DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Chapter 27


__ADS_3

*Igeon amu gamdong eopsneun love story


Eotteon seollemdo eotteon uimido


Negen mianhajiman, Iโ€™m not sorry


Oneulbuteo nan nan nanโ€ฆ


Bicci naneun sollo


Bicci naneun sollo


Iโ€™m going solo


Iโ€™m going solo*


Ini adalah waktuku untuk Me Time. Arsy sudah berangkat dengan Mila. Dan aku menyuruh Mila agar menunggu Arsy di sana sampai pulang, khawatir peristiwa kemarin terjadi lagi. Sedangkan Bi Munah sedang berbelanja ke pasar.


Dengan hanya menggunakan tank top dan hotpants, aku mulai bernyanyi lagu Jenny - Solo yang sedang di putar di playlist, sambil terus berkutat di dapur membuat cemilan untuk Arsy.


Yah, walaupun sudah menikah, tapi jiwa Kpop -ku tidak pernah pudar. Bahkan Arsy sudah mulai terkena virus Kpop, karena sering mendengar lagu dari Korea Selatan itu.


"Hemm wangi. Sepertinya berhasil." aku tersenyum puas, menatap brownis coklat kukus yang telah ku buat. Teksturnya pas dan lembut, dan aroma coklat yang manis menguar dari brownis itu. Percobaan pertama berhasil. Semoga Arsy dan Mas Nathan suka nanti, karena hari ini Mas Nathan akan pulang.


Brownis coklat, lebih nikmat kalau di temani kopi.


Hemm di mana Bi Munah simpan kopinya ya?


Aku mulai mengedarkan mata ke sekeliling, dan membuka lemari kitchen set satu-persatu. Ah, itu dia.


"Kenapa Bi Munah simpan wadah kopi di atas sih."


Dengan tinggiku yang tidak seberapa, tentu saja membuatku kesulitan untuk mengambilnya.


Aku mulai berjinjit untuk mengambilnya, dengan tangan yang menggapai ke atas.


Dan itu masih tetap sulit.


"Eh!" aku memekik kaget, saat sebuah tangan membantuku menggapai wadah kopi. Hampir saja aku mendorongnya.


"Mas Nathan?"


"Nih ambil." ujar Mas Nathan, menunjuk wadah kopi di tangan kanannya.


"Makasih, mas. Hehe. Kaget aku. Kirain siapa."


"Oh jadi ini penyebabnya, pantas saya udah tekan bel berkali-kali tapi gak ada yang bukain pintu." Mas Nathan meraih ponselku yang sejak tadi mengeluarkan musik dengan volume kencang.

__ADS_1


"Hehe maaf mas." aku segera mematikan musiknya.


"Mau kopi?"


"Boleh." sahut Mas Nathan. Wajahnya terlihat datar, sambil terus mencuri pandang ke arah tubuhku.


"Aku tunggu di ruang tengah ya."


Mas Nathan pun berlalu tanpa menatapku lagi.


Aku pun melirik ke arah penampilanku sendiri sekarang. Ya ampun, pantas saja dia seperti itu, aku lupa kalau hanya mengenakan tanktop dan hotpants sekarang.


Bahkan tadi aku melihat jakun Mas Nathan naik turun. Ah aku jadi ingin menggodanya. Padahal sudah resmi, tapi dia masih saja kikuk seperti itu.


"Ini Mas kopinya. Kamu pasti capek ya..." aku meletakkan kopi di meja, lalu duduk di sebelahnya sambil menyilangkan kedua kaki.


Mas Nathan mulai menghirup kopi itu. dasi dan dua kancing kemejanya sudah terbuka.


Aku mulai melancarkan serangan dengan bersandar di bahunya, aku benar-benar merindukannya. Bahkan detak jantungnya pun kini terdengar merdu.


Mas Nathan tersenyum, "Kamu benar- benar niat yaa... jadi mau lanjut proyek adik Arsy?"


"Haha. Mas gak capek?"


"Capeknya hilang. Habis lihat pemandangan indah tadi di dapur."


Tadinya aku ingin bercerita tentang Bella begitu Mas Nathan pulang, tapi sepertinya harus di tunda dulu. Karena ada yang lebih penting dari itu.


Yaitu mewujudkan proyek adik pesanan Arsy.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tok. tok. tok


"Mama....."


Aku terbangun begitu mendengar ketukan pintu dan suara Arsy memanggil dari luar kamar. Mas Nathan sudah tertidur pulas di sampingku dengan masih bertelanjang dada.


"Mama..." panggil Arsy lagi dengan sedikit kencang, mungkin dia lelah karena aku tidak juga membukakan pintu.


Dengan cepat, aku meraih baju yang berserak di lantai untuk menutupi tubuhku, lalu bergegas membuka pintu sebelum Arsy berteriak lagi.


"Ya sayang..."


"Papa sudah pulang?" tanya Arsy, dia melongokkan kepala.melihat Mas Nathan yang tertidur di atas ranjang.


"Iya. Papa tidur. Ada apa Arsy."

__ADS_1


"Ada Oma datang, mah."


Mamaku datang?


"Oh iya, bilang sama Oma suruh tunggu mama ya. Nanti mama ke bawah


Arsy mengangguk. "Oke."


Setelah kepergian Arsy, aku segera menutup pintu. Dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, aku menghampiri Mas Nathan dan duduk di pinggir ranjang.


"Mas, aku ke bawah ya."


Mas Nathan membuka matanya sedikit, "Mau kemana? saya masih kangen." dia memeluk pinggangku, sambil menyandarkan kepalanya.


"Ada mama datang. Kayaknya penting sampai dia datang ke sini."


Kali ini mata mas Nathan sudah terbuka sepenuhnya. "Oh ya?"


"Hemm. Aku turun ya."


"Ya sudah. Kamu duluan aja. Saya nanti nyusul."


"Iya....." aku mengecup pipinya sekilas, lalu beranjak pergi menemui mamaku di lantai bawah.


Sesampainya di bawah, aku melihat mama sedang menonton TV dengan Arsy di ruang tengah, sambil memakan brownis yang ku buat tadi.


"Mama...." aku menghampiri mama, dan memeluknya dengan erat.


Dia membalas pelukanku, sambil tersenyum. Tapi ada yang aneh dengan senyuman mama. Selama ini aku hanya hidup berdua dengannya, jadi aku sangat tahu jika ada hal yang di sembunyikan oleh mamaku itu.


"Ma, ada apa?"


Aku mulai panik ketika melihat mata mama mulai berkaca-kaca. Perasaanku di liputi ketakutan saat itu juga. Tidak biasanya mama seperti ini.


"Arsy..." aku beralih menghampiri Arsy, yang kini menatap dengan ekspresi bingung, tak mengerti.


"Arsy di kamar dulu ya sama Mba Mila. Mama mau temani oma dulu."


"Iya mama..." Arsy mengangguk, lalu berlari menuju kamarnya.


Tangis mama pecah begitu Arsy tidak terlihat lagi.


Aku hanya bisa memeluknya, berusaha menenangkan mama, karena sejak tadi tidak ada kata yang keluar dari mulut mamaku, selain kata "Maaf"


Yang aku tidak mengerti, kenapa mama terus mengucapkan maaf padaku?

__ADS_1


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


__ADS_2