DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )

DOSENKU DUREN ( DUDA KEREN )
POV 6 NATHAN


__ADS_3

Aku menemukannya sedang berjongkok sendiri di trotoar pinggir jalan.


Apa sih sebenarnya isi otak gadis itu. Padahal keadaan sedang hujan. Dia malah diam disitu.


Aku ingin memarahinya, tapi melihatnya menangis bibir ini seolah terkunci.


Dia begitu rapuh.


Apa sebesar itu aku menyakitinya sampai dia harus menangis seperti ini?


Maaf...


Anindira pingsan karena kehujanan, pikiranku kalut. Aku takut terjadi apa - apa dengannya, sehingga aku langsung membawanya ke rumah sakit. Untunglah kata dokter dia tidak apa - apa.


Setelah ibunya datang aku pergi meninggalkan mereka.


Saat ini aku butuh untuk menenangkan diri.


****


Aku semakin sadar aku tidak bisa jauh darinya.


Yaa.. aku sudah terjebak dengan jeratan anak kecil itu.


Selamat Anindira. Kamu berhasil!


Melihat dia merengut dan keluar dari mobilku, diam - diam aku tersenyum. Sepertinya dia marah denganku tentang Bella.


Ternyata begini rasanya dicemburui.


Heii kenapa tidak tanya langsung saja sih?


Terkadang pikiran wanita itu sulit untuk di mengerti.


"Kamu."


Jawaban itu meluncur begitu saja. Aku menahan tawa melihat reaksinya yang menggemaskan.


Dia menepuk pipinya sendiri. Wajah cantiknya pun memerah.


Baru segini saja, ekspresinya sudah seperti itu, apalagi kalau aku mengatakan dia akan menjadi Nyonya Mahendra. Huh?!


***


Aku memasukkan mobilku ke dalam garasi rumah.


Dengan gusar aku turun dari mobil, kesal karena seharian ini aku mencari Anindira di kampus tapi tidak di temukan juga batang hidungnya.

__ADS_1


Kekesalanku memuncak ketika kudengar musik yang kencang dari dalam rumahku.


Aku sudah bisa menebak siapa yang membuat kekacauan ini.


Melangkah cepat ke dalam, langkahku terhenti ketika melihat apa yang sedang di lakukan Anindira dengan Arsy anakku.


Menyadari kedatanganku, Bi Munah langsung masuk ke dalam. Tapi tidak dengan gadis itu.


Dia masih asyik menari dengan gerakan yang membuatku bergidik ngeri.


Bagaimana tidak ngeri?


Badannya yang kurus itu meliuk - liuk dan meloncat - loncat, aku sampai takut persendiannya copot.


Bagaimana kalau dia terjatuh nanti?


Astaga Nathan. Kenapa bisa kamu suka gadis seperti dia?!


Dan lebih gilanya lagi dia belum mulai mengerjakan tugas karya akhirnya.


Tubuhku gerah dan panas menahan emosi, apalagi melihat ekspresinya yang polos tanpa rasa bersalah.


Sabar Nathan!


*********


"Faizal Andrian"


Aku menyapa Faizal yang sedang duduk menyeruput kopi di basecampnya. Dimana lagi kalau bukan di atas klinik yang sudah seperti rumahnya itu.


Faizal tersentak kaget melihatku datang.


"Wow Nathan Mahendra." Sahut Faizal


"Mau minum apa?"


"Kamu tahu seleraku kan.."


Faizal tertawa "Air mineral."


Aku memang tidak suka kopi dan lebih suka meminum air mineral biasa dimana pun. Itu lebih sehat tentu saja.


"Jadi ada apa ini? Tumben datang di luar waktu terapi."


Aku terdiam. Sebenarnya aku kesini tadi karena mampir saja, habis mengantar Anindira pulang.


"Hemm.. tempat yang bagus buat kencan dimana?"

__ADS_1


Tanpa sadar pertanyaan itu mengalir dari mulutku. Ini akibat aku membaca pesan dia tadi yang mengajak jalan - jalan.


Faizal melongo menatapku. "What? Ini serius bro? waw sepertinya doktermu ini ketinggalan banyak cerita."


"Jadi... Sudah resmi dengan Anindira?"


Aku mengangkat bahu. "Menurutmu?"


"Its oke. Obat kimia sepertinya memang sudah enggak mempan buat kamu bro. Satu - satunya obat yang ampuh itu orang yang tulus."


Dalam hati aku mengamini ucapan Faizal. Beberapa hari ini memang aku tidak mengkonsumsi obat anti depresiku, dan aku juga bisa tidur nyenyak tanpa obat penenang.


Anindira.. memikirkannya saja sudah membuatku tertawa sendiri.


"Jadi.. ada saran? Aku pergi bersama Arsy juga."


Aku memang tidak berpengalaman soal ini. Dulu sewaktu dengan Jihan, dia selalu ambil kendali. Dan sifat Jihan dengan Anindira sangat bertolak belakang.


Itu yang membuatku kesulitan untuk mengimbanginya.


Apalagi dia selalu membuatku kesal dengan kelakuannya itu.


"Bagaimana kalau ke pantai? Bagus juga untuk terapi pikiran disana."


Aku mengangguk pelan. Sepertinya itu bukan ide yang buruk.


"Dengar ya Nat, kamu harus santai jangan kaku amat. Slow men... Nikmatin aja perasaan itu bersemi, anggap saja kamu kembali ke masa - masa remaja." Faizal tertawa. Jelas sekali kalau dia sedang meledekku.


"Diam kau! Sepertinya aku harus hubungin Cindy kalau kemarin kamu jalan dengan Nana alumni fakultas kita." Aku berkata culas untuk mengancamnya.


Faizal melotot kaget. Aku tahu kalau dia sedang berpacaran dengan Cindy sekarang, dia memperkenalkannya kemarin saat aku terapi.


"No. Jangan Nat. Please. Cindy bisa ngamuk."


Faizal terlihat panik. Aku tertawa melihat ekspresinya itu.


"Dasar dokter picisan." Aku mencibir. Kini ganti aku yang meledeknya.


Kami tertawa bersama. Sudah lama sekali kami tidak bicara sesantai ini. Biasanya aku enggan bertemu dengan Faizal. Karena memang dia psikiater pribadiku. Siapa yang akan tahan bertemu dengan orang yang akan selalu mengorek luka lama kita di masa lalu?


Walaupun itu berdalih pengobatan tentunya.


Tapi sekarang.. aku sudah lebih santai menghadapinya.


Terima kasih Anindira ... Sudah membuat hidupku normal kembali.


*****

__ADS_1


__ADS_2