
🍀Jangan membenci, karena tidak ada yang tahu batas benci dengan cinta..
_Nathan_
***
Kedatangan Bella ke rumah Mas Nathan, tentu saja membuatku gusar.
Dia juga terkejut melihat aku ada di rumah Mas Nathan, terlebih lagi aku yang membukakan pintu untuknya.
"Oh susternya Arsy ya.. jangan - jangan merangkap jadi pembantu juga." Dia mendengus sambil mengejekku.
Aku tertawa sinis padanya. Dulu mungkin dia bisa menghinaku. Tapi sekarang? NO!
"Maaf yaa.. saya sudah naik pangkat tuh jadi calon nyonya Mahendra!" Jawabku enteng. Tentu saja membuat dia semakin kesal padaku.
Dia langsung terdiam. Tatapannya tajam seperti ingin menerkamku saat itu juga.
"Tunggu sebentar ya.. Mas Nathannya lagi mandi."
Aku sengaja menekankan kata mandi padanya. Biar dia semakin panas. Dalam hati aku tertawa melihat ekspresi Bella yang kini seperti kesetanan.
"Kamu.. jangan - jangan udah pelet Mas Nathan ya. Kok dia bisa mau sama kamu." Bella mendesis dengan mata yang melebar.
"Padahal jelas - jelas aku lebih segalanya dari kamu." Dia kembali melanjutkan perkataannya sambil menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aku hanya melengos, pelet? hari gini percaya sama hal begitu?
Dengan penampilannya yang modern, aku tidak menyangka dia bisa berpikir picik begitu.
Kuputuskan untuk meninggalkan dia sendiri di ruang tamu. Tidak mempedulikan omongannya yang semakin ngawur menghinaku.
Dengan hati dongkol aku melangkah menuju ruang keluarga. Menatap pantulan tubuhku sendiri di kaca buffet yang ada di sana.
"Memangnya kalau 'besar' harus bangga gitu?"
Gumamku kesal.
"Apa yang besar.. huh?"
Mas Nathan kini sudah ada di belakangku. Rupanya aku tidak sadar kalau dia sejak tadi sudah ada di sana mengamatiku.
"Eh Mas.. tuh ada tamu istimewa." Sindirku pedas.tanpa memperdulikan pertanyaannya tadi.
Mas Nathan mengernyit. "Siapa?"
"BELLA."
Kali ini aku menjawab dengan nada ketus. Biar dia tahu kalau aku tidak suka dengan kedatangan wanita itu.
Mas Nathan membulatkan mulut. Lalu meletakkan tanggannya di dagu, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Enggak di temuin?"
"Ayo.." Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku hanya menatapnya heran. Tidak mengerti maksud Mas Nathan.
"Kemana?"
"Ck. Udah ayo." Dengan tidak sabar Mas Nathan menarik tanganku. Melangkah menuju ruang tamu dimana Bella berada.
Meskipun masih tidak mengerti, aku tetap mengikuti langkahnya dalam diam.
Bella yang sedang duduk di ruang tamu, menyadari kedatangan Mas Nathan. Dia bangkit dari duduknya dengan tersenyum lebar. Tapi sejenak kemudian senyumnya hilang begitu melihat Mas Nathan tidak sendiri, karena ia malah datang dengan menggandeng tanganku.
"Silakan duduk Bel. Ada perlu apa?" Tanya Mas Nathan, berbasa - basi padanya.
Bella tidak menjawab. Ekspresi wajahnya jelas sekali kesal saat ini. Alisnya yang di sulam bertautan. Wajah cantiknya merengut. Ya.. ku akui Bella sangat cantik. Dengan penampilannya yang memukau, rambut panjang bergelombang. Dan tubuhnya yang padat dan sintal.
"Mas.. ingat kan pesan ibuku." Bella berkata dengan suara penuh penekanan.
Mas Nathan mengangguk sambil berkata,
"Yaa.. syarat Arsy agar tetap bersama saya, yaitu saya harus menikah lagi kan?"
Aku menoleh, menatap Mas Nathan dengan bingung. Jadi ada ya syarat yang seperti itu. Selama ini aku tidak tahu bagaimana hubungan mas Nathan dengan mantan mertuanya itu. Dan baru sekarang ini Mas Nathan melibatkanku dengan urusan pribadinya.
"Sampaikan pada ibu. Saya akan menikah. 3 bulan lagi." Kali ini Mas Nathan juga menoleh padaku.
"Saya akan menikah dengan Anindira."
Aku terperangah mendengarnya. Ku tatap lekat wajah Mas Nathan yang kini tersenyum. Aku merasakan kejujuran dan ketulusan yang terpancar dari matanya saat ini.
Selain aku, Bella juga sepertinya terkejut dengan perkataan Mas Nathan barusan. Bahkan dia menangis saat itu juga.
"Kenapa mas.. kenapa enggak ada harapan buat aku. Apa karena mba Jihan? Mas benci mba Jihan jadi tidak menyukaiku?"
Bella kini sesenggukan.
Jujur saja aku jadi merasa tidak enak hati melihatnya. Bagaimana pun kami sama - sama wanita.
"Mas tau.. aku juga menyayangi Arsy. Ibuku ingin bersama Arsy. Dia merasa bersalah sama Mas Nathan. Aku sudah menunggu mas bertahun - tahun. Aku pergi ke luar negeri, supaya kamu bisa berpikir dulu. Tapi.. tapi..huhu." Bella semakin keras menangis. Sepertinya dia memang sangat menyukai Mas Nathan.
"Harusnya mas tunggu aku. Kalau saja aku tahu mas sakit, aku juga tidak akan tinggalin Mas Nathan.."
Wajah Mas Nathan mengeras. Dia semakin erat memegang tanganku. Dengan perlahan, ku lepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
"Mas.. silakan bicara dulu sama Bella. Aku di dalam ya.." Aku bicara pelan padanya.
Dan tanpa menunggu jawaban Mas Nathan, aku beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Tujuanku ingin memberikan mereka kesempatan untuk bicara empat mata meluruskan semuanya.
Kalau memang Mas Nathan serius ingin menikahiku, aku ingin semua masalah ini tuntas lebih dahulu.
Biar bagaimanapun mereka pernah ada hubungan keluarga. Dia tetaplah tantenya Arsy. Aku juga mengerti bagaimana perasaan Bella sekarang. Dia sudah menyimpan perasaan itu bertahun - tahun. Karena aku juga merasakan hal itu dulu.
Kalau saja Bella tidak ke luar negeri, mungkin saja Bella yang akan memenangkan hati Mas Nathan. Karena dia lebih dulu mencintai mas Nathan daripada aku.
Kuhempaskan tubuhku di sofa sambil menatap acara televisi. Pikiranku melayang, tidak fokus menonton.
__ADS_1
Penasaran juga apa yang mereka bicarakan di sana.
Ah Nindi.. jangan bodoh. Percaya saja sama Mas Nathan. Dia pasti bisa menyelesaikannya.
Lima belas menit berlalu..
Rasanya seperti berjam - jam aku menunggu dalam keresahan.
"Hei.. kenapa tadi pergi?"
Mas Nathan akhirnya muncul. Aku menghela napas lega melihat kedatangannya.
"Mas sudah bicara sama Bella?"
Tanpa menjawab dia duduk di sampingku. Menyadarkan tubuh di sofa. Dan tiba - tiba ia mengangkat tangannya, lalu mengusap rambutku dengan lembut.
Mas Nathan sedikit menundukkan kepalanya lalu menatapku lekat.
"Mau menikah dengan saya?" Dia menembakkan langsung dengan kata - katanya.
Dengan gerakan yang kaku, aku ikut menatapnya. Cukup lama aku terdiam. Pandangan kami saling terpaut.
"Aku belum lulus.."
Jawaban itu akhirnya meluncur dari mulutku. Tentu saja aku ingin menikah dengannya. Tapi aku juga bimbang, karena kuliahku belum selesai.
Dia tersenyum kecil, "Sebentar lagi kan..."
"Gimana kalau mamah enggak kasih ijin?"
Kali ini Mas Nathan tergelak. Dia menangkupkan tangannya di kedua pipiku. Mata kami bertemu. Tatapannya tajam dan lembut.
"Saya akan memohon sama mamah kamu, agar memberikan putrinya."
Ah.. aku terharu mendengarnya. Mas Nathan selalu punya cara sendiri untuk membuatku senang. Dia selalu bisa meluluhkan hatiku. Baiklah!
Aku rasa jantung ini sudah tidak berdegup normal lagi sekarang.
"Bella kemana mas?"
Aku kembali bertanya. Dengan sengaja aku mengalihkan pembicaraannya. Karena aku juga bingung harus menjawab apa saat ini.
"Dia sudah pulang." Jawabnya. Dia menghela napas dan mengalihkan pandangannya dariku.
"Mungkin sekarang dia sudah mengerti kalau saya memang enggak pernah cinta sama dia."
"Terus kenapa mas pilih aku? Bella cantik. Dia seksi, penampilan glamour dan anggun. Dibandingkan sama aku. Badan kecil dan tipis kan...terus pake sepatu kets, penampilan enggak anggun, hemm petakilan...dan dulu juga Mas Nathan enggak suka aku kan. Jutek banget deh.."
Mas Nathan malah tertawa, sambil mengusap pucuk kepalaku.
"Itu karena baru kali itu aku ketemu cewek macam kamu. Pecicilan, bodoh, tidak tahu malu, dan pantang menyerah. Walaupun saya bersikap ketus"
What?
Kenapa dari sifat itu enggak ada satupun yang bagus. Mendengarnya bicara begitu, sukses membuatku cemberut.
"Tapi kamu cantik, kamu juga tulus. Kamu mau mendampingi saya walaupun tahu keadaan saya. Terima kasih Anindira... Kamu mungkin bukan yang pertama, tapi saya mau menjadikan kamu yang terakhir."
"Hemm tahu enggak... Mas Nathan juga bukan yang pertama sih buat aku. Masih ada Kai oppa, Jong-suk oppa, terus Minho oppa.. sama ---- "
Ekspresi Mas Nathan langsung berubah seketika, ia tersenyum masam mendengar aku bicara seperti itu.
"Ah sudah stop. Tidak usah kamu teruskan!"
Kentara sekali Mas Nathan kesal. Tanpa menoleh dia langsung bangun dari duduknya. Hal ini membuatku tertawa. Aku memang sengaja berkata begitu, mudah sekali membuat dia cemburu saat ini.
"Ayo saya antar pulang. Sudah mau gelap." Ketusnya.
Mas Nathan melangkah dengan cepat meninggalkanku di belakang.
"Mas tunggu.. jangan marah dong!. Iyaa iya maafin."
Aku mengejarnya, berjalan sejajar di samping Mas Nathan sambil terus mengoceh padanya.
"Mas Nathan pak dosenku yang paling ganteng seduniaaa. Nathan Mahendra, yang pertama dan terakhir buat aku.
Aku beruntung deh punya pacar dan calon suami kayak mas. Udah ganteng, pinter, tajir, kurang apa coba...? Aduh Anindira nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?...."
Mas Nathan memalingkan wajahnya ke samping, tanpa ku lihat pun aku tahu kalau dia sedang menahan senyumnya sekarang, karena mendengar perkataanku tadi.
Hihi. Dia sangat cute.
*********
Aku baru saja keluar dari kamar, setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju.
Di ruang tamu ada Mas Nathan dengan mamaku sedang berbincang.
Obrolan mereka terdengar kaku seperti dalam film jaman dulu.
"Silakan di minum Pak Nathan.."
Mama meletakkan minuman hangat di meja.
"Ah terima kasih. Tapi jangan panggil saya Pak. Kan lagi enggak di kampus. Panggil saja saya Nathan."
"Oh iya lupa. Panggil saya mama juga yaa.. kayak Nindi."
Mama terkekeh melihat kecanggungan Mas Nathan padanya.
"Jadi ada yang mau di bicarakan pasti yaa.." Mama kembali bicara, melihatku yang sekarang sudah keluar dari kamar.
Aku meneguk saliva. Gugup. Jangan bilang Mas Nathan mau bicara hal yang tadi dengan mamah.
Mas Nathan melirik padaku sekilas, lalu menghela napas sebelum kembali bicara.
"Maaf Bu.. eh Mah.. kedatangan saya ke sini ingin melamar Anindira. Saya berniat serius ingin menikahinya. Kalau mama mengijinkan saya ingin menikahinya segera dalam tiga bulan ini."
__ADS_1
Aduh benar kan..!
Dalam hati aku berdoa agar mama tidak marah. Dari dulu dia selalu mewanti - wanti agar aku serius kuliah dulu. Menikah setelah lulus. Aku melirik pada mamah yang kini menatap Mas Nathan dengan lekat.
"Nathan.. punya kakak atau adik?" Mama bertanya padanya.
"Tidak. Orang tua saya sudah meninggal. Saya cuma punya Arsy. Anak saya."
"Oh begitu ya.." Mama mengangguk. Dia tidak bertanya lagi. Tentu saja. Aku sudah menceritakan perihal masa lalu mas Nathan semuanya pada mama.
"Kalau kalian menikah, kalian akan tinggal dimana?"
"Ah kalau itu, saya akan mengajak Anindira tinggal dengan saya. Tapi mama tenang saja. Saya tidak akan melarang Anindira untuk kapan pun mengunjungi mama."
Mata mama berbinar mendengar jawaban mas Nathan, seolah memang itu jawaban yang dia nanti. Mama kini tersenyum menatapku lalu mengelus pucuk kepalaku.
"Kamu sudah besar nak.. mama percaya sama Nathan. Kalau kamu memang bersedia cepat menikah. Mama setuju."
Senyum Mas Nathan seketika mengembang, begitu juga denganku. Rasa haru tidak dapat ku tahan lagi. Aku memeluk mama dengan erat.
"Makasih mah.. makasih sudah menerima Mas Nathan"
Mama pun menitikkan air mata, ia mengusap punggungku dengan lembut.
"Nathan juga sini.." Panggil mama.
Mas Nathan menghampiri mama, dan menunduk badan menyalami tangan mama.
"Jaga anak saya.. dia satu - satunya harta saya yang paling berharga. Saya percayakan dia sama kamu. Saya tahu cuma Nathan yang bisa buat Nindi bahagia..."
Mas Nathan mengengadahkan wajahnya.
"Terima kasih sudah menerima saya dengan segala kekurangan saya untuk menjadi bagian dari keluarga ini."
"Saya juga terima kasih, kamu mau terima Nindi yang begini. Kamu enggak tahu kan, dia sudah suka kamu sejak lama. Pak Nathan.. Pak Nathan.. selalu itu yang dia bicarakan kalau pulang kuliah."
Aku seketika malu, mama sudah membongkar aibku.
"Mah apaan sih.."
Dengan gusar aku melangkah meninggalkan mereka berdua. Terdengar gelak tawa Mas Nathan dan juga mama.
Ah. Silakan tertawa. Kalian kompak sekali ya sekarang!.
*******
POV AUTHOR
Faizal berdiri di balkon kliniknya yang terletak di atas. Dia tersenyum kecil melihat pesan dari Nathan yang akan menuju ke tempatnya.
Dia sudah bisa menebak akhirnya akan seperti ini.
Salahnya.. yang terbawa perasaan oleh Anindira. Kemarin melihat Nindi menangis dia nekat ingin menemaninya.
Padahal dua tiket nonton itu seharusnya untuk dirinya dan Cindy.
Dengan gampangnya ia membatalkan acara dengan Cindy, demi menemani Nindi.
Lagi - lagi mereka terjebak dengan wanita yang sama.
Ah tapi ia merasa senang sahabatnya telah menemukan tujuan hidupnya kembali. Apalagi penyakitnya sudah semakin membaik.
Terdengar langkah berisik menaiki tangga. Faizal tahu mereka sudah tiba.
Dia merapikan kemejanya yang dikenakan sekarang, tapi gerakannya terhenti. Untuk apa?
Dia tersenyum kecil, mengurungkan niatnya untuk tampil rapi. Toh dia tahu Nindi bukan untuknya..
"Faizal...!"
Nathan memasuki ruangan. Menghampiri sahabatnya. Saling bersalaman, dan berpelukan singkat.
Anindira yang ada di belakang Nathan terdiam, dia sedikit aneh dengan tingkah kedua orang dewasa itu.
Faizal tersenyum pada Anindira, sikapnya sudah kembali seperti biasa, begitu juga Nathan.
Nindi pikir mereka akan kembali bersitegang, jadi ia memaksa untuk ikut ke tempat Faizal. Misinya ingin membuat mereka berbaikan kembali. Tapi ternyata, hal itu tidak membutuhkan bantuannya.
Mereka sudah berbaikan dengan sendirinya
Nindi berpikir mungkin inilah yang namanya sahabat sejati. Kemarin mereka bertengkar, sekarang mereka kembali bersikap biasa seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka.
"Jadi.. kalian kesini mau kasih undangan?" Faizal bertanya dengan memicingkan mata.
Nathan dan Nindi saling berpandangan heran. Melihat itu Faizal tertawa.
"Kalian pikir aku tidak tahu. Kamu Nathan, aku sudah hapal sikap kamu. Pasti kamu over protective sama Nidni kan.. Dengarin aku ya Nindi, dia kalau sudah sayang enggak akan di lepasin begitu aja. Yakin deh kamu nanti di posesifin sama dia."
Nindi hanya nyengir lebar mendengarnya.
"Enggak apa - apa kak. Itu namanya sayang kan.. hehe."
Nathan pun tersenyum mendengar jawaban Nindi. Mereka saling menatap penuh cinta.
Membuat Faiz merinding melihatnya. Layaknya dua love bird yang sedang jatuh cinta.
"Hei ingat ya di sini masih ada orang. Kalau mau mesra - mesraan jangan di sini." Keluh Faizal. Yang di sambut dengan gelak tawa Nathan.
Mereka seketika tertawa bersama. Nindi bahagia. Melihat Nathannya kembali ceria, dan Faizal juga sudah bersikap seperti biasa.
Tidak ada hari yang paling membahagiakan baginya selain hari ini.
Hari esok Nindi akan semakin sibuk. Mempersiapkan pernikahannya dengan Nathan yang hanya tinggal menghitung bulan.
Yaa..Nathan tidak ingin menundanya, bahkan menunggu Nindi lulus pun dia tidak mau.
Dia ingin segera menikahi gadis itu.
__ADS_1
Gadis yang berhasil membuatnya kembali merasakan jatuh cinta...
********