DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Kejutan


__ADS_3

Bukan berjanji untuk tidak saling menyakiti tetapi berjanji untuk tetap bertahan ketika salah satu tersakiti__


🌸🌸🌸


Dari dapur, aku mendengar suara Mas Nathan dan Kak Faiz datang. Lalu, terdengar perdebatan di antara mereka. Aku tidak ingin ikut campur. Tidak berapa lama Mas Nathan menghampiriku.


Dia melingkarkan tangannya di perutku.


"Sudah aku bilang, jangan terlalu capek. Kenapa kamu masak? Bi Munah mana?"


"Bi Munah lagi gak enak badan, Mas. Aku suruh istirahat. Kasihan. Lagipula cuma masak kok. Kamu kenapa ke sini?"


Mas Nathan menempelkan bibirnya di tengkukku.


"Maaf, apa dia bicara sesuatu yang buruk?"


"Gak juga. Dia mau ketemu Arsy kan? kenapa kamu gak pernah temui mereka?"


"Nindi, kamu tahu Arsy itu hidupku. Dan aku gak mau mereka ambil Arsy." ucap Mas Nathan.


Aku mengerti Arsy segalanya untuk Mas Nathan. Tapi wanita itu juga nenek Arsy. Mungkin kalau dia mengijinkan wanita itu melihat Arsy, mereka gak akan mengganggu kami lagi.


"Sekarang dia sudah pulang, Faizal udah mengantarnya." kata Mas Nathan lagi.


"Hem syukurlah. Daripada kamu diam, lebih baik bantu aku, Mas."


"Bantu apa sih? kalau bantu habisin makanan aku mau." sahut Mas Nathan, sambil terkekeh menyebalkan.


"Mas..!" aku menepis tangan suamiku itu, yang kini mulai jahil.


"Hehe, oke. Aku bantu."


Mas Nathan pun menggulung lengan kemejanya sampai siku, lalu berjalan menuju meja untuk meraih sayuran.


Setelah itu, ia mulai mencuci sayuran dengan tangannya yang lihai, dan memotong-motongnya.


Aku sendiri sampai terpana.melihat gerakan Mas Nathan yang seperti chef profesional.


Wah dia benar-benar hebat dalam segala hal.


Ternyata ada ya makhluk yang sempurna seperti ini. Dan itu adalah suamiku sendiri.


Setelah berkutat kurang lebih empat puluh menit di dapur, akhirnya masakan selesai. Dan hebatnya semua hampir Mas Nathan yang mengerjakan. Ketika aku ingin menggoreng ikan, ia langsung mengambil alih.


Lalu, ketika aku ingin membuat sambal, dia pun mengambil alih, dan malah menyuruhku untuk duduk manis saja.


Akhirnya hanya Mas Nathan yang memasak, aku cukup memandangnya saja dari kursi di pantry.


Kini makanan sudah tertata rapi di meja makan, dengan menu ikan goreng, sayur, dan sambal. Aku tidak sabar untuk mencicipinya.

__ADS_1


"Wah, Mas keren. Kenapa gak bilang kalau jago masak."


"I'm a genius, sayang." ucap Mas Nathan dengan sombongnya.


"Hoo, suamiku memang genius. Kalau begitu, boleh ya aku minta masakin setiap hari."


Mas Nathan tertawa, lalu mengusap perutku yang sudah mulai membuncit. "Ini permintaan baby, atau mamanya?"


"Hem dua-duanya. Oh iya, tadi kamu kemana sama Kak Faiz?"


Mas Nathan terdiam, dia mengulum senyumnya membuatku curiga.


"Nanti kamu juga tahu."


"Apa sih? kenapa main rahasia begitu? oh jangan-jangan kamu sekongkol sama Kak Faiz ya buat ketemuan sama cewek cantik. Nanti aku bilangin ke Tante Lisa juga loh." ujarku kesal.


Mas Nathan malah tertawa mendengarnya, "Sabar, nanti malam aku kasih tahu, ya."


"Terserah deh, Mas. Terserah kamu aja." aku berjalan menuju ke kamar, meninggalkannya sendiri di sana. Kesal karena dia tidak mau memberitahuku.


"Hei, jangan ngambek dong. Nanti hilang cantiknya loh." seru Mas Nathan.


"Terus kalau cantiknya hilang kamu mau cari istri lagi, gitu?" balasku sinis.


Lagi-lagi dia tertawa. Sungguh menyebalkan. Aku hanya ingin tahu dia pergi dengan Kak Faiz tadi. Mereka lama sekali datang, sampai-sampai aku harus menghadapi Bu Gea sendiri.


Jangan bilang benar kataku tadi? Mereka cari cewek lagi?


🌸🌸🌸🌸


Malam hari,


Aku terbangun begitu mendengar suara berisik di luar kamar, seperti suara televisi yang menyala. Mas Nathan juga tidak ada di sampingku. Kemana dia?


Ini masih jam 12 malam. Apa mungkin Mas Nathan tertidur di bawah?


Karena penasaran, aku pun berniat untuk keluar kamar, mencari Mas Nathan. Begitu bangun dari ranjang, mataku menangkap sesuatu yang menyembul di balik jas Mas Nathan, yang tergantung di belakang pintu. Aku segara meraihnya karena penasaran.


Obat?


Ternyata isinya adalah sebotol kecil obat. Apa ini? kenapa ada di baju Mas Nathan.


Belum sempat rasa penasaranku terjawab, tiba-tiba pintu kamarku terbuka.


Ceklek


Lalu.... muncul dua orang yang sangat ku kenal di sana.


"Surprise.....! ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


Tante Lisa, Kak Faiz sudah ada di hadapanku sekarang. Dua sejoli itu juga menyerangku dengan konferti.


"Apa ini?" ucapku keheranan, melihat mereka ada di sini, tengah malam pula.


Namun, tiba-tiba Mas Nathan datang dari sisi lain, dengan membawa kue tart coklat berbentuk hati. Lalu dia menyanyikan lagu untukku dengan suaranya yang berat dan merdu,


"saeng-il chughahamnida! saeng-il chughahamnida!


jigueseo ujueseo jeil saranghamnida!


kkochboda deo gobge byeolboda deo balg-ge


sajaboda yong-gamhage Happy Birthday to You."


Ya Tuhan... air mataku runtuh saat itu juga. Ini hari ulang tahunku, dan Mas Nathan tersenyum lebar di hadapanku.


"Selamat ulang tahun, istriku." ucapnya lagi, lalu mengecup keningku lama.


"Hiks. Makasih, Mas."


"Tiup dulu dong. Jangan lupa Make a wish." bisik Mas Nathan.


Aku pun memejamkan mata, berdoa dalam hati di umurku sekarang yang menginjak 22 tahun. Doaku utamaku, semoga pernikahanku dengan Mas Nathan langgeng sampai akhir hayat.


Fiuh.


Aku pun meniup lilin berbentuk angka, yang ada di atas kue tart. Sontak semuanya bersorak, dan bergantian mengucapkan selamat padaku.


"Selamat, Nindi." Tante Lisa memelukku.


"Maafin kata-kata tante ya tempo hari."


"Makasih, Tante. Iya aku juga minta maaf, Tan."


"Selamat, ya Nin." kali ini Kak Faiz yang memberi ucapan selamat. Dia hendak memelukku, tapi Mas Nathan segera mencegahnya.


"Eits. Gak usah pakai peluk." ujar Mas Nathan, yang langsung di sambut tawa garing Kak Faiz.


"Nathan itu ya, masih aja curiga sama Faiz." timpal Tante Lisa.


"Dia benar-benar overprotectif."


Aku hanya senyum-senyum menanggapi ucapan Tante Lisa. Hatiku sedang senang sekarang. Mas Nathan ingat ulang tahunku, padahal aku sendiri saja lupa, karena terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini.


Di tambah lagi, besok waktunya kontrol kehamilan, dan menjalani USG. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan bayi dalam perutku, dan bonusnya bisa tahu jenis kelaminnya juga.


Setidaknya, hal baik seperti ini bisa menepis segala pikiran buruk'ku selama ini. Terima kasih, Mas. Ini pertama kalinya dia memberikan kejutan ulang tahun untukku, ulang tahun pertama setelah kami menikah. Dan dengan kado yang paling istimewa. Yaitu, kehadiran jabang bayi di kandunganku.


Untuk sesaat aku lupa, kalau ada hal penting yang harus ku tanyakan pada Mas Nathan perihal obat yang ku temukan tadi. Aku terlalu sibuk. Setelah ini, kami berkumpul bersama di ruang keluarga.

__ADS_1


Tante Lisa dan Kak Faiz akan menginap di sini. Kami mengobrol ngalor-ngidul, karena memang sudah lama tidak berkumpul bersama.


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2