
🍀 Kesempatan itu selalu ada. Hanya saja aku terlalu malu mengakuinya kalau dia itu berarti.
_Nathan_
***
Di kampus
Aku bersorak senang sambil memeluk Sarah ketika melihat namaku ada di papan pengumuman.
Kami mahasiswa tahun akhir sedang berkumpul di depan papan pengumuman. Mencari - cari nama kami disana untuk kesempatan menyusun tugas akhir.
Dan namaku tertera disana.
Anindira Maheswari. Lengkap dengan nama dosen pembimbingnya Nathan Mahendra.
Bagaimana tidak senang coba?
Mendapatkan dosen pembimbing orang yang kita sukai.
"Lihat kan, Sar. Dosbing gue Pak Nathan. Emang ya dia itu jodoh gue yang tertunda."
Sarah merengut. Mungkin karena dia mendapatkan dosen pembimbing Pak Radit. Yang terkenal dengan kebawelannya.
"Iyee selamat ya. Mudah - mudahan aja Pak Nathan lo itu bisa mengantarkan lo kepada kelulusan."
"Yoi. Pasti dong. Gue harus lulus tahun ini. Biar cepat kawin, eh nikah.." Aku berkata sambil nyengir lebar. Ini karena aku terlalu bucin dengan Pak Nathan.
"Halu woy." Sarah berkata kencang, sambil menyikut pelan pinggangku.
Aku tertawa renyah, tidak peduli. Sekarang waktunya menjalankan misi. Segera aku mengambil ponsel dari saku celanaku. Lalu mengetik pesan untuk Pak Nathan.
[ Pak. Bisa ketemu sekarang? ]
Centang biru. Wah.. Pak Nathan gerak cepat sekali membaca pesanku.
Dia membalasnya.
[ Ke ruangan saya ]
Aku tersenyum membacanya. Walaupun balasannya singkat padat jelas tetap membuat hati ini berbunga. Lalu aku langsung mengetik balasan..
[ Oke. Siap meluncur..]
Tidak lupa kutambahkan emot love untuknya. Hehe.
"Sar, gue pergi dulu ya.."
"Mau kemana? Katanya kita mau ke kantin?"
Sarah menatapku bingung. Ia heran melihatku begitu terburu - buru.
"Mau ke tempat calon imam gue." Jawabku dengan cepat dan lugas.
Sarah langsung menepuk jidatnya.
"Dasar gelo." Umpatnya gemas.
Aku hanya tertawa dan langsung pergi meninggalkan Sarah. Lebih baik pergi sekarang sebelum dia kembali mencak - mencak karena aku tinggalkan.
Sudah satu Minggu lebih aku tidak bertemu dengan Pak Nathan. Karena banyak sekali tugas akhir yang menumpuk, ditambah jurusanku Vokasi broadcasting penyiaran, jadi lebih banyak praktik dibandingkan teorinya. Aku juga jadi tidak bisa menemani Arsy dulu.
Padahal deadline perjanjianku dengan Pak Nathan kan hanya tiga bulan. Makanya aku senang sekali setelah tahu dosen pembimbingku adalah Pak Nathan.
Ini namanya sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Tugas akhir selesai, bisa lebih banyak waktu berdua juga bareng Pak Nathan
Tok.tok.tok.
Aku mengetuk pintu ruangannya tiga kali.
Lalu terdengar suara Pak Nathan menyahut dari dalam.
"Masuk."
Dengan perlahan aku memasuki ruangannya. Dia terlihat sibuk dengan buku - buku dan berkas materi. Ruangannya tidak begitu besar, sama dengan ruangan dosen lainnya.
Ia hanya melirikku sekilas, lalu menyuruhku duduk di sofa single yang ada di depannya.
Dia memang begitu. Kalau sedang di kampus, jangan harap deh Pak Nathan akan bersikap manis padaku.
"Ada apa?"
Pak Nathan akhirnya bicara. Mungkin ia jengah karena daritadi aku hanya diam saja memperhatikan dia.
Mata elangnya menyipit menatapku lekat.
__ADS_1
"A..E..itu pak." Aku gugup setengah mati di tatap begitu. Ada apa denganmu Anindira?
"A E I. Memangnya kamu mau tes vokal disini."
Dibilang begitu aku malah nyengir lebar.
"Bapak bisa aja ah. Saya gugup tau pak."
Ia menaikkan sebelah alisnya.
"Gugup? Kamu bisa gugup juga?" Ujarnya sambil tersenyum mengejek seperti biasa. Mungkin pikir dia aku tidak tahu malu. Begitu?
Aku melengos. Dia pikir aku apa. Gak bisa gugup. Aku juga kan wanita biasa yang punya rasa juga hati.
"Saya kesini mau bahas tentang tugas akhir saya pak. Kan bapak dosen pembimbing saya."
Pak Nathan mengangguk pelan "Jadi.. kamu sudah menentukan tema buat tugas karya akhir kamu?"
" Iya. Saya sudah menyiapkannya pak. Saya mau buat film pendek bergenre psikologi. Tentang PTSD. Itupun kalau bapak gak keberatan...."
Pak Nathan mematung mendengarnya. Aku tahu mungkin aku kelewatan. Ini sama saja membuat dia menjadi bahan penelitian untuk tugas akhirku kan.. Tapi bukan itu maksudku sebenarnya.
" Saya hanya ingin melalui film pendek ini bisa menjadi penyemangat mereka. Dan masyarakat yang masih awam jadi tahu tentang sakit ini, dan tidak menjudge mereka 'gila' atau semacamnya." Aku menjelaskan sedikit. Berdoa dalam hati, semoga Pak Nathan mengerti maksudku.
Beberapa saat diam akhirnya dia bicara.
"Baiklah. Saya akan membantu."
Aku tersenyum lebar, dan tidak sadar malah menggenggam tangannya saking senangnya.
"Eh maaf pak. Kelepasan." Ucapku salah tingkah. Tapi sambil tetap memegang tangannya.
"Kalau kelepasan kenapa gak di lepas juga?"
"Hehe maaf pak. Rejeki." Aku segera melepaskan tanganku.
"Tangannya kelihatan kokoh banget sih. Jadi pengen di pegangin buat pegangan hidup.."
Ia hanya memasang wajah innocent mendengar gombalanku tadi. Ah gak asyik! Reaksinya benar - benar gak seru.
Sambil membaca beberapa berkas di depannya, ia kembali berkata dengan wajah datar..
"Arsy dari kemarin tanyain kamu. Katanya dia kangen sama kamu."
"Oh ya? Saya juga kangen Arsy pak. Tapi benar dia bilang begitu? Padahal baru semalam lho Arsy telepon saya." Ucapku sedikit bingung. Karena semalam Arsy tidak bilang apa - apa di telepon.
Wajah Pak Nathan terlihat terkejut mendengar perkataanku barusan. "Serius dia telepon kamu?"
"Iya. Dia telepon pakai nomor rumah bapak. Mungkin tau nomorku dari Bi Munah. Atau jangan - jangan bapak kali yang kangen sama saya. Kan udah seminggu lebih kita gak ketemu." Aku sedikit bercanda menggodanya. Usaha terus pantang menyerah.
Mendengar itu Pak Nathan terlihat kelimpungan. Kelihatan jelas sekali dari ekspresi wajahnya.
"Ada juga saya yang nanya gitu. Seminggu lebih gak ketemu saya, yakin kamu gak kangen?" Tanya Pak Nathan dengan wajah ketusnya.
Aku mencondongkan tubuhku mendekatinya. Masih dengan tersenyum lebar membisikinya..
"Kalau saya kangen sama bapak emang boleh?"
Dia kembali menatapku, begitupun aku, tak lepas menatap wajahnya yang memang layak banget buat dipuja.
"Ekhem. Sudah sana kembali ke kelas. Nanti sepulang kuliah bawa makalah kamu tentang film pendeknya ke rumah saya. Biar saya teliti dulu." Pak Nathan berkilah mengganti topik lain. Dan itu sukses membuat bibirku mengerucut sebal.
"Oke. Nanti saya kesana. Tapi inget ya pak. Harus bantuin, biar saya cepat lulus." Ucapku sambil menunduk.
"Tergantung kalau kamu rajin bimbingan ya saya bantu."
"Wah bapak becanda nih. Kalau dosbingnya bapak ya jelas saya rajinlah. Jadi lebih termotivasi. Apalagi kita punya perjanjian kan...sedikit info ya Pak, kata mama saya boleh nikah asalkan lulus kuliah."
Ia mendelik dari balik berkas yang daritadi di pegangnya.
" Kamu ini lama gak ketemu malah makin koslet yaa..."
"Haha.Ini kan karena kurang perhatian bapak." Aku nyengir lebar. Lalu meraih tasku dan bersiap untuk keluar.
Lama - lama disini gak kuat juga. Terlalu silau.
"Saya pergi dulu pak. See you..."
********
Sore ini aku kembali ke rumah Pak Nathan, setelah tadi sempat pulang mengambil makalah yang ku butuhkan.
Motor kesayanganku baru saja mendarat di halaman rumah Pak Nathan ketika aku melihat seorang wanita keluar dari rumahnya.
Dan Pak Nathan terlihat akrab bicara dengannya.
__ADS_1
Apa - apaan ini. Siapa sih tuh Tante, pakaiannya minim, dengan make up yang tebal juga. Aku mengumpat dalam hati.
Wanita itu menoleh melihatku.
"Dia siapa, Mas?" Ia mengernyit menatap penampilanku.
Jelas sekali berbeda dengannya. Aku hanya menggunakan celana jeans, sepatu kets dan kaos putih oblong karena tadi buru - buru kesini. Sedangkan dia?
Rok mini dengan atasan model Sabrina yang kelihat jelas bagian bahunya.
"Dia Anindira. Mahasiswiku di kampus." Pak Nathan menjawab pertanyaan wanita itu.
"Oh.. jadi dia yang namanya Anindira. Mahasiswi sekaligus 'pengasuh' Arsy itu kan..?" Dia berkata dengan nada menyindir.
Oh shit!
Ini namanya penghinaan. Dia menekankan kata 'pengasuh' tadi. Jelas sekali wanita itu mau mengejekku.
"Hebat yaa.. mahasiswi sekarang. Berani menggoda dosennya." Lagi - lagi wanita itu menyindirku.
Aku memejamkan mata. Ingin sekali aku membalas perkataan tante berbaju minim itu.
Tapi hari ini aku benar - benar lelah, tidak mau terpancing emosi.
"Maaf pak. Sepertinya bimbingan tugas karya akhirnya ditunda saja. Sekarang bapak kelihatan 'sibuk'."
Sambil berkata sinis pada Pak Nathan, aku pergi meninggalkan mereka.
Dan apa reaksi Pak Nathan?
Dia diam saja. Jangankan mengejarku, dia juga gak mencegah atau memanggilku.
Rasanya dada ini sesak. Baru saja aku merasa bahagia, tiba - tiba di jatuhkan seperti ini.
Rasanya sakit sekali.
Sebenarnya siapa wanita itu?
Kenapa dia memanggil Pak Nathan dengan sebutan Mas?
Setelah berjalan jauh, aku berhenti mendadak. Menyadari ada sesuatu yang tertinggal.
Ya ampun. Motor!
Bagaimana bisa aku lupa, motorku tertinggal disana.
Tidak mungkin kalau aku harus kembali kesana. Bisa - bisa tante itu menertawakanku. Tapi kalau berjalan kaki, rasanya lumayan jauh juga dari dalam perumahan ke jalan raya depan.
Aku berniat memesan ojek online, sialnya ponselku mati karena bateraiku habis.
Dengan pasrah aku berjongkong di trotoar. Meratapi nasibku yang sial ini. Ditambah lagi langit mulai gelap dan menurunkan hujannya.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitu peribahasa yang cocok untukku.
Tanpa bisa dicegah, air mataku jatuh perlahan bersama hujan yang juga turun semakin deras membasahiku.
Sakit... Sakit sekali rasanya.
Kenapa mencintai seseorang bisa sesakit ini?
"Anindira..."
Suara itu. Aku kenal suara itu. Siapa lagi yang memanggilku Anindira selain dia? Panggilan yang aku anggap spesial hanya untuk dirinya.
Aku tak merasakan tetesan hujan lagi, ketika aku mendongak ternyata Pak Nathan sudah berdiri memegang payung untukku.
"Kenapa nomor kamu gak aktif? Daritadi saya hubungin dan cari kamu."
Aku kembali menangis. Tapi kali ini lebih kencang. Aku menangis karena ternyata Pak Nathan mengejarku, mencariku. Padahal tadi aku sudah merasa putus asa. Sudah ingin menyerah. Tapi kenapa dengan beberapa kalimat yang dia ucapkan tadi membuat dada ini berdebar lagi?
"Hei jangan nangis disini. Ayo naik ke mobil." Pak Nathan kini ikut berjongkok di depanku.
"Bapak jahat. Kenapa bapak jahat sama saya...hu hu." Aku merengek seperti anak kecil.
Pak Nathan menghela napas berat.
"Oke saya minta maaf. Sekarang ayo naik ke mobil. Nanti kamu bisa sakit."
Aku menuruti kata - katanya, dengan badan yang menggigil perlahan aku berdiri mengikutinya. Baru beberapa langkah, kepalaku terasa pusing.
Dan tiba - tiba semuanya menjadi gelap.
Aku sudah tidak sadarkan diri.
Hal terakhir yang kulihat adalah ekspresi cemas Pak Nathan yang berteriak memanggilku.
__ADS_1
******