
~Katakan kepadaku apa yang lebih buruk daripada semua orang yang kau cintai meninggalkanmu?
__Nathan__
🌸🌸🌸
Hari Minggu,
Aku mengajak Arsy jalan - jalan tanpa Pak Nathan.
Entahlah, dari pagi semenjak aku datang, aku tak melihatnya. Bi Munah bilang pak Nathan sejak semalam belum keluar dari kamarnya. Dan dia berpesan untuk tidak di ganggu. Perasaanku tidak tenang dan khawatir, tapi aku berusaha menepisnya. Mungkin saja Pak Nathan memang sedang banyak pekerjaan.
Oh iya, Arsy bilang ia ingin mengetahui rumahku, jadi disinilah kami sekarang.
Di rumahku.
"Nindi... Ini anak siapa yang kamu bawa?" Mama terlihat syok. Dia pasti berpikir aku mengambil anak dari jalanan.
"Ini Arsy mah. Anak dosen yang aku ceritakan kemarin, Pak Nathan."
Yaa.. aku memang sudah menceritakan semuanya pada mama. Tentang pak Nathan juga Arsy. Dan tanggapan mama, dia mendukungku asalkan aku bahagia dan tahu batasan. Begitu katanya.
" Ohh.. ya ampun. Kirain mama kamu culik anak orang, sini Arsy sama Ibu."
Arsy menghampiri mama, dan mencium tangannya. Mama memeluknya erat. Mungkin dia gemas, mau cepat menjadikan Arsy sebagai cucunya. Hiii.
"Tapi.. Pak Nathannya mana? kok gak kamu ajak kesini juga?" mama berbisik padaku.
"Ada dirumah mah, anaknya saja dulu ya, papanya menyusul kapan - kapan." jawabku sambil berbisik juga. Yang dibalas dengan cubitan mama di pinggangku.
Aku hanya cengengesan sambil meringis kesakitan. Cubitan mama memang pedas level satu.
"Arsy sudah makan?" Mama bertanya lembut pada Arsy.
"Sudah bu. Tadi aku makan sama kak Nindi." jawab Arsy.
"Ma, aku nggak bisa lama ya.. nanti takut Pak Nathan nyariin aku."
__ADS_1
"Halah, paling Pak Nathan itu nyariin Arsy, bukan nyariin kamu!" celetuk mama. Nah kan, bukan cuma cubitannya yang pedas, tapi mamaku juga jago berkata pedas lho.
Aku manyun mendengar kata - kata mama. Tega sekali dia membuly anak sendiri.
Arsy langsung tertawa geli, begitu melihat ekspresiku.
Akhirnya kami hanya sebentar mampir di rumahku. Entah kenapa perasaanku tidak enak. Jadi aku ingin cepat - cepat antar Arsy sampai di rumahnya.
Kami pamit pergi, aku berjanji pada mama akan segera pulang setelah mengantarkan Arsy.
Kali ini aku menggunakan motor matic kesayanganku. Awalnya Pak Nathan keberatan saat melihatku menjemput Arsy menggunakan motor kemarin. Dia langsung memberiku beberapa lembar uang untuk biaya transportasi. Tapi aku tetap ngeyel, dengan alasan lebih praktis menggunakan motor. Arsy sendiri juga sangat antusias, dia belum pernah naik motor selama ini.
Bisa di tebak kan endingnya bagaimana. Tentu saja Pak Nathan mengalah kalau Arsy sudah setuju. Tapi dengan syarat, menggunakan pengaman yang lengkap, seperti sabuk bonceng, helm, jaket, dan kacamata.
Sesampainya di rumah Pak Nathan, kulihat pintu depan sudah terbuka. Aku panik dan segera mengajak Arsy masuk.
Di bawah tangga, terlihat Bi Munah berdiri dengan gelisah.
"Bi ada apa? Kok bibi berdiri disini?" tanyaku heran.
"Den Nathan non...itu dia lagi ngamuk di atas. Sepertinya sakitnya lagi kambuh." Bi Munah menjawab dengan khawatir.
Prang!! Brukk!
Terdengar suara keras dari lantai atas, seperti suara sesuatu di banting.
"Papa kenapa kak.. Arsy takut." Arsy memegang tanganku kencang. Wajahnya pucat pasi sekarang.
Aku berusaha tenang. Tetap tersenyum walaupun perasaanku juga takut.
"Arsy... Kamu ke kamar dulu ya sama Bi Munah. Papa pasti baik - baik aja, kakak mau naik ke atas. Mau lihat keadaan papa kamu dulu ya..Oke anak pintar."
Arsy mengangguk pelan. Walaupun matanya mulai berkaca-kaca, ingin menangis. Aku segera memeluknya, agar ia tenang.
Lalu mengisyaratkan pada Bi Munah untuk membawa Arsy pergi.
Bi Munah segera menggandeng tangan Arsy, dan menuntunnya ke kamar.
__ADS_1
"Hati - hati ya, non." Dia menatapku khawatir sebelum pergi.
******
Tok. Tok. Tok.
"Pak Nathan, bapak baik - baik saja ?boleh saya masuk." aku mengetuk pintu kamar Pak Nathan.
Tidak ada jawaban. Bagaimana ini. Apa aku langsung masuk saja.
Tapi... Ah masa bodo deh. Aku nekat masuk, membuka pintu kamarnya perlahan.
Keadaan kamar Pak Nathan sangat berantakan. Barang - barang berserakan di lantai. Bahkan ada beberapa yang rusak karena di banting.
Mataku menangkap sosok Pak Nathan yang sedang duduk bersandar tepat di samping tempat tidur.
Aku mendekat dengan takut - takut.
"Pak.. ada apa ini. Bapak kenapa?"
Pak Nathan menatapku sayu. Keadaannya sangat mengkhawatirkan, tubuhnya penuh keringat, napasnya juga tak beraturan.
"Tolong ambil ponselku di atas meja. Hubungi nomor yang ada disitu."
Walaupun bingung, aku menuruti kata - kata Pak Nathan. Dengan tangan yang gemetar karena takut, aku meraih ponselnya. Pak Nathan tidak menyebutkan nama orang yang harus ku hubungi.
Tapi sekarang aku paham, tentu saja tak perlu sebut nama, ternyata kontak yang tersimpan di ponselnya hanya ada 2. Namaku dan satu lagi tertulis nama " SOK TAU ".
Aku segera menghubunginya, seorang pria yang mengangkat teleponku. Dan kebetulan sekali dia juga sedang menuju kesini. Belum sempat aku menjelaskan dia sudah mengerti apa yang terjadi. Orang itu berpesan agar aku tidak meninggalkan Pak Nathan sendirian sampai dia datang.
Kulihat Pak Nathan sudah terpejam. Sepertinya dia tertidur.
Aku mendekatinya. Wajahnya terlihat lelah. Kantung matanya juga terlihat, seperti orang yang beberapa hari tidak tidur.
Sebenarnya apa yang di alami Pak Nathan?
Sakit apa dia sampai seperti ini?
__ADS_1
******