
__Yang telah hilang belum tentu kembali. Aku bersyukur, hati yang terluka memberiku kesempatan untuk mengenalmu__
POV NATHAN
πΈπΈ
Sore hari,
Sepulang dari Resto, aku ingin menemui Bella di sebuah cafe. Siang tadi dia menghubungiku untuk mengajak bertemu. Aku menyetujuinya, sekaligus untuk menanyakan maksudnya. Kenapa dia masih saja menggangguku dan Anindira.
Sampai di cafe, ku lihat Bella sudah menungguku di sana. Ada yang berbeda dengan penampilannya sekarang. Pakaiannya tidak se'seksi dulu.
"Mas, kamu udah datang?" Bella berdiri menyambut-ku.
"Duduk saja."
Bella kembali duduk. Dia menatapku dengan penuh senyuman.
Ah aku tidak suka ini. Kalau Anindira tahu, dia pasti salah paham.
"Jadi? ada yang mau kamu jelaskan ke saya?"
"Makan dulu ya, Mas. Biar aku pesanin."
"Gak perlu. Maaf Bella, saya gak bisa lama. Anindira menunggu di rumah."
Wajah Bella berubah masam. Ia menelan kembali senyumannya.
"Aku masih gak habis pikir, kamu pilih dia Mas. Bahkan kamu sama sekali gak mengundang aku dan mama di pernikahan kamu."
"Saya cuma mau menjaga hati istri saya."
"Tapi kamu gak bisa jaga hati mama, Mas. Dia kecewa. Bahkan kamu jauhin mama dari cucunya sendiri."
"Cukup, Bella! Saya peringatkan ke kamu, jangan lagi mengajak Arsy pergi tanpa ijin saya atau Anindira."
Mata Bella melotot marah. Aku tidak mengerti dengan Bella. Terakhir kali kami bertemu, dia sudah menerima keputusanku, tapi kenapa sekarang dia kembali ber'ulah?
"Kalau begitu temui Arsy dengan mama."
"Untuk apa? kalian selama ini kemana saja?"
Aku tidak suka bicara seperti ini. Tapi setelah kepergian Jihan, keadaan sudah berubah. Arsy anakku, tentu saja aku yang berhak mengurusnya di bandingkan mereka.
"Jangan lupa, Mas. Kak Jihan meninggal karena kamu! dia bunuh diri di depan kamu, karena kamu mau melaporkan dia! Seharusnya kamu beruntung, aku menawarkan diri menikah dengan kamu saat itu, agar mereka tidak menyalahkan kamu lagi, Mas. Tapi kamu malah menikah dengan anak ingusan itu!"
"DIAM!"
Tanpa sadar aku berteriak, membuat pengunjung cafe menatap ke arah kami.
Kenangan itu terlihat lagi, bagaikan kaset yang di setel berulang kali. Bagaimana kemarahan orang tua Jihan saat itu, bahkan mereka menuduhku penyebab kematian Jihan.
"Saya harus pergi."
__ADS_1
Aku segera berdiri, dan beranjak meninggalkan Bella. Dengan napas yang menderu, jantungku kembali berdegup kencang.
"Mas tunggu!" pekik Bella.
Aku tidak menghiraukan, terus berjalan ke depan meninggalkannya sendiri di sana. Beberapa pasang mata menatapku dengan aneh dan sinis, seolah aku adalah pria brengsek yang mencampakkan seorang wanita.
Peduli setan!
Saat ini aku hanya ingin pulang, agar pikiranku kembali tenang.
Seharusnya aku tidak datang ke sini menemui Bella. Ku pikir keadaan telah berubah setelah aku menikah dengan Anindira, bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang itu.
Tapi dengan mendengar perkataan dari Bella tadi, membuat bayangan itu kembali lagi.
Dengan sedikit terhuyung, aku berjalan menuju mobil.
Anindira bisa cemas kalau aku pulang dengan keadaan seperti ini.
Obat!
Dimana obat itu?
Ah itu dia, aku memang sengaja menyembunyikan obat itu di dalam mobil. Agar Anindira tidak menemukannya.
Setelah meminum obat, napasku kembali teratur, tidak berdebar seperti tadi. Dengan mata terpejam, aku berusaha menenangkan diri.
Ku lihat Bella juga sudah keluar dari cafe itu. Aku harus segera pergi sebelum perempuan itu melihat ke arah sini.
Mesin mobil pun menyala, dengan kecepatan tinggi aku pun pergi meninggalkan tempat itu.
πΈ
Aku lelah, ingin bermanja ria dengan istriku. Tapi Arsy?
Gadis kecilku ini menjadi pengganggu malam ini. Dia tidak mau mengalah sedikit pun padaku. Dan Anindira juga menyebalkan, dia terus membela Arsy.
Lebih baik aku ke kamar, membersihkan diri dan tidur cepat.
Ceklek.
Suara pintu terbuka. Aku tahu kalau itu Anindira, tapi dia tidak masuk juga.
"Masuk, kenapa ngintip di situ."
Terdengar langkah kaki Anindira mendekat. Aku memicingkan mata menatap wajah gadis cantik yang telah resmi menjadi istriku itu. Bahkan kecantikannya semakin bertambah semenjak dia hamil. Walaupun tidak ada riasan di wajahnya.
"Mas.. sudah makan?" tanya Anindira, ekspresinya kelihatan takut. Mungkin dia mengira aku marah.
"Pfft." aku tidak bisa menahan tawaku lagi.
Mata indahnya melotot kaget, "Mas, kok ketawa sih."
"Habis kamu lucu. Mau masuk ke kamar sendiri aja, kayak masuk ke kandang singa."
__ADS_1
"Ish. Nyebelin. Iya kan kamu kayak singa."
Aku mendekat untuk menggodanya, "Saya singa khusus kamu aja ya."
Wajah Anindira tersipu malu, membuatku semakin gencar menggodanya.
"Mas, aku ada permintaan." ucapnya tiba-tiba.
"Apa?"
"Hemm, bisa gak mulai sekarang Mas ganti sebutan 'saya' jadi 'aku'?"
Hanya itu? menarik!
"Kenapa? bukannya sudah biasa?"
Anindira mengerucutkan bibirnya, dia menyandarkan kepalanya di dadaku. Sambil memilin rambutnya yang panjang.
"Gak, Mas. Aku tuh udah lama mau bilang ini, tapi takut kamu marah. Kalau sebutannya 'saya' gitu, kok ya berasa masih ada jarak. Kayak aku masih mahasiswi kamu aja. Kamu juga gak mau kan kalau aku panggil 'Pak'."
Senyumku kembali merekah. Jadi itu alasannya. Yah, aku memang sedikit kaku tentang hal ini.
"Oke."
Anindira mendongak, matanya berbinar menatapku, seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan mainan baru.
Selanjutnya ia memelukku dengan erat. Gerakannya yang tiba-tiba membuat tubuhku sedikit terhuyung. Dan akhirnya kami jatuh di kasur, dengan posisi Anindira di atasku.
Tatapan kami bertemu, dan sesaat tidak ada suara di antara kami.
Cup
Anindira mengecup pipi kananku. Sedikit terkejut. Lalu dia mengulangi kecupannya di pipi kiri.
"Makasih, Mas." senyumnya mengembang, membuatku tidak tahan untuk melumatnya.
Apalagi dia bertingkah manja, seperti sengaja menggodaku.
Tapi sayang, aku harus kembali menahannya. Dua minggu seperti kata Dokter Ria.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
******Part ini khusus POV NATHAN yaa... π
Aku bahas Bella, supaya lebih mendetail karakternya dia. Di season pertama ( saat Anindira dan Nathan belum menikah), Bella memang sempat muncul. Cuma motif dia belum jelas apa, selain menyukai Nathan yaa... Nah di sini lah motif Bella mulai terkuak.
Dan kenapa sakit Nathan kambuh?
Karena penyakit psikologis itu memang rentan banget. Apalagi kasus Nathan ini sudah bertahun-tahun ya.
Semoga suka sayyyy..
Jangan lupa vote dan komentarnya ππ
__ADS_1
Untuk kritik dan saran silakan join dan share ke grup ya, aku terima dengan besar hati.
Terima Kasih. ππ****