
πΈPOV AUTHOR_ πΈ
"Dasar psikiater picisan, cewek barbar di embat juga. Dulu aja ngerayu gue, sekarang udah laku, sok nolak gue." Bella meradang, dia keluar dari butik dengan hati dongkol.
Niatnya pergi ke butik itu adalah, untuk membeli gaun keluaran terbaru di sana. Butik 'Cantik' , sesuai dengan namanya, butik tersebut juga mengeluarkan gaun cantik edisi terbatas. Tapi Bella secara tidak sengaja melihat Faizal bersama seorang wanita.
Niatnya iseng untuk menyapa, karena Faizal yang ia kenal memang playboy. Tapi dia tidak menyangka kalau Faizal serius akan menikahi wanita itu.
Bella termenung di dalam mobilnya.
Apa yang salah dengan diriku?
Pria berkualitas seperti Nathan dan Faizal justru mendapatkan wanita yang tidak ada apa-apa di bandingkan dirinya. Itu menurut Bella.
Dia meraih kaca kecil dari dalam tasnya, menatap pantulan dirinya sendiri.
Alis yang tebal, bulu mata yang lentik, dan mata bulat seperti boneka.
Wajah tirus cantik, dan kulit yang seputih kapas.
Cantik!
Sangat cantik. Lelaki di luar sana sangat memujanya. Bahkan, saat di luar negeri Bella sering di lamar oleh pacar-pacarnya. Dia menolak, karena baginya hanya Nathan seorang.
Kepergian sang kakak, di jadikan kesempatan untuk Bella, agar bisa mengisi posisi kakaknya. Toh, dia juga menyayangi Arsy. Namun, harga dirinya tercoreng, begitu mengetahui Nathan memiliki wanita pilihan sendiri. Padahal, selama ini ia telah menunggu dengan sabar, agar Nathan membuka hati untuknya.
Bella menghela napas, ia menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Bella, begitu sambungan di angkat.
Wajahnya mengeras mendengar laporan yang ia terima dari seseorang di seberang sana.
"SIAL! DASAR GAK BECUS!" maki Bella. Ia membanting ponselnya ke arah dashboard.
Bella menggigiti kuku jari dengan gelisah, semua rencananya gagal. Dia harus menyusun rencana baru lagi setelah ini.
πΈπΈπΈ
"Bella kamu dari mana saja?" Gea menyapa putrinya yang baru masuk ke dalam rumah.
"Habis dari butik, Ma." sahut Bella, ia mendaratkan bokongnya di samping Gea, yang sedang asyik menonton TV.
"Kamu ini gimana sih, punya butik di luar negeri di tutup, eh sekarang malah hobinya belanja di butik orang."
Bella tidak menyahut, ia menyandarkan kepalanya di bahu Gea.
"Ma, Bella cantik kan?"
Gea tersenyum, lalu mengusap rambut Bella dengan lembut.
"Tentu saja. Siapa yang meragukan kecantikan putri mama ini?"
"Mas Nathan, Ma. Sepertinya aku kurang cantik buat Mas Nathan."
Gerakan tangan Gea terhenti, ia menghela napas panjang, mengetahui putrinya masih berharap pada Nathan.
"Bella... lupakan Nathan. Dia itu kan kakak ipar kamu."
Bella menegakkan tubuhnya, menatap sang mama dengan ekspresi aneh.
"Kenapa mama bilang begitu? bukannya mama setuju aku sama Mas Nathan? Kak Jihan udah gak ada, Ma. Jadi dia udan bukan kakak ipar aku lagi."
__ADS_1
"Bella, mama memang setuju, tapi itu kalau Nathan mau sama kamu. Nyatanya? Nathan sekarang udah menikah lagi. Kamu sadar dong!"
"Aku gak peduli, Ma. Dulu aku sudah mengalah sama Kak Jihan, sekarang aku gak mau mengalah lagi."
Gea beranjak dari duduk, ia malas meladeni obsesi putrinya yang tidak berujung sampai sekarang.
"Nindi itu gadis yang baik, dia bahkan mengijinkan mama buat ketemu Arsy. Jadi sekarang kamu lupakan Nathan. Cari laki-laki lain. Umur kamu semakin bertambah, mau sampai tua kamu nunggu Nathan?"
Bella terperangah tak percaya, Gea yang selalu mendukungnya, kini malah berbalik menyuruh dia melupakan Nathan. Bella merasa marah dan kesal.
Ini pasti ulah Nindi!
Dengan satu hentakan kaki, Bella pergi meninggalkan Gea menuju kamarnya. Tidak bisa di biarkan.
Obsesi mama bilang?
Mama nggak mengerti. Aku sudah menyimpan perasaan ini sejak lama.
Masih teringat jelas di benak Bella, beberapa tahun yang lalu. Saat Jihan masih kuliah, dan sering membawa Nathan juga Faizal bermain ke rumahnya. Jihan bilang mereka adalah sahabatnya, hingga diam-diam Bella menyukai Nathan.
Dia sering menanyakan Nathan pada kakaknya. Tapi siapa sangka, kalau ternyata akhirnya mereka menjalin hubungan. Bahkan sampai memutuskan untuk menikah. Hati Bella hancur saat itu. Dia menganggap kakaknya kejam, karena menikahi Nathan, padahal Jihan tahu kalau Bella menyukai Nathan.
Bella tidak rela, apalagi mengetahui pergaulan kakaknya yang bebas. Dia merasa Jihan tidak cocok untuk Nathan. Hanya dia yang cocok.
Terbukti, ketika Jihan terjerumus narkoba, bahkan berani selingkuh di belakang Nathan. Itu sudah membuktikan kalau Jihan tidak sungguh-sungguh mencintai Nathan.
Mungkinkah dulu kamu hanya ingin membalasku, Kak?
Harusnya kamu tidak menyakiti Mas Nathan seperti itu.
Bella mengusap sudut matanya yang berair. Luka yang ia rasakan, membuat dia bertekad untuk menjadi wanita kuat dan tidak cengeng.
Dia rela di anggap menjadi sosok yang antagonis, demi mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik dia dulu.
πΈπΈ
Nindi dan Nathan sedang duduk berdua sambil menonton TV di kamar. Kebetulan hari ini weekend, dan Arsy sedang di bawa oleh Lusi, mamanya Nindi untuk jalan-jalan.
"Mas kok aku baru lihat ada gitar di situ sih?" tanya Nindi, dia baru sadar kalau ada gitar di pojok ruangan.
Nathan yang sedang bersandar pada Nindi, hanya melirik sekilas.
"Oh, itu aku ambil dari gudang. Kemarin waktu kamu gak ada, aku habisin waktu di kamar buat main gitar aja."
Nindi tersenyum simpul mendengarnya,
"Ciye.. Mas bosan ya gak ada aku. Kangen ya... pasti nyanyi-nyanyi galau."
"Hem iya, kok tahu." jawab Nathan singkat.
Huh. Gak asyik. Masa jawabnya santai bener. Gak ada gugup-gugupnya. Malah aku yang gugup. Batin Nindi.
Tiba-tiba dia mendapatkan ide untuk mengerjai suaminya sedikit.
"Coba nyanyi, Mas. Aku udah lama gak dengar suara kamu. Terakhir waktu di resto green aja." ucap Nindi.
Pikirannya melayang ke peristiwa penting satu tahun lalu, saat itu Nathan bernyanyi lagu Korea, untuk melamarnya di Resto Green Bandung.
Tak di sangka, Nathan menuruti permintaan Nindi, dia beranjak menuju pojok ruangan dan mengambil gitar, lalu kembali duduk di samping Nindi.
"Ini permintaan dede bayi atau kamu?"
__ADS_1
Nindi terkekeh, "Dua-duanya. Hehe."
Nathan hanya tersenyum, sambil mengelus perut Nindi.
"Dengar papa nyanyi ya, Nak."
Jreng... suara petikan gitar mulai terdengar, di imbangi suara merdu Nathan.
Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu...
Nindi menahan napasnya, mendengar Nathan bernyanyi sambil mengulas senyum untuknya. Ketampanan Nathan menjadi berkali lipat saat ini.
*Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini..
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu*...
Nindi mengerjap, menggoda Nathan.
"Ah, masa sih..."
Namun, Nathan tetap melanjutkan aksinya. Dia terus bernyanyi dengan lembut,
Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini
Aku slalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi...
Ah, tolong... Nindi sudah tidak kuat. Niat dia ingin mengerjai Nathan, malah kini berbalik menjadi senjata makan tuan.
Nindi lemah... Nindi meleleh... Dia butuh oksigen sekarang, dia merasa sesak karena perlakuan Nathan yang romantis saat ini.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Author ikut meleleh ngetik part ini... ππ