
"Nyonya Anindira." panggil seorang perawat di rumah sakit.
"Ya."
"Ruangan nomor 3 ya, Dokter Ria."
Aku mengangguk dan berjalan menuju ruangan yang di tunjuk oleh perawat tadi .
Kandunganku sudah memasuki usia empat bulan. Dan hari ini adalah jadwalnya untuk pemeriksaan dan USG.
Rasanya sudah tidak sabar untuk melihat keadaan baby di perutku ini.
Sayang sekali, hari ini Mas Nathan tidak bisa ikut. Karena dia masih ada pekerjaan di kampus dan Resto.
"Selamat siang, Anindira. Silakan duduk." ucap Dokter Ria, begitu aku memasuki ruangannya.
"Terima kasih, Dok."
"Datang sendiri? Pak Nathan mana?" tanya Dokter Ria, sembari memeriksa tensi darahku.
"Masih ada pekerjaan yang gak bisa di tinggal. Kalau masih sempat katanya sih mau menyusul."
Dokter Ria menganggukkan kepala. Guratan halus terlihat di wajahnya yang sudah tidak muda lagi, sekitar 40 tahunan mungkin. Tapi wajah itu masih tetap cantik.
"Silakan berbaring di ranjang ya. Kita mulai USG."
Aku menuruti kata Dokter Ria, berbaring perlahan di atas ranjang. Dengan cekatan Dokter Ria membantuku. Tangannya mulai meraba perutku dengan alat USG.
Di layar pun sudah terlihat, bentuk janin yang belum sudah mulai sempurna anggota badannya. Dokter Ria menjelaskan tentang berat badan bayi, posisi kepala, lingkar kepala, dan lain-lain.
Aku mendengarkan dengan seksama semua penjelasannya.
"Ini mau di print?"
"Iya, Dok. Aku mau kasih lihat ke Mas Nathan."
Dokter Ria tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba aku penasaran ingin bertanya sesuatu padanya.
"Dok, saya dengar dulu Jihan juga periksa sama Dokter ya?"
"Suami anda yang cerita?"
Aku mengangguk, sambil kembali bangun karena USG sudah selesai.
"Iya, dulu periksa di sini. Anaknya sudah besar ya? bagaimana kabar Jihan sekarang?" tanya Dokter Ria, dia kembali duduk di kursinya.
Apa ini? Dokter Ria tidak tahu kalau Jihan sudah meninggal?
"Jihan sudah meninggal, Dok. Memang Dokter nggak tahu?"
Tangan Dokter Ria berhenti menulis. Dia kemudian menatapku.
"Ah jadi begitu. Pantas saja. Saya pikir tidak mungkin kalau Pak Nathan meninggalkannya, karena dia juga kelihatan begitu mencintai Jihan dulu."
Aku tertegun mendengar ucapan Dokter Ria. Jadi selama ini dia tidak tahu. Jangan-jangan dia menganggapku pelakor?
"Oh maaf, saya sudah berkata yang tidak-tidak. Maafkan saya ya." kata Dokter Ria lagi.
"Tidak apa, Dok."
"Ini resep obat dan vitaminnya ya. Silakan di minum 3 kali sehari."
Aku mengambil resep itu, dan mengucapkan terima kasih pada Dokter Ria.
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama. Di jaga ya kandungannya. Dan sampaikan pesan saya ke Nathan, puasanya sudah boleh buka." ucap Dokter Ria sambil tersenyum simpul menggoda.
🌸🌸🌸
Aku tersenyum sumringah menatap hasil USG tadi. Tidak sabar untuk memberi tahu pada Mas Nathan.
"Pak ke jalan X ya. Resto Green." ucapku pada pengemudi taksi.
"Baik, Bu."
Mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. Kenapa Resto Green?
__ADS_1
Karena Mas Nathan bilang dia ada di sana. Dan aku sudah tidak sabar untuk memberitahu padanya hasil pemeriksaan hari ini. Lagipula aku bosan kalau terus di rumah. Arsy pun belum pulang sekolah.
Dia pasti terkejut kalau aku tiba-tiba datang seperti ini. Biar saja! anggap ini pembalasan kejutan yang dia lakukan minggu kemarin untukku.
Sampai di Resto, aku segera turun dari Taksi. Ini pertama kalinya aku mendatangi Resto Green cabang Jakarta.
Suasana Resto terlihat ramai di jam makan siang seperti ini. Syukurlah, sepertinya bisnis Mas Nathan sudah kembali berjalan dengan baik.
"Selamat datang, apa sudah reservasi?" seorang waitress cantik berwajah bulat, menyambutku di pintu masuk.
"Oh tidak, Mbak. Saya mau ketemu Mas.. eh Pak Nathan."
"Oh Pak Nathan? dia di ruangannya, lantai atas. Maaf dengan mbak siapa? biar saya panggilkan."
"Gak usah, Mba. Biar saya ke sana sendiri." sahutku cepat.
Baru saja hendak melangkah, waitress itu kembali mencegahku.
"Mbak, maaf tapi tunggu di sini saja. Saya takut Pak Nathan marah."
Marah? tidak mungkinlah.
Aku berusaha tersenyum padanya, mungkin dia tidak tahu siapa aku.
"Dia gak akan marah, Mbak. Saya istrinya."
Waitress itu terpaku menatapku. Dia melepaskan tangannya, sehingga aku bisa kembali melangkah.
Duh, ada-ada saja!
Tapi dia tidak salah juga sih. Aku belum pernah datang ke sini, jadi tidak ada yang tahu kalau aku ini istrinya. Cabang ini kan baru di buat setelah kami menikah.
Di lantai atas hanya ada satu ruangan. Itu pasti ruangan Mas Nathan.
Tok. Tok.
Aku mengetuk pintu dengan tidak sabar.
"Ya.. masuk aja." sahut suara berat Mas Nathan di dalam.
Aku pun membuka pintu dengan perlahan.
Mas Nathan terlihat kaget, dia yang sedang duduk menghadap laptop langsung berdiri menghampiriku.
"Anindira? kok kamu bisa di sini?"
"Bisa dong... kan mau ketemu suami aku."
Mas Nathan tersenyum, lalu menarik tanganku untuk duduk di sofa kecil yang ada di sana. Ruangan ini memang tidak begitu besar.
Hanya ada satu buah kursi dan meja, dan sofa kecil dan lemari sedang di sudut ruangan.
"Jadi, apa segitu kangennya sampai gak bisa tunggu di rumah? huh?"
Duh! dia percaya diri sekali.
"Kalau iya, kenapa?" aku membalas menggodanya dengan mengalungkan tangan di leher Mas Nathan.
"Aku takut kamu capek, Sayang."
"Ini hasil USG hari ini. Aku mau cepat-cepat kasih lihat kamu."
Mas Nathan tertawa lebar, mata elangnya menyipit menatap hasil print USG yang ku serahkan.
"Terima kasih." ia mengecup pipiku.
"Maaf tadi aku gak bisa antar kamu."
"Gak apa, Mas. Aku tahu kamu sibuk. Oh iya ada pesan dari Dokter Ria."
"Apa itu?"
Aku mulai membisikkan pesan dari Dokter Ria tadi, membuat telinga Mas Nathan memerah. Malu.
"Senang?"
"Tentu saja. Kalau begitu, kamu harus bersiap nanti malam." ujar Mas Nathan, sambil mengerling nakal padaku.
__ADS_1
Akibat ucapannya, tanganku melayang, memukul lengannya dengan gemas. "Sudah ah, ayo turun! aku mau makan."
Baru saja aku ingin berdiri, Mas Nathan malah menarik tanganku dan menahannya, hingga tubuhku kembali ambruk di sofa dan tidak bisa bergerak.
Jemari tangan Mas Nathan mulai membelai wajahku, tatapannya sangat lembut membuatku meleleh.
"Terima kasih untuk segalanya."
Senyumku merekah menanggapi ucapannya, perasaan menggebu tiba-tiba datang melihat sikapnya yang lembut padaku.
Tanpa aba-aba, aku mulai mengecup bibirnya. Sekilas, namun bisa membuat tubuh ini berdesir.
Mas Nathan terbelalak, "Oh, aku suka Anindira yang agresif seperti ini."
Apa?
Dia pasti sengaja menggodaku lagi sekarang.
"I..i.itu gak sengaja. Spontan!."
Siapa yang tahan coba di pandangi seperti itu dengan pria tampan?
Suami sendiri pula!
Mas Nathan tertawa kecil, "Sengaja juga gak apa-apa. Kan sudah hak milik. Feel Free."
Astaga!
Dia niat sekali membuatku malu. Rasanya tubuhku memanas saat ini. Beberapa minggu tidak tersentuh olehnya, membuat pikiranku kotor sekarang. Dasar mesum kau, Nindi.
"Bagaimana kalau sekarang?" bisik Mas Nathan.
"Berhenti menggoda aku, Mas!"
"Aku serius. Kamu yang menggoda tadi kan. Sekarang tanggung jawab!" kata Nathan lagi. Ekspresi wajahnya serius, membuatku takut.
Dia serius ingin melakukannya sekarang?
Di sini?
Di tempat ini juga?
Wajah Mas Nathan semakin dekat tanpa bisa ku cegah lagi. Walaupun mulut ini berkata tidak, tapi entah kenapa tubuhku tidak bisa bergerak.
Aku memejamkan mata ketika dia mulai menautkan bibirnya, semakin lama semakin dalam dan cepat. Ciumannya kini beralih ke wajah dan leherku.
Dia juga menggigit kecil dan meninggalkan kissmark di sana. Ruangan yang tadinya sejuk karena AC, berubah panas Tidak peduli berada di mana, satu hal yang aku tahu sekarang, bahwa aku menginginkannya.
Brakk!
Suara benda jatuh mengagetkan kami. Mas Nathan pun melepaskan dirinya, dan menoleh ke belakang.
Ya Tuhan...
Ini kesalahanku! Saat masuk tadi, aku lupa menutup pintu dengan rapat.
Akibatnya sekarang, seorang gadis yang tadi menyambutku di bawah, kini tengah berdiri canggung di ambang pintu.
Mas Nathan terlihat marah padanya, "Kamu gak bisa ketuk pintu dulu, hah?!"
Raut wajah gadis itu memucat. Ia menundukkan wajahnya dalam, lalu mengambil buku menu yang sepertinya terjatuh tadi.
"Maa... maaf Pak. Karena pintunya terbuka, jadi...."
Mas Nathan melotot padanya, membuat perkataan gadis itu terhenti. Aku baru melihat tag nama yang tertera di seragamnya, Rina.
Ah kasihan sekali dia. Padahal ini juga bukan sepenuhnya kesalahan dia. Ini salahku!
"Mas, sudah." aku berusaha menenangkan.
"Kenapa masih berdiri di situ?"
Gadis bernama Rina itu mengangguk, lalu melesat pergi meninggalkan ruangan.
Sontak saja suasana menjadi canggung di antara kami.
Benar-benar Akward. Pelajaran hari ini adalah, jangan lupa kunci pintu sebelum berbuat.
__ADS_1
*Catat itu Anindira!
🌸🌸🌸*