DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
Kabar baik


__ADS_3

*** Lihatlah... akan ada pelangi sesudah badai. Jika kita terus bersabar menantinya.__.


POV AUTHOR_


Sidang pertama Bella...


Nathan datang ke pengadilan, untuk melihat sidang tersebut. Dia duduk memandang Bella dengan tatapan kosong, penuh kebencian.


Beberapa saksi maju, seperti Rina, pegawai Resto Green, dan bukti berupa rekaman CCTV.


Di samping Nathan, Bu Gea duduk sambil terisak. Sejahat apa pun Bella, tetap saja Bu Gea tidak bisa membenci putrinya tersebut.


Setelah vonis di bacakan, Nathan segera keluar dari ruangan. Dia tidak sanggup berlama-lama di sana. Tubuhnya terus menegang karena marah.


Namun, baru saja Nathan ingin pergi, Bella berteriak memanggil namanya.


Dengan kedua tangan di borgol, Bella menghampiri Nathan. Penampilannya sangat berantakan. Berbeda dengan biasanya.


"Mas Nathan... tolong maafin aku. Hiks." Bella terisak dalam. Entah dia benar menyesal atau tidak, tapi wajahnya di penuhi oleh air mata sekarang.


Nathan hanya memandang wanita itu dengan dingin. Sungguh hatinya terasa beku saat ini. Tak ada rasa... tak ada ekspresi. Dia seperti mayat hidup yang berjalan.


"Mas, aku melakukan ini karena aku mencintai kamu. Bukankah dulu kita dekat? aku lebih dulu mengenal kamu. Seharusnya kita bisa bersama lagi sekarang."


Menjijikan!


Itu yang di rasakan Nathan sekarang, tanpa menjawab apa-apa, ia pergi dari tempat itu, menepis kasar tangan Bella yang mencoba untuk menyentuhnya.

__ADS_1


"Mas...! aku cinta sama kamu." pekik Bella, dia di tahan oleh beberapa polwan karena mencoba untuk berontak.


"Lepasin! Mas Nathan.....huhu. Mas..."


Nathan tetap berjalan, sudah cukup. Dia sudah muak dengan drama yang di lakukan oleh Bella.


Saat sampai di tempat parkir, ponsel Nathan berbunyi. Nomor tak di kenal. Dengan sedikit ragu Nathan mengangkatnya.


"Halo."


[........]


Mata Nathan terbelalak, ekspresi wajahnya yang semula dingin dan pucat, kini kembali bercahaya, harapan itu datang....


"Baik, saya akan segera ke sana."


Nathan mematikan ponselnya, lalu dengan terburu ia memasuki mobil. Jantungnya berdetak cepat, mendengar kabar bahagia dari pihak rumah sakit.


Nathan menangis sepanjang perjalanan, tangisan bahagia dan haru. Dia tidak sabar untuk memeluk tubuh Nindi, merengkuhnya erat, sampai Nindi sendiri yang meminta untuk di lepaskan.


🌸🌸🌸


Di rumah sakit...


Beberapa kali Nathan terhuyung dan terjatuh ketika ia berlari turun dari mobilnya, menuju ruangan Nindi.


Para dokter dan perawat hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah Nathan. Mereka sudah hapal dengannya. Pria tampan yang sangat setia, menunggu istrinya sadar dari koma.

__ADS_1


Sampai di depan ruangan, Nathan melihat di sana sudah ramai. Ada Mama Lusi, Lisa dan Faizal.


Mereka menoleh bersama begitu Nathan datang dan berdiri di ambang pintu.


"Itu Nathan sudah datang." ucap Mama Lusi.


Nathan perlahan masuk, pandangannya lurus menatap Nindi tanpa berkedip.


Semua orang menyingkir keluar, membiarkan mereka bersama di ruangan itu.


"Sayang...."


Anindira hanya bisa tersenyum lemah. Kondisinya masih belum stabil, Namun dokter sudah melepaskan separuh selang yang menancap di beberapa bagian tubuhnya.


"Ya....Ma.. Mas."


Nathan mengecup keningnya, lalu kedua tangan Nindi. Mulutnya tak henti mengucapkan kata syukur kepada Tuhan.


"Selamat datang sayang..." ucap Nathan.


"Terima kasih, Mas." mereka menangis bersama.


Satu Minggu lebih Nindi koma, tentu saja meninggalkan luka yang dalam untuk Nathan. Ketika harapannya semakin menipis, kabar baik itu datang membuat harapan Nathan melambung.


"Aku mencintaimu." bisik Nathan lirih, tepat di telinga Nindi.


Istrinya itu hanya bisa tersenyum, tubuhnya masih terasa lemah. Akibat koma yang di alaminya, beberapa otot di tubuh Nindi jadi sulit untuk di gerakkan.

__ADS_1


Namun menurut penjelasan dokter padanya, itu hanya bersifat sementara efek dasar dari koma. Nanti akan sembuh dengan sendirinya, asalkan pasien banyak latihan gerakan dasar dan mengatur asupan makanan.


🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2