."


Aku mulai memakan puding buah itu dengan lahap. Manis dan segar. Nafsu makanku memang semakin meningkat di trimester akhir ini.


Namun tiba-tiba... Aku merasakan sakit di perut. Dan sakitnya terus berulang, dalam tempo waktu yang singkat.


Tidak mungkin mau melahirkan kan?


"Neng kenapa?" Bi Munah menatapku cemas.


"Arrgh sakit. Bi, tolong hubungin mama ya. Suruh jemput Nindi sekarang " aku berkata dengan panik.


Bi Munah mengangguk dan segera menjalankan permintaanku. Dia menghubungi mama lewat telepon rumah.


Tubuhku sudah basah oleh keringat, rasa sakit itu semakin menjadi. Menjalar hingga ke tulang. Aku meringis dan berteriak, begitu melihat cairan bening keluar dari pangkal paha.


Jadi benar ini mau melahirkan? Ya Tuhan.. kenapa saat Mas Nathan tidak ada begini...


"Ya Allah.. Neng Nindi. Sabar ya... mamanya Neng sudah perjalanan ke sini. Istighfar Neng..." Bi Munah datang wajahnya panik, dan berjalan mondar-mandir di depanku sambil terus melafalkan doa.


🌸🌸🌸


"Nindi sayang.. tahan ya. Kita sudah sampai di rumah sakit." mama ikut berjalan di samping brankar rumah sakit yang membawa tubuhku.


Sumpah demi apa pun, rasanya sakit sekali. Perasaanku campur aduk saat ini, antara sakit, sedih, kecewa jadi satu. Itu karena tidak ada Mas Nathan di sini.


Perjalanan ke ruang bersalin rasanya seperti berjam-jam, padahal jaraknya tidak begitu jauh. Dalam rasa sakit yang makin bertambah, seperti dejavu... kenanganku bersama Mas Nathan berputar begitu saja, sejak aku mengenalnya, mengejar cinta Mas Nathan yang saat itu berstatus dosen, juga saat dia akhirnya menerima cintaku dulu...

__ADS_1


"*Anindira Maheswari! kenapa kamu senyum - senyum begitu." ucap Pak Nathan.


"Gak apa, Pak. Saya cuma lagi mengagumi ciptaan Tuhan yang indah." jawabku spontan*.


Itu adalah pertama kali Mas Nathan menatapku di kelas, setelah sekian lama aku hanya menjadi pengagum rahasianya. Setelah itu Mas Nathan memberikanku hukuman, karena membuat keributan di kelas.


"*Apa ?!. Jangan geer kamu. Saya cuma kira - kira. Kalau ternyata memang pas yasudah. Oh iya satu lagi, lebih baik kamu berhenti sekarang. Saya tidak tertarik untuk dekat dengan wanita manapun sekarang ini."


Itu adalah ucapan Mas Nathan saat di kebun binatang. Dia menolakku terang-terangan saat itu*.


"*Siapa orang yang bapak sayangi?"


"Kamu."


Saat itu pertama kalinya aku jalan berdua dengan Mas Nathan, dia mengajakku membeli kamera DSLR dan makan di food court.


Huaa... aku ingin menangis kencang mengingat semuanya. Kenangan itu masih terlihat nyata*.


"Nindi... sadar sayang. Bangun..." sayup-sayup terdengar suara mama yang parau.


Perlahan aku membuka mataku Dapat ku lihat Mama sedang menangis sekarang. Namun mata ini terasa berat sekali.... kembali ingatan masa lalu tentang Mas Nathan berputar


"Mau menikah dengan saya?" Dia menembakkan langsung dengan kata - katanya.


Lamaran yang sangat berbeda dan tidak romantis. Dia mengatakan hal itu saat aku berada di rumahnya.


"Ini berapa kali ya.. ah ketiga kalinya saya melamar kamu. Pertama di jalan, kedua di rumah, dan ketiga saya harap ini cukup romantis. Saya sengaja belajar lirik lagu ini. Susah juga ternyata. Haha."


Saat itu perasaanku sangat senang sekaligus haru. Mas Nathan melamarku di depan semua orang, menyanyikan lagu lamaran dalam bahasa Korea.


"Nindi..buka mata kamu. Kita sudah sampai di ruang bersalin. Yang kuat sayang." Mama kembali memekik. Kepanikan terpancar dari wajahnya. Namun, rasa sakit itu kembali datang berkali-kali lipat.


Aku hanya bisa pasrah. Melahirkan tanpa Mas Nathan? sungguh bukan keinginanku.


Pintu ruang bersalin perlahan di tutup...


"ANINDIRA..."


Apakan ini ilusi? aku mendengar suara Mas Nathan di sini, di dekatku.


Aku menoleh pelan, dan itu nyata..!


Mas Nathan berlari mendekatiku, tangannya yang hangat terulur menyentuh kedua pipiku.


"Sayang.. aku di sini. Kamu yang kuat ya. Jangan takut."


Penampilan Mas Nathan terlihat berantakan, kemejanya yang rapi kini lepek karena keringat. Dia pasti berlarian menuju kemari. Tapi bukankah Mas Nathan sudah naik pesawat ke Jogja?


"Baik kita mulai sekarang... Ibu Anindira. Silakan ikuti instruksi dokter ya..."

__ADS_1


Tirai sudah di tutup. Posisi dokter dan para bidan sudah melingkari ranjang. Mas Nathan berdiri di dekat kepalaku, sambil mengeratkan genggaman tangannya padaku.


Baiklah, perjuangan di mulai....


__ADS_2