
🍀Ekstra Part 🍀
***************
Jetlag.
Itu yang aku alami sekarang. Setelah turun dari pesawat, perutku mual dan rasanya pusing sekali.
Jadi, sejak kemarin siang aku hanya menghabiskan waktu di dalam kamar hotel. Rencana yang sudah ku susun berantakan sudah.
Mas Nathan dengan setia menemaniku di kamar. Sedangkan Arsy, karena merasa bosan di kamar, jadi ia pergi jalan-jalan bersama Tante Lisa dan Kak Faiz.
Kenapa ada mereka juga?
Itu karena Tante Lisa ingin menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda di sini, jadi ia ikut bersama kami. Sedangkan Kak Faiz, dia masih mengejar Tante Lisa dengan mengekorinya kemana saja. Haha.
"Sayang... Gimana sudah enggak pusing?" Mas Nathan menghampiriku membawa segelas coklat panas.
Aku sedang duduk di sofa sambil menonton drama Korea di DVD player.
"Sudah baikan kok mas. Maaf ya... Mas Nathan jadi nggak bisa jalan-jalan dari kemarin."
Mas Nathan meletakkan segelas coklat hangat itu di meja. Lalu, duduk di sampingku.
"Enggak masalah. Yang penting kamu sehat."
Aw. Suamiku tampan sekali. Dia tersenyum manis saat ini. Membuatku tak tahan ingin usel-usel manja di dada bidangnya. Eh?
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, ku buka memo di dalam ponsel.
"Mas, gimana kalau sekarang kita ke sini? sepertinya masih sempat, kau mau lihat sunset."
Mas Nathan mengernyit menatap layar ponselku.
"Odaiba?"
Aku mengangguk, menatapnya penuh harap. Semoga dia mengijinkan.
"Boleh ya... Di sana kata Tante Lisa seru. Kebetulan ini pas musim panas. Jadi nanti malam ada pertunjukan kembang api juga loh di sana."
"Tapi kamu benar enggak apa-apa?"
"Iya mas. Aku sudah puas tidur dari kemarin. Sekarang mau jalan-jalan. Please...." Ku pasang wajah semelas mungkin, agar Mas Nathan luluh.
Mas Nathan menghela napas, "oke. Tapi pakai sweater kamu."
"Yeii, makasih mas." aku memeluk tubuhnya, lalu bergegas mengambil sweaterku di dalam tas.
Masih ada kecemasan terlihat di mata Mas Nathan, tapi aku berusaha untuk meyakinkannya kalau aku benar baik-baik saja.
"Janji deh cuma sebentar. Kalau aku pusing lagi nanti kita langsung balik ke hotel."
Akhirnya Mas Nathan mengalah, dia menurut ketika aku gandeng tangannya keluar. Ah senang sekali. Akhirnya bisa jalan-jalan romantis berdua seperti dalam drama Korea yang aku tonton tadi.
*****
Kami sampai di Odaiba Seaside. Untung saja di sana tidak terlalu ramai pengunjung. Pemandangan Odaiba sungguh membuatku takjub. Letaknya di pinggir pantai, dengan bangunan gedung-gedung tinggi di pusat kota, seperti mall, cafe dan restoran.
Aku berlarian kecil, mengagumi setiap sudut tempat itu. Lalu berhenti sejenak ketika melihat Gundam raksasa di depan Driver city. Robot Gundam itu menggerakkan kepalanya, dengan lampu mata yang menyala.
"Daebbak! Ini keren banget, Mas." pekikku senang, mataku berbinar menatap pertunjukan itu.
Tapi Mas Nathan tidak menjawab. Dia malah asyik memotret Gundam itu tanpa mempedulikanku. Huh! menyebalkan. Harusnya kan dia potret istrinya, kenapa jadi robot itu yang di potret sih.
Dengan sedikit kesal aku menarik tangannya untuk kembali berjalan. Kali ini menuju taman Odaiba.
Di sana pemandangannya lebih indah, dengan latar belakang Rainbow Bridge dan teluk Tokyo, juga beberapa perahu wisata yang berlalu lalang.
"Mas, aku mau foto di sini." aku menunjuk sebuah patung, yang sangat mirip dengan patung liberty di Amerika. Patung itu terletak di dekat pantai buatan Odaiba.
__ADS_1
Mas Nathan tersenyum kecil, lalu mulai mengambil fotoku dengan camera ponselnya, dia juga menyalakan video untuk merekam moment bersama kami di sana, menikmati pemandangan sore teluk kota Tokyo sambil bergandengan tangan.
Setelah lama berjalan, kami duduk santai di darmaga melihat matahari terbenam, memandang indahnya lampu Rainbow Bridge yang mulai menyala menjelang malam.
Ya Tuhan ini benar-benar menyenangkan. Berada di tempat yang indah seperti ini bersama orang yang kita cintai.
Tiba-tiba ponsel Mas Nathan berbunyi, ia segera mengangkatnya.
"Sebentar ya, saya angkat telepon dulu. Dari sepupu saya di Resto Green."
Aku mengangguk seraya tersenyum, ketika Mas Nathan berjalan sedikit menjauh, untuk menerima telepon.
Aku kembali mengedarkan pandangan ke sekitar, menatap para pengunjung yang rata-rata berpasangan di sana.
Tapi, tidak jauh dariku ada seorang bule tampan yang sedang sendiri, dan kini melirik ke arahku. Dia mulai berjalan mendekat.
"Excuse me..." Bule tampan itu menyapaku. Lalu mulai bicara dengan bahasa Inggris. Aku yang terlalu bodoh bahasa asing ini hanya bisa menangkap satu dua kata darinya.
"Oh, coffee shop?" hanya itu kata yang aku tangkap. Sepertinya bule itu menanyakan coffee shop ada di mana.
Aku melihat ke sekitar, ah itu dia.
"Over there." ujarku semangat, sambil menunjuk kedai kopi yang berada sekitar 20 meter, tidak jauh dari tempat Mas Nathan berdiri.
"Thank you." kata pria asing itu, sambil tersenyum lebar.
Aku mengangguk, lalu membalas senyum dan lambaian tangannya. Tanpa ku sadari Mas Nathan sudah selesai menerima telepon, dan kini sudah ada di dekatku.
"Siapa dia? ada urusan apa sama kamu?" tanya Mas Nathan dengan ketus.
"Cuma tanya di mana coffee shop."
"Hah? Tempat sebesar itu masa dia nggak tahu. Pasti cuma alasan saja."
Aku menatap Mas Nathan heran. Ah aku tahu. Pria ini pasti marah, terlihat dari cara bicaranya yang ketus.
"Kenapa? cemburu ya....." aku meledeknya, sambil mengalungkan tanganku pada tangan Mas Nathan.
"Iya maaf. Janji deh nggak akan ladenin bule ganteng lagi. Kan aku sudah punya suami yang paliiiing ganteng......" rayuku padanya.
Yes berhasil. Senyum itu merekah di bibir Mas Nathan.
Sesekali Mas Nathan mendaratkan kecupan di kening dan pipiku.
Rasanya bahagia sekali. Ini akan menjadi perfect honeymoon untukku.
******
Hari sudah mulai gelap, namun aku masih berada di Odaiba untuk melihat pertunjukan kembang api.
"Papa.. mama..."
Tiba-tiba Arsy datang, berlari kecil menghampiriku dan Mas Nathan. Dia datang bersama Tante Lisa dan Kak Faiz.
"Halo sayang. Kamu kok tahu mama di sini." aku berjongkok menyambut tangan mungil Arsy.
"Iya, kan tadi Om Faizal sudah hubungi papa." jawab Arsy.
"Aku mau ikut lihat kembang api."
"Boleh. Tapi kembang apinya belum mulai. Apa nggak terlalu malam nanti? Arsy enggak ngantuk?" ucapku pada Arsy, mengelus rambut halusnya yang sudah bertambah panjang.
Arsy langsung menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sedih. Membuatku tidak tega. Tante Lisa dan Kak Faiz hanya mengangkat bahu, ketika aku meminta pendapat mereka.
"Sudah enggak apa-apa, nanti kalau Arsy ngantuk biar papa gendong nanti." kali ini Mas Nathan yang bicara, dia ikut berjongkok di sampingku.
Mendengar jawaban papanya, Arsy bersorak senang, membuatku gemas dengannya. Anakku ini memang tahu sekali bagaimana cara merayu orang tuanya.
"Papa... Memang benar ya kalau papa sama mama lagi mau kasih Arsy adik?" tanya Arsy tiba-tiba.
__ADS_1
Pertanyaan Arsy yang spontan membuat aku dan Mas Nathan saling menatap canggung. Sedangkan Kak Faiz dan Tante Lisa dengan kompaknya malah tertawa.
"Arsy kata siapa?" tanya Mas Nathan.
"Kata Om Faizal. Katanya mama sama papa mau kasih aku adik yang lucu. Aku mau kok pa, tapi aku minta adiknya cowok aja ya, biar nanti bisa balapan lari sama aku."
Astaga! Kak Faiz?
Hal itu membuat Mas Nathan kesal, ia menatap Kak Faiz tajam, hingga Kak Faiz mengkerut, bersembunyi di belakang Tante Lisa.
"Iya nanti ya... Papa usahakan." jawab Mas Nathan.
Ya ampun Mas Nathan! Jawaban macam apa itu.
"Ha-ha-ha...." Kak Faiz kembali tertawa. Kali ini lebih kencang, di ikuti oleh Tante Lisa juga.
Kepalaku rasanya pusing sekali. Di umur Arsy sekarang ini, memang rasa ingin tahunya tinggi sekali.
Dia sering bertanya banyak hal, yang aku sendiri kadang bingung mau menjawab apa.
"Kalau begitu ayo papa, kita beli adiknya sekarang di toko." seru Arsy. Ekspresinya serius, membuatku ingin tertawa juga.
"Tidak bisa Arsy." sahutku lembut, kali ini aku ikut turun tangan meladeni Arsy. Karena ku lihat Mas Nathan sepertinya syok tidak bisa menjawab lagi.
"Kenapa ma? kalau di Jepang harganya lebih mahal ya?" tanya Arsy lagi, dengan wajahnya yang polos.
Ya Tuhan.. Arsy, kamu benar-benar anak yang pintar.
Tante Lisa maju mendekati Arsy, dia pasti tahu aku sudah kewalahan menjawab pertanyaan Arsy.
Dengan tenang Tante Lisa mulai menjelaskan,
"Arsy sayang... adik Arsy itu tidak bisa beli di toko. Butuh proses, nanti adik Arsy akan ada di perut mama selama 9 bulan, setelah itu di lahirkan ke dunia. Itu pun juga tidak langsung besar dan bisa di ajak balap lari seperti mau Arsy. Pertama harus diberi susu dulu, di beri makan, di sayang juga, supaya tumbuh besar dan sehat seperti Arsy"
Arsy terdiam sebentar, "oke. Arsy mengerti Tante. Kalau begitu Arsy tunggu aja deh."
Aku menghela napas lega. Setidaknya pertanyaan Arsy tentang adik sudah berhenti. Menjadi orang tua ternyata tidak mudah, apalagi menjadi ibu sambung, dan aku tidak punya pengalaman mengurus anak sebelumnya.
Beruntung ada Tante Lisa, mama, dan Mas Nathan yang selalu membantuku. Sehingga aku bisa menjalani kehidupan baruku sebagai istri sekaligus ibu untuk Arsy.
"Wah itu kembang apinya sudah mulai." Arsy bersorak. Dia sudah di gendong oleh Kak Faiz.
Aku ikut menatap ke atas langit, melihat kembang api warna warni, kontras dengan warna lampu Rainbow Bridge. Sangat indah sekali.
"Cantik ya...." Mas Nathan merangkul pundakku dari belakang.
"Iya mas cantik banget kembang apinya."
"Bukan kembang api, tapi kamu yang cantik." Mas Nathan berbisik di telingaku.
Aku mengulum senyum, mendongakkan kepala menatapnya.
"Gombal"
"Berarti malam ini kita mulai proyeknya ya..."
"Proyek apa?" tanyaku heran.
"Proyek buat adik pesanan Arsy." jawab Mas Nathan, sambil berbisik nakal di telingaku.
"Iihh. Mas Nathan mesum."
Aku membenamkan wajahku di dadanya. Malu. Sudah beberapa bulan menikah, tetap saja aku belum terbiasa mendengar rayuan Mas Nathan. Tidak menyangka dia akan berubah seperti ini setelah menikah.
Tidak ada lagi Pak Nathan Mahendra yang dingin, kejam, sombong seperti dulu.
Sekarang yang ada hanyalah Pak Nathan yang lembut, perhatian dan romantis.
Oh iya satu lagi, Pak Nathan yang sekarang bukanlah DUREN lagi. Dia sudah berstatus SUREN alias Suami Keren untukku. Hihi.
__ADS_1
**************************