DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 14


__ADS_3

🍀Yakinlah bahwa cinta bukan hanya kata hiasan bibir, namun ia menjadi kekuatan yang menggerakkan...


_Nathan


****


Pagi - pagi sekali Pak Nathan sudah menghubungiku kalau kita akan pergi ke pantai. Dia bilang, sengaja memberitahuku dulu agar kejadian seperti di kebun binatang tidak terjadi lagi, karena saat itu aku salah kostum. Aku menggunakan wedges tinggi, yang membuat betisku bengkak.


Mengingatnya sungguh membuatku malu.


Setelah berulang kali mencoba pakaian di lemari, akhirnya aku menemukan yang pas untuk kupakai, pilihanku jatuh pada dress panjang, dengan bercorak bunga. Pergi ke pantai memang lebih cocok memakai outfit berwarna cerah, tentu saja secerah hatiku sekarang.


Rambutku sengaja diikat dengan model kuncir kuda, agar terlihat lebih fresh.


Sempurna. Aku tersenyum puas melihat penampilanku sendiri di cermin besar.


"Demi bulan dan bintang. Abracadabra! Aku sulap kau menjadi bucin padaku Pak Nathan."


Ucapku narsis, sambil bergaya menirukan gerakan sailor moon, film favoritku saat aku masih kecil dulu.


Hihi. Aku terkikik geli melihat tingkahku sendiri. Ternyata benar, jatuh cinta memang bisa membuat orang jadi gila.


"Nindiiii..... Cepat keluar. Ini Nathan sudah datang" Terdengar mamaku berteriak dari luar.


"Iyaaa ma.." Sahutku kencang agar suaraku terdengar sampai keluar kamar.


Segera kukemasi barang - barang yang ingin dibawa, ke dalam tas kecil yang sudah ku persiapkan dari semalam. Lalu bergegas keluar dari kamar.


Di ruang tamu, kulihat sudah ada Pak Nathan yang sedang mengobrol dengan mamaku. Ia mengenakan jaket denim biru, dalaman kaos putih, dan bawahan celana jeans warna biru senada.


"Lho Arsy mana, pak?" Aku bertanya padanya. Karena aku tidak melihat Arsy disana.


Pak Nathan menoleh ke arahku, dan langsung terdiam. Sedikit tercengang mungkin, melihat penampilanku yang berbeda hari ini.


"Oh.. Arsy menunggu di mobil." Jawab Pak Nathan. Ia kembali memasang wajah datarnya, padahal tadi kulihat dia tersenyum ketika mengobrol dengan mamaku.


Kenapa hanya denganku sih dia pelit senyum!.


Mama mengernyit heran menatap kami berdua.


"Pak? Kok kamu masih manggil Nathan pakai embel - embel pak sih Nin. Ini kan bukan di kampus." Tegur mama.


Mendengar itu, aku langsung menyenggol tangan mama.


"Ih mama apaan sih!.Kalau gak panggil pak, terus Nindi panggil apa dong." Ujarku setengah berbisik.


"Ya kan kalian udah jalan bareng nih, kalau manggilnya pak, nanti disangkanya kamu kakaknya Arsy lagi." Mama terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Panggil aja bebeb kek, atau ayang kek, atau apa aja.. Kan Nathan juga masih muda tuh. " Saran mama lagi. Yang masih tidak berniat menghentikan tawanya.


Aku melirik ke arah Pak Nathan. Wajahnya terlihat canggung dan salah tingkah.


Ya Ampun mama!


Tega banget deh anak orang sampai di buat enggak berkutik kayak begini.


Karena merasa tidak enak, aku segera menariknya untuk pergi. Aku tahu, semakin lama disitu mama tidak akan berhenti meledek kami berdua.


Setelah berpamitan, aku mengikuti langkah Pak Nathan, berjalan menuju mobilnya. Disana sudah ada Arsy yang menunggu, penampilannya sangat manis dan menggemaskan dengan rambut kuncir dua, dihiasi jepit warna warni di atas rambutnya.


"Hati - hati ya.." Mama melambaikan tangan dengan senyum sumringah. Yang di balas oleh anggukan sopan oleh Pak Nathan.


Sepertinya dia senang sekali, karena tahu anak perempuannya ini sudah tidak berstatus jomblo abadi lagi.


*******


Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pantai yang terletak di daerah Banten.


Aku dan Arsy turun lebih dahulu, karena Arsy sudah tidak sabar ingin bermain. Sedangkan Pak Nathan ia harus memarkirkan mobilnya dulu.


Untunglah karena suasana masih pagi, jadi tidak terlalu banyak orang disini. Kurentangkan tangan menikmati angin laut yang berhembus, bau air laut yang aku rindukan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pergi ke pantai. Terakhir saat acara gathering dengan teman - teman sekolahku tiga tahun yang lalu.

__ADS_1


Arsy kini sudah berlarian di atas pasir, sambil membawa ember kecil dan peralatan lainnya untuk bermain pasir.


"Kak Nindi.. ayo cepat. Aku mau buat benteng yang besarrr sekali."


Aku menanggapi ucapannya dengan senyuman.


"Wah kakak sudah enggak sabar lihat benteng besar buatan Arsy."


Gadis kecil itu tertawa riang menampilkan deretan gigi susunya yang mungil.


Tidak menunggu lama, kini Arsy sudah sibuk mengeruk pasir yang basah dengan ember kecil dan sekop mainan yang sejak tadi dibawanya. Dan mulai menumpuknya menjadi bertingkat - tingkat.


Aku duduk memperhatikannya, tidak jauh dari tempatnya bermain. Senyum sumringah terus terpancar dari wajah Arsy.


"Ekhemm."


Seseorang duduk di sampingku, aku menoleh padanya. Kulihat ada yang berbeda dengan penampilan Pak Nathan saat ini.


Kini ia mengenakan kacamata hitam dan topi hitam.


Dan dia juga menyampirkan jaket denim yang ia kenakan tadi di pundaknya. Hingga atasan yang ia pakai sekarang hanya tersisa kaos T-shirt putih, yang menampilkan jelas dada bidangnya.


Glek. Aku terpana menatapnya.


Berkali - kali aku mengerjapkan mata untuk menghilangkan pikiran yang tidak benar, dari otakku yang polos dan masih murni ini. Dengan cepat aku mengarahkan ponselku, dan berniat untuk memotretnya. Sayangnya aku lupa mematikan suara kamera. Tentu saja itu di dengar olehnya, dan dia langsung sadar kalau aku telah memotretnya diam - diam.


"Kamu enggak bercita - cita jadi paparazi kan.." Tukasnya kesal.


"Ya enggak lah pak, cita - cita saya kan membentuk keluarga yang bahagia sama bapak. Hehe." Aku membalasnya dengan memberikan senyumanku yang paling manis, berharap dia luluh dan tidak marah padaku.


Dan benar saja kan, dia langsung tersenyum. Walaupun senyumnya hanya terlihat selengkungan saja. Mungkin dia menganut paham hemat senyum untuk menjadi keren seperti ini.


"Jadi sudah dapat panggilan yang pas buat saya?" Pak Nathan kembali bicara. Pandangannya lurus ke depan menatap Arsy yang masih bermain pasir.


"Maksudnya?" Aku menatap wajah tampan Pak Nathan. Keningnya saling terpaut.


"Mama kamu..kan tadi menyuruh kamu buat enggak panggil bapak lagi kalau diluar kampus." Pak Nathan melirikku sebentar, lalu kembali menatap ke depan, melambai pada Arsy yang telah selesai membuat benteng yang miring dengan pasir.


"Ya terus udah dapat belum panggilan yang pas."


"Iya maksudnya, kenapa saya harus merubah cara panggilan saya ke bapak. Kan bapak dosen saya. Gak sopan dong nanti."


Pak Nathan mulai terlihat kesal. Ia melepaskan kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di hidungnya yang mancung.


"Harus banget ya saya jelasin alasannya?"


"Iya dong." Aku membalas menantangnya. Tidak mau kalah.


"Hemm. Panggilan Mas juga sepertinya tidak buruk." Lagi - lagi Pak Nathan tidak memberikan jawaban yang tepat.


Aku memutar bola mata, jengah mendengar perkataannya yang terus berputar - putar daritadi.


Ditambah lagi, sekarang banyak cewek-cewek genit yang dengan sengaja lewat di depan kami berdua, bahkan terang - terangan menatap kagum ke arah Pak Nathan. Membuatku semakin sebal.


Memangnya aku ini bayangan apa! Sampai tidak terlihat di samping dia.


Tidak jauh dariku, kini duduk segerombolan cewek berbaju minim, bergosip sambil melihat ke arah kami berdua.


"Lihat deh cowok itu. Cool banget yah."


Aku mendengar salah satu dari mereka bicara.


"Iyaa badannya juga. Hot banget." Teman mereka menambahkan dengan suara yang centil. Dan mereka serempak tertawa haha hihi.


What? Hot and cool. Memangnya dosenku ini dispenser.


Dengan tatapan sinis, aku menoleh ke arah mereka, membuat kegiatan bergosip mereka berhenti seketika.


"Sayangnya sudah ada lampirnya tuh di samping." Mereka kembali berkata pelan, tapi masih dapat aku dengar.


Sabar Nindi. Enggak ada faedahnya meladeni mereka. Demi menjaga ketentraman hati akhirnya aku berdiri, lebih baik aku pergi saja dari sini menemani Arsy bermain.

__ADS_1


"Saya permisi dulu pak, mau temani Arsy."


Pak Nathan tidak menjawab, dia malah memasang wajah cemberut padaku.


Lihat kan.. harusnya aku yang kesal. Kenapa jadi dia yang berbalik marah.


Aku tidak peduli, berjalan cuek meninggalkan dia sendiri disana.


"Kak Nindi.. tadi aku lihat ada cangkang kerang disitu." Ucap Arsy riang melihat kedatanganku.


"Cantik sekali, tapi sayangnya sudah di ambli orang tadi."


"Begitu yaa.. nanti kita cari lagi ya. Kakak bantu."


"Yeii Asiikk. Aku mau cari yang banyakkkk, terus mau aku bawa pulang ya kak."


Aku mengangguk menyemangatinya. "Tentu saja cantik."


Dari kejauhan kulihat Pak Nathan masih duduk disana.


Tidak berapa lama salah satu perempuan yang bergosip tentangnya tadi berdiri menghampirinya. Mungkin dia merasa ada kesempatan karena sekarang Pak Nathan sedang duduk sendirian.


Aku hanya mendengus melihatnya. Aku sudah mengenal Pak Nathan, lihat saja...


Dalam hati aku berhitung satu...dua...tiga.. dan perkiraanku benar, tidak sampai hitungan kelima perempuan itu pergi dengan wajah kesal. Dia pasti sudah jadi korban dari sikap judesnya Pak Nathan. Oh Poor her...


*****


Sore hari,


Setelah puas bermain dan berhasil menemukan banyak kerang kecil, akhirnya Arsy kelelahan dan tertidur. Pak Nathan menggendong Arsy dan menidurkannya ke car seat di jok belakang.


Setelah menutup pintu mobil belakang dengan pelan, Pak Nathan kembali memutar tubuhnya dan menahan ku untuk tidak masuk ke dalam mobil.


"Kenapa pak?"


"Mas, coba belajar manggilnya Mas." Dia menegaskan. Kembali membahas hal itu.


Aku saja sudah hampir lupa tadi. Tapi ternyata dia masih memikirkannya. Pantas daritadi dia diam saja, padahal aku sudah berkali - kali mengajaknya bicara.


Aku berusaha menahan diri untuk tidak tertawa mendengarnya. Lucu juga melihatnya seperti ini. Sesekali seru juga ngerjain dosen sendiri.


"Saya gak mau kalau belum dengar alasannya." Aku berkata sambil melihat ke arah lain.


Pak Nathan mengacak rambutnya sendiri, frustasi.


"Ya gak lucu lah, masa nanti kamu disangka kakaknya Arsy kalau jalan sama saya."


Aku merengut mendengar alasannya itu. Dengan kesal aku mendorong tubuhnya dan masuk ke dalam mobil.


Alasan macam apa itu! Tinggal bilang saja kan kalau sayang, atau karena aku pacarnya, atau calon istrinya. Kan lebih enak di dengar.


Pak Nathan juga sudah masuk ke dalam mobil, dan mulai menyalakan mesin mobilnya dalam diam.


Ku alihkan tatapanku ke arah jendela, dengan wajah masih cemberut. Aku sengaja tidak mau melihatnya.


Mobil Toyota Alphard hitam miliknya, membelah jalanan kembali ke ibukota, aku masih tetap menatap ke luar jendela memandang lampu - lampu jalanan yang kini menyala, karena hari mulai gelap.


Sunyi tidak ada yang bicara lagi, sampai aku merasakan tangan Pak Nathan terulur meraih tanganku dan menggenggamnya.


Dan itu membuat aliran darahku membeku seketika.


Tindakannya kali ini sukses membuatku menoleh ke arahnya.


Aku melihat senyum tulus terukir di wajahnya, walaupun dia sibuk menyetir, dan matanya masih tetap fokus melihat ke depan.


Siapa yang tidak melting coba kalau di perlakukan begini dengan orang yang kita sukai.....


Ternyata benar kata orang kalau cinta itu bukan hanya sekedar kata - kata.


Semoga tidak ada rintangan yang berat untuk kami berdua, agar bisa melangkah lebih jauh.

__ADS_1


***********************


__ADS_2