
Tubuhku limbung dan sesak tiba-tiba, Mas Nathan dengan panik memapahku untuk masuk ke dalam.
"Anindira.. kamu gak apa?" tanya Mas Nathan. Kepanikan luar biasa terlihat di wajahnya.
Aku berusaha tersenyum, "Gak apa, Mas. Cuma sedikit pusing."
"Mama kenapa?" tanya si kecil Arsy.
"Mama gak apa, Sayang. Arsy masuk ke kamar ya sama Mba Mila, udah malam waktunya bobo."
Arsy menggelengkan kepala, "Arsy mau bobo sama mama boleh?"
Mata bulat Arsy menatapku lekat, dengan pandangan yang sangat menggemaskan.
"Oke. Ayo mama temani Arsy tidur dulu ya di kamar."
Mas Nathan menahan tanganku, dia masih terlihat cemas.
"Aku tidurin Arsy dulu ya, Mas." jawabku pelan, lalu melepaskan tangannya.
Di dalam kamar Arsy, aku mulai membacakan dongeng, agar dia tertidur. Namun, pikiranku tidak fokus. Teringat pesan yang masuk ke ponselku tadi. Apa maksudnya? rasa nyeri yang sejak tadi ku tahan kini semakin bertambah.
"Hemm.."
Aku menoleh, ternyata Arsy sudah tidur. Rambut poninya yang halus sudah semakin panjang hampir menutupi mata, mungkin sudah saatnya untuk di rapikan.
Perlahan, aku turun dari ranjang Arsy dan keluar dari kamarnya.
Begitu pintu terbuka, hampir saja aku menjerit. Karena ada Mas Nathan berdiri di sana.
"Arsy udah tidur?"
"Hemm, udah." jawabku singkat, kemudian berjalan mendahuluinya.
"Sayang... kamu kenapa? kok gak mau lihat aku sih."
Aku tetap mengacuhkannya, menaiki tangga menuju kamar kami di atas.
"Anindira!" Mas Nathan berkata keras, dan mengunci pintu kamar.
"Coba kamu jelasin sama saya apa masalahnya!"
Saya?
Dia sudah kembali mengucapkan kata saya. Hanya karena aku bersikap cuek sebentar.
__ADS_1
"Mas bisa jelasin apa arti foto ini?" jawabku datar, sambil menunjukan sebuah foto di benda berbentuk pipih itu.
Mas Nathan meraih ponselku dengan kasar, kedua alisnya bertautan.
"Ini kamu dapat dari mana?" tanya Mas Nathan, wajahnya terlihat tegang.
"Aku juga gak tahu." jawabku lirih, berusaha menahan tangis.
Di dalam foto itu, terlihat Mas Nathan keluar dari hotel bersama seorang wanita. Dan rasanya, aku pernah melihat wajah wanita itu, entah dimana. Dan masalahnya, kenapa Mas Nathan ada di sana? apa yang dia lakukan di belakangku selama ini?
"Anindira, dengar ini gak seperti yang kamu pikir. Aku bisa jelasin." Mas Nathan menyentuh wajahku.
Amarah yang sejak tadi ku tahan akhirnya meledak.
Gak seperti yang aku pikir? terus artinya apa?
"Sekali lihat orang lain juga akan berpikir sama kayak aku, kalau melihat foto itu, Mas! memang hotel itu buat apa? buat belanja?!"
Aku merebut ponsel di tangannya, lalu menghubungi seseorang.
"Ya tapi, semua ada alasannya. Aku kesana itu bukan buat macam-macam."
Mataku mendelik menatap tajam ke arah Mas Nathan. Ucapannya tadi, sama saja mengakui kalau benar dia pergi ke hotel.
"Tante... bisa jemput Nindi sekarang?" ucapku langsung, begitu sambungan telepon di angkat.
"I.. iya tante. Makasih."
Sambungan telepon terputus, aku melihat Mas Nathan kini menoleh ke arahku.
"Apa maksud kamu tadi?" tanya Mas Nathan. Suaranya sedikit bergetar.
Aku tidak menjawab, berjalan melewatinya, dan mulai membenahi pakaian ke dalam tas.
"Anindira!"
"Udah cukup, Mas. Jangan bentak aku terus. Yang salah di sini tuh kamu. Kenapa kata maaf aja kamu gak bisa ucapin?"
"Aku gak salah! dia itu mahasiswi aku. Rina. Kamu ingat? pegawai di resto juga. Aku ke sana cuma buat tolong dia."
"Pertolongan macam apa yang harus pergi ke hotel?"
Aku menutup tas dengan rapat, sebagian baju sudah berhasil di masukkan. Biarlah yang lain menyusul. Saat ini aku hanya ingin menenangkan pikiran di rumah mama.
Dasar laki-laki egois! hanya karena aku mencintainya, terus dia bisa bersikap semaunya.
__ADS_1
"Aku gak akan biarin kamu pergi." Mas Nathan menghalangiku, dan mengambil kunci kamar.
"Sebentar lagi Tante Lisa datang, Mas tau kan itu artinya apa? kalau pun kamu tahan aku di sini, Tante Lisa bisa naik ke atas."
"Aku serius. Kalau kamu pergi sekarang, kamu akan menyesal, Anindira."
Pandangan Mas Nathan yang menusuk membuat hatiku semakin sakit.
Menyesal dia bilang?
Dari mana dia dapat kepercayaan diri tinggi seperti itu.
Melihatku yang masih bergeming berdiri di depan pintu, akhirnya Mas Nathan memberikanku jalan.
Dia membuka kunci pintu kamar, kemudian berlalu melewatiku begitu saja.
Sakit... tentu saja sakit sekali.
Hanya sebatas itu dia mempertahankanku?
Beberapa jam yang lalu, kami masih tertawa bersama. Tapi sekarang? dengan gampangnya dia membiarkanku pergi dari rumah ini, dan dalam kondisi hamil. Dasar suami kejam!
🌸🌸🌸🌸
"Emang dasar, Nathan brengsek ya! bisa-bisanya dia biarin keponakan gue pergi." Tante Lisa terus memaki di dalam mobil, ternyata dia datang bersama Kak Faiz.
Di kursi depan, Kak Faiz hanya diam sambil terus fokus menyetir mobil.
"Lihat kan teman Lo itu, yang katanya cinta mati sama Nindi. Nyatanya, Nindi pergi dia diem aja di kamar." kali ini Kak Faiz menjadi sasaran Tante Lisa.
Aku memilih tidak menjawab, menoleh ke jendela samping, menatap kosong ke arah jalanan malam yang mulai sepi.
Harusnya saat ini aku sedang tidur nyenyak dalam pelukan hangat Mas Nathan. Tapi kenyataan terkadang tidak sesuai dengan kemauan.
Ocehan Tante Lisa terus saja berlanjut. Mas bodo!
Memang sifat Tante Lisa begitu, sepertinya Kak Faiz juga sudah kebal. Buktinya dia bisa dengan santainya menyetir mobil, bahkan sambil bersenandung kecil.
Dasar pasangan aneh!
Sekarang yang ada di pikiranku adalah, bagaimana harus bicara ke mama?
Kalau aku jujur, pasti mama juga akan marah.
Arggh. Kenapa harus ada kejadian begini sih. Tapi, siapa yang sudah mengirim pesan untukku ya...
__ADS_1
Apa orang itu sengaja, supaya aku dan Mas Nathan bertengkar.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸