
Malam ini, kami berkumpul menonton TV bersama di ruang keluarga. Mas Nathan dan Arsy terlihat sedang asyik bercanda. Sesekali lemparan bantal terjadi di antara mereka.
"Mama... aku punya tebak-tebakan." seru Arsy. Dia berlari dan duduk di pangkuanku.
"Hemm apa itu?"
"Tebak ya... buah apa yang kaya raya?"
Aku berusaha memutar otakku, untuk mencari jawaban. Tapi memang dasar otak ini limit, jadi aku hanya bisa menyerah dengan tebakan dari gadis kecil ini.
Mas Nathan hanya senyum-senyum kecil melihatku kebingungan.
"Udah kasih tahu aja, mama kamu nyerah tuh!" ledek Mas Nathan, yang langsung ku hadiahi dengan lemparan bantal.
"Hihi. Arsy kasih tahu ya... Jawabannya adalah Sri Kaya!"
Hah? Sri Kaya?
Ah benar juga, kenapa otakku nggak sampai ke sana.
Mas Nathan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresiku.
Tertawa saja sana se-puasmu, Mas!
"Mama juga punya tebakan nih. Hemm hewan apa yang cinta kebersihan?"
Mas Nathan dan Arsy saling berpandangan. Aku harap mereka menyerah bersamaan.
"Aku tahu." sahut Mas Nathan.
"Apa?"
Mas Nathan menunjukkan layar ponselnya sambil nyengir lebar, "Nih. Gajah-lah kebersihan."
Setelah itu mereka tertawa bersamaan. Huaa malu sekali, ketahuan hasil nyontek di Gaggle.
"Sudah ah, aku mau tidur."
"Yah lihat Arsy, mama ngambek." Mas Nathan merangkul pundakku.
Arsy terkikik geli melihat tingkah kami. Ternyata bahagia itu sesederhana ini. Berkumpul bersama orang yang kita sayangi, sudah merupakan kebahagiaan terbesar untukku.
***
Saat tengah tertidur lelap, aku merasakan gerakan kasar di sampingku, yang memaksa mata ini terbuka.
Ternyata gerakan itu berasal dari Mas Nathan. Matanya masih terpejam, tetapi tubuhnya berkeringat dan mulutnya terus meracau tak jelas.
"Mas, kamu kenapa?" aku menyentuh tubuhnya, berusaha untuk membangunkan Mas Nathan.
__ADS_1
Sepertinya dia sedang mimpi buruk. Berkali-kali Mas Nathan mengucapkan kata yang tidak aku mengerti.
"Jangan... ibu ayah..."
"Mas Nathan!"
Akhirnya mata itu terbuka, setelah aku mengguncangkan tubuhnya sedikit lebih keras.
Napas Mas Nathan terengah seperti habis berlari maraton, dan tubuhnya bergetar.
"Kamu gak apa-apa, Mas?"
"Peluk aku, Nin."
"Tanpa perlu kamu pinta, aku pasti akan peluk kamu. Udah tenang?"
Mas Nathan terdiam, dia memelukku erat, sampai napasnya teratur kembali.
"Jadi, kamu masih mimpi itu?"
"Cuma sesekali."
Aku menangkupkan tangan di wajahnya, menatap langsung ke pemilik mata yang selalu membuatku jatuh cinta.
"Kenapa? ada yang kamu pikirin?"
Bukannya menjawab, ia malah mencium batang leherku, dan meninggalkan gigitan kecil di sana.
"Gak ada. Lusa hari peringatan kematian orang tua aku, mungkin itu sebabnya."
"Begitu?"
"Iya." satu kecupan mendarat di bibirku.
"Kalau begitu, apa kita pergi ziarah?"
Kali ini Mas Nathan menatapku, ada luka yang terlihat di sorot matanya. Aku tahu ini berat untuknya, tapi luka itu harus di lawan kan...
"Haruskah?"
"Ya harus dong, Mas. Mereka kan orang tua kamu. Kapan terakhir kali kamu ke sana?"
"Hemm, mungkin setelah Jihan meninggal. Aku gak pernah ke sana. Terlalu berat buat aku menerimanya."
Aku mendekatkan wajahnya, dan menyentuh kedua pipinya.
"Mas Nathan sekarang punya aku. Lusa kita ke sana ya... aku juga kan harus menengok orang tua kamu, Mas. Aku mau bilang sama mereka, kalau putranya yang hebat sekarang sudah bahagia dengan istrinya yang cantik."
"Oke. Lusa kita ke sana ya. Ajak Arsy sekalian."
__ADS_1
Senyum lebar terukir di wajah tampannya. Bulu-bulu halus di sekitar wajah Mas Nathan mulai terlihat, pertanda ia tidak bercukur beberapa hari ini.
Ah bodohnya aku, tidak menyadari hal ini. Aku hanya memikirkan diriku sendiri, sampai tidak tahu kalau suamiku kembali menderita dengan sakitnya. Aku lupa, kalau penyakit psikis Mas Nathan bisa kambuh kapan saja jika suasana hatinya buruk.
Di tambah kesibukannya yang padat akhir-akhir ini, pasti membuat tubuhnya lelah.
Malam ini aku berinisiatif untuk membahagikannya. Agar semua beban Mas Nathan beberapa hari ini terlepas.
Dengan sedikit agresif, aku mulai menciumi wajahnya dan membuka beberapa kancing piyama yang ia kenakan.
Mas Nathan tersenyum, dia membalik tubuhku hingga aku berada di bawah kukungannya sekarang.
"Nakal sekali istriku ini."
Aku tidak bisa menjawab, karena ia sudah mengunci bibirku dalam pagutan yang dalam. Tangannya bergerilya cepat untuk membuka piyama, dan meloloskannya dari tubuhku, lalu melemparnya asal.
Apa yang terjadi berikutnya?
Hanya aku dan Mas Nathan yang tahu.
🌸🌸🌸
Hari yang di rencanakan tiba. Mas Nathan mengajak kami ke Bandung untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya. Mila juga ikut serta, untuk membantuku menjaga Arsy.
Setelah selesai berdoa, aku meminta Mila untuk membawa Arsy lebih dulu ke mobil. Karena sepertinya Mas Nathan masih ingin berlama di sana.
Aku menghampiri Mas Nathan, dan mengusap punggungnya yang terlihat bergetar menahan tangis.
"Nggak apa-apa Mas, ada aku di sini."
Air mata Mas Nathan akhirnya luruh, untuk kedua kalinya aku melihat Mas Nathan menangis. Pertama kali saat dulu aku melihatnya mengamuk karena penyakitnya.
"Maaf Yah... Bu. Maaf... Maaf."
Hanya kata maaf yang keluar dari mulut Mas Nathan. Kesedihannya menular padaku. Tak terasa air mata ini ikut mengalir.
Setelah tenang, Mas Nathan menggenggam tanganku. Seulas senyum lega terukir di wajahnya.
"Ayo kita pergi. Arsy pasti sudah nunggu kita."
Aku menganggukkan kepala, menurutinya ucapan Mas Nathan. Kami berjalan bergandengan tangan menuju mobil, sesekali ia menoleh padaku, tersenyum lebar sambil mengecup tanganku yang masih setia dalam genggamannya.
Mas Nathan membukakan pintu mobil untukku, sambil membungkukkan badan, tidak peduli dengan ledekan Arsy dan Mila di kursi tengah.
Aku tertawa kecil menanggapinya. Lalu pandanganku tertuju pada ponsel yang sengaja ku tinggal di atas dashboard.
Beberapa kali ponsel itu bergetar. Aku meraihnya, ada beberapa pesan masuk dari nomor tak di kenal.
Setelah ku buka, isi pesannya sangat membuatku syok.
__ADS_1
Apa ini?
******