
_Sekecil apa pun itu, harapan harus tetap ada. Karena kita tidak akan tahu kapan harapan itu menjadi kesempatan_
POV AUTHOR_
Begitu sampai di rumah, yanpa membuang waktu Nathan masuk ke dalam. Hatinya cemas memikirkan Arsy.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.. Nah itu papa datang." sahut Bi Munah, begitu melihat kedatangan Nathan.
Bi Munah sedang membujuk Arsy di ruang TV sambil memegang sepiring makanan.
"Halo, princess papa..."
Arsy memeluk Nathan dengan erat.
"Papa... mana Mama Nindi? kok gak ikut pulang bareng sama papa?"
Nathan berusaha tersenyum, meskipun dalam hatinya merasa sakit.
"Sabar ya... mama masih harus istirahat di rumah sakit. Arsy kenapa? gak mau makan ya?"
Arsy menggelengkan kepala, "Aku mau lihat mama."
"Hemm.. gimana kalau Arsy makan sama papa sekarang? lihat deh perut papa juga kosong, belum makan. Kalau Arsy gak mau makan, siapa yang temani papa makan dong?"
Bi Munah yang mengetahui keadaan Nindi, hanya bisa menahan tangis melihat interaksi keduanya. Dia merasa iba pada Nathan, karena kembali mengalami hal seperti ini.
Semoga saja Neng Nindi selamat, dan bisa berkumpul kembali di keluarga ini.
Arsy mengusap wajah Nathan dengan lembut, gadis kecil itu sangat peka. Dia tahu kalau papanya sedang sedih.
"Cup.. cup. Papa jangan nangis ya. Papa kan udah besar, bisa makan sendiri. Jadi walaupun mama belum pulang, papa harus tetap makan dong."
Nathan tertawa kecil mendengarkan perkataan putrinya tadi. Bagaimana dia bisa menjadi selemah ini?
Bahkan putri kecilnya menghibur dia sekarang.
"Iya princess... kalau begitu papa bersih-bersih dulu ya, setelah itu kita makan dan berdoa untuk kesembuhan mama."
Arsy menganggukkan kepalanya, "Iya papa."
******
__ADS_1
Esoknya,
Nathan datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit, untuk bergantian menjaga Nindi.
Tapi, begitu sampai di sana.. Nathan di buat terkejut dengan kedatangan Bu Gea.
"Kenapa anda ada di sini?" tanya Nathan.
"Di mana Faizal? saya juga mau menjenguk Nindi."
Mata Nathan memicing, "Jadi.. tante tahu dari Faizal?"
Kata tante yang di ucapkan Nathan, membuat Bu Gea tersentak. Biasanya, Nathan akan memanggilnya ibu.
"Ya.. kemarin saat penangkapan Bella...."
"Tunggu... penangkapan Bella? apa maksud tante?"
Bu Gea terperangah, jadi Nathan belum mengetahuinya?
Nathan menatap Bu Gea dengan tajam, "Jelaskan ke saya, Tante. Apa maksudnya? apa yang kalian tutupi?"
"Itu... saya pikir kamu sudah tahu semuanya....Bella..."
"Bella yang menabrak Nindi."
Damn!
Bagaikan terkena hantaman batu, tubuh Nathan bergetar marah mendengar pernyataan itu. Mata Nathan terpejam... Jadi karena Bella? dia penyebab ini semua.
"HARUSNYA SAYA TAU AKAN BEGINI KALAU BERURUSAN DENGAN KALIAN!" seru Nathan dengan penuh emosi.
"Apa salah saya? kalian pernah menuduhku membunuh Jihan, setelah itu tiba-tiba datang untuk mengambil Arsy, dan sekarang? putri anda ingin membunuh Nindi?"
Bu Gea mulai terisak..
"Maaf... maaf Nathan. Dulu Jihan, sekarang Bella yang menyakitimu. Maafkan kedua putri saya." ucap Bu Gea di sela-sela tangisannya. Bahkan dia sampai berlutut di kaki Nathan.
"Nathan... ada apa?" Faizal dan Lisa akhirnya datang.
"Harusnya aku yang bertanya pada kalian. Kenapa kalian tidak jujur kalau Bella pelaku tabrak lari ini?" Nathan menatap mereka dengan sengit.
"Maaf Nat, kami cuma gak mau semakin membuat kamu stress." sahut Lisa
__ADS_1
"Maksud kamu? aku akan jadi gila kalau tahu siapa pelaku yang mau membunuh istriku sendiri. Begitu?"
Mereka semua terdiam, tidak ada yang berani membalas perkataan Nathan. Ya... mereka merasa bersalah karena tidak mengatakannya sejak awal.
"Jadi di mana Bella?"
"Dia sudah di tangkap, dan sudah masuk ke penjara. Sidangnya akan di gelar dua hari lagi." jawab Faizal.
"Jelaskan semuanya."
Faizal dan Lisa pun bergantian menjelaskan keseluruhan kasus ini. Dari mulai saksi mata, bukti yang ada, juga pengakuan Bella pada Bu Gea.
Nathan sedikit merasa bersalah karena telah membentak Bu Gea tadi. Dia pun berjalan mendekatinya.
"Maaf." hanya itu kata yang terucap di antara mereka berdua.
🌸🌸🌸🌸
Hari pernikahan Faizal,
Akhirnya hari itu tiba, tadinya Lisa dan Faizal ingin membatalkan pernikahan, karena kondisi Nindi yang masih koma. Namun, mengingat undangan yang sudah tersebar, maka mereka tetap melaksanakannya.
Pernikahan sekali seumur hidup, yang harusnya penuh suka cita, namun di lalui dengan wajah mendung dari kedua mempelai.
Lusi tidak berhenti menangis, di satu sisi dia bahagia karena sang adik akhirnya menikah, tapi di sisi lain dia juga merasa sedih. Nindi tidak ada di antara mereka saat ini.
Nathan tidak datang, dia menjaga Nindi di rumah sakit. Dalam pikiran Nathan, karena membeli gaun pesta untuk pernikahan Faizal, Nindi jadi seperti ini.
Sudah satu minggu Nindi belum sadarkan diri juga.
"Sayang.. hari ini Faizal menikah dengan tante kamu. Bukannya kamu sangat ingin datang ke sana?" ucap Nathan pelan. Dia mengusap punggung tangan Nindi yang masih terpasang selang.
Wajah cantik itu sangat pucat.
"Hari ini aku tidak datang ke sana. Maaf... aku takut kehadiranku malah membuat suasana semakin sedih."
"Arsy sudah pintar membaca, cita-citanya berubah lagi. Dia ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan orang sakit. Mungkin... itu karena kamu."
"Bangunlah, peluk aku, cium aku lagi, marahi aku. Apa pun itu aku akan menerimanya dengan baik sekarang. Asalkan kamu bisa cepat sembuh."
"Terima kasih karena telah hadir di kehidupanku dan Arsy. Setelah kamu sadar, aku akan mengulangi kata-kata ini berapa kali pun kamu mau. Aku mencintaimu, Anindira...."
Ruangan serba putih itu menjadi saksi kesedihan Nathan yang dalam. Dirinya hampir putus asa, menunggu keajaiban untuk kesadaran Nindi. Belahan jiwanya yang kini masih terbaring tenang....
__ADS_1
****"