
๐ Kamu telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta
_Nathan
๐Hari pernikahan
"tarik napas.. lepas.. tarik.. lepas..hufh."
Aku mengatur napasku untuk mengurangi ketegangan. Hari ini adalah waktu yang paling di nantikan. Hari pernikahanku dengan Mas Nathan, yang berlangsung di sebuah gedung besar di kota kami.
Kebaya berwarna putih gading melekat sempurna di tubuhku, membuat lekuk tubuh ini terlihat dan berbentuk.
Mama menghampiriku dan tersenyum melihat penampilanku.
"Nindi.. kamu terlihat cantik." Ujar mama. Ia meletakkan kedua tangannya di bahuku. Ikut menatap pantulan tubuhku di cermin besar.
"Makasih mah.. ah aku gugup banget."
Tiba - tiba Tante Lisa datang membawa sebuket bunga mawar berwarna putih.
"Jangan nervous. Slow aja." Ucap Tante Lisa.
"Gak bisa slow tante. Aku tuh udah sering banget deg - degan sampai panas dingin kalau lagi bareng sama Mas Nathan. Tapi yang ini tuh beda. Kan sekali seumur hidup."
"Ya iyalah. Memangnya kamu mau nikah berkali - kali." Tante Lisa terkekeh.
"Hehe.. kalau oppa min hoo mau ngelamar aku mah bisa di pertimbangkan." Sahutku asal.
"Hush. Sudah jangan pada ngaco deh." Kali ini mama yang bicara.
Aku hanya nyengir lebar. Setidaknya dengan bercanda seperti ini lumayan mengurangi rasa gugupku.
Dari luar ruangan terdengar suara pembawa acara yang memanggil mempelai wanita untuk keluar. Aku lagi - lagi menghela napas, memejamkan mataku sebentar, sebelum akhirnya pintu terbuka. Aku berjalan di dampingi mama dan Tante Lisa.
Mas Nathan sudah duduk di depan meja penghulu, dengan setelan jas berwarna putih. Sungguh terlihat sangat menawan di mataku. Dengan samar aku melihat bibir Mas Nathan melengkungkan senyum menatapku yang sedang berjalan menghampirinya.
Di kanan kiri sudah penuh tamu undangan dan kerabat yang datang. Beberapa merekam momen ini dengan ponsel mereka. Kak Faiz duduk bersama Arsy tidak jauh dari kursi Mas Nathan. Dia sebagai saksi dari pernikahan kami.
Kini setelah aku duduk berdampingan dengan Mas Nathan, ketampanan Mas Nathan terlihat jelas, sampai aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.
"Waw ganteng banget."
Ups. Lagi - lagi aku tidak bisa mengontrol ucapanku. Sontak saja seisi ruangan tertawa mendengar perkataanku tadi. Wajah mas Nathan kini merah padam, entah dia malu atau senang.
Sadar Nindi! Ini mau ijab qabul. Dasar pecinta wajah tampan!.
Penghulu di hadapan kami menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
"Bisa kita mulai sekarang?"
"Oh iya bisa." Sahut Mas Nathan.
Sedangkan aku masih menunduk malu sejak tadi. Tidak berani menatap ke depan, apalagi di sampingku ada Tante Lisa dan Kak Faiz yang sejak tadi kompak menahan tawanya.
"Baik kita mulai ya...."
Penghulu memulai proses ijab qabul dengan wali hakim untukku.
Aku terus memejamkan mata sambil mendengarkan. Sampai terdengar ucapan 'SAH' secara serentak dari sekelilingku.
"Alhamdulillah..."
Air mata kini menetes di pipiku, air mata haru dan bahagia. Akhirnya penantian panjang berakhir indah. Aku tidak menyangka orang yang berada di sampingku sekarang sudah menjadi suamiku. Tangis haru juga terdengar dari mama yang duduk tepat di belakangku.
Aku mencium tangan Mas Nathan, dan setelah itu Mas Nathan mencium keningku lama.
Setelah acara sakral ijab qabul selesai, selanjutnya acara resepsi untuk tamu undangan.
Sebelumnya, aku dan Mas Nathan berganti pakaian. Kali ini aku mengenakan gaun mewah berwarna gold tanpa lengan.
Dan Mas Nathan menggunakan setelan tuxedo yang membuatnya semakin gagah.
"Sekarang waktunya mempelai wanita dan mempelai pria keluar dari ruangan bersama.." Pembawa acara mulai mengintrupsi.
Kami berjalan keluar bersama dari ruangan, dengan Mas Nathan yang menggenggam tanganku erat. Di sambut dengan tatapan para tamu yang sudah menunggu.
Sampai di tengah ruangan yang tersedia untuk kami.
Aku melingkarkan tanganku di lehernya, sedangkan dia memegang pinggangku, musik lembut mengiringi kami berdansa. Gerakan Mas Nathan yang kaku membuatku berkali - kali menginjak kakinya. Ia terlihat meringis menahan sakit.
Haha. Setelah ini dia pasti akan memarahiku. Karena aku yang memaksa ingin menggunakan konsep ini seperti pernikahan artis - artis yang aku tonton di televisi.
Setelah musik berakhir, tiba - tiba Mas Nathan meraih tanganku dan menyematkan cincin dengan permata indah di jari manisku. Tentu saja aku terkejut, karena ini di luar konsep kami. Saking bahagianya sampai aku tidak bisa menahan diriku lagi. Aku mengalungkan kembali tanganku di lehernya dan mengecup bibirnya sekilas.
__ADS_1
Dan itu berhasil mengundang riuh dan tepuk tangan dari para tamu undangan.
"Wah sepertinya pengantin wanitanya yang mencuri start duluan.." Pembawa acara itu kembali bicara.
Beberapa tamu tertawa mendengarnya. Aku tidak peduli. Sudah sah kan? Hehe.
"Baiklah. Sekarang waktunya pelemparan bunga.!"
Aku bersiap - siap dengan bunga mawar putih di tanganku. Ku lihat orang yang ku kenal seperti Sarah, Kak Faiz di barisan paling depan, ikut berdesakan dengan yang lain untuk mendapatkan bunga itu.
Warbiyasah! Mitosnya sih kalau yang mendapatkan bunga saat pelemparan pernikahan maka ia yang akan cepat menikah.
Setelah aba - aba dari pembawa acara, aku melemparkannya, bunga itu melambung terbang melewati Kak Faiz dan jatuh tepat mengenai kepala seseorang.
"Aduh." Orang itu mengeluh ketika bucket bunga tersebut mengenai kepalanya.
Dia mengusap kepalanya yang tersanggul rapi, tangannya memegang bucket bunga di sertai tatapan dari para tamu.
"Eh kok gue yang dapat."
Tante Lisa. Yap. Tante Lisa yang mendapatkan bucket itu.
"Kalau enggak mau buat gue aja sini."
Kak Faiz merebut bunga itu dari tangan Tante Lisa.
"Eh apa sih. Kan tadi gue yang duluan." Tante Lisa tidak mau kalah. Dia ingin merebut bunga itu kembali, tapi terlambat.
Kak Faiz sudah berjalan ke depan meninggalkannya, beberapa tamu wanita pun mulai berkerumun di sekitar Kak Faiz, membuat Tante Lisa mengurungkan niat untuk mengejarnya.
Aku dan Mas Nathan saling pandang. Lalu kami tersenyum bersama melihat tingkah mereka. Sepertinya usahaku selama ini sedikit berhasil.
****************
Malam hari,
Setelah acara resepsi selesai, Mas Nathan langsung membawaku ke rumahnya.
Aku memandang takjub Kamar Mas Nathan di atas yang kini sudah tidak suram seperti dulu lagi.
Kamar yang dulu tidak boleh di masuki oleh siapapun, kini menjadi cerah dengan warna cat yang baru. Penataannya juga sudah berubah, dengan meja rias baru yang ada di samping tempat tidur, dan TV LED 40 inc di sisinya.
"Saya mandi dulu ya.. kalau kamu butuh apa - apa bilang aja sama Bi Munah di bawah."
Sedangkan aku, duduk di depan cermin. Mulai membersihkan wajahku dengan toner khusus, agar semua make up terangkat.
Aku tersenyum senang mengingat hari yang sangat membahagiakan ini, tapi mendadak aku teringat dengan ucapan Sarah untuk membuka hadiah istimewa darinya yang dia berikan langsung padaku saat resepsi tadi. Dengan penasaran aku membuka kotak berukuran sedang dengan bungkus kado berwarna merah.
Dan isinya ternyata satu set lingerie super seksi berwarna hitam. Aku terperangah menatapnya. Membayangkan aku memakai ini saja sudah membuatku malu.
Sarah!!!!!!!! Awas saja.
Tepat saat itu pintu kamar mandi terbuka. Aku memekik kaget melihat Mas Nathan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggang, dengan bertelanjang dada dan rambut yang basah.
Sontak saja aku mematung melihat pemandangan itu.
Dia menoleh menatapku yang masih terdiam kaku sambil memegang lingerie di tangan. Matanya melotot kaget.
Aku langsung tersadar dan segera menyembunyikan barang laknat itu di belakangku.
"Kamu.. mau pakai itu?" Tanya Mas Nathan ragu.
"Oh enggak." Aku menggelengkan kepalaku dengan kuat.
"Ini dapat hadiah dari Sarah tuh."
"Oh.."
"Mas.. kenapa enggak pakai baju dulu sih baru keluar kamar mandi."
Mendengar itu Mas Nathan malah melengkungkan bibirnya. .
"Kenapa? Bukannya tadi di acara ada yang curi start duluan."
Ia menghampiriku dan semakin gencar menggodaku.
"Jadi.. sekarang kita mau ngapain? huh?"
"Eh.. e..nggak tahu." Jawabku dengan gugup.
"Yakin? pura - pura nggak tahu."
"Nggak!"
__ADS_1
Aku memejamkan mata ketika Mas Nathan sesudah berdiri di hadapanku sekarang.
"Beneran nih?"
Mas Nathan semakin mendekat. Aku bisa merasakan hembusan napasnya saat ini di wajahku. Inikah waktunya?
"Mandi sana biar segar..." Ucapnya kemudian.
Aku membuka mata. Dan kini Mas Nathan sedang tersenyum jahil padaku. Ah malu sekali rasanya.
Dengan segera aku menyambar piyama dari dalam tas ku, dan berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi aku bersandar di dinding, berusaha mengatur napasku yang sudah tidak karuan.
Sungguh ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantung! Rasanya aku ingin kabur saja saat ini.
Pipiku memanas. Teringat tadi saat Mas Nathan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.
"Ya Tuhan.. Dia sangat seksi." Gumamku pelan.
Setelah hampir setengah jam menyelesaikan ritual mandi, aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan setelan piyama panjang.
Ku lihat Mas Nathan sudah berpakaian dan duduk di sofa menonton televisi.
"Sini duduk." Mas Nathan tersenyum, menepuk- nepuk sofa di sebelahnya.
Aku mengikuti instruksinya. Duduk disampingnya. Dia membelai kepalaku, hingga aku bersandar nyaman di bahunya.
"Anindira.."
"Hem?" Aku menatap manik mata Mas Nathan.
"Kamu menyesal nggak menikah dengan saya?"
Aku tersenyum. "Kenapa?"
"Saya ini duda loh. Punya anak. Masa lalu saya rumit. Kamu masih muda, apa kamu nggak malu?"
"Mas ih.. kita udah menikah. Aku sudah terima masa lalu mas. Nggak mungkin aku nyesel lah. Ini pilihan aku. Lagipula ya aku sudah suka sama Mas Nathan sejak lihat mengajar di kampus. Subhanallah.. aku pikir tuh yah, dosen itu tua - tua, ternyata ada juga yang seperti ini. Hampir saja aku panggil oppa bukan bapak."
"Hem.. oppa, ya? Kalau cowok romantis di drama Korea itu seperti apa?"
Eh? Jantungku kini mulai berdetak cepat lagi. Sekaligus panas dingin. Karena aku merasa wajah Mas Nathan semakin menunduk, mendekat ke bibirku.
"Eh..emm itu..."
Kini jarak wajahnya tidak lebih dari lima centi dan tangannya sudah berada di tengkukku.
Tok. tok. tok.
"Papaaa...."
Suara Arsy terdengar dari balik pintu kamar.
Aku langsung menjauh, begitu juga Mas Nathan. Tidak lama setelah itu Arsy masuk, sepertinya Mas Nathan lupa mengunci pintu kamar.
"Eh Arsy..." Aku berdiri menyambutnya.
"Aku boleh panggil Kak Nindi mama sekarang?" Tanya Arsy dengan polosnya.
"Tentu saja." Aku berusaha tersenyum. Menutupi rasa gugupku. Hampir saja. Ku lirik Mas Nathan yang masih duduk di sofa.
Ekspresi kecewa terlihat di wajahnya. Tentu dia kecewa, dia baru saja mau memulainya tadi.
"Arsy kenapa belum bobo?" Aku berjongkok di hadapan Arsy.
"Aku mau bobo sama mama dan papa. Boleh ya.. Arsy mau rasain bobo di peluk sama mama papa, kayak teman Arsy."
Mendengarnya aku terenyuh. Selama ini Arsy memang belum pernah mendapatkan kasih sayang lengkap. Aku menoleh ke arah Mas Nathan, meminta persetujuannya.
Dia tersenyum dan beranjak menghampiri kami, lalu menggendong Arsy.
"Boleh sayang. Malam ini Arsy boleh bobo sama papa dan mama." Ujar Mas Nathan.
"Hore....." Arsy bersorak. Lalu mengecup pipi Mas Nathan.
Mas Nathan melirik ke arahku. Lalu mengerling nakal padaku.
"Jangan kecewa. Masih ada banyak waktu untuk melakukan itu..." Bisiknya tepat di telingaku.
"Ih mesum." Aku mencubit Mas Nathan tepat di pinggangnya. Membuat dia tertawa gemas.
Yap. Malam pertama kami lewati bertiga. Dengan Arsy tidur di tengah - tengah kami.
__ADS_1
********************************