DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Hamil?


__ADS_3

🌸Kamu selalu bisa memberiku begitu banyak kekuatan, dan masih menjadi satu-satunya kelemahanku, jadi bagaimana bisa kita menjauh? 🌸


**********


"Huekk..."


Pagi ini, Mas Nathan kembali berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Dia kini terduduk lemas, dengan bersandar di pintu kamar mandi.


Aku segera beranjak dari ranjang, dan mengenakan rompi untuk menutupi baju tidur one piece, yang saat ini melekat di tubuhku


"Mas, gimana? mau aku buatin teh hangat?"


Mas Nathan menggeleng lemas, lalu menarik pinggangku, dan membenamkan wajahnya di perutku. Tubuhku berdesir merasakan hembusan napasnya di sana.


"Halo baby, jangan-jangan kamu ya, yang mau buat papa begini." gumam Mas Nathan.


Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Mas Nathan, sambil mengusap-usap rambutnya. Jadi, semalam aku memberanikan diri untuk menggunakan testpack, karena menurut perhitunganku di kalender, aku sudah telat datang bulan. Dan akhirnya....dua garis merah muncul.


Setelah Mas Nathan masuk ke kamar, aku langsung menghambur ke pelukannya dan memamerkan testpack di tanganku.


Ekspresi Mas Nathan saat itu terlihat syok dan senang. Dia menghujani wajahku dengan kecupan, tangis haru dan bahagia kami rasakan malam itu. Dan berakhir dengan malam panas yang bergairah untuk kami berdua. Tapi pagi ini, tiba-tiba saja Mas Nathan terbangun dan muntah berkali-kali.


Seharusnya aku yang mengalami morning sickness, tapi kenapa dia?


Apa Mas Nathan kena sindrom ngidam?


"Saya senang proyek adiknya Arsy berhasil. Terima kasih. Ah, ya saya harus ke kampus hari ini. Ada mata kuliah pagi."


"Mas yakin baik-baik aja? gak mau ijin istirahat dulu? " tanyaku khawatir.


Mas Nathan kini berdiri, menampilkan otot perutnya yang seksi, karena dia masih bertelanjang dada pagi ini.


"Saya baik-baik aja kok. Harus ke kampus hari ini. Radit tunjuk saya lagi untuk jadi dosbing." keluhnya.


Dosbing, maksudnya dosen pembimbing?


Wah aku jadi teringat tahun yang lalu, saat aku masih menjadi mahasiswinya Mas Nathan. Betapa centilnya sikapku dulu demi mendapatkan perhatiannya, dan bagaimana dinginnya sikap Mas Nathan saat itu. Siapa yang sangka kalau sekarang justru dia yang bersikap manja padaku sekarang?


"Ya udah. Aku siapkan bekal ya, Mas."

__ADS_1


"Eh, gak usah. Nanti saya makan di kantin aja."


"Loh kenapa?"


Bukannya menjawab Mas Nathan malah mendekatiku, lalu menangkupkan kedua tangannya di wajahku, hingga hidung kami bertemu.


"Ingat, kamu lagi hamil sekarang. Gak boleh capek. Nanti pulang dari kampus kita ke dokter ya."


Huaa jadi begini rasanya hamil dan di manjakan oleh suami, seperti yang selama ini ku lihat di drama romantis Korea. Ah iya, tiba-tiba aku jadi ingat hal yang menyebalkan, dan belum sempat cerita pada Mas Nathan, karena banyaknya peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini.


"Mas, ada yang mau aku omongin sebentar. Ini tentang Bella."


Keningnya mengernyit tak suka, lalu dia berjalan mengambil handuk dan melilitkannya di pinggang.


"Bella? kenapa kamu masih bicara tentang Bella sih?"


"Ih dengar dulu, Mas."


Aku pun mulai menceritakan perihal Bella padanya. Tentang Bella yang menjemput Arsy tanpa ijin dan malah mengajaknya jalan-jalan. Tapi aku tidak menceritakan bagian perkataan Bella yang menghinaku saat itu. Mas Nathan pasti marah besar nanti.


"Oh, udah gak usah di pikirin ya. Nanti saya bicara sama Bella." ucap Mas Nathan, sambil mengusap rambutku lembut.


Aku mengangguk, rasanya sedikit lega sudah bercerita padanya. Dalam hubungan suami istri memang harus seperti itu kan?


Mas Nathan pun berlalu, masuk ke dalam kamar mandi.


Aku kembali menghempaskan tubuhku di atas ranjang. Rasanya sudah tidak sabar untuk pergi ke dokter kandungan. Aku ingin segera tahu, bagaimana perkembangan janinku ini.


🌸🌸🌸


"Yeei papa pinter, bisa bikin adik buat Arsy. Nanti Arsy mau pamer sama om Faiz ah..."


Begitu celotehan Arsy saat tahu akan mempunyai adik. Senang? jangan di tanya. Dia bahkan sampai berjingkrak di dalam mobil saking senangnya.


Aku dan Mas Nathan memang sengaja menjemput Arsy ke sekolah hari ini. Karena ingin mengajaknya juga ke dokter kandungan.


Aku juga sudah bicara pada Mas Nathan, agar tidak berlebihan menanggapi kehamilanku, khawatir Arsy merasa tersingkir nanti.


"Kenapa mau pamer ke Om Faiz?" tanya Mas Nathan heran, sambil melirik ke spion tengah, menatap Arsy yang kini sudah duduk kalem di kursi belakang.


"Gak apa. Biar Om Faiz iri. Arsy pernah dengar Om Faiz ngomong ke Tante Lisa, kalau mau punya dede yang banyak, biar gak kalah sama papa lagi."

__ADS_1


Aku dan Mas Nathan saling berpandangan dan sontak tertawa bersama mendengar perkataan Arsy. Setelah ini aku harus memperingatkan Kak Faiz untuk tidak sembarang bicara di depan Arsy.


"Jadi sekarang Om Faiz kalah deh, yang menang papa Arsy dong. Hore. Arsy mau punya adik cowok yang lucu ya pah, biar bisa di ajak main lari-larian."


Ya ampun, anak ini sungguh menggemaskan.


Setelah itu celotehan Arsy terus berlanjut, dari mulai membicarakan Kak Faiz, sampai teman-teman sekolahnya. Sesekali aku menimpali, walaupun lebih banyak Mas Nathan yang menjawab.


Berada lama di dalam mobil membuat kepalaku pusing dan mual, jadi aku lebih memilih diam dan memejamkan mataku sejenak sebelum sampai ke tujuan.


***


Di Rumah sakit,


"Selamat ya, Arsy mau punya adik. Usia kandungannya sudah masuk minggu ke tujuh. Jaga kesehatan, jangan terlalu capek. Karena trimester pertama masih rawan untuk kehamilan awal." ucap Bu Ria, dokter spog yang di pilih Mas Nathan.


Dia bilang, dulu Arsy juga di periksa dengan Bu Ria. Aku sih tidak masalah, selama itu yang terbaik untuk janinku.


Bu Ria tersenyum ramah menatapku yang kini sudah kembali duduk di kursi bersama Mas Nathan dan Arsy.


"Pak Nathan, di jaga istrinya ya. Oh iya, untuk sementara belum boleh...." Bu Ria memberi isyarat tanda kutip dengan kedua tangannya.


"Maksudnya apa, Dok?" tanyaku tak mengerti.


"Puasa dulu ya, sampai kandungannya stabil dan kuat. Pak Nathan paham kan?" sahut Bu Ria.


Mas Nathan langsung terbatuk jaim mendengarnya. Tahu batuk jaim?


Itu loh seperti yang di iklan TV. Dia tersenyum canggung, dan mengangguk sambil melirik ke arahku.


Oh...aku paham sekarang. Jadi maksudnya itu toh. Hehe.


Aku pun balas mengiyakan, sambil tersenyum malu-malu.


Harap maklum... ini kan kehamilan pertama, jadi masih asing dengan istilah-istilah itu.


Apapun itu, aku akan menuruti anjuran dokter. Karena ini adalah anak yang telah ku nanti. Rasanya seperti mimpi, ada kehidupan lain di rahimku saat ini.


Buah cintaku dengan Mas Nathan, yang akan menjadi pelengkap kebahagian kami.


*Terima kasih, Tuhan....

__ADS_1


Di sela kesedihan dan permasalahan kami, Engkau hadirkan kebahagiaan yang tak di sangka.


🌸🌸🌸*


__ADS_2