
Sudah dua jam berlalu...
"Mas.. sakiit. Huhu aku gak kuat."
"Kamu harus kuat demi anak kita."
Ini benar-benar sakit, ternyata begini rasanya melahirkan. Mama... aku jadi merasakan perjuanganmu.
Entah kenapa bayiku ini betah sekali di dalam perut. Dokter bilang, kepalanya sudah terlihat. Tapi kenapa dia tidak keluar-keluar. Padahal aku sudah mengejan sampai hampir mati.
Awas saja kalau dia bandel nanti, aku akan masukkan kembali ke dalam perut.
Setelah perjuangan penuh air mata dan teriakan histeris, akhirnya tepat pukul 21.30 anakku lahir ke dunia.
Semua rasa sakit itu hilang, berganti lega ketika melihat bayi mungil itu menangis. Sebelum di mandikan, dokter meletakkan bayi itu di atas dadaku untuk IMD. Katanya supaya ikatan sang bayi dan ibu lebih erat lagi. Aku tersenyum menatapnya, begitu juga Mas Nathan. Air mata bahagia terlihat dari sudut matanya.
"Makasih sayang..." Mas Nathan mengecup keningku.
Setelah IMD selesai, para bidan membersihkan bayi, dan memakaikan bedong. Kemudian di serahkan pada Mas Nathan untuk di azani.
Suara lembut azannya terdengar pelan dan merdu. Mas Nathan telah melakukan tugas pertama sebagai seorang ayah.
"Makasih ya, kamu sudah melahirkan anak yang tampan untukku."
"Gak usah makasih, Mas. Itu kan memang kewajiban aku sebagai istri."
Mas Nathan tersenyum, dia mengusap peluh di dahiku dengan tisu.
__ADS_1
"Mas kok bisa ada di sini sih? bukannya udah berangkat ke Jogja?" aku bertanya, dengan masih berbaring lemah di atas tempat tidur.
"Si Rina salah beli tiket pesawat. Harusnya sore ini berangkatnya. Tapi dia malah beli buat selasa depan. Mungkin sudah takdirnya. Aku tadi sudah mau balik ke rumah, terus Faizal telepon, katanya kamu mau melahirkan. Aku panik banget saat itu."
"Terus kenapa kemeja kamu basah banget? kehujanan?"
Mas Nathan terkekeh, "Aku lari tadi. Soalnya pas naik taksi macet banget."
Ya ampun... jadi begitu ceritanya. Padahal aku sudah merasa sangat sedih, karena melahirkan pertama tanpa Mas Nathan. Ternyata suamiku itu datang di saat yang tepat. Terima kasih Tuhan....
"Lihat anak kita lucu banget ya, Mas. Dia mirip sama kamu. Ganteng."
"Hemm. Tapi sifatnya kayak mama aja ya de... kalau kayak papa nanti kamu di bilang gak gaul."
Duh, aku ingin tertawa tapi rasanya lemas sekali. Jadi hanya cengiran khas yang muncul di wajahku sekarang.
Pintu terbuka... Dan mama, Tante Lisa juga Kak Faiz masuk ke dalam.
Wajah mereka berbinar bahagia, terutama mama.
"Ya ampun cucu mama... lucu banget. Itu hidungnya tinggi yah, gak kaya kamu Nindi." Mama menggendong bayiku dengan lembut.
Tentu saja...semua detail wajah bayiku ini sangat mirip dengan Mas Nathan. Hidungnya sangat mancung, dengan rambut hitam yang sedikit ikal.
"Halo tampan... siapa namanya?" tanya Tante Lisa.
"Belum tahu, Tante... kita belum menyiapkan nama."
__ADS_1
"Nadi Putra Mahendra." ucap Mas Nathan tiba-tiba.
Aku menoleh, menatap Mas Nathan dengan tak yakin.
"Eh serius, Mas?"
"Iya.. Nadi bukan hanya gabungan nama kamu dan nama aku, tapi juga ada artinya...anak ini seperti denyut nadi bagiku. Segalanya... dia mempunyai tempat yang sama dengan Arsy."
Aku tersenyum, seraya mengiyakan. Biarlah... Mas Nathan adalah papanya. Dia berhak untuk memberikan nama pada putraku.
"Nah... Nadi sekarang sudah bobo. Mama taruh di samping kamu ya, Nin. Hati-hati kamu...tidurnya jangan jabrah, nanti bayi kamu kejepit." Mama memberiku peringatan. Semua tertawa mendengarnya.
Hehe. Mama tahu saja memang, kalau tidurku tidak bisa tenang. Mas Nathan saja sudah beberapa kali jadi korban saat tidur.
"Oh iya, Arsy nanti biar aku yang jemput yah. Dia pasti senang adik bayinya sudah lahir." kata Tante Lisa.
"Iya Tante, makasih ya... semoga tante cepat punya momongan yah, yang lucu kayak Arsy."
Tante Lisa mengamininya dengan cepat. Bukan rahasia lagi, kalau Tante Lisa menginginkan anak perempuan yang cantik dan lucu macam Arsy. Makanya dia sering sekali mengajak Arsy pergi dan bermain.
Aku kembali menatap Nadi yang sedang tertidur. Semoga nanti kamu menjadi anak yang baik ya nak...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Ada yang setuju kalau cerita ini di bikin sekuelnya?
Hemm mungkin berlanjut ke cerita Nadi nanti...
__ADS_1