
🌸 Firasat?
Baju bagus checklist.
Aksesoris bagus checklist.
Riasan natural dan glowing checklist.
Persiapan yang matang sudah selesai!
Hari ini aku berencana untuk bertemu dengan my best friend Sarah. Kangen juga setahun tidak bertemu dengannya.
Dan dari kabar yang ku dengar, dia akan menikah awal tahun nanti. Duh, pasti deh mau sekalian nyebar undangan nanti. Tapi aku ikut senang, cewek tomboy macam dia akhirnya menikah juga.
Aku mengambil kunci mobil dari laci meja rias. Jadi, setelah menikah Mas Nathan melarangku pergi mengendarai motor lagi. Mungkin dia takut istrinya yang cantik jelita ini lecet. Hihi.
Sebelum bertemu Sarah, aku akan menjemput Arsy dulu. Kebetulan tempat ku bertemu dengan Sarah adalah di sebuah Mall Kota, jadi aku bisa sekalian mengajak Arsy jalan-jalan dan bermain di sana.
"Bi Munah, aku mau keluar dulu. Oh ya, Mila mana bi?" tanyaku pada Bi Munah yang sedang sibuk menyiapkan makan siang di dapur.
"Mila di kamar Arsy tadi, Neng. Lagi setrika bajunya Arsy."
"Oh, kalau begitu tolong sampein ke Mila, gak usah jemput Arsy ya, Bi. Aku mau jemput Arsy sekalian ajak keluar. Mas Nathan juga udah aku kasih kabar."
"Iya neng." sahut Bi Munah, sambil mengusap peluh di keningnya.
"Jangan terlalu cape, Bi. Istirahat aja dulu." ucapku padanya.
Kasihan juga melihat Bi Munah. Dia hidup sebatang kara, suaminya sudah meninggal. Dan dia mempunyai satu anak yang tidak peduli dengannya.
Untuk itu, Mas Nathan masih mempekerjakan Bi Munah walaupun dia sudah berumur. Beliau juga sudah bekerja di sini lama sekali sejak orang tua Mas Nathan masih hidup. Mungkin itu yang menyebabkan Mas Nathan tidak tega memberhentikan Bi Munah.
"Iya neng. Hati-hati ya di jalan." Bi munah tersenyum. Guratan halus sudah terlihat di wajahnya kini.
Ah, aku jadi merasa tidak enak. Setelah pulang nanti aku harus bicara dengan Mas Nathan. Untuk kesejahteraan Bi Munah, karena dia yang selama ini membantu pekerjaanku di rumah.
🌸🌸🌸
Di mall,
"Nindi.... Ya ampun gue kangen banget." Sarah langsung memelukku, begitu aku tiba di tempat yang di janjikan sebelumnya.
Aku juga membalas pelukan sahabatku itu dengan erat.
"Eh, ada Arsy juga. Halo Arsy." sapa Sarah, begitu sesi berpelukan ala teletubbies selesai.
"Halo tante." sahut Arsy cerah.
"Mau makan? biar tante pesanin." ucap Sarah lagi.
"Hemm. Mama, Arsy mau pesan es krim boleh..?" tanya Arsy, dia beralih menatapku dengan wajah aegyo-nya. Dan kalau sudah begini, aku akan lemah padanya.
"Boleh. Tapi jangan bilang papa ya. Ini rahasia kita."
Arsy tersenyum lebar, memamerkan giginya yang putih dan rapi. Bukan tanpa alasan gigi Arsy rapi seperti itu, Mas Nathan memang sangat membatasi Arsy untuk makan es krim. Dan hanya kepadaku Arsy berani meminta es krim.
Sarah menatapku takjub, di terperangah melihat interaksi di antara kami.
__ADS_1
"Wah kalian kompak banget ya."
"Hehe iya begitulah."
Sarah lalu memanggil waitress, dan kami mulai menyebutkan pesanan satu persatu bergantian. Setelah waitress itu pergi, Sarah merogoh tas yang sejak tadi di pegangnya dengan erat. Lalu mengeluarkan sesuatu dari sana, yaitu sebuah undangan dengan tinta emas bertuliskan namanya.
Aku tersenyum simpul menatap benda itu. Duh ternyata benar kan dugaanku tadi.
"Ciee, yang mau nikah." godaku padanya.
Sarah tersipu malu, semburat merah terlihat dari pipinya yang sekarang ini lebih terawat di banding saat kuliah dulu. Jatuh cinta memang dapat merubah seseorang.
Sarah yang dulu tomboy dan hobi beladiri, kini berambut panjang dan berubah feminim. Dia sangat cantik. Aura bahagia karena akan menikah, keluar dari wajahnya.
"Jadi calonnya orang mana?" tanyaku lagi.
"Dia bos gue, Nin." jawab Sarah dengan wajah tersipu.
"Wih cinlok dong ya. Gimana orangnya?"
"Baik, tipe pekerja keras. Dia juga lebih tua tiga tahun dari gue." ujar Sarah dengan mata berbinar. Aku tahu dia sangat menyukai pria itu. Terlihat dari sinat matanya sekarang.
Dan melihatnya, aku jadi bertanya-tanya, apakah dulu mataku juga terlihat begitu saat menceritakan sosok Mas Nathan pada Sarah?
"Permisi, ini pesanannya." waitress tadi kembali, dengan membawa semua pesanan kami.
Arsy memesan es krim dengan burger, sedangkan aku, memesan kentang goreng dengan segelas cola, begitu juga Sarah..
Setelah mengucapkan terima kasih pada waitress itu, dia pun kembali meninggalkan meja kami. Arsy langsung melahap es krim coklat kesukaannya itu.
"Jadi, lo harus datang ya, Nin. Jangan lupa ajak Pak Nathan." ujar Sarah, dengan wajah mengancam.
"Ada beberapa sih, ah iya nanti Micky datang loh."
Keningku mengernyit, mencoba mengingat siapa itu Micky. Ah iya, Micky yang itu toh. Aku ingat sekarang. Si cowok rese dan playboy.
"Kenapa lo undang dia sih?"
"Lo pasti gak percaya ini, Micky itu saudaraan sama calon suami gue."
Aku terperangah mendengarnya. Ternyata benar, dunia itu tidak selebar daun kolor, eh kelor maksudku.
"Kalau lo gimana? udah jadi belum?" Sarah kini balik bertanya, sambil menatapku antusias.
Hemm aku tahu nih maksud pembicaraan Sarah. Yah, bukannya aku tidak ingin, tapi memang Tuhan belum memberikannya.
Tiba-tiba ponselku bergetar, untunglah. Aku jadi tidak perlu menjawab pertanyaan Sarah barusan. Rasanya malas sekali menjawab hal itu.
Nama Mas Nathan tertera di layar ponselku. Segera ku geser tombol hijau, untuk menghubungkan sambungan telepon.
"Ya, mas."
[ .... ]
[ Iya aku sama Arsy. Oh nggak usah jemput, aku bawa mobil ke sini. ]
[... ]
__ADS_1
[ Iya. Oke. Bye.]
Setelah mematikan sambungan telepon ,aku beralih menatap Arsy yang sudah menghabiskan semua makanannya.
"Arsy, tadi papa telepon. Kamu mau langsung pulang sekarang, atau main dulu?."
"Arsy mau pulang aja, Ma."
Aku tersenyum meng-iyakan. "Sar, gue balik ya. Mas Nathan udah pulang. Terus gue juga harus siapin barang-barang buat dia, besok mau ke luar kota. Urusan bisnis."
"Yah....." wajah Sarah terlihat kecewa.
"Nanti kita ketemu lagi ya. Kalau sempat main aja ke rumah." ucapku, seraya tersenyum padanya.
Aku juga sebenarnya masih kangen padanya, hanya saja sekarang statusku bukan gadis single lagi. Jadi waktunya memang terbatas untuk kumpul-kumpul bersama teman sekarang.
Sarah mengangguk, lalu kembali memelukku sebagai salam perpisahan.
"Hati - hati ya... See you."
🌸🌸🌸
Sampai di rumah,
Aku langsung naik ke kamar, menemui Mas Nathan. Begitu membuka pintu, aku melihat Mas Nathan sedang merebahkan tubuhnya di kasur masih memakai baju kemejanya lengkap, dengan sepatu.
Aku menghela napas, lalu menghampirinya.
"Mas..."
Mas Nathan membuka matanya, dia tersenyum begitu melihatku datang.
"Copot dulu dong sepatunya." aku duduk di atas kasur lalu menumpukan kakinya di kedua pahaku, agar bisa melepaskan sepatu Mas Nathan.
Setelah sepatu terlepas, dia menarikku ke dalam pelukannya.
"Ikut saja ya ke Jogja."
Dengan perlahan, aku membalikkan tubuh, agar bisa bertatapan langsung dengannya.
"Kalau aku ikut siapa yang jaga Arsy?"
"Ada Mila."
Aku tersenyum kecil, lalu membelai anak rambut Mas Nathan yang menutupi keningnya.
"Mila biar bantu Bi Munah, Mas. Kasihan Bi Munah nanti pekerjaannya berat. Berapa lama mas di sana?"
"Sekitar tiga hari. Cuma mau cek keadaan di sana. Ada laporan yang tidak sesuai. Saya harus cek langsung."
Aku mengangguk mengerti. Kasihan sekali Mas Nathan, dia pasti lelah sekarang. Baru saja pulang dari kampus, harus langsung berangkat ke Jogja juga sore ini.
Sebenarnya aku ingin melanjutkan pembicaraan tentang Bi Munah, tapi sepertinya tidak bisa sekarang.
Karena dia sudah menenggelamkan wajahnya di leherku, dan memberikan kecupan kecil di sana. Hembusan napas Mas Nathan yang hangat berhasil membuatku memejamkan mata.
Entah kenapa perasaanku tidak enak, ini pertama kalinya Mas Nathan meninggalkanku di rumah dengan Arsy setelah menikah.
__ADS_1
Semoga saja semua baik - baik saja. Tidak ada masalah yang berarti, dan aku bisa menjalankan tugasku dengan baik meskipun Mas Nathan tidak ada di rumah.
🌸🌸🌸