
"Mas, aku mau kerja."
Mas Nathan tidak menjawab. Dia masih sibuk mengeluarkan pakaiannya dari koper. Satu jam yang lalu, setelah kepulangan mama, aku memberitahu perihal mama pada Mas Nathan.
Jadi, mamaku tertipu oleh temannya, dan sekarang usaha mama failed, di tambah lagi harus mengembalikan uang investor yang jumlahnya fantastis untukku.
Aku memang dari dulu tidak tahu tentang usaha mama, tapi bagiku mama adalah segalanya. Mama sudah berjuang menghidupiku seorang diri tanpa sosok ayah, setelah ayahku meninggal.
Jadi sudah menjadi kewajibanku untuk membantu mama bukan?
Tapi sudah satu jam Mas Nathan diam saja, ketika aku mengatakan mau bekerja. Mama datang ingin meminta bantuanku, tapi ternyata Mas Nathan pun sedang kesulitan. Usaha resto Green sedang bermasalah, karena adanya kecurangan dari pihak dalam.
Sedangkan hasil menjadi dosen memang lumayan besar, tapi itu tidak cukup untuk melunasi hutang mamaku.
"Mas...." aku memanggilnya kembali, berharap kali ini Mas Nathan bicara.
"Saya gak mau kamu kerja." sahut Mas Nathan.
"Tapi aku harus bantu mama, Mas. Gak mungkin aku biarin mama gitu aja."
"Saya yang usahakan nanti." tegas Mas Nathan. Kali ini dia menatapku dengan tajam.
Memang apa salahnya kalau aku juga bekerja?
Toh di rumah pun aku tidak ada pekerjaan. Ini juga ku lakukan untuk mamaku.
"Aku cuma gak mau repotin kamu, Mas."
Mas Nathan menutup kopernya dengan kencang, membuatku berjengit kaget.
"Sekali gak, tetap gak!"
Hiks. Aku menangis saat itu juga mendengar nada bicara Mas Nathan yang mulai kencang. Hatiku memang lemah, tidak bisa di bentak sedikit saja.
"Kamu gak percaya sama saya? huh?"
Aku menggeleng pelan. Beringsut mundur ketika Mas Nathan mulai maju mengikis jarak denganku.
"Dengar Anindira, kamu itu tanggung jawab saya. Jadi tolong turuti ucapan saya."
Aku hanya terdiam, ketika tangan Mas Nathan terulur mengusap air mataku. Entahlah, rasanya ada yang berbeda dengan Mas Nathan kali ini ketika aku melihat kedua matanya.
Aku merasa Mas Nathan kembali seperti dulu.
***********
Esoknya,
Jika di hari biasa, sarapan di ruang makan akan selalu ramai dan ceria, tapi tidak untuk kali ini.
Mataku yang sembab, membuat penghuni rumah yang lain enggan untuk membuka mulutnya. Beberapa kali ku lihat, Arsy menatap ku dan Mas Nathan bergantian. Sepertinya dia sadar ada yang berbeda dari kedua orang tuanya.
Aku memberi isyarat pada Mila agar segera membawa Arsy pergi ke sekolah.
__ADS_1
"Arsy, ayo kita berangkat. Sarapannya udah selesai kan?" ucap Mila.
Arsy menghela napas, kemudian meletakkan sendoknya dengan kencang.
"Ayo!" jawabnya acuh.
"Belajar yang pintar ya sayang." ujarku pada Arsy, ketika dia mendekat untuk mencium tanganku.
Arsy hanya megangguk seraya tersenyum kecil. Tidak lama Arsy pergi, Mas Nathan pun beranjak dari duduknya.
Dia meraih tas yang sudah ku siapkan di meja, kemudian berlalu begitu saja tanpa pamit denganku.
Rasanya sesak sekali. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi istri yang baik.
Tapi seperti ini kah balasannya?
Jangankan meminta maaf karena membentakku semalam, bicara pun tidak.
"Sabar ya, Neng. Den Nathan mungkin lagi banyak pikiran, jadi begitu." Bi Munah datang mengusap punggungku dengan lembut.
Aku segera menghapus air mata, dan berusaha tersenyum padanya.
"Makasih, Bi."
"Neng Nindi istirahat aja yah, biar ini bibi yang bereskan."
Aku mengangguk dan segera naik ke lantai atas, menuju kamarku.
Setibanya di sana, aku segera meraih ponsel dan mengirim pesan untuk Sarah.
Tidak berapa lama pesanku terbaca, dan Sarah mulai mengetik balasan...
[ Ada. Jadi lo mau kerja juga? ]
Tadinya aku ingin memberitahunya di pesan, tapi sepertinya lebih enak bertemu langsung.
[ Ketemuan yuk. Mau cerita ]
Sedetik kemudian Sarah kembali membalas
[ Ok ]
Huffh. Ini keputusan yang berat memang. Tapi aku harus maju. Mas Nathan pasti mengerti kalau aku bicara dengannya lagi nanti. Seperti kata Bi Munah, mungkin sekarang dia sedang banyak pikiran jadi bersikap seperti itu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
POV NATHAN
Pikiranku sedang kalut saat ini. Resto Green sedang bermasalah, ini karena sepupuku menggelapkan dana hasil penjualan hampir di semua cabang. Padahal aku sudah memberikan kepercayaan penuh padanya.
Memang ya, manusia itu makhluk hidup yang paling serakah.
Seperti yang aku alami sekarang, aku tidak ingin kehilangan usahaku dan juga Anindira.
__ADS_1
Mama mertuaku sedang terlibat hutang yang jumlahnya cukup fantastis, kalau saja Restoku sedang tidak bermasalah, saat ini juga aku sudah bisa membantunya.
Anindira ingin bekerja?
BIG NO!
Aku laki-laki masih punya harga diri. Lagipula aku tidak ingin hal buruk terulang lagi seperti masa lalu.
Mendengar Anindira ingin bekerja, sekelebatan pikiran buruk datang menghantuiku.
Malam itu, aku di kuasai kembali oleh amarah.
Sehingga Anindira menangis.
Sepertinya aku harus kembali menemui Faizal nanti sepulang dari kampus.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu mengagetkanku. Seorang mahasiswi melongokkan wajahnya dari balik pintu.
"Pak, boleh saya masuk?"
"Ada apa?"
Mahasiswi itu tidak menjawab pertanyaanku, dia justru langsung masuk ke dalam ruangan. Sungguh tidak sopan!
"Pak saya menemui bapak, karena mau membahas soal kuliah akhir saya."
"Apa?" sahutku cepat. Tidak percaya dengan kata-kata yang barusan ku dengar.
Mahasiswi itu menghela napas.
"Saya mau bahas soal tugas akhir, Pak. Karena nama bapak ada di papan pengumuman sebagai dosbing saya."
Aku langsung mengumpat di dalam hati, Pak Radit yang menjabat sebagai kepala jurusan, bisa-bisanya dia menjadikanku dosen pembimbing. Hanya karena tahun lalu aku mengajukan diri menjadi dosen pembimbing bukan berarti aku terus berminat. Dulu ku lakukan karena Anindira.
Aku melirik kembali ke arah mahasiswi di depanku. Penampilannya sangat cuek, matanya tidak berhenti melihat ke sekeliling.
"Kamu...!"
"Rina Pak, nama saya Rina. Arina aluansyah."
Mahasiswi bernama Rina itu dengan pede-nya mengulurkan tangan padaku. Sungguh tidak beradab.
Tentu saja aku tidak menanggapinya.
Ku lihat Rina menurunkan tangannya kembali, sambil menundukkan wajah. Sadar juga dia, kalau aku bukan dosen yang mudah di hadapi.
"Saya akan pikirkan nanti. Lebih baik kamu keluar dari ruangan saya."
"Hemm ya, Pak. Permisi."
Aku menghela napas berat setelah kepergian Rina. Arggh. Pak Radit! aku harus menemuinya sekarang.
__ADS_1
Dia hanya menambah pekerjaanku saja. Ini pasti karena minggu lalu aku berkata ingin berhenti jadi dosen di sini.
*************